** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Dari Notes-Belajar Seorang Awam:

TENTANG "DUA SAJAK BUNGA RUMPUT LIAR"

"Dua sajak bungarumputliar"
Oleh Ria Kencana
[Milis [EMAIL PROTECTED] , 22 Maret 2004]


Setelah membasuh tubuh dari daki-daki dan keringat kerja petang, dengan segelas kopi 
di meja samping, aku lalu membuka komputer dan mendapatkan dua buah sanjak karya Ria 
Kencana yang tinggal di Lebak Bulus Jakarta. Ria menyatukan kedua karyanya itu di 
bawah satu judul "Dua Sanjak Bunga Rumput Liar". Dibatasi oleh bacaan dan 
pengetahuanku, aku hanya merasa pernah berulang kali menemukan sanjak-sanjak Ria 
Kencana di berbagai milis, tapi apa-siapa Ria, aku sama sekali tidak mempunyai rincian 
keterangan sedikitpun. Tapi mengapa aku terlalu hirau jika karyanya sudah bisa 
berbicara sendiri, walaupun memang jika mempunyai keterangan tentang diri penyair, 
barangkali aku lebih terbantu untuk memahami karyanya.

Membaca kata-kata "Rumput Liar" pikiranku langsung melayang ke Lu Sin, seorang 
pengarang pelopor dan bahkan disebut sebagai "panglima kebudayaan Tiongkok", yang 
hidup di masa Tiongkok berada di bawah kekuasaan pemerintah Kuomintang Chiang Kai-shek 
yang represif. Salahsatu karyanya berjudul "Rumput Liar". Barangkali , Ria menjuduli 
karyanya dengan mencantumkan dua kata tersebut, tidak lebih dari suatu kebetulan 
belaka. Kebetulan, sesuai pengertian kata itu sendiri, adalah memang kebetulan yang 
tidak gampang mencari saling taut-menautnya dengan unsur lain pada hal-ikhwal 
"kebetulan" tersebut. 

Tapi ketika sampai kepada nama "Chan" kepada siapa kedua sanjak ini dipersembahkan, 
rasa ingin tahuku belum juga mau berhenti. Chan adalah nama Tionghoa. Bukan tidak 
mungkin, sekalipun selama Orde Baru Soeharto berkuasa selama kuranglebih 30 tahun, 
etnik Tionghoa tidak diperkenankan mengembangkan kebudayaan etnik mereka, tapi ketika 
berada di Indonesia, aku masih menyaksikan tekanan tidak berhasil memusnahkan 
kebudayaan sebuah etnik. Kebudayan suatu bangsa atau etnik taka obah "bunga dan rumput 
liar" juga adanya. Jika Ria memang berasal dari etnik Tionghoa, maka bukan tidak 
mungkin dalam keluarganya, penyair masih membaca karya-karya dari Tiongkok, termasuk 
Lu Sin yang memang pengarang besar. Rasa ingin tahu tentang latarbelakang Ria, tidak 
lebih dari usahaku memahami dua sanjak yang di dalam  tekhnik pengungkapan mendekati 
model yang digunakan oleh Lu Sin dalam buku kecilnya berjudul "Rumput Liar". Hal 
inipun tidak menimbulkan keberatan sedikit kepadaku karena pengarang mana
  gerangan di dunia ini yang bisa melepaskan diri dari pengaruh, apalagi pada awal 
pencarian dan pembentukan diri? Motinggo Boesye ketika mulai menulis cerpen dan novel 
waktu di Yogya, ia sangat tekun mempelajari tekhnik Hemingway. Sedangkan Rendra 
mempelajari dan menterjemahkan karya-karya klasik Barat serta kegiatan-kegiatan 
berlatih lainnya untuk memperoleh kematangan pengucapan diri. Membaca dan membanding 
lalu berkarya kulihat sebagai kegiatan penting menentukan bagi pembentukan diri 
sendiri.

"Rumput Liar" adalah rumput yang tumbuh tanpa dipelihara. Jika ia tumbuh maka ia 
menjadi rumput yang tidak gampang mati. Kalaupun dibabat tidak sampai ke akar-akarnya, 
ia akan kembali tumbuh dengan subur lagi. Jika ia adalah bunga, maka biasanya ia 
adalah sejenis bunga yang sangat indah dan wangi. Di Perancis, ada sejenis bunga liar 
tapi sekarang diangkat sedemikian tinggi oleh seluruh masyarakat berbagai kalangan 
sebagai lambang harapan dan kasihsayang. Ia dijual saban bulan Mei di seluruh negeri. 
Bunga liar dan bulan Mei melahirkan suatu tradisi yang dipelihara masyarakat Perancis 
sampai sekarang.  Kuat, ulet, indah dan wangi adalah watak dari bunga dan rumput liar. 
Kecuali itu sesuai dengan keliarannya, ia sangat polos. Sederhana dan alami. 
Katakanlah bahwa ia memang dilahirkan dan membesar melalui seleksi alam. Alami justru 
merupakan kekuatannya.

Apakah ketika merangkum kedua karyanya di bawah nama "Bunga Rumput Liar", Ria memang 
sadar akan watak bunga dan rumput liar seperti di atas? Ria sendirilah yang paling 
tahu, tapi guna keperluan sendiri, maka dalam notes belajarku, kedua sanjaknya kusalin 
ulang, apalagi aku memang menyukai tekhnik pengungkapannya sebagai acuan dalam usaha 
belajar. Kesukaan tentu saja lebih banyak sifat subyektifnya. Apalagi kesukaan seorang 
awam dan peminat sastra. Bukan penyair.Bukan pengamat apalagi  budayawan yang tekun 
melakukan perbandingan, studi dan penelitian.  


Sajak Puteri Malu Menunggu
: Chan

Merunduklah puteri malu
Ada sesuatu menyentuh rindu
Mengkristal ia gigil membeku
Ups!
Kau tertusuk duriku?

(BuRuLi, Blok M: 20 Maret 2004)


Akulah perempuan bugil itu!
: Chan 

Ha ha!
Tak sempat kukenakan kutang bahkan celana untuk membuat sesuatu tak sedemikian kentara!
Demikianlah. Bila kau dapati kurap atau panu.
Tapi benar katamu
:Tak ada tato disitu.

Aku sempat panik. Seperti perempuan yang lupa memoleskan lipstik. 
Membayangkanmu menggerayangiku dengan matamu. Sederet ungu tanda lahirku. 
Beberapa gurat bekas luka masa lalu. Itulah aku. 

Itulah perempuan yang sedang bersamamu. Bersamanya sedang kau 
kumpulkan bata dan kayu. Kita akan mambangun rumah. Lengkap dengan kebun bunga dan 
buah. 
Anak-anak yang berlarian diantaranya.

Rasanya ingin kucacah waktu segera!

(BuRuLi, LeBul: 22. Maret 2004)

Kesukaanku pada kedua sanjak Ria di atas, terutama karena cara pengungkapannya yang 
langsung. Terasa sangat spontan. Seadanya. Seakan-akan mengalir dari mataair perasaan 
dan pikiran lalu meluncur bagaikan airterjun yang jernih mengalir membentuk alur 
jalannya sendiri mencari sungai serta mengalir menuju muara. Bayangan-bayangan yang 
ditampilkannya melalui perbandingan alam sangat jelas serta sederhana. Urut! Sehingga 
kuasa  melambungkan pikiranku seperti seekor burung di angkasa sangat luas. Membiarkan 
aku sendiri sebagai pembaca untuk memberikan isi dan makna pada keluasan angkasa itu.

Di dalam notes belajarku, yang tidak lain merupakan dialog dengan diri sendiri, aku 
mencoba menjelaskan kepada diri sendiri secara lebih rinci, mencoba menjelaskan 
kesanku sendiri sebagai pertanggungan jawab kepada diri sendiri pula. Aku baca ulang 
sanjak pertama:


Sajak Puteri Malu Menunggu
: Chan

Merunduklah puteri malu
Ada sesuatu menyentuh rindu
Mengkristal ia gigil membeku
Ups!
Kau tertusuk duriku?

(BuRuLi, Blok M: 20 Maret 2004)

Siapa di negeri ini yang tidak mengenal bunga Puteri Malu dan sifat-sifat serta 
durinya? Bagaimana rasanya di badan jika kita tertusuk oleh durinya? Dengan 
perbandingan ini, pembaca sangat terbantu untuk mengikuti bayangan atau lukisan 
penyair. Sedangkan bagaimana kemudian memberi isi dan makna pada lambang puteri malu, 
kukira di sinilah pembaca mempunyai kedaulatan menafsir. Bukan tidak mungkin tafsiran 
pun menjadi seperti kapal yang silang-siur di sungai atau laut menjelang merapat ke 
dermaga. Penafsiran yang terdekat antara lain bahwa sanjak "puteri malu" di atas 
memang berbicara tentang rindu dan cinta. Tapi mengapa tidak bahwa iapun bisa dilihat 
dari segi yang lebih luas yaitu kekuatan sesuatu yang nampak lemahlembut tapi kuasa 
menusuk lawan yang nampak berangasan dan menakutkan seperti "macan kertas" atau 
"raksasa berkaki lempung"? Juga di mana letak keberatan menafsirkannya sebagai 
kekuatan cinta pada metode perjuangan damai di hadapan perang dan bentuk-bentuk 
kekerasa
 n militerisme serta otoriatianisme! Keragaman tafsiran yang dibuka oleh perbandingan 
bunga dan rumput liar inilah yang kumaksudkan sebagai angkasa luas bagi elang 
imajinasi serta tafsiran. Ciri begini umum terdapat pada sanjak-sanjak Tiongkok Klasik 
dan Jepang Klasik seperti haiku misalnya. Oleh ciri demikian maka aku kembali 
menduga-duga kemungkinan akrabnya Ria dengan kesusasteraan Tiongkok lama dan baru. 

Ciri-ciri di atas pun kembali kudapatkan pada sanjak "Akulah Perempuan Bugil Itu" yang 
dibuka dengan gelak "Ha ha!". Aku ikut tertawa bersama penyair ketika ia tergelak 
menertawakan keadaan dirinya dengan rupa-rupa pikiran dan bayangan. Lalu kemesraannya 
membayangkan suatu haridepan di mana ia dan Chan bersama-sama: "kumpulkan bata dan 
kayu. Kita akan mambangun rumah. Lengkap dengan kebun bunga dan buah. Anak-anak yang 
berlarian diantaranya" sehingga kerinduan demikian menjadikan Ria "Rasanya ingin 
kucacah waktu segera!" . [Bata dalam sastra Tiongkok juga sering kita dapatkan. 
Misalnya "melempar batu batak untuk mendapatkan batu giok"].

Apakah yang disebut "rumah" itu? Kembali di sini langit luas penafsiran diberikan 
kepada pembaca yang berdaulat. Rumah bisa berarti keluarga kecil, bisa juga berarti 
Indonesia. Jika "rumah" berarti Indonesia misalnya maka yang diharapkan oleh penyair 
adalah Indonesia yang damai, Indonesia yang republiken di mana anak-anak bangsa memang 
layak membangun keluarga dan berumah sebagai anak manusia yang manusiawi.Bukan 
tanahair dan bangsa yang tak obah seperti "perempuan bugil" yang: "...sempat panik. 
Seperti perempuan yang lupa memoleskan lipstik" merasa seperti sedang "digerayangi" 
oleh keliaran mata lelaki penuh berahi. Tanahair dan bangsa dengan " Sederet ungu 
tanda lahirku. Beberapa gurat bekas luka masa lalu. Itulah aku". Aku dan rumah 
Indonesia. Siapakah gerangan dari anak bangsa dan negeri serta Republik yang tidak 
merindukan keadaan demikian? 

Kembali dan lagi-lagi di sini kudapatkan ciri-ciri sanjak klasik Tiongkok dan Jepang 
Klasik atau syair-syair rakyat berbagai pulau yang diterapkan dalam syarat puisi 
kekinian berbahasa Indonesia. Jika dugaanku benar maka kupahami metode ini sebagai 
cara belajar dan membaca yang aplikatif. Lepas dari benar-tidaknya dugaanku, aku kira, 
Ria memang beralasan menjuduli kedua sanjaknya sebagai "Bunga Rumput Liar", karena 
kedua karya di atas memang bercirikan "bunga dan rumput liar". 

Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI



 




-

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke