SURAT DARI PARIS:

TONNY MORRISON SASTRAWAN PEJUANG AFRO-AMERIKA [1]

Tonny Morrison termasuk salah seorang sastrawan Afro-Amerika yang luar biasa. 
Keistimewaan ini nampak dari Hadiah Nobel Sastra yang dianugerahkan kepadanya pada 
tahun 1993 setelah menulis enam roman dan satu karya teater. "Love" adalah roman 
terakhirnya  yang baru beredar. Di antara tujuh karyanya yang telah mendapat hadiah 
adalah Song of Salomon [mendapat National Books Critics Award 1977], dan "Beloved" 
yang mendapat Hadiah Pulitzer pada tahun 1988. Tonni Morrison merupakan perempuan 
kedelapan yang mendapatkan Hadiah Nobel dan yang perempuan Afro-Amerika pertama yang 
dianugerahi "hadiah sastra tertinggi" itu. 

Fr�d�rick Joignot, wartawan literer Majalah Le Monde, Paris, [08 Mei 2004] ketika 
bertemu dengan Tonni Morrison di rumah sang sastrawan,  menanyakan tentang tulisan 
pertama yang ditulis oleh Morrison. Secara bercanda Tonni Morrison menjawab Joignot: 
"Tulisan pertama yang saya goreskan adalah tulisan dengan kapur di jalan ketika saya 
berusia 4-5 tahun. Kucoretkan bersama-sama saudara perempuan saya, berupa kutipan 
kalimat-kalimat yang saya baca di tembok-tembok dan kamar kecil umum. Usai menulis 
ulang kalimat-kalimat itu saya tertawa, geli sendiri" ujar Morrison mengenangkan 
tulisan tangan pertamanya. Sedangkan mengenai apa yang ingin dia tuliskan 
pertama-tama, Morrison bertutur kepada Joignot yang mewancarainya di kediaman 
pribadinya: "Dunia magis mimpi seorang gadis hitam, rahasia dan gelora jiwanya. Inilah 
yang ingin saya terakan di halaman-halaman pertama karya saya. Mula-mula berbentuk 
novel kemudian saya kembangkan menjadi roman sehingga dari situ lahirlah roman "The 
Bluest Eye" [Mata Paling Biru]. "The Bluest Eyes" berkisah tentang seorang anak 11 
tahun, Pecola Breedlove, yang memimpikan sepasang mata biru, biru bagaikan kolbat, 
tapi berakhir dengan kebutaan tapi. Mujur seorang sarlatan Hitam bisa melakukan 
operasi berhasil menyelamatkan penglihatan Pecola.Cerita ini saya tulis berdasarkan 
kenyataan yang dialami oleh seorang sahabat saya. Pecola sejak usia 11 tahun sudah 
tidak lagi mempercayai Tuhan karena selama dua tahun lebih , saban hari ia berdoa 
kepada Tuhan meminta mata biru, tapi permintaan itu tak juga kunjung terwujud. Waktu 
itu saya masih berusia 32 tahun. Kebungkaman kaum perempuan Hitam makin menjadi-jadi  
hingga menerobos ke kalangan intelektual dan para aktivis Hitam. "Mata Yang Paling 
Biru" [The Bluest Eyes] terbit pada  tahun 1970. Tapi karya ini sama sekali tidak 
membawa sukses finansil sedikitpun. Pada masa terbitnya karya ini, para pengarang 
Hitam yang terkenal melukiskan beratnya kehidupan di "getho-getho", bentrok antara 
kelompok, kekerasan, sedangkan datangnya drogue  [ganja] tambah memerosotkan kehidupan 
para pemuda Hitam .

Morrison yang mengikuti prenom Tonni adalah nama suami pertama Tonni, Wofford 
Morrison. Morrison  adalah keluarga pemilik perkebunan di mana keluarga Tonni bekerja 
dan sekaligus jadi milik keluarga Morrison. Tonni pernah mengajar pada sastra Inggris 
pada Universitas Howard , jabatan yang kemudian ia tinggalkan untuk bekerja sebagai  
editor pada Random House. 

Di samping itu, Tonni Morrison juga giat dalam gerakan untuk memperoleh hak-hak sipil 
yang diprakarsai oleh lingkaran-lingkaran politik radikal, di mana Angela Davis, 
perempuan Hitam yang paling dicari oleh FBI, dinas rahasia Amerika Serikat. Tonni juga 
dekat dengan Andrew Young, walikota Atlanta. Tonni bahkan membuat tulisan tentang 
Andrew Young. Tonni juga  akrab dengan Martin Luther King, Stokely Carmichael, pendiri 
Black Panther. Karena kontak-kontak dan lingkungan  kegiatan politiknya ini, maka 
Tonni Morrison selalu dikuntit oleh dan dimata-matai. "Saya selalu dikuntit dan 
dimata-matai. Saya sendiri pernah melihat dokumen pemerintah federal tentang diri 
saya. Pertemuan saya dengan Huey Newton, salah seorang pimpinan Black Panther, 
misalnya telah direkam. Salah satu dokumen menceritakan bahwa Newton melalui pertemuan 
tersebut ingin mencoba menanamkan ide komunisme terhadap diri saya", ungkap Tonni 
Morrison kepada Fr�derick Joignot. Sebaliknya, karya Tonni Morrison, "The Bluest Eyes" 
di kalangan radikal Hitam kurang mendapat sambutan.  Kalangan ini menilai roman saya 
sebagai "karya negatif"."Seorang anak Hitam menginginkan mata biru bagi mereka  mereka 
merupakan suatu noda.Saya paham bahwa saya sedang memasuki daerah perawan, lingkup 
sastra yang tidak pernah dijelajahi oleh siapapun, ruangan dalam diri tokoh-tokoh yang 
dirusaki oleh perbudakan . Ketika merambah daerah perawan ini, saya mulai dari 
mengangkat soal perempuan. Bayangkan bagaimana seorang anak Hitam mempunyai bayangan 
buruk tentang dirinya sendiri dan mengharapkan adanya suatu mujizat untuk merobah 
nasib buruknya. Dari keadaan ini maka muncul pertanyaan mengapa saya menulis 
roman-roman realis? Sejarah umat manusia selalu tergantung pada siapa yang berkuasa 
dan bukan tergantung kepada para pemimpi. Kita hidup di sebuah dunia yang 
ruang-ruangnya dipenuhi oleh para hantu, dongeng-dongeng, takhayul dan Tuhan, dunia di 
mana anak-anak Hitam memimpikan untuk mempunyai mata biru, sekalipun kaum radikal 
berpikir sebaliknya....tapi kehidupan senantiasa saja jauh lebih luas dari kehidupan", 
ujar Tonni Morrison menjelaskan latar ide karyanya "The Bluest Eyes". 

Ketika Joignot menanyakan "The Bluest Eyes" dalam hubungannya dengan situasi pada 
tahun 1940, Tonni Morrison hanya diam dan juga tidak membantah.  Joignot pada 
kesempatan bertandang mewawancarainya di apartemen Tonni mengemukakan:"Tidakkah 'The 
Bluest Eyes'  menggambarkan keadaan psikhologis Afro-Amerika pada tahun 1940 di mana 
orang-orang muda mencet dan meroba warna rambut dan kulit mereka, sampai-sampai 
Micheal Jackson melakukan operasi plastik untuk mengobah kulit dan wajah? Tidakkah ini 
merupakan suatu 'tragedi fisik' ?,tanya Joignot.Terhadap pertanyaan ini, Tonni 
menjawab: "Anda tahu pada tahun 1940 saya masih anak perempuan kecil. Semua citra  
yang disajikan oleh filem, majalah, mainan, buku kanak-kanak, sangat mengerikan. Kami 
dilukiskan sebagai sejenis makhluk sangat rendah dan hinadina. Tak berbeda dengan 
monyet. Saya dan saudara perempuan saya menjadi ngeri. Di tengah keadaan beginilah 
maka banyak anak-anak perempuan yang ingin memutihkan kulit mereka, mencat lain rambut 
mereka. Baru setelah munculnya gerakan "Black is beautiful", citra orang Hitam dalam 
masyarakat perbudakan mengalami perobahan". 

"Black is beautiful" adalah suatu gerakan kebudayaan yang mulai di St. Denis , 
pinggiran Paris , dicetuskan oleh penyair-penyair Leopold Sengor [kemudian menjadi 
presiden Senegal], Ayme Cesar [tokoh politik di Guadalup] dan teman-temannya. Secara 
politik gerakan ini dekat dengan Partai Sosialis dan Komunis. Ketika itu Senghor dan 
Cesar masih mahasiswa di Paris. Atas dasar "Black is beautiful" ini pula maka Senegal 
di bawah pimpinan Senghor menyokong secara politik Organisasi Papua Merdeka dan 
gerakan-gerakan di Melanesia. Kalau merenungkan apa yang dialami oleh komunitas 
Afro-Amerika di Amerika Serikat ini, saya mau tidak mau teringat akan apa yang dialami 
masyarakat Dayak yang dihujat dengan segala hinaan sampai hari ini sehingga seperti 
Tonni Morrison dan saudara perempuannya sempat merasakan rendah diri menjadi orang 
Afro- Amerika. Sedangkan orang Dayak tidak sedikit ketika beralih agama tidak mau lagi 
mengaku diri sebagai orang Dayak. Titik-balik bagi orang Dayak adalah Kongres Nasional 
Dayak di Pontianak pada tahun 1991 sekalipun Kongres ini tidak menawarkan konsep 
apa-apa yang bersifat alternatif seperti halnya "Black is beautiful". Menghadapi 
kekurangan ini, saya ingin menawarkan konsep "Dayak Kekinian" dan "Dayak itu mulia dan 
agung". 

Sejak bulan Februari 2004, Tonni Morrison secara politik merasa tegang karena kampanye 
pemilihan presiden sudah dimulai. Tonni sangat mengharapkan agar Bush dari Partai 
Republik kalah. Ini adalah harapan terbesar Tonni.     Tonni menilai pemerintahan  
Bush sangat buruk. Pernilaian ini didasarkan oleh pengalaman dan pengenalan Tonni akan 
Bush yang sejak puluhan tahun menentang adanya hak-hak sipil bagi orang-orang Hitam 
Amerika. "Sekarang kami terkepung" ujar Tonni. "Apa yang kami perjuangkan dahulu dan 
kami kira mencapai kemenangan, sekarang pada zaman Bush segalanya sirna. Kemarin di 
tivi saya lihat wakil dari Lembaga Pendidikan Nasional [National Education 
Association], sebuah serikat buruh para guru beranggotakan tiga juta orang, dituduh 
sebagai "teroris" karena menuntut agar disediakan lebih kemudahan-kemudahan untuk 
dunia pendidikan. Menteri Pendidikan Bush yang adalah seorang Hitam mengatakan bahwa 
"Kalian semua adalah teroris". Ia tidak mengatakan bawa "kalian adalah keras kepala" 
atau "bengal". Ia mensejajarkan "teroris" dengan ungkapan dahulu "komunis". Asal saja 
kita menenantang langkah-langkah Bush, menentang perang Bush, menentang lobbie minyak 
Bush , kita akan diperlakukan sebagai ,"teroris". Saya merasa kita kembali ke zaman 
Maccarthysme, yang saya alami pada masa remaja. Bedanya sekarang lebih buruk lagi. 
Tekanan politik dan hasrat mengendalikan bukannya datang dari berbagai liga anti 
komunis yang histerik seperti yang terjadi pada tahun 1950an, tetapi datang dari 
pemerintah pusat. Paranoia datang dari tingkat tertinggi hingga berbagai tingkat 
kekuasaan dalam negara ini. Orang-orang politik, pejabat, wartawan-wartawan diancam, 
dipindahkan ataun disingkirkan". Tutur Tonni Morrison.

Apabila kita membuka majalah Nation, majalah Partai Demokrat, edisi minggu lalu, di 
situ bisa kita ketahui bahwa Tonni Morrison telah memimpin sebuah debat politik di 
Universtas Princeton. Hal begini memang sering dilakukan oleh Tonni, terkadang ia pun 
memberikan kuliah filsafat atau kuliah-kuliah tentang masalah-masalah sosial. 
Kegiatan-kegiatan akademis begini ia lakukan atas nama pribadi  dan bukan atas nama 
grup mana-apapun. Mengomentari artikel di yang disiarkan oleh Village Voice, 
penerbitan kalangan Hitam radikal New York, di mana para redaksinya menyesalkan 
hilangnya tokoh-tokoh besar seperti Martin Luther King, Malcolm X, Jesse Jackson , 
Tonni Morrison berkata: "Ya,saya lihat memang kulit muka penerbitan itu, "Wanted 
[Dicari!].Afro-Amerika mencari para pemimpin".  "Saya tidak setuju akan pendapat ini. 
Sekarang selayaknya kita meninggalkan masa tokoh-tokoh bapak-pimpinan, jurutarung 
[warrior] dan romantik, yang menunjukkan jalan patut ditempuh. Yang diperlukan 
sekarang lebih terletak pada keberpihakan lokal, keterlibatan pada pembangunan  
pendidikan atau pembiayaan sekolah-sekolah di kampung-kampung, penghapusan pajak, 
pengembangan jaringan  setiakawan. Hal-hal inilah yang selalu saya tekankan dalam 
setiap pembicaraan publik saya", ujar Tonni. Artinya di sini Tonni melihat dan 
menggarisbawahi arti penting pendidikan untuk melairkan manusia yang bersolidaritas 
dan punya keberpihakan pada masyarakat bawah yang luas. Tonni juga melihat bahwa jalan 
keluar didapatkan tidak melalui tokoh-tokoh atau pahlawan tetapi dengan menyandarikan 
diri pada mayoritas masyarakat. Bagaimana Morrison melihat masala tivi, perang Irak, 
Tragedi 11 September dan lain-lain masalah dalam masyarakat Amerika?

[Bersambung]


Catatan:
Foto terlampir adalah hasil karya Jelitheng. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke