cerpen nya ga ada euy, klo cerbung gmana ? hehehe

-utong-




________________________________
From: bagusco <bagus...@yahoo.com>
To: PPIBelgia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, May 28, 2009 9:24:14 AM
Subject: Re: [PPIBelgia] Fwd: [jurnalisme] Contoh PRAKTIK Neolib era SBY (kita 
dijadikan  bangsa bebek)





cer-pen ada gak Pak Utong....?  panjang pisan euy...
 
salam,
bagusco

--- On Thu, 5/28/09, Furqon Azis <uton...@yahoo. com> wrote:


From: Furqon Azis <uton...@yahoo. com>
Subject: Re: [PPIBelgia] Fwd: [jurnalisme] Contoh PRAKTIK Neolib era SBY (kita 
dijadikan bangsa bebek)
To: ppibel...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 28, 2009, 2:00 PM


Saya setuju "lebih cepat lebih baik" negara kita tercinta berhenti hutang, tp 
gimenong??

cerita uang dulu ah
Uang dalam sebuah masyarakat ibarat darah di dalam tubuh manusia. Kelebihan 
atau kekurangannya akan menyebabkan tekanan tinggi dan rendah (inflasi dan 
deflasi).

Pemerintah, sebagai sebuah institusi, bisa mendapatkan uang lewat beberapa 
cara, seperti:
• Setoran dividen dari perusahaan milik negara (BUMN).
• Penerbitan berbagai jenis surat hutang.
• Pajak.

Kalau orang biasa ditanya berapa banyak uang beredar yang sepantasnya ada dalam 
sebuah masyarakat, jawaban logisnya adalah tergantung berapa banyak BARANG DAN 
JASA yang sanggup diperdagangkan oleh komunitas tersebut dalam perdagangan 
sehari-hari mereka.

Tetapi siapa sebenarnya yang menentukan jumlah uang beredar, dan bagaimana uang 
diedarkan?

Karena uang hanyalah medium pertukaran barang dan jasa di dalam komunitas 
tersebut, untuk melayani masyarakat tersebut, logisnya adalah tak seorangpun 
yang berhak mengambil keuntungan dari pengadaan uang. Orang yang berproduksi 
pantas mendapatkan uang, dan orang yang tidak berproduksi tidak mendapatkan 
apa-apa.

Petani menghasilkan hasil tani, nelayan mencari ikan dan hasil laut, penenun 
kain membuat pakaian, tukang masak mengolah hasil tani menjadi makanan, tukang 
kayu membuat bangunan dan perkakas rumah, orang-orang terdidik menjadi guru di 
sekolah, dll. Semua orang mengerjakan dan memberikan kontribusi ke masyarakat 
sesuai kemampuannya. Uang harusnya diciptakan OLEH komunitas tersebut UNTUK 
melayani komunitas tersebut.

Tetapi kemudian sekelompok kecil anggota komunitas tersebut, yang diberkati 
dengan daya pikir yang lebih tajam, sekaligus keserakahan yang tak terhingga, 
memahami bahwa mereka bisa TIDAK memberikan kontribusi apapun tetapi memiliki 
segala-galanya di masyarakat tersebut. Kelompok ini adalah "Pengada (Pencipta) 
Medium Uang."

Kalau demi memiliki uang dan menghindari sistem bartel yang merepotkan, 
masyarakat tersebut rela MEMINJAM uang kepada kelompok tersebut, maka 
masyarakat ini secara de facto telah menjadi budak abadi dari kelompok pencipta 
uang itu.

Misalkan : masyarakat ini terdiri dari 100 penduduk. Ada yang jadi petani, 
nelayan, tukang kayu, penenun kain, tukang masak, penambang, guru dll.

Kemudian sang Pencipta Uang, katakanlah seorang penambang emas, berhasil 
membujuk masyarakat tersebut untuk menggunakan koin emas buatannya sebagai 
medium pertukaran (uang). Semua orang membeli emas darinya, dan sebagai 
gantinya memberikan barang / jasa tertentu kepadanya. Yang lain, karena tidak 
memiliki barang, akhirnya harus meminjam kepada tukang emas tersebut.

Bila tukang emas ini meminjamkan 1000 koin emas dan menagih 5% bunga kepada 
masyarakat ini, maka tanpa menggunakan hukum bunga-berbunga sekalipun, dalam 
waktu 20 tahun tukang emas ini akan memiliki semua koin emas dia kembali, dan 
masyarakat ini masih tetap berhutang 1000 koin emas kepadanya.

Saat itu, tak satu pun koin beredar di masyarakat, sehingga tidak mungkin 
masyarakat tersebut sanggup membayar. Tentu saja, dalam prakteknya, memasuki 
tahun ke-2 sekalipun tukang emas tersebut sudah harus meminjamkan koin emasnya 
kepada anggota masyarakat ini, tukang emas ini tidak ingin bunga yang dia 
terima membuat suplai uang di masyarakat menurun, karena nantinya skema ini 
akan terbongkar.

Penurunan suplai uang di komunitas manapun selalu menciptakan resesi / depresi 
ekonomi. Agar sistem ini tidak gagal, komunitas tersebut harus terus mengajukan 
pinjaman baru, agar saat bunga / cicilan pokok pinjaman lama dibayarkan, suplai 
uang di komunitas tersebut tidak berkurang.

Tidak masalah medium apa yang Anda gunakan sebagai uang, selama sang pencipta 
uang adalah pemilik medium uang (bukannya masyarakat itu sendiri) dan berhak 
menagih bunga atas pinjamannya, masyarakat ini tidak akan pernah sanggup 
melepaskan diri dari perbudakan bunga, siklus inflasi dan resesi.

Pihak yang paling berkepentingan agar emas menjadi medium pertukaran uang, bisa 
Anda yakin bahwa dia pasti memiliki banyak emas yang ingin dia jual atau 
pinjamkan. Inilah satu-satunya motivasi dia untuk mempromosikan emas sebagai 
uang.

Karena kemampuan komunitas tersebut untuk berhutang ada batasnya, dan akibat 
bunga pinjaman yang harus mereka bayarkan, sebagian anggota komunitas tersebut 
pun jatuh miskin pada tahun-tahun pembayaran berikutnya. Manusia, sebagai 
makluk sosial, menyadari bahwa anggota masyarakat yang tidak beruntung ini 
tidak bisa dibiarkan begitu saja dan perlu dibantu. Maka diciptakanlah sebuah 
institusi sederhana untuk membantu mereka, yaitu Pemerintah, yang juga akan 
berfungsi untuk mengatur hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan orang 
banyak.

Tetapi, karena dari tahun ke tahun semakin banyak uang yang diperlukan untuk 
membantu anggota masyarakat yang tidak beruntung ini, skala pemerintah dan uang 
yang diperlukan untuk membiayai mereka pun terus bertambah besar.

Pemerintah, yang didirikan untuk menjadi penolong, perlahan-lahan justru 
berubah menjadi penodong. Jangan lupa, anggota pemerintah pun orang-orang biasa 
yang perlu makan dan memiliki kebutuhan lainnya. Jadi, sebelum uang yang 
dikumpulkan masyarakat untuk membantu orang miskin ini digunakan, sebagian uang 
tersebut pun masuk ke kantong anggota pemerintah terlebih dahulu.

Semakin besar jumlah orang miskin yang perlu dibantu, semakin besar skala 
pemerintah di komunitas tersebut. Semakin banyak usaha yang jatuh bangkrut, 
semakin sering juga pemeritah mengambil alih usaha-usaha tersebut, dan semakin 
banyak uang juga yang perlu dibayar anggota komunitas yang masih produktif dan 
belum bangkrut (*pajak). Suatu ketika, saat uang yang sanggup dikumpulkan dari 
masyarakat yang masih produktif pun tidak mencukupi lagi, pemerintah, sebagai 
sebuah institusi, pun mulai mengajukan pinjaman kepada si pencipta uang (dalam 
contoh di atas, si tukang emas)

(*Pajak : bedakan pajak yang ditarik untuk membantu orang miskin, pembangunan 
infrastruktur, gaji anggota pemerintah, Vs pajak untuk membayar cicilan hutang 
pemerintah. Kalau Anda mengira pajak yang Anda bayarkan setiap bulan semuanya 
digunakan untuk membantu orang miskin di Indonesia, memperbaiki jalan, sekolah, 
tempat ibadah dll, sebaiknya Anda mengecek dengan mata sendiri betapa besarnya 
anggaran pemerintah yang digunakan untuk membayar cicilan hutang & pokok kepada 
bankir internasional. )

Pemerintah, akhirnya pun terpojok untuk terus memaksa rakyatnya membayar lebih 
banyak lagi tagihan pajak, bea ini bea itu, pungutan jinak, pungutan liar, dll. 
Sekarang posisinya menjadi Pemerintah Vs Rakyat.

Orang-orang yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah pun mulai membuat 
kelompok (partai) baru, seolah-olah mereka bisa menyelesaikan masalah, 
mengembalikan skala pemerintah ke skala yang lebih kecil, dan mengurangi pajak 
dan pungutan kepada masyarakat produktif mereka.

Puluhan partai didirikan untuk berdebat satu sama lain, tetapi tak seorang pun 
yang bersedia mendebat asal usul uang mereka, tak seorang pun membicarakan si 
tukang emas. Mungkin memang itulah fungsi utama sistem demokrasi, agar si 
tukang emas lebih gampang mempertahankan kekuasaan. Bagaimanapun, jauh lebih 
gampang menyuap beberapa ratus anggota parlemen dibanding menyuap mayoritas 
rakyat di suatu negara.

Keadaan dari tahun ke tahun bertambah kacau, jumlah orang miskin terus 
bertambah dari generasi ke generasi. Anak-anak muda mulai khawatir akan masa 
depan mereka, dan tak mengerti mengapa generasi ini tampaknya lebih miskin 
dibanding generasi sebelumnya, dan kelihatannya anak-anak mereka sendiri akan 
lebih miskin dibanding mereka sendiri saat ini.

Polisi, tentara, yang seharusnya ada untuk melindungi rakyatnya, suatu ketika 
akan digunakan oleh si tukang emas sebagai senjata untuk melawan rakyatnya. 
Ironisnya, si tukang emas ini bahkan tidak perlu repot-repot menggaji polisi 
dan tentara. Gaji mereka dibayar oleh pajak rakyat yang mereka tindas.

Tahun ini Indonesia kembali menyelenggarakan Pemilu. Kalau tidak ada kejutan, 
lagi-lagi puluhan partai politik akan berdebat dan menyanyikan janji-janji 
manis kepada orang-orang yang ingin percaya. Dan lagi-lagi tak sebuah partai 
pun yang akan menyinggung si tukang emas saat ini, BANK (mulai dari Bank 
Sentral, dan kemudian ke Bank-Bank Komersial yang menciptakan mayoritas uang 
beredar di negara ini).

Kita masih berada dalam perbudakan bunga bank, tidak berubah sejak sebelum 
merdeka. Dan bank-bank komersial pun masih tetap mempraktekkan fractional 
reserve banking, tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.

Kontrol atas kredit masih di tangan bankir, bukan di tangan rakyat. Jadi... 
Nothing is going to change, nothing!

Sedikit lucu juga ada yang menyebut pemerintah dengan istilah public servant 
(pelayan publik). Kenyataan yang sedang terjadi adalah pelayan ini sudah 
menjadi majikan, bahkan pemberi perintah (= pemerintah). Mengharapkan 
pemerintah untuk terus menambah pegawai dan menyediakan lapangan kerja sama 
saja dengan mengatakan kepada sebuah perusahaan / majikan yang sedang 
kekurangan uang bahwa solusi atas masalahnya adalah mencari & menggaji lebih 
banyak lagi pelayan.

Source: http://pohonbodhi. blogspot. com/2009/ 02/stimulus- berbagai- 
campur-tangan. html

-utong- 




________________________________
 From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac a...@alumni. ui.ac.id>
To: PPI Belgia <ppibel...@yahoogrou ps.com>
Sent: Thursday, May 28, 2009 3:22:59 AM
Subject: [PPIBelgia] Fwd: [jurnalisme] Contoh PRAKTIK Neolib era SBY (kita 
dijadikan bangsa bebek)





---------- Pesan terusan ----------
Dari: bobby manullang <bobby_porman@ yahoo.co. id>
Tanggal: 27 Mei 2009 09:33
Subjek: [IA-IP-UNPAD] Trs: [DU] Fwd: [jurnalisme] Contoh PRAKTIK Neolib era SBY 
(kita dijadikan bangsa bebek)
Ke: ia-ip-unpad@ yahoogroups. com







--- Pada Sel, 26/5/09, dak pantura <dak_pantura@ yahoo.com> menulis:


Dari: dak pantura <dak_pantura@ yahoo.com>
Topik: [DU] Fwd: [jurnalisme] Contoh PRAKTIK Neolib era SBY (kita dijadikan 
bangsa bebek)
Kepada: "barudak subang" <sub...@yahoogroups. com>, "alumni unpad" 
<dipatiu...@yahoogro ups.com>
Tanggal: Selasa, 26 Mei, 2009, 6:49 PM





 



Posted by: "Haniwar Syarif" hani...@syarif. com   haniwarsyarif 
Mon May 25, 2009 12:06 am (PDT) 

saya sudah dpt ijin dr Drajad Wibowo utk neruskan info ini ke milis :
silahkan simak info ini

ijinkan saya berbagi sedikit
tentang bahaya kebijakan yang pro-pasar yang berlebihan. Saya
sering menyebut sebagai pro Konsensus Washington (KW), tapi
secara politik orang lebih suka menyebut neolib. Saya sengaja
memilih contoh paling baru.
Awal tahun ini, kalau tidak salah akhir Februari 2009, Depkeu
menerbitkan Global Medium Term Notes (GMTN) dalam US$ dengan
masa jatuh tempo 10 tahun dan yield 11,75%. Jumlahnya US$ 3
milyar, diterbitkan di New York.
Yang jadi konsultan adalah beberapa lembaga keuangan asing,
underwriters- nya mereka2 juga, investor asing pun beli melalui
mereka. Jadi konflik kepentingannya sangat kental.
Dalam bahasa awam, ini berarti negara berutang kepada investor
asing. Utangnya dalam US$ dan negara membayar "bunga" sebesar
11.75% dalam US$ !!! Belum lagi fee bagi para konsultan dan
underwriters asing tersebut. Sebagai pembanding, deposito
dollar di perbankan dalam negeri hanya memberi bunga sekitar
2-3%. Di AS sendiri, bunga deposito dollar jauh lebih rendah.
Jadi selama 10 tahun ke depan, negara harus membayar bunga yang
kemahalan sekitar US$ 240 juta atau Rp 2,5 triliun per tahun,
kalau kita anggap kemahalannya hanya sekitar 8%.
Ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah melihat mengapa Depkeu,
menteri2 dan tim ekonomi yang dicap "neolib" itu sangat disukai
investor asing. Ya karena investor asing itu dimanjakan dengan
keuntungan yang luar biasa, mulai dari consulting fee,
underwriting fee, other fees sampai dengan selisih suku bunga
yang naudzubillah tingginya.
Tapi kalau uang Rp 2,5 triliun per tahun itu dimintakan untuk
membeli suku cadang Hercules, Fokker, Corvet dll milik TNI,
masya Allah bapak-bapak Jenderal yang mengurusi hal ini sampai
harus mengemis-ngemis. Itupun ditolak. Padahal nyawa ratusan
prajurit yang jadi taruhannya. Jadi kecelakaan demi kecelakaan
yang menimpa TNI kita itu adalah "disasters waiting to happen".
Apalagi kalau dana tersebut dimintakan utk memperkuat BUMN
strategis spt Boma Bisma, Krakatau Steel, Dirgantara Indonesia,
PAL, Inka dll. Di DPR saya harus stay alert setiap saat kalau2
ada rencana mau memotong2 dan menjual BUMN2 tsb.
Dengan negara memberikan "bunga" sedemikian tinggi, bagaimana
perbankan dalam negeri berani menurunkan suku bunga? Dana
simpanan pihak ketiga (baca: tabungan, deposito dll) di bank
mereka bisa lari ke luar.
Jadi nasabah2 KPR yang harus membayar bunga kemahalan, debitor2
UKM, para pelaku usaha riil juga menjadi korban dari kebijakan
di atas.
Ikhwan dan akhwat sekalian, itu baru satu contoh dari satu
penerbitan Surat Utang Negara (SUN). Padahal setiap tahun
negara menerbitkan puluhan SUN. Modusnya kira2 sama. Anehnya,
KPK tidak pernah menyelidiki kerugian negara ini.
Contoh lain masih banyak, dengan korban yang semakin meluas.
Contoh di atas baru dari SUN saja. Belum lagi dari kebijakan
perbankan, pasar modal secara umum, asuransi dsb. Belum lagi
dari kebijakan dan sistem perdagangan, rejim investasi, rejim
migas, rejim pertambangan umum, dst dsb.
Terakhir, perlu diingat kebijakan seperti sudah dilaksanakan
puluhan tahun. Bisa dibayangkan berapa banyak korban dan berapa
besar lost opportunities yang harus kita tanggung sebagai
bangsa.
Sebagai penutup, sebagai pembicara seminar, selama beberapa
tahun ini saya selalu menutup presentasi saya dengan kalimat
berikut.
"Allah menciptakan kita sebagai bangsa rajawali. Tapi elit-elit
kita yang menjadikan kita sebagai bangsa bebek. Karena itu mari
kita semua terbang bebas lepas sebagai rajawali"
Semoga bermanfaat, mohon maaf atas semua kesalahan.
wass.wr.wbt.

saya yang dhoif, dradjad

[Non-text portions of this message have been removed]


 
________________________________
 New Email addresses available on Yahoo! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!  
________________________________
 Pemerintahan yang jujur bersih? Mungkin nggak ya? 
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 


-- 
Best regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/

 

   


      

Kirim email ke