** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0403/29/opi01.html

Jalan Rakyat Menuju Demokrasi
Oleh Abdurrahman Wahid

Dalam sebuah siaran radio swasta niaga, sosiolog Universitas Indonesia (UI),
Thamrin Amal Tomagola menyatakan kesangsiannya bahwa Indonesia akan dapat
mencapai demokrasi melalui partai politik (Parpol). Ia juga menolak
keinginan kalangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, agar proses
demokratisasi dipelopori oleh universitas, dengan tenaga-tenaga LSM dan
mahasiswa sebagai perintisnya. Thamrin lebih menyenangi peranan
universitas-universitas di daerah, sehingga pendapat daerah akan muncul
lebih menonjol, ketimbang pendapat dari pusat-pusat keistimewaan (center of
excellence) yang dibangun oleh sejumlah universitas-universitas berkaliber
nasional, seperti UGM, UI, dan ITB.
Pandangan Thamin sangat menarik untuk dikaji, karena terkait dengan sejumlah
lembaga di daerah yang lebih mencerminkan desentralisasi-desentralisasi.
Dengan kata lain, Thamrin mensyaratkan desentralisasi sebagai tonggak
penguji bagi berlangsungnya demokratisasi di negeri kita. Benarkah? Penulis
beranggapan tidak. Karena mengukur demokratisasi dengan desentralisasi
kekuasaan sangatlah riskan. Menurut penulis, desentralisasi adalah hasil
dari proses demokratisasi, bukan sebaliknya. Apabila terjadi proses
demokratisasi yang benar, dengan sendirinya akan tercapai kematangan yang
memungkinkan berlangsungnya desentralisasi kekuasaan.
Penulis yakin hal itu akan terjadi manakala ada sponsornya yang gigih dan
konsisten. Dengan memberikan kepada kita semua untuk memilih pemimpin itu,
penulis yakin bahwa pada waktunya akan muncul seorang pemimpin bangsa yang
dapat melakukan sebuah proses demokratisasi. Ini berarti, penulis melihat
adanya jalan bagi Parpol untuk mengembangkan demokratisasi tanpa terganggu
oleh kemelut politik yang ada dewasa ini.
Kalau meminjam istilah Von Clausewitz dua abad yang lalu, bahwa perang
terlalu penting untuk hanya diputuskan oleh para jenderal. Penulis
beranggapan pula bahwa demokratisasi kehidupan kita tidak hanya cukup
dirumuskan oleh para pengamat saja, setinggi apapun kredibilitasnya saat
ini.
Soalnya ini menyangkut seluruh kehidupan bangsa, sehingga ia harus
diputuskan oleh seluruh bangsa pula, melalui kesepakatan antara pihak
eksekutif yang kuat dan pihak legislatif yang sama kekuatannya, dengan
diperiksa oleh sebuah Mahkamah Agung yang bertanggung jawab.

Mayoritas Bisu
Bukannya kita mengabaikan para pengamat, tetapi kita tidak boleh terlalu
mengagungkan mereka, seolah-olah mereka adalah pemegang kebenaran. Pendapat
mereka, seperti juga pendapat orang-orang lain, mempunyai nilai sendiri.
Apalagi mereka hanya mengenal dunia akademis saja, yang tidak boleh
dijadikan kebenaran mutlak. Kebenaran yang harus kita ikuti adalah yang
diputuskan oleh rakyat, melalui Pemilu itu sendiri.
Inilah yang oleh Richard Nixon, disebut sebagai "mayoritas bisu" (silent
majority), yang merupakan sebuah kekuatan "pemberontakan" di Amerika Serikat
30-an tahun yang lalu. Ia ditertawakan oleh hampir semua pengamat, yang
menguasai dunia pers, elektronika dan media cetak saat itu. Apalagi ia
mengemukakan hal itu setelah ia terlibat dalam scandal Hess sewaktu ia
menjadi wakil Presiden di bawah Presiden Eisenhower. Saat itu, ia dianggap
sudah "habis" karir politiknya dan tamat keterlibatannya dengan dunia
pemerintahan, paling tidak demikianlah pendapat pers.
Namun Nixon adalah orang yang tidak mudah putus asa dan dalam waktu 30 tahun
ia berhasil kembali ke dunia politik. Hal itu dilakukannya melalui dua cara.
Pertama, ia mengumpulkan kekuatan politik dari partai Republik. Kedua, ia
memulai sebuah tradisi baru dalam pemerintahan Amerika Serikat. Ia berbicara
langsung kepada "mayoritas bisu" yang dikenalnya dengan baik tanpa
memperdulikan pendapat para pengamat, yang dinilai tidak tahu apa yang
mereka lakukan.
Hal itu sekarang terjadi pula dalam perpolitikan Indonesia, dalam bentuk
sikap acuh tak acuh para pengamat atas kepercayaan rakyat yang sebenarnya.
Mereka tidak tahu bahwa kebanyakan rakyat yang akan memberikan suara dalam
Pemilu nanti, membedakan antara mengerti dan tahu.
Rakyat tidak tahu banyak tentang dunia politik dan pemeritahan, tetapi
mengerti mana yang baik dan buruk, dan mana yang benar atau salah. Mereka
tidak dapat di tipu dengan slogan-slogan yang kosong dari kebenaran dan jauh
dari kenyataan.
Mereka tidak mudah menelan oleh janji-janji kosong, melainkan mereka
menyimak dengan tekun pernyataan demi pernyataan mengenai bagaimana
demokrasi yang berintikan dan berlandaskan kedaulatan hukum. Dan persamaan
perlakuan bagi semua warga negara di hadapan undang-undang. Dari sinilah
mereka menjadi mengerti apa yang harus dilakukan, yaitu memberikan suara
kepada pihak yang benar-benar melakukan upaya demokratisasi.

Mengerti Dan Tahu
Dari kenyataan ini, menjadi penting bagi kita untuk memiliki kemampuan
membedakan, sikap mengerti dari kurangnya pengetahuan. Islam secara mendalam
membedakan mana yang dianggap mengerti dan mengatahui itu. Dalam pandangan
Islam, keterdidikan memiliki kedua dimensi itu. Karenanya, orang yang tahu
banyak tetapi tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang sesuatu
masalah, belum tentu pendapatnya benar. Dalam hal ini, sikap mengerti dari
seorang awam akan lebih punya nilai daripada pendapat "para ahli". Karenanya
anggapan bahwa rakyat kita bodoh dan dapat dibodohi, harus diragukan
kebenarannya.
Menurut pemahaman penulis, pendapat yang benar harus dapat dimengerti
kegunaannya bagi kehidupan kita di masa depan. Atas dasar pemikiran seperti
itulah, bangsa kita yang masih rendah pengetahuannya (menurut statistik),
yang terbelakang dari sudut pengembangan SDM, mungkin saja mendirikan
demokrasi. Warga bangsa yang bodoh dan kurang pengetahuan itu mampu
menumbangkan pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998. Dalam pada itu, mengapa
pula transisi demokrasi tidak terjadi di negeri-negeri ASEAN yang lain, yang
dianggap lebih maju dan canggih?
Tentu saja, tidak semua bangsa mengalami stadium yang sama pada waktu yang
sama pula. Masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda, dan itu membuat
sejarah peradaban umat manusia sangat menarik. Bangsa India, terlepas dari
perbedaan antara kaya dan miskin yang demikian besar, ternyata memiliki
disiplin hidup yang jelas untuk memprioritaskan teknologi terapan yang perlu
untuk mengangkat derajat hidup mereka sebagai bangsa. Juga melalui sistim
hukum yang memiliki pengekangan sangat kuat atas kekuasaan. Akan halnya
kita, pengalaman bangsa kita yang serba beragam merupakan salah satu bahan
ramuan yang akan melanjutkan demokratisasi di negeri kita.

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke