Gugat Terus Tragedi Mei dan Semua Pelanggaran HAM

( Oleh : Z: AFIF )   

1 MEI yang lalu terjadi tragedi penyerbuan oleh polisi ke UMI  di Mekassar. 
Kutukan pun mengalir. Bukan baru kali ini kejadian brutal aparat negara RI 
menyerbu ke dalam kampus Universitas, yang sebenarnya tidak berhak alat 
negara memasukinya tanpa seizin Universitas yang bersangkutan. Di Medan 
pernah muncul hal serupa, yang juga mengambil korban jiwa mahasiswa. Di 
Jakarta sudah sering terjadi. Di Banda Aceh juga tak luput kampus diteror 
oleh aparat negara. Namun, baru kali ini segera ada tindakan pemecatan atas 
pejabat Kapolri yang bertanggungjawab seperti pemecatan Kepala Polisi 
Mekassar hingga pencopotan Kapolda, Inspektur Jenderal Jusuf Manggabarani, 
yang sebelumnya telah banyak berbuat dosa di Aceh. Namun tuntutan memuncak, 
agar Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar juga  dipecat, yang disuarakan oleh 
mahasiswa dan masyarakat pendukung mereka.

Sebenarnya, di  Indonesia seperti tak ada hukum pelindung terhadap korban 
tindakan tidak menghargai hak sipil masyarakat. Lumrah berlaku polisi atau 
tentara menyerbu masuk ke rumah seorang penduduk, menangkapi, menganiaya dan 
mengobrak-abrik rumahnya tanpa  menunjukkan surat perintah dari  pihak yang 
berwenang atau bahkan memang tak membawa surat perintah sejenis itu. Kalau 
hal ini diadukan oleh pihak korban kelaliman itu kepada pihak yang berwajib 
dan pemegang hukum, mereka tidak akan mendapatkan keadilan hukum, karena 
tidak punya kekuatan pendukung atau tidak punya uang sogokan yang menjamin. 
Hukum tidak di pihak si kecil, karena si kecil tak punya kuasa.

BANYAK kejadian masa lalu, justru pihak yang bertanggungjawab - pemegang 
Komando dalam TNI, terutama dari Angkatan Darat dan Polri/Brimob, tidak 
ditindak setelah kejadian brutal yang dilakukan anggota pasukan bawahannya 
terhadap massa rakyat, seperti Peristiwa Priok, Trisakti, Semanggi, 
pembunuhan massal di Aceh, dan lain-lain. Jenderal-jederal seperti Try 
Sutrisno, Benny Murdani, Faisal Tanjung, Wiranto, Syarwan Hamid, Prabowo, 
dan banyak lagi, sampai sekarang tak tersentuh hukum, padahal masa mereka 
memegang Komando telah terjadi berbagai pelanggaran HAM berat terhadap massa 
yang dilakukan oleh TNI. Tragisnya, sekarang orang seperti Wiranto tampil 
sebagai calon Presiden.

Bagaimana kelak perjalanan HAM dan Hukum Asasi di Indonesia kalau militer 
itu mengendalikan mesin militerisme kembali seperti masa ORBA? Beranikah 
Wiranto dan Susislo Bambang Yudhoyono dalam kampanye pemilihan Capres 5 Juli 
nanti menggelarkan programnya secara tertulis dan berbicara di depan massa 
rakyat dengan janji menjamin akan menyingkap kembali pelanggaran HAM masa 
lampau yang dilakukan TNI, Polri/Brimob, menghukum mereka yang bertanggung 
jawab, mengadili Suharto sebagai Embahnya pelanggar HAM? Pelajaran dari masa 
lalu, sesuatu yang benar dan adil, hanya bisa diperjuangkan dengan gerakan 
massa yang bersatu-padu, dan menyuarakannya terus-menerus.

DI  SAMPING  menolak militer sebagai Calon Presiden, suarakan terus dan gugat 
terus Peristiwa Mei 1998 dan Peristiwa pelanggaran HAM lainnya termasuk 
teror massal di Aceh, Ambon, Papua dan teror 1965-1966.

Z. Afif.


>----- Original Message -----
>From: el camino
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Sent: Thursday, May 06, 2004 9:17 AM
>Subject: Re: [sastra_tki] Tragedi Mei 1998 dalam Sajak Wilson Tjandinegara
>
>
>  Hello Bung Rinto Jiang
>
>Aku tertarik membaca cerita itu.
>Perlulah orang bisa bicara terbuka dan berhenti main sandiwara.
>Kita semuanya warga tanah ini.
>Cobalah baca sebuah puisinya almarhum Soe Hok Gie (kisah hidupnya konon 
>bakal difilmkan).
>Seorang kawan pernah menulis tentang puisinya ini.
>Aku hanya meng up-grade buat enak dibaca.
>Katakan, bagaimana hatimu seusai membacanya?
>-------------------------------------------------------------------------------
>
Mandalawangi - Pangrango
>
>>Senja itu ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
>
>Aku datang kembali
>
>Kedalam ribaanmu dalam sepimu dan dalam dinginmu.
>
>
>
>Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
>
>Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
>
>Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
>
>Seperti kau terima daku.
>
>
>
>Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi
>
>Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
>
>Hutanmu adalah misteri segala
>
>Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta.
>
>
>
>Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
>
>Kau datang kembali
>
>Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua.
>
>
>
>Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya
>
>Tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar
>
>Terimalah dan hadapilah.
>
>
>
>Dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
>
>Aku terima itu semua melampaui batas-batas hutanmu melampaui batas-batas 
>jurangmu.
>
>
>
>Aku cinta padamu Pangrango
>
>Karena aku cinta pada keberanian hidup.
>
>
>
>19/7/1966
>
>
>
>Soe Hok Gie
>
>
>
>
>
>
>
>Sekedar penjelasan.
>
>
>
>Itulah sebuah puisi yang ditulis oleh pencinta alam Soe Hok Gie 38 tahun 
>yang lalu.
>
>Tak lama sesudah puisi ini ditulisnya, Soe Hok Gie tewas dengan seorang 
>kawannya di gunung Semeru.
>
>Yang menarik 38 tahun kemudian puisinya masih saja bagus untuk dibaca dan 
>direnungkan.
>
>Soe Hok Gie bertanya apakah kita masih mampu bicara tentang cinta dan 
>keindahan ataukah kini cuma uang dan mimpi Hollywood?
>
>Banyak sudah yang menulis tentang dirinya. Kini bahkan sebuah film dengan 
>judul "Catatan harian seorang demonstran" (dari sebuah buku oleh Soe Hok 
>Gie) akan dibuat. Ditahun 1966 ia seorang student activist yang buuaaanyak 
>bersuara tentang HAM. Padahal waktu itu di Indonesia belum ada apa yang 
>namanya Amnesty International atau Lembaga Hak Azazi Manusia. Itulah 
>sekedar tentang beliau yang bisa saya kumpulkan.
>
>Soe Hok Gie juga seorang pencinta alam yang gemar mendaki gunung. Ia giat 
>dalam MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) - UI. Salah satu tempat 
>kesayangannya adalah Mandalawangi - Pangrango.
>
>Semoga kalian menikmati puisinya!
>
>
>
>Rinto Jiang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>   -------- Original Message -------- Subject:  [budaya_tionghua] [Budaya 
>Sastra] Tragedi Mei 1998 dalam Sajak Wilson Tjandinegara
>         Date:  Thu, 06 May 2004 12:06:58 +0800
>         From:  Rinto Jiang
>
>
>
>   Tragedi Mei 1998 dalam Sajak Wilson Tjandinegara
>   Catatan Nanang Suryadi
>
>   "Tragedi bulan Mei 1998, telah menggemparkan dunia. Korbannya kebanyakan 
>dari etnis Tionghoa. Sebuah tragedi yang meninggalkan noda hitam dalam 
>sejarah Indonesia. Sebagai penyair yang punya hati nurani, pasti mengutuk 
>peristiwa tersebut dan menyampaikan simpatinya kepada para korban, dengan 
>caranya seorang penyair.."(Tjandinegara, 1999, hal.28)
>
>   Pernyataan yang membuka tulisan ini cukup menghentak bukan? Tulisan 
>tersebut merupakan pengantar Wilson Tjandinegara bagi 3 sajak dalam 
>kumpulan sajak "Rumah Panggung Di Kampung Halaman", untuk memberi perhatian 
>terhadap peristiwa kerusuhan yang terjadi di bulan Mei 1998.
>
>   Satu halaman khusus pernyataan untuk mengantarkan 3 sajak-sajak yang 
>diilhami tragedi tersebut. Sajak-sajak yang dimaksud adalah sebagai 
>berikut:
>
>     KITA TAK BOLEH BERDIAM DIRI
>
>     Karena terus bersabar
>     kita sering jadi korban
>     jadi kambing hitam
>
>     Karenanya, kita tak boleh berdiam diri!
>
>     Menerima perlakuan tidak adil
>     menahan diri terhadap hinaan orang
>     ternyata ada batasnya
>
>     Karena, kita tak boleh berdiam diri!
>
>     Kita juga manusia, adalah manusia!
>     punya hak yang sama
>     betapa mungkin diinjak-injak
>
>     Karenanya, kita tak boleh berdiam diri!
>
>
>     Tangerang, Juni 1998
>
>
>     KAMBING HITAM
>
>     Sejak purbakala
>     yang paling banyak
>     di dunia ini
>     adalah 'kambing hitam'
>
>     Walau kulit dan bulunya hitam
>     namun darahnya sama merah
>
>     Para ambisius pengejar kekuasaan
>     politisi pengobral janji
>     para orang culas
>     lempar batu sembunyi tangan
>
>     Mereka itulah
>     menghitamkan kambing
>     jadikan kurban
>
>     Ketika dibutuhkan
>     mereka diperalat
>     ketika tak mampu kuasai situasi
>     dijadikan tumbal
>
>     Zaman apa pun
>     negara mana pun
>     yang paling malang nasibnya
>     adalah kau:
>     'kambing hitam'
>
>
>     DI MANAKAH NURANIMU!
>
>     Apakah dosanya
>     maka direncah kelopak bunga
>     dan dinodai tiada tara
>
>     Di manakah nuranimu!
>
>     Hanya hewan
>     bisa melakukan
>     perbuatan terkutuk itu!
>
>     Di manakah nuranimu!
>
>     Andai sang korban
>     adalah anak, istri
>     atau saudara perempuanmu
>     apakah kau terima?
>
>     Di manakah nuranimu!
>
>     Kau reguk madu perawan
>     kau hancurkan masa depan
>     insan lemah tanpa dosa
>     kini memeluk duka lara
>
>     Di manakah nuranimu!
>
>     Walau kali ini kau terbang bebas
>     takkan lolos pengadilan Tuhan!
>
>     Ya, Tuhan! Turunkan hukum keadilan
>     bagi pelanggar ajaranmu
>
>     Tanggerang, Mei 1998
>
>   Terhadap tragedi Mei 1998 , Ariel Haryanto (1998) memberikan pernyataan: 
>"...sulit mengatakan bahwa pemerkosa adalah massa, atau tindakan mereka 
>bersifat spontan. Bukan kejutan jika penelitian lebih lanjut akan 
>menyimpulkan kejahatan itu merupakan sebuah paket program yang dipersiapkan 
>dan diko-mando oleh kelompok yang ahli dalam kekerasan dan teror. Perkosaan 
>massal itu merupakan bagian integral dari pembakaran aset ekonomi nasional 
>dan lebih dari seribu nyawa
>   penjarah dalam beberapa jam saja. Kelakuan immoral itu tak mungkin 
>dilakukan oleh rata-rata manusia Indonesia. Moral-itas menjadi modal utama 
>perjuangan generasi muda Indonesia menumbangkan otoriterisme Orde Baru. 
>Tindakan immoral bulan Mei itu hanya mampu dilakukan oleh mereka yang 
>berada jauh di bawah atau jauh di atas rata-rata manusia Indonesia."
>
>   Pada halaman lain pada buku RPDKH tersebut ada bagian yang menuturkan 
>pengalaman kreatif dan hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Sebagai 
>seorang yang merasa sebagai bagian masyarakat yang dimarjinalkan, Wilson 
>Tjandinegara berkomentar: "Selama ini ada anggapan yang kurang obyektif 
>terhadap kaum keturunan Tionghoa. Meraka dianggap pelit, egois, 
>anasionalis, tidak peduli pada orang lain dan hanya mencari 
>keuntungan".(Tjandinegara, 1999, hal.34)
>
>   Ariel Haryanto (1998) melihat persoalan itu sebagai: "seperti korupsi 
>atau kolusi, rasialisme anti-Cina sudah merasuk dan melembaga dalam 
>kehidupan sosial. Dalam berbahasa pun rasialisme itu dihayati dan diamalkan 
>secara lumrah. Misalnya populernya istilah pribumi dan nonpribumi. Fiksi 
>ciptaan kolonialisme Belanda ini telah dimanfaatkan secara maksimal oleh 
>Orde Baru. Di akhir abad 20 ini sudah tidak ada
>   lagi makhluk pribumi. Kita semua adalah nonpribumi: tengok bahasa, menu, 
>busana, perabot rumah, atau rekreasi dan hiburan kita. Baik struktur 
>lembaga, cita-cita maupun istilah "Republik Indonesia" sepenuhnya bersifat 
>nonpribumi!"
>
>   Dalam pencariannya terhadap riwayat identitas diri, Wilson Tjandinegara 
>menuangkan tipikal pembauran alami yang terjadi di sebuah tempat di daerah 
>Tangerang yang terkenal dengan "Cina Benteng."
>
>     BALADA SEORANG LELAKI DI NAN YANG
>
>     Sejak abad lima belas
>     dengan perahu Jung
>     mereka arungi lautan ganas
>     larikan diri dari bencana dan malapetaka
>     tinggalkan negeri leluhur
>     mencari tanah harapan di Nan Yang*
>
>     Perkampungan nelayan di Teluk Naga
>     seorang encek pembuat arak
>     mengubur kesendiriannya
>     bersama seorang pendamping setia
>     gadis pribumi lugu sederhana
>
>     Kikuk seperti ayam dan itik
>     yang satu pakai sumpit
>     yang satu doyan sambel
>     dengan bahasa isyarat
>     berlayar biduk antar bangsa
>     beranak pinak dalam kembara
>
>     Dari generasi ke generasi
>     warna kulit makin menyatu
>     jadilah generasi persatuan:
>     'Cina Benteng'
>     teladan pembauran
>
>     Sungai Cisadane jadi saksi
>     perjalanan hidup kedua anak bangsa
>     bersama melwan penjajah Belanda
>     bergotong royong
>     terjalin persaudaraan sejati
>     seperti Cisadane terus mengalir
>     dari abad ke ke abad
>     menuju tanah air-Indonesia
>
>     Tangerang, 1996
>
>     * Nan Yang : Samudera Selatan (Asia Tenggara)
>
>   Tentang riwayat nenek moyang tersebut Leo Suryadinata (1999) mengatakan
>   bahwa: "Sebelum terjadi imigrasi massal etnik Tionghoa ke Asia Tenggara, 
>khususnya ke Indonesia dan Malaysia, masyarakat Tionghoa di kedua kawasan 
>itu sangat kecil. Pada umumnya, anggotanya telah berbaur ke dalam 
>masyarakat setempat. Pada masa itu, transportasi sulit. Orang Tionghoa, 
>dilarang oleh kerajaan Tiongkok untuk meninggalkan negaranya. Mereka yang 
>meninggalkan tanah leluhurnya juga tidak membawa keluarganya. Jadi, wajar 
>jika mereka akhirnya mengawini wanita setempat. Umumnya wanita Islam 
>nominal dan tinggal menetap di tempat itu. Karena jumlahnya yang kecil, 
>orang Tionghoa ini bertendensi yang berintegrasi dengan masyarakat lokal. 
>Keturunan mereka akhirnya tidak lagi menguasai bahasa Tionghoa dan 
>menggunakan bahasa Melayu-lingua franca dalam Nusantara untuk berkomunikasi 
>(setelah 1928, bahasa Melayu dinamakan bahasa Indonesia). Namun, pada akhir 
>abad ke-19 dan awal abad ke-20, terjadi imigrasi massal yang menimbulkan 
>masyarakat totok, yaitu masyarakat yang terdiri atas pendatang baru yang 
>masih berbahasa Tionghoa."
>
>   Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mereka membuat karya-karya sastra, 
>dan dalam sejarah sastra kita sering disebut sastra peranakan tionghoa.
>
>   Menurut Leo Suryadinata (1999) Sastra peranakan Tionghoa adalah karya 
>sastra dalam bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh orang Tionghoa yang 
>dilahirkan di Indonesia. Sastra ini mulai muncul pada akhir abad ke-19 dan 
>mulai "merosot" sesudah Perang Dunia II (PD II).
>
>   Saat ini terasa ada kebangkitan lagi bagi sastra tionghoa dalam mewarnai 
>sastra Indonesia. Sastra yang menjembatani antara dua budaya ini oleh 
>Wilson Tjandinegara coba diperkenalkan dengan istilah "Inhoa".
>
>   Salah satu usaha yang dilakukan oleh Wilson Tjandinegara adalah dengan 
>menerjemahkan beberapa karya sastra dari tionghoa ke dalam bahasa Indonesia 
>atau sebaliknya.
>
>   Mengenai sajak-sajak pribadi Wilson Tjandinegara sendiri, Korrie Layun 
>Rampan (1999), dalam acara diskusi peluncuran buku "Rumah Panggung Di 
>Kampung Halaman" (1999) memberikan tinjauan: Sajak-sajak Wilson 
>Tjandinegara termasuk puisi-puisi yang sederhana dalam bentuk. Dengan 
>struktur baris dan baitnya yang relatif tetap, penyair ini mendayagunakan 
>pola-pola tradisional dalam membangun imaji estetik. Dengan penemuannya 
>terhadap bahasa, puisi-puisi Wilson dibangun secara diafan dengan pilihan 
>kata yang komunikatif. Meskipun tidak ditulis
>   dalam bentuk balada atau puisi naratif, pada dasarnya sajak-sajak Wilson 
>merupakan sajak berkisah. Dengan demikian, sebenarnya sajak-sajak ini 
>menampakkan pola puisi kalimat yang dibangun dalam lirik. (Rampan, 1999) 
>Puisi kalimat secara dasariah dibangun oleh struktur dan logika prosa. 
>Struktur demikian melahirkan sifat khas ciptaan yang selalu kembali kepada 
>tema. Secara meyakinkan penyair ini menjauhi sifat-sifat prismatis dalam 
>memilih dan menempatkan kata.
>   Dengan demikian kata-kata sajak selalu bersifat dependen terhadap 
>sintaksis di dalam baris dan bait. Seperti kesatuan pantun atau syair, ia 
>akan kehilangan makna jika salah satu bagian dari kata maupun kalimatnya 
>dihilangkan. Model penciptaan seperti ini berseberangan dari apa yang 
>dilakukan Sutardji Calzoum Bachri yang menempatkan kata secara independen 
>dalam struktur sintaksis maupun dalam kesatuan bait. (Ibid, 1999)
>
>   Ada satu hal yang unik pada Wilson Tjandinegara dalam hubungannya dengan 
>sastra dan dunia bisnia: "Pada akhir tahun 1995, saya mengundurkan diri 
>dari dunia bisnis, dan total dalam bersastra. Dalam masyarakat kita, yang 
>sering terjadi adalah orang meninggalkan sastra dan memilih bisnis, namun 
>saya justru sebaliknya meninggalkan bisnis dan menekuni sastra. Ini membuat 
>kebanyakan sanak keluarga saya heran.
>   Namun, dengan teguh saya memilih dunia sastra, sebuah jalan yang sunyi 
>sepi. Ini demi mewujudkan cita-cita saya sejak remaja, karena sejak remaja 
>saya sudah menyukai sastra".(Tjandinegara, 1999, hal.33)
>
>   Dalam biodata singkat yang termuat pada buku ini, kita juga akan 
>mengetahui bahwa: Wilson Tjandinegara, lahir dalam keluarga keturunan 
>Tionghoa miskin di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 20 Desember 1946. 
>Pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Menengah Pertama. Dan sejak usia 
>12 tahun ia sudah harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Ia seorang 
>otodidak. Sejak tahun 90-an mulai menekuni sastra. Tahun 1995 hijrah ke 
>Tangerang, Jawa Barat. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Puisi Untukku (1995) 
>dan Rumah Panggung Di Kampung Halaman (1999). Karya terjemahannya: 
>Perjalanan Hidup Saya Yang berliku dan Penuh Rintangan karya Lie Chiu Mo 
>(1996, bersama Alu Barli); Bisikan Hati karya Teo Un (1996, kumpulan 
>puisi); 55 Puisi Cinta Mandarin (1998); Menyangga Dunia Di Atas Bulu Mata 
>(1998); Kumpulan Cerpen Mini Inhoa (1999).
>
>   RUJUKAN:
>
>     1.. Ariel Haryanto, 1998, 
>http://members.xoom.com/megatruh/bhinneka/98061049.html
>     2.. Korrie Layun Rampan, 1999, makalah diskusi "Menengok Rumah 
>Panggung Di Kampung Halaman", Komunitas Sastra Indonesia
>     3.. Leo Suryadinata, 1999, 
>http://www.egroups.com/group/indo_chaos/3286.html
>     4.. Wilson Tjandinegara, 1999, Kumpulan sajak Indonesia-Tionghoa 
>"Rumah Panggung Di Kampung Halaman", Komunitas Sastra Indonesia
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke