http://www.gatra.com/artikel.php?id=37178

Kasus Ambon: Oportunisme Pemerintahan

AMBON memanas lagi. Sejak 25 April, api kerusuhan dan kekacauan
menjilat-jilat, menghancurkan keamanan semu dan perdamaian pura-pura di
sana. Sejak Laskar Jihad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah menyerahkan senjata yang
ditindaklanjuti dengan pembubaran 7 Oktober 2002, semua personelnya ditarik
dari Maluku dan Poso (Sulawesi Tengah). Ketika itu, kami berasumsi bahwa
pemerintah mulai berani bertindak tegas terhadap gerombolan RMS/FKM, dengan
menangkapi dan mengajukan ke meja hijau mereka yang terlibat gerakan
tersebut dengan tuduhan dan vonis makar terhadap NKRI.

Dengan demikian, tidak perlu lagi dipertahankan keberadaan Laskar Jihad
Ahlis Sunnah Wal Jama'ah sebagai organisasi komando perjuangan membela NKRI
dengan misi menumpas gerombolan RMS/FKM di Maluku dan berbagai gerombolan
pengacau lainnya di Poso serta tempat-tempat lain di wilayah NKRI.
Sesungguhnya, tanggung jawab menumpas gerombolan pemberontak dan pengacau
bukanlah di pundak rakyat, melainkan merupakan tanggung jawab Pemerintah RI.

Namun berbagai asumsi yang mendasari tindakan membubarkan Laskar Jihad Ahlis
Sunnah Wal Jama'ah mulai kami ragukan ketika kenyataan di lapangan tidak
mendukung asumsi tersebut. Kurang lebih sebulan setelah pembubaran Laskar
Jihad, terjadi peristiwa pembantaian kepala desa dan anggota keluarganya di
luar kota Poso. Beberapa bulan setelah itu, terjadi lagi bentrok massa di
Morowali/Poso yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda. Sampai
hari ini, Kabupaten Poso dan Morowali belum sepenuhnya aman. Dan, kini Ambon
bergolak lagi.

Dulu, pemerintah selalu menuduh Laskar Jihad sebagai pihak yang menjadi
pemicu berbagai kerusuhan di wilayah-wilayah bergolak itu, atau menambah
keruh problem kerusuhan di wilayah-wilayah tersebut. Karena itu, pemerintah
berusaha mengusir Laskar Jihad, sebagai satu-satunya jalan untuk
menenteramkan kembali daerah-daerah konflik itu. Namun kami terus berjuang
membela rakyat teraniaya, walaupun kami selalu diopinikan oleh pemerintah
sebagai kelompok perusuh.

Setelah pembubaran Laskar Jihad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah, kerusuhan masih
saja bergolak di Poso dan Ambon. Bahkan, tentang kerusuhan di Ambon, Tim
Independen Nasional yang dibentuk oleh Menko Polkam waktu itu, Susilo
Bambang Yudhoyono, telanjur mengambil kesimpulan hasil penyelidikan "di
lapangan" bahwa RMS (Republik Maluku Selatan) itu sesungguhnya tidak ada.
Yang berarti, pemicu utama kerusuhan di Maluku adalah Laskar Jihad. Padahal,
Laskar Jihad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah baru dideklarasikan pembentukannya di
Senayan, Jakarta, pada 6 April 2000, dan baru terjun di Ambon pada 1 Mei
2000. Sedangkan kerusuhan di Ambon mulai meletus pada 19 Januari 1999, yang
berarti Laskar Jihad baru masuk Ambon kurang lebih setahun setengah setelah
kerusuhan berlangsung.

Tentu akan timbul pertanyaan dari orang yang berakal, siapakah yang memicu
dan mengaduk-aduk Maluku selama setahun setengah sebelum masuknya Laskar
Jihad? Mungkin pemerintah akan menjawab: tentang siapa yang membikin rusuh
Maluku sebelum Laskar Jihad masuk ke sana, kami sedang menyelidiki. Orang
berakal akan bertanya lagi, aneh juga kejadian di Maluku ini. Kejadian
belakangan sudah bisa disimpulkan, tapi kejadian sebelumnya masih harus
diselidiki. Padahal, korban kerusuhan di Maluku sebelum Laskar Jihad masuk
ke sana jauh lebih besar berlipat ganda daripada jumlah korban kerusuhan
setelah Laskar Jihad masuk ke sana. Tim Independen Nasional begitu cepatnya
mengambil kesimpulan tentang tidak adanya RMS di Maluku. Tetapi sampai hari
ini, tim masih "menyelidiki" dalang kerusuhan 19 Januari 1999 di Ambon, dan
entah sampai kapan tim dapat mengambil kesimpulan. Karena kerja "tim" tanpa
batas waktu.

Bau oportunisme sangat menyengat dalam berbagai kebijakan pemerintah
berkenaan dengan aneka kerusuhan di Tanah Air. Contoh yang nyata, beberapa
tokoh FKM (Front Kedaulatan Maluku) telah divonis hukuman penjara di seputar
tiga sampai lima tahun oleh berbagai pengadilan negeri di Ambon dan di
Jakarta. Mereka terbukti melakukan gerakan makar, kelanjutan dari gerakan
RMS. Tapi Tim Penyelidik Independen Nasional menyatakan bahwa RMS itu tidak
ada. Alex Manuputty dilepaskan dari tahanan dengan alasan masa tahanannya
telah habis dalam menanti putusan kasasi Mahkamah Agung kasus makar yang dia
lakukan. Setelah pembebasannya dari tahanan, Alex dengan mudahnya berangkat
ke Amerika Serikat tanpa halangan apa pun.

Lagi-lagi pemerintah berkilah bahwa masih menyelidiki siapa sesungguhnya
yang terlibat dalam persekongkolan memberi jalan bagi Alex ke luar negeri.
Ketika publik mendesak agar pemerintah mengupayakan kepada Pemerintah
Amerika Serikat untuk dapat mengembalikan Alex Manuputty ke Indonesia,
pemerintah pun menyatakan masih mengupayakan hal itu. Sampai akhirnya,
ribut-ribut tentang kepergian Alex ke Amerika mereda. Lalu Ambon kembali
dilanda rusuh akibat ulah aktivis FKM pimpinan Alex yang kini berada di
Amerika.

Jika pemerintah tak lagi mampu mempertahankan keutuhan NKRI, maka komponen
masyarakat yang peduli akan berjuang untuk mempertahankannya.

Ja'far Umar Thalib
Mantan Panglima Laskar Jihad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah
[Kolom, GATRA, Edisi 26 Beredar Jumat 7 Mei 2004]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke