http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/13/sh01.html

Hati-hati Konsumsi Ikan dari Teluk Jakarta
 

* Kematian Ikan Masih Terjadi

Jakarta, Sinar Harapan
Warga Jakarta diminta berhati-hati dalam mengonsumsi ikan hasil penangkapan di Teluk 
Jakarta, menyusul ditemukannya kasus kematian puluhan ribu ekor ikan di Pantai Ancol.

Peringatan itu disampaikan Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) 
Jakarta, Ir. Kosasih Wirahadikusumah MSc dan Kepala Hubungan Masyarakat Dinas 
Kesehatan Jakarta, Evi Zalvino, SKM. Keduanya dihubungi SH, Kamis (13/5)) pagi 
menanggapi kasus kematian puluhan ribu ekor ikan di Pantai Ancol Sabtu (8/5), dan 
kematian ikan-ikan itu masih terjadi. Para nelayan masih menemukan bangkai-bangkai 
ikan di Teluk Jakarta. 
Kosasih menyatakan, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sebaiknya sementara 
ini warga berhati-hati dalam mengonsumsi ikan. Bila ada gejala panas-dingin, 
muntah-muntah dan buang-buang air besar terus-menerus, sebaik-nya warga langsung ke 
dokter.
Dia mengakui, imbauan untuk sementara waktu tidak mengonsumsi ikan hasil tangkapan di 
Teluk Jakarta tersebut sudah dilaporkan kepada Gubernur Jakarta, Sutiyoso. "Kami sudah 
sampaikan itu," katanya. 
Hal senada dilontarkan Kepala Hubungan Masyarakat Dinas Kesehatan Jakarta, Evi 
Zalvino, SKM. Dia mengatakan, menyusul kasus temuan kematian puluhan ribu ekor ikan di 
Pantai Ancol dan Pantai Dadap, pihaknya sudah membentuk tim investigasi untuk mengecek 
kasus tersebut. "Kami akan mengecek dulu apakah kematian puluhan ribu ekor ikan 
tersebut akibat tingkat pencemaran di Teluk Jakarta," katanya. 
Namun, untuk menjaga-jaga, dia mengimbau warga untuk lebih berhati-hati dalam memilih 
ikan terutama di pasar-pasar tradisional."Warga bisa mengetahui ikan yang segar itu 
misalnya dari ingsang ikan yang masih merah, mata ikan yang masih bening serta tubuh 
ikan yang jika disentuh tidak penyok," ujarnya. 

Belum Diketahui 
Mengenai kasus kematian puluhan ribu ekor ikan di Pantai Ancol pada Sabtu (8/5) itu, 
Kepala Bapedalda Jakarta, Kosasih Wirahadikusumah menyebutkan, kasus serupa juga 
terjadi di Pantai Dadap, Tangerang. 

Namun demikian, dia mengakui, pihaknya hingga kini belum mengetahui penyebab kematian 
puluhan ribu ekor ikan di dua tempat tersebut.
Khusus kasus kematian ikan di Ancol, dia menduga ada sejumlah kemungkinan, misalnya 
saja akibat fenomena alam yang dikenal dengan pasang merah atau red tide. Dugaan ini 
karena ada indikasi tingginya amoniak. Kemungkinan lainnya disebabkan pembuangan 
limbah yang sudah melebihi ambang batas di Teluk Jakarta. Indikasinya dengan telah 
ditemukakan venol dan merkuri. 
Untuk menentukan faktor penyebab kematian ikan tersebut, Kosasih menyatakan, pihaknya 
membutuhkan sejumlah penelitian. "Untuk tahap awal kami sudah mengambil sampel air 
laut. Sedangkan untuk sampel ikan masih dalam proses dan kemungkinan baru selesai dua 
minggu," ungkapnya.
Kosasih mengemukakan, sebetulnya ada kabar yang menggembirakan yaitu kualitas air laut 
di pantai Ancol sudah baik, serta venol dan merkuri tidak terdeteksi lagi. Tetapi ada 
pula kabar yang tidak menggembirakan, yaitu terjadinya pencemaran yang menyebabkan 
kematian ikan-ikan di Pantai Ancol juga ditemukakan di Dadap Kamal, Tangerang.
Seperti diketahui, pasang merah merupakan fenomena alam dan dapat meracuni ikan-ikan, 
kerang dan manusia. Karena itu perlu diwaspadai apabila warna air laut yang berubah 
menjadi merah, merah kecoklatan atau kuning hijau, serta kematian ikan dalam jumlah 
besar dan kematian udang dalam jumlah besar.
Selain itu, perlu diperhatikan apabila setelah makan kerang, seseorang menderita 
kesemutan di mulut, ujung jari tangan dan kaki, serta muntah dan buang-buang air 
bersih, sukar berjalan dan sukar bernafas. 
Sejumlah kalangan terkait terutama para nelayan mengaku sedih dengan munculnya kasus 
tersebut. Masuk akal memang karena akibat kasus kematian ikan itu, para nelayan tidak 
lagi melaut. Ujung-ujungnya pasokan ikan ke sejumlah rumah makan yang menyajikan ikan 
menurun karena ternyata pelanggan tidak lagi memesan ikan untuk dikonsumsi. (dre) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke