SURAT DARI PARIS:

JULIAN MEMBUNUH TEMAN SEPERMAINANNYA


Julian , seorang murid Sekolah Dasar [SD] telah dibawa ke depan pengadilan Perancis 
karena telah membunuhteman perempuannya seorang perempuan yang lebih muda dari dia 
dengan 40 bacokan pisau. Pembacokan ini berlangsung hanya 10 meter dari rumah orangtua 
gadis teman sepermainan Julian itu.  Ketika melakukan pembacokan ini, Julian 
mengenakan pakaian seperti yang digunakan oleh  tokoh hantu dalam filem horor Amerika  
"Scream". Dalam keterangannya di depan siaran tivi Perancis: France2,  pembela  Julian 
mengatakan bahwa sebelum tragedi ini terjadi, Julian menjadi pendiam dan 
memperlihatkan banyak perobahan sikap. Julian sering mengenakan pakaian hantu seperti 
yang dilihatnya dalam filem horor tersebut, hanya saja orangtuanya kurang menaruh 
perhatian pada gejala-gejala ini. Agaknya Julian sampai sekarang belum sadar benar 
tentang mengapa ia melakukan pembacokan. Ia hanya mengetahui bahwa teman perempuan 
sepermainannya telah meninggal oleh perbuatannya. Ketika ditanya oleh pembela, mengapa 
ia melakukan hal demikian, ia masih tidak bisa menjelaskannya dan diam. Hanya saja, 
orang-orang menduga bahwa tokoh hantu dalam filem "Scream" itu telah begitu dalam 
dikhayatinya dan mempengaruhinya.  

Kasus ini tentu saja menggoncangkan seluruh masyarakat Perancis. Apalagi kejadian 
begini tidak terjadi baru untuk pertama kalinya. Jauh sebelum pembacokan oleh Julian, 
bocah lain seusia Julian pernah pula melakukan tindakan kriminal terhadap teman 
sepermainannya dengan menggunakan senjata api ayahnya. Tindak kriminal inipun terjadi 
setelah anak terkait menyaksikan filem Amerika yang menampilkan adegan-adegan 
kekerasan. Oleh berulangkalinya kejadian-kejadian tragis begini terjadi,  maka 
perdebatan sengit melalui media massa cetak berlangsung mengenai masalah filem horor 
dan kekerasan. Menyimpulkan perdebatan ini, Kementerian Pendididikan dan Kebudayaan 
memutuskan untuk mematasi jumlah filem-filem horor dan kekerasan disiarkan melalui 
tivi.  Ditetapkan pula oleh Peraturan Menteri  bahwa filem-filem tertentu terlarang 
untuk kanak-kanak di bawah umur ditunjukkan melalui tanda-tanda khusus di pojok kanan 
pesawat teleivisi. Hanya   saja, larangan adalah  larangan, tidak menutup kemungkinan 
bagi para bocah di waktu senggangnya untuk menyaksikan filem-filem terlarang yang 
bagaimana pun juga. Apalagi jika orangtua mereka sering tidak berada bersama mereka 
oleh kesibukan di luar. 

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh para bocah dan remaja begini  juga makin marak di 
sekolah-sekolah. Pernah terjadi dan bukan hanya sekali dua kali seorang murid SD 
diperkosa secara kolektif oleh teman-teman sesekolahnya. Sedangkan anak teman dekat 
saya sendiri, sebulan lalu telah dikeroyok oleh beberapa orang remaja dari sekolah 
tetangga, hanya untuk memperoleh sebuah HP. Anak teman dekat saya ini telah dipukul 
pelipisnya beberapa kali sehingga ia hampir pingsan, dan pada saat inilah HP [hand 
phone]nya dirampas.   Seorang guru pun tidak jarang menjadi sasaran keroyokan 
murid-muridnya.  

Untuk menangani masalah kekerasan di sekolah maka Kementerian pendidikan telah 
mengeluarkan berbagai ketentuan preventif dan memperkuat keamanan di sekolah-sekolah. 
Kejadian demi kejadian begini telah membangkitkan kesadaran seluruh masyarakat akan 
bahaya filem horor dan kekerasan terhadap para bocah dan remaja mereka. 

Apa yang sekarang terjadi di Perancis mengingatkan saya akan apa yang pernah saya  
alami serindiri ketika masih remaja di Jogjakarta. Pada masa itu, filem Western atau 
koboi sangat umum diputar di berbagai bioskop. Begitu usai menonton filem-filem 
tersebut,  saya yang merasa masih tercengkam oleh suasana yang diperlihatkan oleh 
ilem, ketika keluar menjadi seperti tokoh hidup dari tokoh yang baru saya lihat. 
Sedang dalam kehidupan sehari-hari, saya sering menyaksikan beberapa remaja yang juga 
sering menonton filem-filem Western , berulah seperti tokoh-tokoh dalam filem Western 
itu. Keadaan serupa juga kembali saya saksikan ketika saya berada di Vietnam. Di 
negeri ini, filem yang banyak diputar adalah filem-filem dari Uni Soviet. Pengaruh 
dari filem-filem ini juga segera nampak dalam kehidupan sehari-hari ,  antara lain 
pada cara  berdandan dan tingkah laku gadis-gadis Vietnam. 

Bukan hanya filem yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan remaja. Saya merasakan 
sendiri bagaimana pengaruh karya sastra pada diri saya. Ketika meninggalkan rumah 
orangtua untuk mencari lanjutan sekolah, saya mencari tokoh pegangan pengganti 
orangtua pada karya-karya sastra. Dalam pencarian ini, pada mulanya saya bertemu 
dengan tokoh-tokoh Chairil Anwar dan tokoh Iskandar pada karya Utuy Tatang  Sontani 
:"Bunga Rumah Makan". Tokoh-tokoh yang dibayangkan oleh Chairil Anwar dan tokoh 
Iskandar, sangat mempengaruhi diri saya walaupun kemudian mereka rontok dalam 
pencarian saya berikutnya dan digantikan oleh tokoh baru.  Saya juga sempat demikian 
terpengaruh oleh tokoh-tokoh cerita  detektif  serial karya Yoesoef Sjo'ib dari Medan. 
Sampai-sampai ketika salah satu tokoh pujaan saya mati, saya merasa sangat sedih 
selama berhari-hari. 

Dengan penuturan ini yang ingin saya tunjukkan tidak lain dari disadari atau tidak, 
sastra-seni mempunyai pengaruh terhadap masyarakat dan terutama dalam pembentukan 
watak serta wajah imajinasi. Inipun nampak pada kasus Julian yang telah membunuh teman 
sepermainannya dengan 40 bacokan pisau karena begitu dirasuki oleh tokoh hantu dalam 
filem "Scream". Karya sastra-seni turut membentuk pola pikir, mentalitas dan perilaku 
pembaca atau konsumennya. Karena itu dari pihak sastrawan dan seniman dituntut adanya 
suatu tanggungjawab kemanusiaan dalam berkarya. Tentu saja, ada tidaknya dan bagaimana 
ujud tanggungjawab ini tidak terlepaskan dari pilihan politik kebudayaan suatu bangsa, 
tidak lepas dari nilai dominan dalam masyarakat pada suatu waktu tertentu, tidak lepas 
dari kelas-kelas yang berdominasi, juga tidak lepas dari tingkat kesadaran dan wawasan 
sang seniman itu sendiri. Dari kasus Julian ini nampak bahwa seniman yang hanya 
menempatkan uang sebagai patokan tertinggi, akhirnya bisa menjadi seorang pembunuh 
dengan menggunakan tangan orang lain. Kasus Julian selayaknya menjadi pertanyaan 
kepada para seniman: Apa-siapakah sastrawan dan seniman itu? Sedangkan kepada pemegang 
kekuasaan politik, kasus Julian mempertanyakan  tentang politik kebudayaan bagaimana 
yang akan dipilih. 

Paris, April 2004.
-----------------
JJ.KUSNI




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke