Karena udah disebut sama Kang Sulis, jadi enggak enak nih... 

Ada dua point yng diutarakan Mas Drajat diemail yg diforward Sulis. Pertama 
tentang bunga yang tinggi, dan fee yg besar untuk underwriter penerbitan surat 
utang di New York. Kedua, keputusan berutang dengan menerbitkan surat utang. 
Point yang kedua saya tidak akan komentari dulu disini.

Komentar saya untuk poin yang pertama. Ada penjelasan kenapa bunga surat utang 
(obligasi) pemerintah jauh lebih tinggi dibandingkan surat utang pemerintah AS. 
Ini karena country risk negara Indonesia jauh lebih besar dari negara AS atau 
negara maju lainnya. Country risk ini berkaitan dengan semua hal yang mengarah 
pada kemampuan pemerintah Indonesia membayar utang dan bunganya. Jadi untuk 
mengkompensasi resiko yang tinggi, maka bunga sebagai imbalan harus juga 
tinggi. Bisa saja pemerintah menawarkan bunga sama dengan surat utang 
pemerintah AS, katakanlah 2%. Tapi, dampaknya adalah harga obligasi itu akan 
turun. Misalnya harga obligasinya tertulis 1 milyar dolar, karena permintaan 
rendah, maka harga turun. Pada akhirnya, penurunan harga obligasi akan sebesar 
jumlah untuk mengkompensasi bunga yang rendah tadi (2%). Jadi, tingkat bunga 
surat obligasi yang tinggi adalah hasil valuasi pihak-pihak yang berminat 
terhadap obligasi pemerintah RI. 

Ini penjelasan rasionalnya. Bukan stigmasasi (negatif) neolib... atau apalah... 
neolib ini bukan ideologi setan.... yang jelas-jelas setan itu ya koruptor... 
atau semacam orang pembuat kasus Lapindo atau perusak hutan yang harus di 
perangi. Sayangnya, banyak orang enggak tahu apa neolib, tapi dipelintir 
sehingga dia bagaikan setan yang menakutkan. 

Kalau diperhatikan semua ideologi, baik liberalisme (istilah neoliberal 
sebetulnya enggak ada dalam literature ekonomi politik, tapi dia lahir sebagai 
istilah yang digunakan para aktivis anti globalisasi), maupun sosialisme, 
komunisme sekalipun mempunyai tujuan yang mulia yaitu meningkatkan 
kesejahteraan rakyat, kemakmuran dan pemerataan. Cuma, mereka punya cara yang 
berbeda-beda, ada yg pakai sistem komando atau ada yang percaya sistem 
mekanisme pasar. Kalau ada yang salah, misalnya, dari ideologi komunis, itu 
adalah salah pemimpinnya yang yang kemudian jadi kurup dan diktator. Tapi, 
memang ideologi yang kemudian diturunkan menjadi sistem ekonomi-politik, kadang 
membuat rentan pemimpin atau orang-orangnya menyalahgunakan kekuasaan, seperti 
pada sistem komunis macam Cuba atau Korea Utara atau Uni Sovyet dulu. 

Nah, masalah sistem apa yang terbaik saya udah tulis perkembangan terakhir di 
note di facebook saya. Saya tidak bicara ideologi, karena ini sangat normatif 
dan abstrak, juga tidak bicara sistem ekonomi politik secara langsung karena 
sangat luas, tapi akan lebih jelas jika kita bicara kebijakan. 

dendi


















 



--- On Thu, 5/28/09, Sulistiono Kertawacana 
<sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id> wrote:

From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id>
Subject: Re: [PPIBelgia] Fwd: [jurnalisme] Contoh PRAKTIK Neolib era SBY (kita 
dijadikan  bangsa bebek)
To: PPIBelgia@yahoogroups.com
Date: Thursday, May 28, 2009, 11:18 AM











    
            
            


      
      



Tong jadi kampanye terselubung neh hehehe..mana yg kelompok mendukung
tag line lainnya hehhe ditunbggu nigh komentar BUng Dendi dan Bung Anis
hehe

Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/


         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke