tulisan ariel sangat menarik dg bahasa ringan khas
kolom.. membuat kita tidak berhenti membaca sampai
kalimat terakhir.

tulisan2 ttg persoalan "kecil" yg jarang diekspos
semacam ini memang sangat2 diperlukan dalam rangka
semakin mengingatkan kita2 sebagai rakyat, kita2
sebagai calon pejabat/aparatur negara dan kita2
sebagai pejabat itu sendiri, bahwa bangsa kita masih
banyak diselimuti masalah2 power abuse, rasisme dan
diskriminasi. 

terus terang saya senang dg pendekatan
sosiologis/antropologis gaya ariel haryanto dalam
melihat sebuah problema sosial masyarakat daripada
mereka yg selalu cenderung memakai pendekatan
keagamaan (dalam arti agama yg dipeluk sang pelaku
kejahatan yg dipersalahkan/dibenarkan). dan saya kira
pendekatan gaya ariel inilah yg jauh lebih tepat.
karena seperti kita tahu, individu dan masyarakat
hidup dan bersikap dipengaruhi oleh, pertama,
adat/kultur bukan oleh agama. ini artinya kebanyakan
sikap refleks kita -- dalam hal ini rakyat indonesia
--adalah dipengaruhi oleh kultur/bawaan keseharian.
bukan oleh doktrin agama yg kita peluk.

termasuk dalam hal ini sikap diskriminatif kalangan
'pribumi' baik yg birokrat maupun yg rakyat biasa
terhadap 'wni keturunan' sebenarnya tak terlepas dari
bawaan/kultur yg kita bawa secara turun-temurun dari
nenek-moyang kita yg 'se-almameter' dg penjajah
belanda; begitu ulasan ariel yg juga saya sepakati.

akan tetapi, dalam konteks diskriminasi yg dilakukan
oleh rakyat pribumi non birokrat terhadap warga
keturunan cina tampaknya ada hal2 lain yg belum
disinggung atau sengaja tidak disinggung oleh ariel:
pertama, sikap keturunan cina sendiri cenderung
eksklusif -- sekolah khusus cina, ngomong pake bahasa
cina (khususnya di medan), gak mau kawin sama
non-cina, gak mau pacaran dg non-cina (umumnya), dan
cenderung arogan.

kedua, warga pribumi sendiri yg suka iri dan dengki --
ciri khas tipe pemalas tapi bernafsu besar -- jadi
punya alasan untuk memusuhi kelompok keturunan cina. 

satu hal lagi yg saya merasa aneh, di indonesia wni
keturunan itu bukan hanya cina tapi ada juga arab dan
india. tapi mengapa kesannya kok turunan cina yg
selalu banyak mengeluh dan juga sering kena "makan"
para birokrat dan kena korban rasisme pribumi?

persoalan kedua, soal diskriminasi wni keturunan bisa
terekspose karena kebetulan ada "para tokoh yg
menggondol medali, seperti susi-alan" sekarang siapa
yg akan mengespose bentuk diskriminasi lain seperti
diskriminasi perlakuan atas TKW yg biasa kena kompas
di bandara dan di mana2? saya kira soal TKW lebih
sulit terekspos krn kecil kemungkinan ada TKW yg akan
dapat medali emas di olimpiade...

salam summer,








--- Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> KOMPAS, Minggu, 02 Mei 2004
> [Asal Usul]
> 
> SKBRI
> 
> Ariel Heryanto
> 
> 
> "Jelek-jelek begini, saya orang Indonesia. Saya
> warga negara Indonesia.
> Dan yang paling penting, saya punya bukti resmi dan
> sah yang saya simpan
> di rumah. Namanya SKBRI."
> 
> Hasilnya, bisa ditebak. Urusan Enin jadi tambah
> panjang dan rumit. Maklum,
> ucapan Enin ada benarnya. Diabaikan, sulit.
> Dibantah, apalagi.
> 
> MENURUT sejarah, penghuni paling awal di kawasan
> Nusantara ini adalah
> mereka yang berambut keriting dan berbadan tegap di
> bagian timur wilayah
> yang sekarang disebut Indonesia. Semestinya, kalau
> diucapkan dalam bahasa
> Orde Baru, mereka itulah "pribumi". Tetapi, justru
> di wilayah Indonesia
> Timur ini toleransi antar-ras justru lebih cantik
> dan beradab. Juga yang
> menyangkut minoritas Tionghoa.
> 
> Baru sekitar lima ribu tahun lalu bagian sebelah
> tengah dan barat
> kepulauan Nusantara dihuni oleh gelombang migrasi
> penduduk dari wilayah
> selatan dan timur yang dalam bahasa Orde Baru
> disebut "negeri China".
> Justru anak-cucu para pendatang penduduk berambut
> lurus ini yang pada abad
> ke-20 merasa paling "pribumi". Mula-mula diajar
> berpikir begitu oleh
> bangsa Eropa. Setelah kolonialisme, ke-pribumi-an
> mereka dianggap kodrat
> alam dan biologis. Di wilayah barat dan tengah Tanah
> Air masalah rasialis
> menggebu-gebu di antara penduduk yang
> nenek-moyangnya punya asal-usul
> serumpun.
> 
> Di berbagai negara modern, kewarganegaraan merupakan
> sebuah status
> terhormat dengan jaminan hak dan perlindungan hukum.
> Di Indonesia bagian
> barat kewarganegaraan justru menjadi semacam alat
> diskriminasi atau
> stigma. Mirip dengan julukan "Eks-tapol". Di wilayah
> ini, yang disebut
> "WNI" adalah minoritas ras yang justru tidak atau
> kurang mendapatkan hak
> sipil dan perlindungan hukum dari negara. Menjadi
> "WNI-WNI" artinya
> menjadi obyek pelecehan hukum dan obyek pemerasan
> birokrat negara.
> 
> Jadi, penduduk mayoritas yang lain bukan "WNI"?
> Bukan. Status mereka lebih
> istimewa, yakni "pribumi". Status ini bikinan
> kolonial Eropa untuk
> merendahkan sebuah ras di tanah jajahan. Setelah
> kolonialisme, status
> kolonial itu dikembangbiakkan negara merdeka, justru
> untuk memuliakan ras
> yang sama.
> 
> Pribumi dianggap WNI (tanpa tanda kutip) secara
> alamiah. Jadi, tidak perlu
> lewat prosedur peradaban modern, yakni hukum. Jadi,
> tak perlu SKBRI. Di
> sini kewarganegaraan dianggap semacam takdir, alami
> seperti halnya iklim,
> juga flora dan fauna tropis.
> 
> DISKRIMINASI di negeri tercinta ini tidak hanya di
> antara ras yang
> berbeda. Mereka yang digolongkan sebagai "WNI
> keturunan" masih
> dipilah-pilah lagi menurut kelas sosialnya. Yang
> kelasnya lebih tinggi
> dianggap "lebih Indonesia". Kaum jelata dan papa
> dianggap "kurang
> Indonesia".
> 
> Hal itu terungkap dalam berbagai diskusi tentang
> diskriminasi rasial. Ada
> kebiasaan salah kaprah. Orang-orang "top" semacam
> Susi Susanti, Kwik Kian
> Gie, Ong Hok Ham, Nano Riantiarno, Dede Oetomo, atau
> Soe Hok Gie
> (almarhum) disebutkan sebagai contoh-contoh "WNI
> keturunan" yang "tidak
> perlu diragukan ke-Indonesia-annya".


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs  
http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/careermakeover 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke