Mencegah militerisme pertama-tama memang perlu
dilakukan dari lingkungan militer sendiri. Bila dalam
lingkungan militer sendiri malahan cenderung
mengabadikan kemiliterannya, maka sebenarnya
militerisme itu memang sengaja diabadikan lewat
keluarga militer. Ada banyak contoh mantan militer
yang mengidap mental militeristis melebihi mereka yang
masih aktif. Lihat dan cek sendiri, para mantan
militer di sekitar anda, apakah mereka masih hidup
bagai militer atau tidak. Bahkan yang sudah jompo pun
pernah saya temui, masih berlagak jagoan di depan
publik. Bahkan ketika itu, seorang intelektual dan
ilmuwan dicaci maki di tengah-tengah seminar nasional
oleh seorang mantan itu.

Oleh karena itu, saya kira pantas didukung ide
pengurangan dikotomi sipil-militer yang perlu dimulai
dari kalangan militer sendiri.

Silahkan baca artikel di bawah ini.
Tangkisan Letug
---------------
Hapuskan Dikotomi Capres Sipil-Militer

Oleh Maria Magdalena Bhoernomo 

http://www.suarakarya.com/

Agaknya cukup wajar jika belakangan ini muncul
dikotomi sipil-militer berkaitan dengan tampilnya nama
Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai
calon presiden (capres). Ini terjadi karena keduanya
merupakan figur-figur militer generasi pasca Soeharto,
yang nota bene adalah anak buah pemimpin Orde Baru
tersebut. Meski demikian, semua pihak layak belajar
bersikap ksatria, menghadapi persaingan sipil-militer
dalam pemilihan presiden, 5 Juli mendatang. Sikap yang
menjurus pada stigmasisasi, khususnya terhadap capres
tertentu (yang berstatus sebagai jenderal
purnawirawan) selayaknya tidak perlu didukung. 

Dengan demikian, semua pihak selayaknya bisa berpikir
jernih dalam menentukan pilihannya. Perkara memilih
capres sipil atau "militer" menjadi urusan pribadi
masing-masing warga negara yang punya hak pilih. 

Setiap kali muncul figur militer di panggung politik,
di mana pun, memang selalu mengundang kecemasan bagi
pihak sipil. Kecemasan ini tak bisa dibantah mengingat
secara empiris, kepala pemerintahan yang terdiri dari
figur-figur militer, di banyak negara, cenderung
represif terhadap hak-hak asasi manusia (sipil).
Terlalu banyak, jika menyebutnya satu per satu.

Masih hangat dalam ingatan kita, betapa selama Orde
Baru pimpinan Soeharto begitu represif, sehingga
muncul rumor bahwa gaya batuknya seluruh kepala desa
di Indonesia bisa didengar oleh presiden. Apalagi,
gaya batuknya para camat, para bupati, gubernur dan
menteri-menteri. Dalam hal ini, semua pejabat di
pemerintahan tidak ada yang berani "tampil beda",
karena keseragaman dalam semua hal diwajibkan. 

Warga Sipil


Banyak orang masih sering keliru memandang seorang
tentara, dengan pangkat apa pun, jika sudah pensiun,
tetap saja dipandang sebagai tentara, bukan warga
sipil alias bukan militer lagi. Kekeliruan ini, perlu
dikoreksi. Sebab, kekeliruan demikian, di Indonesia,
agaknya justru cenderung dilestarikan oleh "keluarga
militer". Misalnya, jika seorang jenderal yang sudah
purnawirawan bertemu dengan anak buahnya maka anak
buahnya akan tetap memanggilnya sebagai "jenderal". 

Untuk mengoreksi kekeliruan tersebut, selayaknya
dipelopori oleh pihak militer secara resmi. Dalam hal
ini, pemimpin militer perlu menggelar semacam
konferensi pers khusus untuk menegaskan bahwa tentara
yang sudah pensiun sama saja dengan warga sipil alias
tidak punya peranan apa pun di dalam kemiliteran lagi.

Dengan adanya koreksi tersebut, maka dikotomi
sipil-militer di seputar pemilihan presiden 5 Juli
mendatang tentu tidak akan meruncing. Sebab, jika
dikotomi sipil-militer sampai dibiarkan meruncing,
justru akan merugikan semua pihak, karena
ujung-ujungnya akan menggiring militer untuk
berhadapan dengan rakyat (warga sipil) yang sangat
riskan. Jangan sampai terjadi, militer dan sipil
bermusuhan di seputar proses pemilihan presiden.

Jika semua pihak (warga negara) sudah sama-sama tahu,
betapa semua capres adalah warga sipil, maka pemilihan
presiden tentu akan berlangsung adil dan damai. Dalam
hal ini, militer aktif yang tidak ikut memilih tidak
akan ikut berkampanye secara terbuka maupun secara
diam-diam. Rakyat akan bebas memilih, tanpa rasa cemas
akibat suasana intimidatif. 

Harus dicermati, betapa suasana intimidatif bisa
muncul, manakala dikotomi sipil-militer dibiarkan
meruncing. Misalnya, rakyat di pedesaan, khususnya di
daerah rawan konflik, akan takut untuk tidak memilih
capres tertentu yang dikategorikan sebagai bagian dari
militer. 

Suasana intimidatif yang paling konyol, tapi bisa saja
muncul di seputar pemilihan presiden nanti, adalah
yang berupa maraknya rumor politik yang cenderung
melecehkan dan menyudutkan militer. Misalnya, maraknya
rumor politik bahwa "Jika Wiranto atau Susilo Bambang
Yudhoyono kalah maka tentara akan mengamuk." 

Dengan demikian, predikat sebagai warga sipil, bagi
capres yang berstatus jenderal purnawirawan,
selayaknya segera disosialisasikan seluas-luasnya, dan
keluarga militer bisa menjadi pelopornya. Tegaskan
saja bahwa siapa pun yang duduk sebagai capres adalah
warga sipil, bukan militer. Dan, militer akan tetap
bersama rakyat menerima hasil pemilihan presiden, tak
peduli siapa yang terpilih menjadi presiden nanti.

Dukung Mendukung


Menurut aturan yang berlaku, bahwa semua anggota
militer tidak ikut memilih, selayaknya juga diikuti
dengan sikap tegas pihak militer untuk menjaga
netralitasnya. Dalam hal ini, di semua level, militer
harus menarik garis tegas untuk tidak terlibat dalam
perkara dukung-mendukung terhadap capres tertentu,
khususnya yang berstatus jenderal purnawirawan. 

Memang, rasanya sangat sulit jika pihak militer tidak
mendukung capres yang berasal dari militer. Namun,
demi tuntutan demokratisasi, hal ini harus diusahakan
secara serius. Misalnya, militer tidak menggelar
acara-acara tertentu yang dapat diterjemahkan sebagai
acara bernuansa politis untuk mendukung capres
tertentu. Dalam hal ini, acara silaturahmi atau reuni
bagi mantan jenderal atau mantan panglima yang
kerapkali diselenggarakan oleh sebuah angkatan, jika
dilaksanakan menjelang pemilihan presiden nanti, dapat
dianggap sebagai bentuk kampanye terselubung atau
bentuk dukungan politik terhadap capres bertatus
jenderal purnawirawan. 

Dengan tidak melakukan dukung mendukung terhadap
capres tertentu, maka hal itu dapat dianggap sebagai
prestasi politik bagi militer di era reformasi ini.
Sejarah pun akan mencatat, betapa reformasi di tubuh
militer ternyata bukan omong kosong, manakala militer
benar-benar netral dalam pemilihan presiden yang
diikuti oleh capres bertatus jenderal purnawirawan.
Dan, siapa pun yang akan terpilih menjadi presiden,
jika militer netral, maka akan melegakan semua pihak. 

Dan sebaliknya, jika sampai militer terlibat
dukung-mendukung capres tertentu, dan ternyata yang
menang adalah capres berstatus jenderal purnawirawan,
maka sudah tentu akan ada pihak yang menggugatnya.
Dalam hal ini, pihak sipil akan merasa dikalahkan oleh
militer, sehingga bisa saja bersikap apriori atau
bahkan antipati terhadap segala kebijakan yang
berkaitan dengan kemiliteran. Pada ujung-ujungnya,
tentu akan runyam, jika sipil bersikap antipati
terhadap militer, gara-gara militer tidak netral dalam
pemilihan presiden.

Hajat Nasional


Pemilihan presiden, harus dipandang sebagai hajat
nasional, dan demi kepentingan bangsa menuju era
demokratisasi, di mana supremasi sipil menjadi idaman.
Untuk itulah, pihak militer dituntut untuk bersikap
netral. Dan, jika benar-benar bisa netral, maka akan
menjadi kredit point bagi pemimpin militer kini untuk
menyongsong masa depannya (masa pensiun). Misalnya,
jika militer bersikap netral pada pemilihan presiden 5
Juli mendatang, maka pimpinannya akan dihormati
sebagai tokoh pendukung demokratisasi, yang jika kelak
kemudian tampil menjadi capres maka akan mendapat
respon positif seluas-luasnya dari pihak sipil
(rakyat).

Sebaliknya, jika militer tidak netral dalam pemilihan
presiden 5 Juli mendatang, maka taruhannya sangat
berat bagi masa depan pemimpinnya. Sebab, sejarah akan
mencatat setiap sikap dan kebijakan pemimpin militer
selama aktif yang bisa dibaca di sepanjang zaman oleh
siapa pun. Dan, sejarah tidak bisa diputar ulang.
Maka, sikap pragmatis atau prismatis militer terhadap
urusan politik sebagai bagian dari hajat nasional
tersebut akan menentukan citranya (khususnya citra
pribadi pimpinannya) di masa depan. Dalam hal ini,
sikap pragmatis maupun prismatis bagi militer terhadap
kepentingan politik akan sama-sama berbuntut panjang
bagi pemimpinnya.

Dengan demikian, bersikap netral secara politis di
masa kini, selayaknya merupakan harga mati bagi
militer, khususnya para pemimpinnya yang suatu saat
nanti pasti akan bertatus sebagai purnawirawan dan
sangat mungkin tampil sebagai elite politik
sebagaimana Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono
sekarang. 

Siapa pun mantan panglima militer, pasti akan sangat
bangga jika mendapat citra sebagai tokoh reformis,
karena kosakata reformis akan selalu enak dibaca dan
mudah dijual di segala zaman! ***

(Penulis adalah seorang budayawan dan sastrawan,
tinggal di Kudus, Jateng). 


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! - Internet access at a great low price.
http://promo.yahoo.com/sbc/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke