** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Jaringan Islam Liberal
Edisi Bahasa Indonesia
 Senin, 22 Maret 2004


http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=525


Dr. Syafii Anwar:
Kelemahan Kaum Progresif Tak Membumi
Tanggal dimuat: 15/3/2004


Sekarang ini sering berlangsung diskusi tentang pelbagai wajah Islam ke
seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia, juga di sejumlah negeri muslim di
Timur Tengah, Afrika Utara, dan Malaysia. Di satu sisi, kaum
fundamentalis-radikal berusaha mengetengahkan wajah Islam yang tegas, keras,
dan penuh semangat permusuhan. Sementara di sisi lain, demi melihat pelbagai
tindak kekerasan di berbagai belahan dunia, kalangan progresif Islam dan
kaum moderat berusaha bersuara lebih lantang.

Melalui pelbagai media yang ada, mereka menghidangkan atau menampilkan wajah
Islam yang lebih ramah, terbuka, dan pluralis. Hanya, sajian mereka bukan
tanpa kendala. Di tanah asalnya, gagasan-gagasan progresif Islam belum
mendapat sambutan yang hangat dan terlalu meriah. Jika demikian, bagaimana
prediksi masa depan Islam progresif di dunia Islam, khususnya di Indonesia?

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) sekaligus
pengamat politik Islam, Dr Syafii Anwar, optimistis akan masa depan Islam
progresif. Kepada Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK),
mantan pemred Majalah Ummat (yang sudah "almarhum") ini menuturkan
pandangan-pandangan dan predisksinya akan nasib Islam progresif di dunia
Islam. Perbincangan berlangsung pada Kamis, 11 Maret 2004 lalu. Berikut
petikannya:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Mas Syafii, bagaimana Anda melihat masa depan Islam
moderat atau Islam progresif di masa mendatang?

SYAFII ANWAR: Pertama, dengan tegas saya tekankan bahwa Islam progresif
mempunyai prospek yang baik dan menjanjikan. Alasannya, pada dasarnya sikap
dan watak mayoritas umat Islam di seluruh dunia adalah ramah, damai, dan
tidak suka kekerasan. Mereka sadar betul akan konsep Islam sebagai rahmat
bagi semesta alam. Penggunaan tindak-tindak kekerasan, baik dalam arti
simbolik maupun yang bersifat fisik, tidak disukai mayoritas masyarakat
muslim.

Kedua, kalau melihat dinamika yang terjadi dalam tubuh umat Islam sendiri,
kita dapat mencermati bahwa cepat atau lambat, pemikiran kelompok-kelompok
progresif akan lebih bisa dipahami. Tapi, meski lambat, paling tidak dalam
konteks globalisasi sekarang ini, pemikiran-pemikiran yang mencerahkan akan
mendapatkan respons yang lebih positif.

ULIL: Anda cukup optimistis! Bisakah memberi contoh, misalnya bagaimana
bentuk dinamika itu di dalam negeri sendiri, atau dari negeri jiran
Malaysia?

SYAFII: Kalau di negeri kita, saya selalu berpretensi bahwa organisasi
pengusung Islam moderat, seperti NU dan Muhammadiyah, yang selama ini
menjadi pilar civil society, berperan sangat dominan dan sampai sekarang
tetap eksis. Bahkan, seperti yang dikatakan teman saya, Prof Dr Azyumardi
Azra, kaum moderat tampak secara diskursus sangat mengemuka. Dia
mengistilahkannya sebagai bentuk nyata kembalinya kaum moderat. Moderat di
sini, saya kira, termasuk sayap progresif.

Memang, kita juga melihat adanya rasa sentimen yang cukup kuat terhadap
gagasan-gagasan Islam progresif atau liberal. Tapi, kita juga melihat,
betapa pemikiran-pemikiran mereka disambut di kampus-kampus, dan terutama di
kalangan kelas menengah. Bahwa ada kritik mendasar, cemoohan, dan
sebagainya, itu sah-sah saja. Tapi, saya tetap menyaksikan bahwa dinamika
intelektual kaum muda Islam dari kelompok progresif, seperti yang terlihat
di media internet, tetap menang dalam sisi intellectual discourse (diskursus
intelektual).

ULIL: Tadi Anda menyinggung soal terkonsentrasinya basis kelompok Islam
progresif di kota besar dan pada kelas menegah-atas. Sementara di pedesaan
dan pada kelas menengah-bawah tetap tradisional. Nah, bagaimana
mengomunikasikan gagasan-gagasan Islam progresif di tengah-tengah masyarakat
muslim tradisional ini?

SYAFII: Saya kira kunci utamanya memang mengusahakan gerakan atau pemikiran
Islam progresif down to earth (membumi). Mengutip sahabat saya, Faris M.
Noor (intelektual muda dari Malaysia, Red), kelemahan kaum progresif Islam
memang ada pada poin itu (belum membumi). Tapi, saya kira itu wajar.
Gagasan-gagasan yang ditelurkan Jaringan Islam Liberal, Paramadina, ICIP,
dan kelompok lain memang masih terkonsentrasi pada lapisan Islam kota dan
kelas menegah.

Tugas kita memang membumikan gagasan-gagasan itu kepada khalayak yang lebih
luas, katakanlah kepada masyarakat grass roots di pedesaan. Isu pendidikan
pluralisme. Saya kira sangat urgent untuk selalu diperbincangkan. Teologi
yang lebih pluralis dan inklusif juga harus disosialisasikan lebih agresif,
sehingga dapat down to earth, dan masuk ke wilayah-wilayah grass roots.

ULIL: Salah satu agenda penting kaum progresif adalah demokratisasi dunia
Islam. Sebab, kita tahu, banyak negara muslim yang sistem politiknya belum
demokratis, tidak demokratis, bahkan otoriter. Nah, bagaimana Anda melihat
kecenderungan demokrasi di negara-negara muslim belakangan ini?

SYAFII: Saya setuju dengan Anda dalam poin usaha demokratisasi. Saya melihat
praktik-praktik demokrasi di dunia Islam dengan pesimistis. Penelitian
Freedom House jelas menunjukkan, dari sekian banyak sampel negara muslim,
praktik demokrasi tampak sangat susah dilaksanakan.

ULIL: Mas Syafii, selain problem demokrasi yang masih lemah atau defisit,
yang kita rasakan sangat penting juga adalah masalah ketidakadilan. Sistem
politik di negeri kita seakan-akan tidak menjamin meratanya rasa keadilan,
sehingga banyak orang frustrasi dan akhirnya tertarik pada jenis-jenis Islam
yang lebih radikal. Tadi Anda terlihat optimistis akan masa depan Islam
progresif, tapi kalau sistem politik memenuhi harapan rakyat, apakah itu
akan menjamin kukuhnya gagasan Islam moderat di masa-masa mendatang?

Saya kira, yang harus dilakukan secara mendasar lebih dulu oleh kalangan
progresif Islam adalah semacam dekonstruksi terhadap pemikiran politik Islam
itu sendiri. Yang saya maksud dengan dekonstruksi di sini adalah
dekonstruksi atas kecenderungan melihat pemikiran politik Islam secara legal
and formal approach, pendekatan yang legal-formal. Atau kecenderungan
melihat Islam sebagai sesuatu yang diderivasi sebagai ideologi. Membendung
ideologisasi Islam dengan melihat agama sebagai trilogi: din, dunya, dan
daulah.

Pemikiran seperti itu saya kira harus didekonstruksi. Melihat Islam seperti
itu akan berakibat pada ideologisasi politik. Padahal, kunci pemikiran
politik Islam adalah bagaimana mengutamakan pemikiran yang lebih substantif;
yang mengusung tema-tema keadilan. Keadilan adalah sentral dari pemikiran
politik Islam itu sendiri. Sementara sistemnya, baik demokrasi dari Barat
atau apa pun, tak jadi soal.

ULIL: Bagaimana bentuk pemikiran politik Islam yang Anda maksud itu?

SYAFII: Memberikan penekanan pada pemikiran politik yang lebih substantif.
Nilai utama pemikiran itu adalah al-'adalah (keadilan). Dengan begitu, kita
perlu melakukan deformalisasi atas syariat itu sendiri. Sebab, kadang-kadang
orang menafsirkan syariat secara sewenang-wenang, sehingga dia menjadi
sangat sempit, sangat legal-formal.

ULIL: Jadi, syariat dalam lapangan politik bisa diterjemahkan sebagai
menegakkan sistem yang adil?

SYAFII: Saya lebih setuju itu. Syariat harus kita tegakkan sebagai sebuah
sistem yang adil, bukan sistem yang, katakanlah, justru menjadi tidak
manusiawi, dan tidak menyelesaikan persoalan-persoalan besar yang lebih
mendasar. Syariat harus diformalisasikan sebagai sebuah sistem yang mengarah
kepada nilai-nilai keadilan. Bagi saya, fungsi dasar ajaran Islam adalah
keadilan itu sendiri. Keadilan harus menjadi inti sistem syariat itu
sendiri. Dengan begitu, syariat bisa diartikan secara lebih inklusif.

ULIL: Mas Syafii, minggu depan, lembaga Anda akan mengadakan konferensi
internasional tentang sumbangan Islam terhadap nilai-nilai universal. Shirin
Ebadi, pemenang Nobel Perdamaian asal Iran, dan tokoh-tokoh Islam dari Eropa
dijadwalkan datang. Anda bisa ceritakan latar belakang diadakannya
konferensi ini?

SYAFII: Oh iya, konferensi ini diilhami suatu visi atau pemikiran bahwa para
pakar tentang Islam yang terkemuka itu justru mendapat tempat di Barat. Kita
memang ingin belajar banyak hal dari mereka, terutama tentang bagaimana bisa
mengekspresikan pemikiran-pemikiran mereka dengan aman, tenang, dan (tentu
saja) dengan hasil yang brilian. Itu pertama. Kedua, kita sengaja mengundang
Shirin Ebadi sebagai pejuang hak asasi manusia sekaligus pemenang Nobel.
Kita berharap dia mengetengahkan pengalamannya, sebagai sosok yang sangat
concern terhadap pemikiran yang inklusif dan tidak radikal tanpa
meninggalkan prinsip dasar Islam itu sendiri. []



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke