Wah boleh dong Bung Anis cerita2 dikit serba serbi menjadi Informan dulu
(zaman mahaiswa?)...nampaknya cukup menarik untuk di share di milis ini hehe

Pada 21 April 2009 16:21, Anis Radianis <aradia...@yahoo.com> menulis:

>
>
> Tunggu aja apa bisa bikin Rizal jadi pemenang Nobel ... hehehe, paling
> banter think tank buat mempertahankan kekuasaan...
> Gw inget yang 6 tahun lalu lembaga ini dapet duit dari Amerika (kalo enggak
> salah 5 milyar) dan beberapa pengusaha Indonesia (yang ini kagak tahu dan
> pastinya lebih deh...) untuk memenangkan SBY. Dan karena amerika masih
> seneng sama SBY (konsesi minyak di Tuban, de el el) so pasti didukung lagi,
> apalagi budgetnya 'unlimited'. Makanya ada yang mau taruhan dia masih akan
> berkuasa ??   hehehehe...
>
>
> Anis
> (Yang pernah jadi Informan, tapi keluar karena idealisme--kasian rakyat
> kecil dijadiin mainan--)
>
> ------------------------------
> *From:* Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id>
> *To:* PPIBelgia@yahoogroups.com
> *Sent:* Monday, April 20, 2009 8:40:00 PM
> *Subject:* Re: [PPIBelgia] Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama
>
>  Bung Anis, sebenrnya Bakrie juga bikin lembaga Think Tank seperti Freedom
> Institute yang digawangi oleh Rizal Mallarangeng PhD dkk hehe
>
> Kind regards,
> Sulistiono Kertawacanahttp://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/ 
> <http://sulistionokertawacana.blogspot.com/>
>
>
>
> Anis Radianis wrote:
>
>  hahaha.. nice thought .. Â
>
>  Jadi kesimpulannya orang2 kaya dan pemimpin di Indonesia adalah orang2
> goblok menurut orang Eropa.. !!! buktinya mereka tidak berhasil mencetak
> para pemikir cerdas, yang ada nyeburin orang2 pinter biar bisa disetir...
> Contoh gampang di Indonesia si Bakrie berhasil jadiin SBY --militer dan
> doktor-- presiden, terus in-retun si Bakrie dapet konsesi macem2 dan dia
> jadi orang terkaya di Indonesia hanya ketika si SBY berkuasa. Sri mulyani
> --Doktor-- direkrut SBY dan jadi kagak pinter (buktinya ekonomi makin
> amburadul) karena disetir buat bikin kaya si Bakrie. Nah karena untuk jadi
> presiden butuh uang banyak dari si kaya, si SBY pasti jadi presiden lagi
> tahun ini (taruhan ayoo 100 Eurom, sapa mau ??) karena si Bakrie udah dapet
> profit banyak dan dari profit itu dia invest ke SBY dan konco2nya dia
> tentunya. Buat Bakrie lebih baik invest ke politikus seperti SBY karena
> lebih menguntungkan dalam jangka pendek daripada mencetak pemikir which
> enggak jelas dan long term banget. So win-win buat orang kaya, politikus dan
> pemimpin. Tapi buat rakyat, so pasti loose-loose. Misalnya nih kita rakyat
> berantem beragumentasi, lah dia mah udah pasti jalan terus kayak gerbong
> kereta TGV, so enggak ada yang berubah ... hahahaha, makanya golput aja biar
> JELAS...
>
>  ------------------------------
> *From:* Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac a...@alumni. ui.ac.id>
>
> *Sent:* Friday, April 17, 2009 1:08:27 PM
> *Subject:* [PPIBelgia] Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama
>
>  Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama
>
>  http://ferizalramli .wordpress. com/ <http://ferizalramli.wordpress.com/>
>
> Wangsit Ngawur dari Mbah Gugel: Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama
>
> Kala itu si jenius Karl Marx mendekati ajalnya. Tampak sahabatnya Friedrich
> Engels menemaninya sampai hebusan nafas terakhir dari „Sang Nabi"
> Sosialis. Engels dan Marx adalah contoh kolaborasi dan sinerji nyata antara
> milyader dan intelektual.
>
> Karl Marx adalah pemikir yang cemerlang, bahkan amat sangat cemerlang.
> Kehidupan di dunia ini hanya „ditentukan" oleh dua pemikir besar yaitu
> Karl Marx dan Adam Smith. (Saat menulis kata „ditentukan" menggunakan
> tanda kutip).
>
> Kehidupan Marx hanya diisi dengan berpikir, berpikir dan berpikir. Seluruh
> kebutuhan hidupnya dijamin oleh sahabatnya Engels, sang industriawan kaya
> raya. Marx tidak pernah dibebani untuk cari uang agar bisa hidup. Tugas Marx
> selama hidupnya cuma satu: melahirkan karya-karya Masterpiece!
>
> Itulah tipikal kehidupan banyak intelektual di masyarakat Eropa. Para
> industriawan, orang kaya, milyader tidak berbondong-2 menjadi politisi.
> Tidak berbondong-2 menjadi caleg atau camen (calon menteri) atau capres atau
> cawapres. Mereka justru mendedikasikan kekayaannya untuk berkolaborasi
> dengan orang pandai agar bisa menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi
> bangsanya.
>
> Para orang kaya menjadi penyumbang terbesar universitas, penjamin hidup
> dari para intelektual. Para intelektual tersebut tidak lagi dipusingkan
> mencari uang untuk sesuap nasi karena hidupnya telah dijamin oleh orang
> kaya. Para intelektual fokus menghasilkan karya masterpiece. Para orang kaya
> ini bahkan menyokong tokoh-2 idialis agar bisa menjadi pemimpin. Pada
> gilirannya negara akan dipimpin oleh orang-2 yang baik dan cerdas.
>
> Tapi mengapa hal yang baik ini; fenomena kolaborasi antara orang pinter
> idialis dengan orang kaya untuk menghasilkan karya terbaik bagi bangsanya
> tidak terjadi di Indonesia? Mengapa hal ini tidak terjadi di masyarakat
> kita?
>
> Sindroma Rhoma Irama! Sindroma Rhoma Irama lah yang menjadi jawabannya!
>
> XXX
>
> Ingatkah saat kanak-kanak dengan tokoh pujaan kita Rhoma Irama di tahun
> 70-an sampai pertengahan 80-an? Lagu Darah Muda, Begadang, Lari Pagi, dll
> adalah lagu-2 legendaris karya Rhoma Irama.
>
> Ingatkah film-2 yang dilakoninya? Saat main Film sang tokoh pujaan kita ini
> selalu menjadi lakon jagoan yang baik. Jago nyanyi. Jago musik. Tokoh sukses
> yang kaya. Ustadz, pendakwah. Selalu menjadi pemimpin yang mengayomi anak
> buahnya. Cerdas dengan ide-idenya. Jantan, jago berantem dan bela diri.
> Dikelilingi oleh para wanita cantik, dsb…, dsb…
>
> Pokoknya semua atribut estetika keduniawiaan menyatu dalam diri Rhoma Irama
> seorang. Sementara orang disekitar Rhoma Irama hanya akan jadi obyek
> penggembira. Yang mereka harus ada sebagai pembanding antara si sukses
> dengan si papa. Mereka harus ada untuk memuja sang Tokoh.
>
> Dan kita, para penonton film Rhoma Irama, akan terkagum-kagum akan lakon
> sukses sang jagoan. Sambil bermimpi untuk juga memiliki seluruh atribut
> estetika tersebut: ingin terlihat kaya, sekaligus ingin terlihat sukses,
> sekaligus ingin dianggap sebagai pendakwah, sekaligus ingin menjadi
> pemimpin, sekaligus ingin dianggap intelektual pinter, sekaligus ingin
> terlihat gagah dan jantan serta juga ingin dipuja oleh para wanita cantik.
>
> Figur dengan atribut estetika duniawi inilah yang tampaknya menjadi obsesi
> besar bagi banyak diantara kita. Khayalan Rhoma Irama yang diekspresikan
> dalam film tersebut ternyata menjadi obsesi buat banyak diantara kita.
>
> Inilah yang dinamakan sindroma Rhoma Irama; terlalu tinggi mengukur dan
> memuja diri sehingga ingin memiliki segalanya.
>
> XXX
>
> Saat seorang kaya raya maka yang dilakukannya adalah mengejar posisi jadi
> menteri atau bahkan presiden. Tidak peduli apakah dia berbakat menjadi
> pemimpin visioner atau tidak, tapi rasanya belum terlihat sempurna jika
> belum menjadi pejabat publik.
>
> Saat seseorang punya kesempatan menjadi pemimpin atau anggota legislatif
> maka yang dilakukannya adalah berusaha menjadi kaya. Aksesori keduniawiannya
> harus berubah. Harus selevel dengan para industriawan sukses atau para
> eksekutif-2 perusahaan papan atas. Kalau perlu ikut juga mengkoleksi mobil
> mewah plus wanita cantik sebagai simbol suksesnya.
>
> Saat seorang yang lulusan Akabri justru bersusah payah mengejar gelar
> akademik biar dianggap sebagai Militer Pemikir. Jika gelar diperoleh dengan
> cara sah masih bolehlah. Ironisnya, banyak diantaranya mengambil gelar
> Doktor dari Doktor Paket Program Malam atau Doktor Paket Program Universitas
> Rumah Toko.
>
> Saat orang sipil yang biasa-biasa aja. Agar terlihat gagah dan perkasa
> memakai seragam yang atributnya mirip-mirip militer. Atas nama Satgas atau
> Garda Republik Pembela Bangsa atau apalah namanya, yang penting terlihat
> macho, gagah dan jantan!
>
> Ini adalah sindroma Rhoma Irama…
>
> XXX
>
> Mengapa para industriawan atau pengusaha kaya ini tidak mendedikasikan
> kekayaannya untuk mendukung para pemimpin idialis untuk pemimpin publik?
> Mengapa tidak mendukung para intelektual agar menghasilkan karya-karya
> agung? Mengapa tidak mendedikasikan hartanya untuk membantu universitas- 2
> negeri ini menjadi berkelas dunia?
>
> Mengapa pula para orang pinter yang duduk di kursi pemimpin harus
> memaksakan diri agar terlihat sukses dan kaya bergaya perlente bak para
> industriawan dan pengusaha?
>
> Mengapa para intelektual pinter, doktor dari universitas reputasi tinggi
> yang mampu membuat paten berkelas dunia bukannya malah fokus dengan
> pengembangan ilmunya, tapi malah maju menjadi caleg partai politik?
>
> Tidak kah kita menyadari bahwa seorang yang berbakat mencetak profit itu
> belum tentu seorang pemimpin yang visioner?
>
> Tidak kah kita menyadari bahwa kursi kepemimpinan itu bukan untuk mencari
> kaya raya. Karena jika kaya, bukan menjadi politisi tapi menjadi eksekutif
> atau pengusaha.
>
> Tidak kah kita menyadari seorang doktor penemu rumus Fisika atau Kimia itu
> belum tentu seorang pemimpin visioner yang memiliki kecerdasan sosial.
> Lantas mengapa harus memaksakan diri menjadi politisi?
>
> Tidak kita menyadari bahwa seorang Ustadz yang paham nilai agama belum
> tentu canggih dan cerdas menangkap aspirasi rakyat. Mengapa harus memaksakan
> diri menjadi politisi?
>
> Cerita tentang kesempurnaan Rhoma Irama itu hanya ada di film. Itu tidak
> eksis di alam nyata. Dia alam nyata yang dibutuhkan adalah kolaborasi dan
> sinergi. Di dunia nyata yang diperlukan adalah kesadaran mengukur diri,
> kesadaran untuk tidak memuja diri secara berlebihan. Kesadaran atas
> keterbatasan diri inilah yang membuat kita mau bekerja sama dengan orang
> lain untuk memujudkan sesuatu yang terbaik bersama…
>
> Tradisi pola kerja sama yang tidak ingin mengusai semuanya untuk diri
> sendiri inilah yang menjadikan masyarakat Eropa pada akhirnya menjadi bangsa
> yang memimpin dunia…
>
> Salam hangat,
> 16 April 2009, dari Kehangatan Musim Semi Tepian Lembah Sungai Isar,
>
> Ferizal Ramli
> Teruntuk salam empatik bagi para caleg dan keluarganya yang mengalami
> gocangan jiwa bahkan bunuh diri
>
>
> --
> Best regards,
> Sulistiono Kertawacana
> http://sulistionoke rtawacana. blogspot. 
> com/<http://sulistionokertawacana.blogspot.com/>
>
>
>  
>



-- 
Best regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionokertawacana.blogspot.com/

Kirim email ke