** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Rabu, 24 Maret 2004
KONSUMEN
--------------------------------------------------------------------------
85% Penderita Tb di Indonesia Harus Sembuh Toal pada 2005
SEBAGIAN besar penduduk Indonesia belum berhasil keluar dari kemiskinan. Itulah
sebabnya, masih banyak di antara mereka yang terserang tuberkulosis (Tb). Keduanya
bagaikan saudara kembar yang sulit dipisahkan.
Meskipun penyakit menular tersebut sekarang dapat disembuhkan, beberapa alasan
memengaruhi keberhasilan penyembuhan. Hal yang paling utama tentunya kemampuan
keuangan untuk menjalani pengobatan. Kalaupun bisa gratis, mereka masih terhambat pada
aspek transportasi.
Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia di Depok melihat kegiatan pemeriksaan medis, tindakan medis, obat, maupun
transportasi sebagai faktor yang paling sering diperhitungkan.
Menurut pakar ekonomi kesehatan Prastuti S Chusnun, selama 2002 hanya sekitar
50% dari 92.792 penderita Tb di Indonesia yang berobat. Dan sebanyak 53.965 di
antaranya merupakan kasus baru.
''Padahal, kira-kira 75% dari mereka masih berusia produktif,'' kata Prastuti di
Forum Jurnalis yang diadakan Koalisi untuk Indonesia Sehat, kemarin, di Jakarta, dalam
memeringati Hari Tuberkulosis Sedunia ke-122.
Akibat penyakit yang dialaminya, lanjutnya, para penderita Tb menjadi semakin
tidak produktif karena tingkat produktivitasnya berkurang drastis sampai 50% dengan
hilangnya masa kerja, rata-rata selama 3-4 bulan dalam setahun.
Syukurlah, klinik Tb milik Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia
(PPTI) di Jalan Baladewa No 34, Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat, mendobrak problem
dasar yang menimpa sebagian besar penderita Tb. Sarana kesehatan yang didirikan pada
1978 itu menggelar beberapa program, antara lain melalui pengadaan adaptor dan
penyelesaian masalah transportasi mengingat kedua hal tersebut berdampak pada
suksesnya pengobatan.
Adaptor
Pakar Tb dari klinik itu, dr Halim Danusantoso menuturkan, adaptor adalah siapa
saja, entah pribadi, kelompok, maupun lembaga, yang membantu para penderita Tb dalam
memecahkan persoalan keuangan. Beberapa orang atas nama pribadi, perusahaan swasta,
organisasi wanita dari lembaga pemerintah, dan pihak luar negeri pernah tercatat
sebagai adaptor di klinik PPTI tersebut. Mereka mengadopsi satu atau lebih penderita
Tb dengan memberikan biaya untuk membeli obat-obatan.
Adaptor memeroleh kebebasan untuk memilih penderita, namun minimal untuk selama
enam bulan pengobatan yang dilakukan tiap hari. Obat-obatannya ada yang generik dan
bermerek, tergantung kebutuhan penderita yang bersangkutan.
Sekarang, setelah klinik Tb itu menerima bantuan obat-obatan dari pemerintah dan
diberikan gratis kepada penderita, para adaptor itu umumnya membiayai pengobatan
lanjutannya saja. Sedangkan problem transportasi, jalan keluarnya juga telah diatasi.
Suatu lembaga sosial asing menyumbangkan satu unit mobil yang dapat digunakan untuk
menjangkau penderita, sehingga pasien tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos.
Sebelumnya, mereka memperhitungkan ongkos bolak-balik ke atau dari klinik untuk
memeriksakan kesehatan, mengambil obat, dan melakukan beberapa tes, sehingga muncul
keengganan dalam memenuhi rutinitas pengobatan.
Namun, masalah tersebut hanya mencakup sebagian kecil penderita Tb di DKI
Jakarta, atau mungkin beberapa klinik lagi di lokasi lain. Bagaimana halnya dengan
sekian banyak penderita yang tersebar di berbagai daerah?
Menteri Kesehatan Achmad Sujudi mengajak masyarakat lain yang mampu bersedia
menjadi adaptor. Mereka diharapkan dapat meringankan dana pembelian obat-obatan,
mengganti ongkos transportasi penderita, membiayai kebutuhan klinik Tb, atau dengan
membangun sarana semacam ini.
''Jadi, mari kita sama-sama mencari adaptor,'' serunya seraya beralasan bahwa
Indonesia memiliki rencana untuk menurunkan penderita menjadi kurang dari 1 kasus di
antara 10 ribu penduduk pada 2010 mendatang.
Pihaknya sendiri sedang mengupayakan peningkatan kemampuan puskesmas dalam
mendiagnosis penyakit Tb. Karena, dari 7.240 puskesmas di seluruh Tanah Air, belum
sampai 94% yang mampu melakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.
Terlebih lagi, pada 2005 mendatang, ada target untuk mencapai 70% penderita Tb
bisa terdiagnosis dan paling tinggi, 85% penderita harus sembuh secara total.
Pasalnya, dunia pun menghendaki pengurangan beban penyakit ini sebesar 50% pada
2010 mendatang dibandingkan dengan 2000 lalu. Kemudian, dalam jangka panjang, pada
2050 mendatang, kasus Tb di dunia diharapkan menurun menjadi satu kasus per satu juta
populasi. (Rse/V-1)
+++
--------------------------------------------------------------------------------
Media Indonesia
Rabu, 24 Maret 2004
KONSUMEN
Masalah Tuberkulosis di Indonesia
Oleh dr Tjandra Yoga Aditama
TUBERKULOSIS (Tb) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium tuberculosis. Sumber penularan adalah dahak dari pasien yang mengandung
kuman Tb. Bila tidak diobati, maka penderita dapat meninggal dunia. Sekitar 25% dari
seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah (preventable death) terjadi akibat Tb.
Penyakit Tb menyerang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan. Data WHO
(World Health Organization) menunjukkan bahwa di dunia Tb membunuh satu juta wanita
setiap tahun. Sementara itu, kematian akibat kehamilan dan persalinan setahunnya
setengah juta orang. Jadi, Tb membunuh sedikitnya dua kali lebih banyak perempuan
daripada kematian akibat kehamilan/persalinan. Tb juga penyebab utama kematian penting
pada usia produktif, sebagian besar pasien dan kematian akibat Tb terjadi pada
golongan umur 15-64 tahun.
Di Indonesia kasus baru Tb hampir separuhnya adalah wanita. Data lain dari
Indonesia lebih mencengangkan lagi. Setiap satu menit muncul satu penderita baru Tb
Paru. Setiap dua menit muncul satu penderita baru Tb paru yang menular dan setiap
empat menit satu orang meninggal akibat Tb di Indonesia. Negara kita adalah penyumbang
kasus Tb terbesar ke tiga di dunia.
Berdasarkan perhitungan ekonomi kesehatan yang menggunakan indikator DALY
(disability adjusted life year) yang diperkenalkan oleh World Bank, Tb merupakan 7,7%
dari total disease burden di Indonesia, perhitungan terbaru bahkan menunjukkan angka
lebih tinggi lagi. Angka 7,7% ini lebih tinggi dari berbagai negara Asia lain yang
hanya 4%.
Dewasa ini Tb dapat disembuhkan dengan baik. Masalahnya obat untuk Tb harus
dimakan sedikitnya enam bulan. Biasanya setelah makan obat selama dua bulan, maka
keluhan pasien akan hilang, dan penderita malas makan obat lagi. Kalau pengobatan
berhenti di tengah jalan, maka bukan saja penyakitnya tidak sembuh, tetapi juga obat
yang ada akan jadi tidak ampuh lagi.
Program DOTS
Agar Tb dapat ditanggulangi dari suatu negara maka, WHO mesyaratkan bahwa
setidaknya 70% pasien Tb dapat ditemukan dan diobati dengan angka kesembuhan
sedikitnya 85%. Untuk Indonesia angka kesembuhan sudah mencapai sekitar 85%, tetapi
cakupan belum lagi 70%, mungkin kini sekitar 47% kendati di beberapa provinsi sudah
jauh di atas target WHO. Tampaknya berbagai upaya yang dilakukan telah meningkatkan
angka penemuan penderita ini dari waktu ke waktu.
Upaya-upaya tersebut terkoordinasi dalam suatu program yang disebut sebagai
strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse) yang terdiri dari lima
komponen, yaitu adanya komitmen politik, diagnosis dengan mikroskopik, pengobatan
dengan obat jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawasan menelan obat
(PMO), jaminan ketersediaan obat serta sistem pencatatan dan pelaporan yang baik dan
seragam.
Strategi DOTS telah dibuktikan dengan berbagai uji coba lapangan dapat
memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan
strategi kesehatan yang paling cost effective. Satu studi cost benefit yang dilakukan
oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa setiap US$1 yang digunakan untuk membiayai
program penanggulangan Tb akan menghemat sebesar US$55 selama 20 tahun.
Tetapi, pada kenyataannya masih dijumpai berbagai masalah di lapangan. Program
DOTS yang kini masih dititikberatkan di puskesmas harus diperluas ke rumah sakit dan
mungkin juga dokter praktik. Sebab, pasien Tb bukan hanya datang ke puskesmas,
melainkan juga ke rumah sakit dan dokter praktik swasta. Masalahnya tentu keterbatasan
rumah sakit yang umumnya tidak mempunyai petugas yang dapat melacak penderita yang
mangkir berobat, dan karena perlu ada suatu mekanisme yang baik.
Akselerasi DOTS
Secara umum memang perlu dilakukan akselerasi DOTS di Indonesia agar program
dapat lebih cepat berjalannya dan target akan lebih cepat terpenuhi pula. Beberapa
aspek akselerasi DOTS yang harus dilaksanakan adalah :
* Tersusun dan terimplementasikannya rencana strategis yang baik, laik laksana,
melibatkan semua stake holder yang ada serta dievaluasi dan disempurnakan secara
berkesinambungan.
* Peningkatan nyata DOTS, baik dalam cakupan maupun angka kesembuhannya, antara
lain dengan terus meningkatkan komitmen politik yang nyata.
* Pembenahan organisasi Gerdunas (Gerakan Terpadu Nasional) TB daerah yang harus
lebih hands on sifatnya dan TB benar-benar jadi program bersama, serta harus terus
dilakukan upaya advokasi.
* Semua pemberi layanan kesehatan harus terlibat dalam program secara nyata,
baik puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta, laboratorium klinik dan bahkan
dokter praktik swasta. Konsep public private mix harus benar-benar diterapkan di
lapangan. Kemitraan harus terus dibina, keinginan semua pihak dibicarakan bersama agar
program yang ada benar-benar jadi milik bersama.
* Dilaksanakannya survailans Tb yang baik demi terjaminnya data akurat sebagai
landasan penilaian keberhasilan program.
* Jaminan penyediaan reagen, alat laboratorium, obat (kalau mungkin dalam bentuk
FDC/ KDT) serta prasarna dan sarana lain untuk menjamin kelancaran kegiatan penemuan
penderita (case finding), pengendalian penderita (case holding) serta pengobatan.
Selain itu perlu dipikirkan pula upaya tambahan seperti penyediaan makanan tambahan
pada pasien.
* Barangkali sudah saatnya ada penggarapan promosi kesehatan besar-besaran di
bidang Tb, yang dilaksanakan secara kontinu.
* Satu aspek lain yang juga perlu dilakukan dalam program Tb adalah kegiatan
riset dan pengembangan. Kegiatan ini punya makna ganda. Pertama tentu untuk secara
kontinu menilai dan memperbaiki kinerja program, dan yang kedua juga memberi sumbangan
bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Tb.
* Yang paling penting, harus ada pembagian tugas yang jelas antarsemua sektor
yang menangani Tb. Pembagian tugas ini harus diikuti dengan alokasi sumber daya dan
jenjang tanggung jawab masing-masing dan kemudian mempertanggungjawabkan hasil
kerjanya secara terkoordinasi baik. * Departemen Pulmonologi & Kedokteran Respirasi
FK-UI/RS Persahabatan Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/