Betul... 

Tulisan Faisal Basri meluruskan pandangan banyak orang yg bengkok tentang Pak 
Budiono. Selama ini dia dicap beraliran neoliberal, atau antek-antek IMF/WB. 

Saya benci dengan orang-orang yang sok mencap neoliberalisme tanpa tahu 
binatang apa itu. Terutama orang yang sok kekiri-kirian atau sosialisme. 
Padahal nge-rokok-nya Marlboro... produk kapitalis tulen... he..he....

--- On Thu, 5/14/09, Sulistiono Kertawacana 
<sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id> wrote:

From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id>
Subject: Re: [PPIBelgia] Sisi lain Pak Boed yang saya kenal
To: PPIBelgia@yahoogroups.com
Date: Thursday, May 14, 2009, 3:49 PM











    
            
            


      
      



Hahahaha kok kampanye, inikan testimoni dari Faisal B
yang dikeal juga ekonom "lurus" , bener kan Bung Dendi dan Bung Anis?
hehe

Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/




Furqon Azis wrote:

  
  
  kampanye niy 

  

  

-utong-

  
  

  
  From:
Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac a...@alumni. ui.ac.id>

  To: "mail=milis- ika-unpad@ yahoogroups. com"
<milis-ika-unpad@ yahoogroups. com>; ia-ip-unpad
<IA-IP-UNPAD@ yahoogroups. com>; "ILUNI-FHUI@ yahoogroups. com"
<iluni-f...@yahoogro ups.com>; 94 <fhui...@yahoogroups .com>;
PPI Belgia <ppibel...@yahoogrou ps.com>

  Sent: Thursday, May
14, 2009 2:13:53 PM

  Subject: [PPIBelgia]
Sisi lain Pak Boed yang saya kenal

  

  
  
Sisi lain Pak Boed yang saya kenal
    Oleh Faisal Basri - 14 Mei 2009 - Dibaca 188 Kali - 
    http://faisalbasri.
kompasiana. com/2009/ 05/14/pak- boed-yang- saya-kenal/

    
    
      Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat
buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir
1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan
kata â€�sinopsis,â€� ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi,
Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional.  Kita
mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.
      Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya
untuk
merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih
serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu
saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan
menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi
berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya
selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.
      Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko
Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang
“gonjang-ganjing� di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup
mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus.
Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega
ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum
Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua
ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup
menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai
6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.
      Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian
Indonesia
mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak
kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini
adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan
seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya
ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut
luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan
Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih
terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan
bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk
tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk
mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas
Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih
muda dari saya.
      Interaksi langsung  terjadi ketika Pak Boed menjadi salah
seorang
anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim
Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo
Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri
Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain
sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak
pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa
transisi.
      Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih
banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang
“nyerempet-nyerempet ,� jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak
pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar
mengkritik sekalipun.
      Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang
membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan
Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang
sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak
Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri
Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed
wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian
berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat
bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik
kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah …  Keesokan harinya, saya
membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan
Wapres, semua mereka berwajah “cemberut� tanpa komentar satu kata
pun
kepada wartawan.
      Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan
“amplop�
kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri
perintahnya kepada Mas Anggito.
      Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa
dengan
Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak
Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak
Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri
mobil tua mereka.
      Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu
di
Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong
keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa
si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.
      Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai
kalangan.
Kemarin di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan
staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka
ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling
mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.
      Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat
tinggi
BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai
fasilitas yang memang terkesan serba “wah.� Dengan tak banyak
cingcong,
ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed
juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku
sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan
deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.
      Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja
ke
kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami,
Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah
itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia
menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan
lusuh.
      Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF,
simbol Neoliberalism e yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan
miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah
ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari
sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.
      Maju terus Pak Boed.
    
  
  

  

-- 

Best regards,

Sulistiono Kertawacana

  http://sulistionoke
rtawacana. blogspot. com/

  
  
  
  
  

  
 



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke