Jawa Pos
Rabu, 05 Mei 2004,

Dirampas Elite Politik

Koalisi antarpartai untuk mengantarkan jagonya menjadi pasangan presiden-wakil 
presiden di negeri ini amat mudah. Sebab, ukurannya adalah pemilikan tambang suara 
pemilih. Tidak peduli apakah tokoh yang diajukan partai pemilik tambang suara punya 
punya kapasitas politik, kredibel, berpengalaman, atau tidak sama sekali.

Dasar koalisi yang harus memiliki kesamaan platform dan ideologi politik mudah 
ditinggalkan. Padahal, kesamaan platform sangat menentukan soliditas koalisi sehingga 
diharapkan bisa bekerja secara maksimal untuk mewujudkan program politiknya.

Lihat saja, misalnya, manuver yang dilakukan banyak capres. Salah satu umpan untuk 
menggaet partai lain agar mau berkoalisi ialah janji-janji jatah menteri kabinet. Asal 
punya tambang suara pemilih yang potensial, partai yang diajak koalisi secara 
bisik-bisik ditawari jatah menteri.

Bahkan, informasi yang dikumpulkan koran ini dari kalangan internal partai, dalam 
pertemuan-pertemuan penjajakan koalisi, tarik-menarik yang sangat alot terjadi pada 
tawar-menawar jatah kursi menteri kabinet.

Kita bisa membayangkan kelak wajah kabinet pemerintahan hasil koalisi partai tanpa 
persamaan platform dan ideologi politik itu. Hampir dapat dipastikan kabinet akan 
diisi orang-orang partai yang kemampuannya diragukan.

Kabinet profesional hanya ada dalam kamus politik saat para capres-cawapres 
berkampanye. Dalam praktiknya, mustahil kabinet yang terbentuk kelak sepenuhnya 
profesional. 

Paling tidak, orang-orang profesional itu hanya akan mengisi jabatan menteri tertentu. 
Misalnya, menteri ekonomi, keuangan, perdagangan, dan menteri luar negeri.

Menteri-menteri lain sangat mungkin akan diisi tokoh-tokoh partai yang pemilihnya 
turut menyumbang suara untuk memenangkan capres-cawapres saat pemilihan presiden pada 
5 Juli 2004.

Implikasi politik dari kecenderungan kabinet seperti itu ialah perhatian presiden dan 
wakil presiden akan terbelah. Yakni, selain harus menjalankan program politiknya untuk 
kepentingan nasional, mereka harus selalu memelihara kompromi terhadap para menteri 
yang berasal dari partai yang berbeda-beda.

Bahkan, sangat mungkin pula presiden dan wakil presiden membiarkan menterinya yang 
tidak cakap karena harus mempertahankan soliditas koalisi.

Jika itu yang kelak terjadi, bangsa ini kembali tertipu. Bangsa ini terperosok pada 
jurang yang sama. Lantaran memilih tokoh yang tidak memiliki tanggung jawab moral dan 
politik, untuk kali kesekian, hak-haknya sebagai warga negara untuk mendapatkan 
perbaikan kehidupan sosial, ekonomi, dan peningkatkan kesejahteraan dirampas elite 
politik.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. <br> Now with
Pop-Up Blocker. Get it for free! <br> http://companion.yahoo.com
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke