** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0403/25/opi01.html

Partai Agama Bukan Jalan Terbaik
Oleh Yonky Karman

Setidak-tidaknya seperempat dari 24 partai peserta Pemilu 2004 secara
eksplisit berbasis agama. Fenomena politik demikian sebenarnya tidak
istimewa mengingat karakter religius bangsa Indonesia. Itu jangan dibaca
sebagai kemunduran ideologi sekuler, juga jangan dilihat sebagai
ideologisasi agama menjadi alternatif yang akan berhasil memperbaiki nasib
bangsa.
Konstitusi Indonesia tidak memberikan landasan politik bagi Indonesia untuk
menjadi negara agama atau negara sekuler. Tepatnya, Indonesia adalah negara
kebangsaan. Maka, sejauh ini nasionalisme Indonesia juga bukan religius atau
sekuler, melainkan nasionalisme dibingkai dalam keimanan kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Dalam bingkai negara berketuhanan, dikotomi antara partai sekuler
dan religius tidak sepenuhnya tepat.
Mungkin Turki bukan sebuah contoh ideal, namun dinamika politiknya menarik
untuk disimak. Mayoritas penduduknya adalah Muslim namun dasar negaranya
adalah sekularisme (Ataturkisme). Partai-partai Islam di sana tidak berjuang
untuk mengubah dasar negara, tetapi untuk mengurangi pengaruh sekuler yang
dinilai sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan bagi masyarakat yang
menjunjung tinggi ketimuran dan nilai-nilai Islami.
Masyarakat Indonesia juga menjunjung tinggi ketimuran dan nilai-nilai agama.
Secara psikologi bangsa, masyarakat kita religius. Itu sebabnya sewaktu
pemerintah Orde Baru berkuasa, untuk menyukseskan program Keluarga Berencana
sampai ke desa-desa, propaganda pemerintah adalah bahwa itu tidak
bertentangan dengan ajaran agama. Dalam praktik labelisasi produk pangan,
agama juga diikutsertakan memberikan justifikasi.
Dengan kata lain, kondisi psike dan konstitusi Indonesia sebenarnya bukan
lahan yang kondusif untuk tumbuhnya dikotomi partai agama dan partai
sekuler. Tepatnya, partai yang tidak berbasis suatu agama tidak
mempromosikan simbol-simbol keagamaan, namun napas keagamaan dan pengaruh
nilai-nilai agama nyaris tidak dapat ditangkal dalam kegiatan politik
praktis ketika partai berbicara tentang problem kesejahteraan bangsa.
Berbicara tentang problem kesejahteraan bangsa, ujung-ujungnya itu juga yang
dijual oleh partai-partai yang berbasis agama. Kalau pun tema agama diusung,
rakyat ingin bagaimana agama memecahkan problem kesejahteraan bangsa dalam
rangka mencapai cita-cita bersama masyarakat adil makmur. Berhadapan dengan
ekses-ekses globalisasi dan sekularisasi yang membawa nilai-nilai
sekularistik (religionless), itu adalah keresahan semua komunitas umat dan
bangsa secara keseluruhan.

Tiada Korelasi Langsung
Maka, mengusung isu religius versus sekuler sebagai agenda partai tidak
menyentuh inti persoalan bangsa. Agenda politik yang realistis sesuai dengan
realitas politik adalah cita-cita bangsa untuk mencapai masyarakat adil
makmur. Dikotomi antara partai nasional dan partai agama bersifat
superfisial. Dasar berpijaknya saja yang berbeda. Pada dasarnya semua partai
memiliki komitmen yang sama dalam menghadapi musuh bersama, yakni kemiskinan
(dan pemiskinan), kebodohan (dan pembodohan), dan korupsi.
Partai-partai berbasis agama mungkin merasa optimistis bahwa agama adalah
jalan terbaik untuk keluar krisis bangsa. Hanya saja realitas politik tidak
sesederhana itu. Negara RRC, misalnya, berideologi komunisme. Namun, dalam
memerangi korupsi mereka jauh berada di depan kita yang mengklaim diri
sebagai bangsa religius. Tiada korelasi langsung antara agama dan
pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi adalah wilayah penegakan hukum
dan itu amat bergantung pada seberapa seriusnya pemerintah mempunyai kemauan
politik untuk menegakkannya tanpa pandang bulu.
Bila mau ditarik hubungan antara agama dan anti-korupsi, idealnya mungkin
dapat dikatakan, "negara yang bangsanya religius memiliki prestasi lebih
baik dalam pemberantasan korupsi". Bila yang terjadi sebaliknya, artinya
korupsi merajalela, bukan agama an sich dikambinghitamkan, tetapi ada yang
salah dalam penghayatan beragama kita. Dan keberagamaan kita pun patut
dipertanyakan. Agama jelas tidak membenarkan korupsi, tetapi mengapa orang
beragama terjerumus ke dalam tindakan yang dilarang agama? Ini problem
serius, ketika (keber) agama (an) mandul tidak membuahkan kesalehan sosial.
Itulah persoalan kita semua sebagai insan beragama, bukan hanya persoalan
partai berbasis agama. Agama pada dirinya sendiri memiliki visi sosial yang
luhur. Persoalannya, bagaimana agama dapat memberikan kontribusi positif
dalam kehidupan berbangsa? Mengangkat sentimen primordial keagamaan untuk
mencari dukungan politik tidak akan menyelesaikan persoalan itu. Politisasi
agama atau, sebaliknya, pengagamaan politik, bukan solusi terbaik. Agama
dalam kehidupan berbangsa seyogianya dikembalikan kepada fitrahnya, yakni
untuk meningkatkan kualitas spiritualitas bangsa. Untuk memupuk
keutamaan-keutamaan moral dan peningkatan harkat diri sebagai manusia.

Partai Kristen yang Eksklusif
Bila agama terlibat dalam politik praktis, tidak ada jaminan bahwa politik
akan menjadi lebih baik dan lebih bermoral. Politik sebagai sebuah sistem
tidak menjamin partai berbasis agama akan kebal terhadap politik uang dan
korupsi partai. Agama tidak imun terhadap uang dan korupsi sebagaimana kita
yang mengklaim diri sebagai bangsa religius hingga kini masih bertahan
sebagai juara korupsi.
Agama begitu saja, tanpa refleksi kritis, tidak bisa menjadi sumber etika
politik yang menjamin terciptanya masyarakat adil makmur. Malah, agama dapat
menghambat proses demokratisasi dan reformasi seperti yang kini terjadi di
Iran. Bila partai-partai berbasis agama meninggalkan isu-isu parokial dan
melihat suatu persoalan dari perspektif bangsa secara menyeluruh, maka
mereka itu akan hadir dengan wajah inklusif. Fungsi profetik agama
mengedepan dalam supremasi hukum, proses demokratisasi, memerangi korupsi
dan kemiskinan.
Sedikit catatan untuk kehadiran partai Kristen dengan simbol keagamaan yang
eksklusif. Tentu itu bukan sebuah mukjizat. Dalam era reformasi dan dalam
konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan toleran, hal itu tidak
mustahil. Hanya saja harus digarisbawahi bahwa partai itu tidak mewakili
mayoritas umat Kristen, apalagi di kalangan Kristen tradisional. Selama ini,
warga Kristen telah memetik hikmah dari penyaluran aspirasi politiknya ke
partai-partai nasionalis. Dan, itulah yang terbaik dalam konteks Indonesia.
Ada pertanyaan teologis "Wajibkah orang Kristen Indonesia menyalurkan
aspirasi politiknya berdasarkan afinitas keagamaan?" Jawabannya, tidak.
Prinsip bermasyarakat orang Kristen adalah sesuai dengan sabda Tuhan lewat
Nabi Yeremia, "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan
berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah
kesejahteraanmu" (Yer. 29:7).
Itu berarti Tuhan dapat memakai siapa saja untuk mendatangkan kesejahteraan
bangsa. Kriteria umat Kristen dalam rangka Pemilu 2004 adalah memilih
wakil-wakil rakyat dan pemimpin bangsa yang betul-betul mampu
menyejahterakan rakyat, baik karena kemampuannya dalam memimpin bangsa
maupun karena moralitas pribadinya yang dapat menjadi suri teladan bagi
semua menuju kebangkitan Indonesia.

Penulis adalah rohaniwan.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke