http://www.suarapembaruan.com/News/2004/05/15/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Dari Peringatan Hardiknas 2004 

Refleksi Politik Pendidik Kita
 

Ki Supriyoko 

ELAIN menulis dua buku yang dikenal masyarakat pendidikan, yaitu Pedagogy of Opressed 
serta Cultural Action for Freedom, ternyata Paulo Freire yang oleh banyak kalangan 
sering disebut sebagai salah satu tokoh liberalisme pendidikan, juga mengarang buku 
yang diberi judul The Politic of Education. Dalam buku yang terakhir ini, meski tidak 
diuraikan di dalam chapter yang tersendiri, secara implisit terdeskripsi betapa 
pentingnya politik pendidikan untuk menentukan kinerja pendidikan suatu negara. 

Dalam buku tersebut dilukiskan persoalan menyangkut pemberantasan buta huruf, 
pemeranan guru, reformasi agraria, pemeranan pekerja sosial, pemberantasan buta 
politik, humanisasi pendidikan, peran gereja, dan sebagainya yang tidak terlepas dari 
politik pendidikan. Negara yang politik pendidikannya buruk, kinerja pendidikannya 
juga buruk; sebaliknya, negara yang politik pendidikannya bagus kinerja pendidikannya 
juga bagus. 

Memang dunia pendidikan itu tidak mungkin lepas dari kekuasaan, dan Paulo Freire telah 
mencoba mengangkat ke permukaan. Bahkan kekuasaan di suatu negara memegang kunci 
keberhasilan pendidikan. 


Di Indonesia? 

Bagaimanakah politik pendidikan kita? Inilah pertanyaan yang cukup menggelitik untuk 
diklarifikasi. Kalau kita enggan menyatakan politik pendidikan kita buruk, 
setidak-tidaknya kita dapat menyatakan bahwa politik pendidikan di negara kita belum 
sepenuhnya positif. Indikasinya tak sulit; komitmen yang rendah, besarnya anggaran 
yang tidak memadai, manajemen pendidikan yang lemah, dan sebagainya. 

Soal anggaran pendidikan, misalnya. Kita semua tentu paham bahwa sampai sekarang ini 
besarnya anggaran pendidikan di negara kita tidak saja terjelek di Asia Tenggara, di 
Asia atau di kawasan terbatas lainnya; namun anggaran pendidikan kita ternyata 
termasuk terjelek di dunia. 

Kalau kita mengacu publikasi badan dunia UNDP, misalnya; anggaran pendidikan kita 
lebih jelek tidak saja dari negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, 
Jerman dan Jepang; tetapi juga dari negara berkembang lainnya, seperti Malaysia, 
Thailand, Brasilia, Meksiko, dan Nigeria; bahkan ternyata juga lebih jelek dari 
negara-negara terbelakang seperti Bangladesh, Burundi, Ethiopia, Nepal, Congo, dan 
sebagainya. 

Angka rata-rata anggaran pendidikan di negara maju mencapai 5,1 persen terhadap GNP, 
di negara berkembang 3,8 persen dan negara terbelakang 3,5 persen. Sementara itu, 
negara kita hanya mengalokasi dana kurang dua persen terhadap GNP. 

Dalam masalah partisipasi pendidikan juga begitu halnya. Anak usia SD, SMP, SMA dan 
SMK di Jepang, Republik Korea, Taiwan, Singapura, hampir seluruhnya sudah masuk 
sekolah. Mereka tidak saja sekadar disuruh bersekolah tetapi juga diberi kesempatan 
dan fasilitas belajar secara memadai. 

Bagaimana di Indonesia? Sampai saat ini masih ada sekitar 5 persen anak usia SD, 45 
persen anak usia SMP, serta 60 persen anak usia SMA dan SMK yang tidak bersekolah. 
Secara definitif angkanya sangat tinggi, mencapai jutaan anak. 

Memang pemerintah kita selalu menganjurkan agar mereka mau masuk sekolah. Sayangnya, 
anjuran itu kurang disertai dengan penyediaan fasilitas yang memadai, baik dari sisi 
jumlah maupun mutu. 

Soal peran dan posisi guru juga demikian halnya. Pemerintah di negara-negara tetangga 
kita seperti Malaysia, Brunei, Taiwan, Jepang, Vietnam, Singapura, dan sebagainya, 
sangat menghargai peran guru dan memposisikannya sebagai pribadi yang sangat dihormati 
dan disegani. Sebab, mereka tidak segan-segan menggaji guru dengan nilai yang tinggi. 

Guru di Vietnam digaji 600.000 dhong (Dolar Vietnam) pada setiap bulannya, sementara 
kebutuhan hidup setiap bulan untuk keluarga kecil hanya sekitar 200.000 dhong. 



Guru di Jepang digaji sekitar 200.000 yen setiap bulannya, sementara kebutuhan hidup 
di setiap bulannya rata-rata hanya sekitar 100.000 s/d 150.000 yen untuk keluarga 
kecil. Pendeknya, dengan mengandalkan gajinya saja para guru di negara-negara tersebut 
bisa hidup layak dan menabung. 

Bagaimana dengan guru di Indonesia? Apakah para guru kita dapat hidup dengan layak dan 
menabung dengan mengandalkan gajinya? Apakah peran dan posisi para guru terandalkan di 
masyarakat luas? Tentunya kita semua sangat paham dengan kondisi yang senyatanya. 

Keadaan tersebut memberi gambaran mengenai politik pendidikan di Indonesia yang masih 
jauh dari kata-kata surga dan menjanjikan. Politik pendidikan kita belum mampu 
memberikan harapan konkret atas kemajuan bangsa ini di masa depan. 

Pendidikan di negara kita masih berada (diletakkan) di ring marginal sehingga politik 
pendidikan kita sangat rentan terhadap ekspansi gemerlapnya politik lain yang lebih 
dominan; katakanlah dengan politik ekonomi, politik kebudayaan, politik keamanan, dan 
yang lebih khusus politik kekuasaan. 


Dari Komitmen 

Tidak bisa dibantah bahwa politik pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya positif dan 
solid, bahkan ada yang menyatakan "runyam". Masalahnya sekarang ialah bagaimana upaya 
yang harus kita lakukan untuk membangun politik pendidikan yang solid dan menjanjikan 
itu. 

Banyak cara dapat dilakukan untuk membangun politik pendidikan di suatu negara; namun 
keseluruhan cara itu umumnya berawal dari komitmen para penentu politik pendidikan itu 
sendiri, yang dalam hal ini antara lain ialah para elite politik, pejabat pemerintah 
serta para pengambil kebijakan negara. 

Mereka semua harus diketuk hatinya supaya memiliki komitmen yang memadai sehingga 
dapat bersikap "sadar didik" (sense of education). Artinya, menyadari pentingnya 
pendidikan untuk membangun manusia dan bangsanya. Tanpa pendidikan (yang baik) 
tidaklah mungkin suatu bangsa dapat berkembang secara konstruktif dinamis. 

Komitmen seperti itulah yang belum dimiliki oleh kebanyakan elite politik, pejabat 
pemerintah, serta para pengambil kebijakan pemerintahan lainnya di negara kita pada 
umumnya. Para "petinggi" negara kita sampai hari ini masih lebih mengutamakan hal-hal 
yang bersifat jangka pendek daripada jangka panjang. 

Mereka umumnya lebih senang membuat keputusan-keputusan politik untuk kepentingan hari 
ini daripada kepentingan hari esok. Mereka tampaknya lebih asyik bercengkerama dengan 
kepastian sekelompok orang yang ada sekarang daripada nasib bangsa seperempat atau 
setengah abad yang akan datang. 

Mereka harus disadarkan bahwa nasib bangsa kita sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh 
tahun lagi sangat ditentukan bagaimana kita mengelola pendidikan hari ini. Hal itu 
berarti, kalau kita membuat kekeliruan dalam mengelola pendidikan di hari ini maka 
akibatnya akan dirasakan oleh anak cucu kita di masa yang akan datang. 

Komitmen dan kesadaran seperti itulah yang harus kita tumbuhkembangkan secara bersama 
untuk membangun politik pendidikan yang solid dan menjanjikan. Tanpa adanya politik 
pendidikan yang solid kita tidak akan mampu menjadi bangsa yang besar. 

Kalau Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fadjar, baru-baru ini memberikan 
pernyataan (pengakuan) tentang lambannya perkembangan pendidikan di Indonesia sehingga 
perubahan di dunia pendidikan kita lebih lambat bila dibandingkan dengan dunia di 
luarnya; kiranya hal itu tidak dapat dilepaskan dari politik pendidikan nasional kita 
yang belum sepenuhnya konstruktif ! * 

Penulis adalah Ketua 3Majelis Luhur Tamansiswa, dan Wakil Presiden Pan-Pacific 
Association of Private Education (PAPE) yang bermarkas di Tokyo, Jepang. 




--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 15/5/04 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke