SURAT DARI PARIS: PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK ANAK-ANAK
Berbicara dengan anak-anak dari Taman Kanak-kanak dan murid-murid Sekolah Dasar di Paris tentang berbagai soal, lebih-lebih soal politik merupakan keasyikan sendiri. Kalau tidak mendengarnya sendiri mereka mengucapkan pikiran-pikiran dalam kalimat-kalimat lancar seperti air mengalir, aku tidak akan mempercayainya. Marion, empat tahun, adalah puteri pertama Giselle, teman lamaku sejak menginjakkan kaki di Paris, yang juga turut serta pada tahun-tahun pertama membantu pendirian Koperasi Restoran Indonesia, 12 Rue de Vaugirard, di Paris. Ia sekarang tinggal di pinggiran Paris dan saban ke Paris, ia selalu menyempatkan diri singgah di Restoran Indonesia, dengan anak-anaknya. Sebagai wajarnya anak-anak, Marion pun tidak bisa tenang yang membuat ibunya jengkel dan ingin memukul pantatnya. Sebelum tangan ibunya sampai ke sasaran, sambil menjauh , Marion berkata kepada ibunya: "Giselle", ujarnya serius. Ia memanggil ibunya dengan nama. "Kalau kau sampai memukul saya, saya akan menelpon polisi, mengatakan bahwa kau menyiksa saya". "Apa kau bisa memanggil polisi ke mari?", tanyaku kepadanya yang lalu bersandar ke pangkuanku seakan minta perlindungan. "Mengapa tidak? Saya hapal nomor telepon polisi. Guru telah memberikan kami nomor telepon polisi jika anak-anak disiksa atau dipukul orangtua". "Tapi apa salahnya ibu memukul anak yang nakal?" tanyaku. "Salah!", bantah Marion tegas. "Kalau saya salah, jangan main pukul, tapi tunjukkan di mana kesalahan saya. Main pukul sama dengan main kekerasan.Kekerasan sama dengan orang hilang akal", jelasnya. "Kau dengar", ujar Giselle sambil geleng-geleng kepala dengan senyum ditahan. "Kita jauh ketinggalan dari mereka dan kita patut gembira akan kesadaran begini, Giselle", komentarku seakan kepada diri sendiri. "Ketika kau kecil dulu, apakah kau punya kesadaran begini?" tanyaku. Giselle memandangku termenung kemudian menarik tangan Marion ke pangkuannya dan mencium kening puteri sulungnya. Pengertian dan tantangan terhadap tindak kekerasan inipun aku dapatkan beberapa hari lalu dari Shane [tiga tahun], anak temanku Martine. Hari itu kami bermain-main di taman publik Burg, agar Shane mempunyai ruang bermain yang lapang. Ruang sempit apartemen membosankannya. Di taman itu sudah terdapat banyak anak-anak lain sebaya. Salah seorang di antaranya terdapat seorang anak lelaki di temani oleh orangtuanya. Di pinggang anak lelaki itu terselip sebuah pistol-pistolan plastik, di tangan kiri sebuah bedil plastik laras panjang dan tangan kanan memegang samurai, juga dari plastik . Anak lelaki itu membidik Shane. Melihat dirinya dibidik, Shane menjadi marah dan mendekat anak lelaki itu dan dengan sekuat tenaga menendangnya.Tapi malangnya, Shane tergelincir di pasir. Jatuh. Shane segera bangun kembali dan mengejar anak lelaki itu sambil berkata marah: "Aku akan buang pistol , senapang dan pedangmu ke tong sampah. Guru kami mengatakan tidak boleh main kekerasan. Dan kau malah bangga dan merasa gagah ". Martine, ibunya menjelaskan bahwa puterinya bersikap begitu anti kekerasan, setelah terjadi tragedi Julian, murid Sekolah Dasar, yang membunuh teman perempuan sepermainannya dengan 40 tusukan pisau setelah menonton filem horor "Scream". Kasus Julian diangkat oleh guru di Taman Bermain untuk mengajar anak-anak, termasuk Shane. Sedangkan Lily [7 tahun] juga anak perempuan teman dekatku, ketika diajak bicara tentang HAM , pimpinan politik Perancis dan soal-soal politik, ia pun bisa menguraikan dengan lancar pengertian-pengertian dasar HAM, mengapa harus tidak memilih Le Pen, pimpinan Front National, partai politik yang berkecenderungan neonazi. Lily pun bisa menguraikan dengan jelas peranan kaum imigran bagi perkembangan Perancis, apa itu fasisme. Ia oleh sekolahnya dipilih sebagai wakil anak-anak di Dewan Walikota yang menangani soal anak-anak. Kesadaran sebagai warganegara dari anak-anak ini sering disiarkan secara luas oleh media massa, misalnya pada saat pemilu. Anak-anak menegur orangtuanya agar jangan lalai dan jangan sampai tidak turut memberikan suara. Karena sekalipun satu suara, satu suara itupun mempunyai arti. Dan sebelum orangtuanya berangkat, si anak berpesan agar orangtuanya jangan sampai memilih Le Pen dan Front National. Dalam rangka meningkatkan kesadaran kewarganegaraan ini, Parlemen Nasional Perancis [Assembl�e Nationale] pernah mengorganisasi yang disebut acara Parlemen Remaja. Dalam acara ini, anak-anak SD dan SMP digambarkan sebagai anggota-anggota Parlemen yang sedang bersidang. Tentu saja sidang ini dituntun oleh Ketua Parlemen yang sekaligus menjelaskan fungsi Parlemen dan bagaimana sidang berjalan, bagaimana memimpin sidang dan melakukan perdebatan. Aku kira, pendidikan dini tentang HAM dan bagaimana menjadi warganegara sebuah Republik ini akan memperkokoh penegakkan HAM dan nilai-nilai republiken serta bagaimana berdemokrasi. Melalui cara ini, nilai-nilai HAM, nilai-nilai republiken, demokrasi dan hak-wajib seorang warganegara mungkin mendarah daging pada anak didik seumur hidup. Dari pengalaman Perancis ini nampak bahwa membangun dan memperkokoh HAM, nilai-nilai republiken, demokrasi dan hak-wajib warganegara sebuah Republik agaknya erat berhubungan dengan masalah pendidikan. Pendidikan mempunyai peranan relatif menentukan. Cara paling umum digunakan dalam pendidikan bukanlah indoktrinasi tapi menggunakan metode diskusi alias debat. Sang guru memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang membuka pikiran . Tidak heran jika debat merupakan salah satu tradisi yang kuat di sini. Melalui perdebatan masing-masing mempertahankan pendapatnya atas dasar alasan. Karena itu sering kita dengar anak-anak bertanya: "Mengapa?" dan kalau ia tidak bisa menjawabnya ia hanya membela pendapatnya dengan berkata: "karena" [parce que]! Parce que adalah alasan. Untuk bisa melakukan perdebatan, anak-anak juga belajar mendengar dan belajar menjadi pendengar yang baik. Dalam hubungan inilah maka penguasaan bahasa ibu, yaitu Perancis, dan filsafat menjadi penting dan dipentingkan. Paris, Mei 2004. ---------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada. http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511 http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

