Islam Liberal, Modernis dan Fundamentalis WASPADA Online http://www.waspada.co.id/serba_waspada/mimbar_jumat/artikel.php? article_id=42957 Oleh A Fatih Syuhud * Islam sepanjang sejarahnya telah terkarakterisasi dalam sebuah paradoks. Ini merupakan dampak wajar dari kesatuan simultan dan sekaligus perbedaan yang mencolok sebagai keyakinan yang hidup dari komunitas lokal, regional dan nasional. Respons tipikal kalangan Muslim atas berbagai perbedaan ini dapat dikategorikan dalam dua poin. Pertama, mengabaikan atau membiarkan paradoks yang ada dan terus bersikap sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah satu, yang ditandai dengan pengamalan common platform syariah atau fiqh (hukum Islam). Kedua, menganggap perbedaan keyakinan dan perilaku itu sebagai anomali temporer yang akan hilang ketika syariah memegang kendali.
Ada dua implikasi dari adanya pluralisme agama ini (1) bahwa kesatuan Islam bukanlah aksioma atau ada begitu saja, tetapi ia dicapai melalui sebuah proses interpretasi dan konstruksi yang kompleks, dan (2) sebagai keyakinan praksis Islam bersifat jauh lebih pluralistik dibanding tingkatan ekstrim dari kesatuan dan reifikasi yang sering diidentikkan dengannya. Setiap masyarakat Muslim membentuk definisinya sendiri tentang apa yang fundamental. Hal ini menjadi mungkin karena adanya ambigu inheren tentang apa yang benar-benar berada di dalam batas-batas syariah dan yang profan. Dengan demikian, kontroversi dan diskursus, apakah itu dilakukan oleh kalangan individual atau atas nama komunitas tertentu, menjadi fenomena umum dalam masyarakat Muslim di manapun, termasuk di Indonesia. Kontroversi dan wacana tidak hanya timbul oleh adanya imbiguitas dalam persepsi kolektif. Dalam literatur teks itu sendiri, terdapat beberapa ayat yang memungkinkan terjadinya ambigu yang disebabkan oleh adanya sejumlah perbedaan pada bagian-bagian tertentu dalam teks yang tampaknya saling bertentangan. Sebagai contoh, dalam soal sikap apa yang mesti dilakukan terhadap non-Muslim (kafir) terdapat dua posisi: (1) bahwa ia harus dikonversikan ke Islam kendatipun mesti dengan mata pedang (QS 9: 73), dan (2) ia dibiarkan memeluk agamanya dengan dasar tidak ada paksaan dalam agama (QS 2: 256). Contoh kecil di atas menggiring kita pada persepsi populer bahwa pada tahap tertentu doktrin Islam beorientasi pada militansi agama dan kekerasan. Imej Islam semacam ini telah menjadi artifak akademik dalam proses historis ekspansi kolonial yang diperkuat dengan peristiwa-peristiwa politis yang melibatkan terjadinya konfrontasi dengan hegemoni Barat. Bagi seperlima umat manusia, yang mendeklarasikan diri sebagai Muslim, kekerasan kolektif menempati sebuah dimensi baru pada abad kedelapanbelas. Ia dapat digambarkan dalam tahap-tahap yang berbeda, yang kesemuanya berhubungan dengan bangkitnya ekonomi Eropa, negara-bangsa yang mayoritas penduduknya pemeluk Kristen. Dengan demikian, Islam abad keduapuluh sebagaimana sistem negara-bangsa, direkonstruksi atau lebih tepatnya diinterpretasi kembali secara de novo (sama sekali baru) sebagai respons atas kolonialisme. Islam kontemporer sama sekali berbeda, situasinya juga terlalu kompleks dan bervariasi untuk dibuat generalisasi. Hampir dua-pertiga dunia Islam saat ini hidup di bawah panji-panji sekuler. Dalam masyarakat Muslim semacam inipun, terdapat kelompok-kelompok fundamentalis aktif, tetapi ketika mereka mulai memperoleh popularitas politik mereka akan dilumpuhkan oleh tangan-tangan besi pemerintah. Namun demikian, tendensi dominan adalah kita sering menilai pesan-pesan retoris kalangan Islam fundamentalis ini seakan- akan bakal menjadi realitas dalam waktu dekat. Tendensi semacam inilah yang menggiring spekulasi apakah pergulatan ideologi di dunia saat ini adalah antara Islam dan Barat. Di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, dapat dilihat sejumlah respons politik yang bervariasi, mulai dari hadirnya diskursus Islam, kebangkitan Islam militan, sampai pemberontakan terbuka. Apabila berbagai kasus yang terjadi kita lihat secara komparatif, tampak jelas bahwa kolonialisme dan sikap rejim politik yang berkuasa selalu membangkitkan kesadaran keislaman. Tujuan, pemahaman atau manifestasi, atas kelompok-kelompok non-muslim dominan juga krusial dalam menentukan tingkatan dan skala respons Muslim. Ancaman likuidasi, penaklukan dan dominasi menciptakan pemberontakan. Dominasi otoritarian mengakibatkan munculnya pergerakan kemerdekaan dari berbagai varian Muslim. Dominasi kultural dengan struktur demokratik membangkitkan kesadaran Islam dengan konsen agama sebagai identitas. Struktur demokratik integratif menimbulkan konsen yang tidak signifikan pada Islam. Perbedaan dari respon politik ini sesuai dengan orientasi ideologis yang bervariasi. Pertama, terdapat kalangan liberal, walaupun terbatas dalam jumlah dan pengaruhnya, yang hendak membentuk masyarakat sesuai dengan kerangka sekularisme. Kedua, kalangan tradisionalis yang telah membekukan risalah Islam dan membiarkan angin perubahan berlalu begitu saja. Ketiga, kalangan modernis yang ingin memanfaatkan sumber daya Islam untuk membangun sebuah masyarakat dan pemerintahan yang bebas dari eksploitasi dan represi. Keempat, kalangan Islam fundamentalis yang ingin kembali pada tradisi lama dan pada waktu yang sama kekurangan piranti dan visi dalam memanfaatkan Islam menuju rekonstruksi masyarakat Muslim yang ideal. Fundamentalisme Islam esensinya merupakan produk dari perkembangan historis yang cukup lama dalam masyarakat Muslim dengan hegemoni Barat selama periode kolonial. Kolonialisme bukan hanya memori masa lalu. Ia terus berlangsung. Imperialisme politik dan militer jelas sangat buruk, tetapi yang lebih buruk lagi adalah arogansi etika, kultural dan intelektual Barat. Apabila pada masa lalu seluruh peradaban yang sedang bangkit sering merasa paling benar, maka tidak ada satupun peradaban sebelum Barat modern yang merasa dirinya betul- betul merasa valid sehingga dengan hanya mempertanyakan validitas sebagian nilai-nilai yang dianutnya dapat dianggap sebagai sikap keterbelakangan yang akut. Sementara Barat menggaungkan kebebasan dan persamaan di negeri sendiri, ia terus melakukan eksploitasi ekonomi besar-besaran dan menolak nilai-nilai demokrasi di luar. Oleh karena itu, akar ekpresi kekerasan protes agama sebenarnya terletak pada eksistensi tatanan kapitalis global yang tidak demokratik dan adanya pemerintahan demokratik semu di berbagai negara dunia ketiga, khususnya di negara-negara Muslim. Dukungan membuta Barat atas rejim-rejim otokratik untuk memerangi Komunisme Soviet dalam periode Perang Dingin telah membebaskan mereka dari kewajibannya untuk memperkenalkan langkah-langkah demokratis di negara sekutu Barat. Saat ini, rejim-rejim ini menimbulkan kemarahan besar di kalangan rakyat yang tidak dapat mengekspresikan opini mereka. Perasaan dan emosi yang terkurung akan mengarah pada perilaku kekerasan. Hanya melalui demokratisasi nyata negara-negara tersebut diharapkan dapat menghilangkan rejim-rejim otoritarian pro Barat. Di abad keduapuluhsatu ini, terdapat dua trend yang saling bertentangan di seluruh dunia Islam -- gelombang dorongan demokrasi mulai berdenyut dan pada waktu yang sama popularitas fundamentalisme Islam meningkat. Yakni, sejumlah orang yang percaya bahwa kerangka referensi dalam mengorganisir urusan politik hendaknya diambil dari sebuah pemahaman dasar atas teks Islam. Fenomena ini, khususnya pasca periode Perang Dingin, dikuatirkan akan mengarah pada sistem negara Islam. Tetapi sementara ini ia masih dalam tahap janji kalangan fundamentalis; keberuntungan mereka yang nyata sebagai sebuah gerakan politik masih di bawah standar yang diharapkan. Selama rejim-rejim otoritarian di negara-negara Muslim menghadapi tantangan kalangan fundamentalis dengan represi bukan dengan reformasi, maka akan mudah bagi kalangan fundamentalis untuk mendapatkan dukungan. Problem rejim-rejim otoritarian adalah mereka menjanjikan kehormatan dan harga diri nasionalisme serta memberikan harapan muluk untuk kebaikan dan kemakmuran rakyat tetapi ternyata gagal memenuhi apa yang dikatakan. Ketika rejim gagal memenuhi janji, maka adalah natural apabila kalangan Islam fundamentalis menyalahkan kegagalan itu, kendatipun bukan mustahil mereka juga akan melakukan hal yang sama apabila berkuasa. Poin di atas menjelaskan pada kita bahwa manifesto kalangan Islam fundamentalis juga tidak memiliki solusi bagi permasalahan sosial ekonomi masyarakat. Karena kurangnya visi inilah sehingga mereka tidak mampu untuk menembus pintu-pintu kalangan masyarakat akar rumput secara kolosal. * Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University dan Research Associate di Zakir Hussein Institute of Islamic Studies, New Delhi, India. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada. http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511 http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

