** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
"Roh" I La Galigo dalam Pergaulan DuniaDARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:
KETIKA "ROH"I LA GALIGO DALAM PERGAULAN DUNIA
Ruang budaya Harian Sinar Harapan, Jakarta[29 Maret 2004] menurunkan artikel Drs. H.
Soeparmo, Ketua Umum Badan Kerjasama Kesenian Indonesia, berjudul "Roh" I La Galigo
Dalam Pergaulan Dunia".
I La Galigo adalah sebuah epik etnik Bugis setebal 6000 halaman dan pada 12-13 Maret
2004 dipentaskan di gedung bergengsi Esplanade, Singapura. Yang menarik perhatian saya
dari tulisan Drs. H. Soeparmo bukanlah masalah sukses yang dicapai oleh pementasan I
La Galigo di Singapura itu, tetapi terutama terletak pada masalah "roh" sebuah karya
sastra-seni. Keberhasilan pementasan karya klasik etnik Bugis di Singapura itu
memperlihatkan bahwa karya sastra-seni sesungguhnya merupakan bahasa universal bagi
anak manusia. Karya sastra-seni yang baik, sekali ia diciptakan sudah menjadi milik
semua bangsa, milik budaya anak manusia tanpa perbatasan wilayah negara dan tidak
mengindahkan ras serta warna kulit atau pun corak fisik.
Benarkah demikian? Jika benar demikian, lalu bagaimana hubungan antara corak lokal,
baik yang bersifat etnik atau pun nasional dengan universalisme? Pertanyaan inilah
yang mengusik diri saya, sekalipun saya tahu persoalan ini bagi seorang kreator tidak
menjadi persoalan yang sangat mengganggu pekerjaan kreatifnya. Ia hanya mengusik rasa
ingin tahu diri yang ingin selesai dan jelas.
Untuk menjelaskan pertanyaan kepada rasa ingin tahu diri yang terusik, saya masih
berangkat dari pemilahan garis besar bahwa sebuah karya mencakup dua aspek utama
yaitu bentuk dan isi. Yang saya maksudkan dengan bentuk adalah wadah, termasuk segala
masalah tekhnis pengungkapan, sedangkan isi yaitu pikiran dan perasaan yang ingin
ditempatkan pada bentuk alias wadah tertentu.
Terhadap isi dan bentuk inipun terdapat macam-macam pendapat yang terkadang bertolak
belakang. Misalnya ada yang mengatakan bahwa bentuk ditentukan oleh isi, sementara
pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Octavia Paz, pengarang Meksiko, justru
sebaliknya. Bentuklah yang menentukan isi [lihat: Octavia Paz, "Alternating Current",
The Viking Press, New York, 1973, hlm.6]. Di hadapan dua pendapat yang nampaknya
seperti bertolak belakang ini, saya mencoba menjelaskan kepada diri sendiri dengan
merujuk kepada pandangan Henry James tentang "germ idea" atau benih gagasan dan
"bayang-bayang batin" yang diketengahkan oleh Subagio Sastrowardojo ketika menjelaskan
proses kreatifnya dan mengapa akhirnya ia [Subagio] meninggalkan cerpen lalu lebih
memilih puisi sebagai bentuk pengungkapan diri [lihat: Subagio Sastrowardojo,"Mengapa
Saya Menulis Sajak", in:"Keroncong Motinggo", Pustaka Jaya, Jakarta, 1975,
hlm-hlm.94-116]. Dalam menjelaskan proses kreatif bersajaknya, Subagio meneran
gkan bahwa pengungkapan pikiran dan perasaan dengan menggunakan puisi jauh lebih
langsung dan padat dibandingkan dengan bentuk-bentuk sastra-seni lainnya.
Bayang-bayang batin atau germ idea, entah itu tadinya hanya bermula dari sebuah irama,
sebuah istilah atau kalimat, akan mendapatkan wadah yang mengena -- baik dari segi
kepadatan, kelangsungan [direct], musikalisasi -- jika diwadahi oleh puisi. Karena
sifat puisi lain dari prosa, barangkali dalam artian inilah maka Paz mengatakan bahwa
wadah atau bentuk menentukan isi. Karena prosa dan puisi mempunyai patokan
masing-masing yang berbeda sebagai sarana pengungkapan diri. Diskusi tentang soal ini
tentu saja adalah pintu selalu terbuka.
Pertanyaan rasa ingin tahu berikutnya menjadi: Apakah bentuk bisa terlepas dari ruang
dan waktu tertentu? Tidak adakah pengaruh serta peranan ruang dan waktu tertentu
terhadap bentuk? Jika tidak ada, jika bentuk memang bebas ruang dan waktu, mengapa di
"Indonesia", sebagai ruang, "dewasa ini", sebagai waktu, para penyair nampak tidak
umum lagi menggunakan bentuk pantun, gurindam, syair atau seloka guna mewadahi pikiran
dan perasaan? Kalau mengambil I La Galigo sebagai contoh kongkret misalnya, apakah
epik raksasa Bugis ini tidak mempunyai ciri-ciri lokal Bugis? Ketika karya raksasa ini
dituangkan dalam bahasa Bugis saja, saya kira, penggunaan bahasa Bugis sebagai sarana
pengungkapan, sudah sekaligus memperlihatkan keterikatan kuat I La Galigo pada ruang
dan waktu tertentu. Seperti halnya "Kieu" karya besar Nguyen Du menggunakan bahasa
Vietnam sebagai sarana ekspresi. Keterikatan ini menjadikan I La Galigo sebagai karya
sastra etnik Bugis dan Kieu sebagai karya sastra Vietnam.
Vietnam adalah nama dari suatu nasionalitas seperti halnya Bugis adalah nama untuk
menunjukkan sebuah etnik. Lalu jika demikian, absurdkah mengkaitkan nasionalitas, ciri
serta warna lokal, ruang dan waktu dengan karya sastra-seni? Bahwa kemudian setelah
karya-karya itu diciptakan, ia menjadi milik semua anak manusia sebagai penghuni
planet kecil kita, juga tidak bisa disanggah. Karena itu tidak mengherankan ketika
orang-orang Russia mengatakan "A Sing Sing So" sebagai lagu mereka sendiri, atau orang
di Tiongkok mengatakan "Ayo Mama" dan "Bengawan Solo" sebagai salah satu khazanah
sastra-seni Tiongkok atau pada suatu ketika di Indonesia kita menganggap lagu
"Mariana" yang aslinya adalah lagu Revolusi Perancis, sebagai karya kita sendiri.
Setelah diciptakan, karya menempuh jalan hidup sendiri, lepas dari kendali
penciptanya. Tentu saja, dalam soal bentuk pun, seorang kreator bukan hanya
mendapatkan masukan dari ruang dan waktu di mana ia hidup secara geografis, tetapi
sepert
i dikatakan oleh Lu Sin, pengarang Tiongkok tahun 30an, bahwa tokoh-tokohnya lahir
dengan kepala dari Beijing, tangannya dari Kanton, sedangkan mukanya dari Nanjing.
Masukan dari luar ini akan makin gampang diperoleh seiring dengan laju perkembangan
tekhnologi yang menyempitkan jarak atau ruang. Karena itu sektarisme, saya kira, tidak
lain daripada keangkuhan dan penyangkalan kenyataan yang menipu diri belaka serta
mencelakakan. Dari segi bentuk suatu karya, kitapun bisa melihat tanda-tanda ruang dan
waktu tertentu. Pada bentuk sebuah karya tercatat sejarah perkembangan manusia, bangsa
dan suatu etnik. Bentuk pun mempunyai "roh". "Roh" zaman. Zaman bukanlah sesuatu yang
abstrak, tapi selalu kongkret baik dalam pengertian ruang dan waktu.Ruang dan waktu
yang selalu ditandai dengan nama entah sebuah etnik atau bangsa dan negeri. Nama
tidaklah berarti sektarisme, tidak pula menyangkal adanya proses saling hubungan,
lebih-lebih tidak menolak universalisme. Tapi hanya menekankan,
apalagi jika menekan-nekankan pada universalisme tanpa mengindahkan nama, saya kira
sama dengan irasional dan menolak kenyataan. Sebagai contoh: Hubungan percintaan
antara lelaki perempuan di manapun bisa didapatkan. Tapi dalam mengungkapkan perasaan
itu, tiap bangsa mempunyai cara masing-masing. Di Tiongkok misalnya, untuk
mengungkapkan perasaannya kepada seorang pria, sang perempuan membuat sepatu dan
menyerahkan sepatu bikinan sendiri itu kepada sang pria. Sedangkan di Eropa Barat
perasaan itu diucapkan secara langsung dalam kata-kata: "Saya mencintaimu" dan
berlanjut dengan saling ciuman. Saya tidak bisa mengatakan mana yang baik dan mana
yang buruk. Karena masing-masing bangsa dibentuk oleh suatu proses mempunyai kebiasaan
dan psikhologi sendiri-sendiri. Memahami suatu karya, dari pembaca atau penikmat karya
ditagih tingkat pengetahuan yang padan tentang berbagai aspek masyarakat pada ruang
dan waktu tertentu. Hanya yang universal di sini adalah perasaan cinta. Kekhus
usan dan universalisme sebenarnya boleh jadi tidak perlu dipertentangkan jika kita
menyadari mana yang khusus dan mana yang universal serta bagaimana dengan berangkat
dari kekhususan guna mencapai kadar keumuman [universalitas]. Masalah ini saya kira
lebih terletak pada kemampuan tekhnis berkarya, dan tidak terletak pada masalah
teoritis. Saya tidak yakin bahwa Marxisme pun menyangkal adanya universalitas nurani
manusia sehingga begitu mendengar kata universal, universalisme atau universalitas,
lalu dengan gampang mengucapkan kata-kata "indah" bahwa "itu pandangan borjuis",
"tidak berpijak dari pandangan kelas" dan sejenisnya, dan lain-lain tudingan sejenis.
Sebagai contoh, saya ingin mengambil lakon "Detasemen Wanita Merah" yang menggunakan
bentuk balet. Di dalam lakon balet ini dilukiskan dengan manis percintaan antara
komandan destasemen [seorang perempuan asal buruh-tani] dengan komisaris politik
[seorang lelaki]. Percintaan keduanya berakhir dengan gugurnya komisaris po
litik demi melindungi seluruh detasemen ketika terkepung dan harus mundur. Apakah
perasaan sedih sang komandan detasemen oleh gugurnya sang kekasih merupakan hal yang
borjuistis? Tidak manusiawi dan tidak universal? Saya kira, seorang Marxis justru
seorang yang sangat manusiawi. Marxis yang tidak manusiawi bukanlah seorang Marxis
sesungguhnya! Manusiawi adalah nilai universal yang oleh sastra-seni ingin dijadikan
bahasa antara sesama manusia.
Tiba di titik ini, saya sampai kepada masalah "roh" dari segi pikiran dan perasaan
yang sebenarnya merupakan gerbang lebih terbuka lagi agar mampu menjadi "roh" yang
kayaraya dengan kebijakan dan keluhuran nilai sehingga sastra-seni mampu mencapai
ruang dan waktu lebih luas lagi."Roh" universal lahir dari perbincangan dengan segala
rupa ide dan memahami aneka macam perasaan hingga ke dasar yang terdalam.
Mengetahui bahwa pertunjukan I La Galigo mendapat sambutan hangat di Singapura dan
"rohya" hidup di dunia pergaualan internasional, saya kira, salah satu masalah kunci
dalam keberhasilan pentas ini terletak pada nilai universal "roh" I La Galigo baik
dari segi bentuk maupun isi. Universalitas yang didapatkan dari tepian khusus ke
samudera luas. I La Galigo setelah diciptakan seperti karya manapun akhirnya menjadi
pinisi yang terus melaut tanpa lagi membuang sauh.
Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/