SURAT DARI PARIS: SALMAN RUSHDIE BEBAS
"Salman Rushdie bebas!" adalah judul artikel utama Majalah Le Monde, lampiran terbitan Sabtu Harian Le Monde, Paris [2-3 Mei 2004] yang ditulis oleh Fr�d�ric Joignot tentang keadaan sastrawan Inggris-India, Salman Rushdie yang sekarang tinggal di New York. Kalau tidak bisa dikatakan "sama sekali bebas" , yang pasti keadaannya "hampir" bebas sepenuhnya, tambah Joignot penuh kegembiraan . "Hampir" karena ia tidak lagi saban bulan harus berganti apartemen, ia tidak lagi berpergian ke manapun selalu ditemani oleh pengawal. Ketika baru-baru ini sang sastrawan kembali ke Bombay di mana ia dilahirkan, Rushdie bisa pergi ke mana saja tanpa kekhawatiran akan apapun. Seperti umum mengetahui bahwa oleh karyanya "Ayat-ayat Setan" [Les Versets Sataniques], pada 1989, Salman Rushdie telah ditimpakan fatwa mati oleh Ayatollah Khomeiny. Sejak dikeluarkannya fatwa ini, Rushdie terpaksa hidup dari apartemen ke apartemen saban bulan dan kalau berpergian arus disertai oleh pengawal. Sekalipun demikian, Salman Rushdie tidak pernah mau melakukan operasi estetik untuk mengobah wajahnya, juga tidak pernah berpikir untuk menyingkir ke tempat-tempat terpencil di ujung dunia. "Hal demikian" dipandang oleh Rushdie seperti yang diungkapkannya dalam sebuah tulisan pada bulan Februari 1993, di tengah-tengah ancaman maut yang mengancam, dari tempat persembunyiannya, "merupakan satu-satunya jalan keluar yang tak pernah terlintas di benak saya. Cara demikian lebih buruk daripada kematian. Saya tidak ingin kehidupan lain kecuali kehidupan yang saya miliki", tulisnya. Barangkali dengan alasan serupa pula maka Pramoedya A.Toer dan sementara budayawan lain lagi, tidak ingin keluar negeri pada saat Presiden Soeharto masih berkuasa. Mereka khawatir, sekali keluar ia tidak lagi bisa kembali. Yang lebih tragis adalah apa yang dialami oleh sastrawan Solzenitzin yang dikeluarkan secara paksa oleh pemerintah Uni Soviet dari tanahairnya sendiri. Di mana nalarnya seorang anak negeri, negeri dan kampung-halaman serta kampung kelahiran sendiri, dikeluarpapksakan dari tanahkelahiran?! Di mana nalarnya untuk menjadi dan tetap memelihara kewarganegaraannya bagi orang-orang "yang terhalang pulang" alias "klayaban" menurut istilah Gus Dur, dikenakan berbagai syarat yang tidak memuluskan proses bahkan hampir-hampir tidak memungkinkannya? Hal-hal demikian seakan-akan menjadikan tanahair menjadi monopoli penguasa politik. Diktatur, militerisme dan otoriatarianisme memang sistem yang tidak berkaitan dengan nalar dan kemanusiaan kecuali kekuatan dan kekerasan. Rushdhie yang sekarang tinggal di New York bersama aktris India, Padma Lakshmi yang dinikahinya baru-baru ini, ketika mendengar fatwa mati dijatuhkan Ayatollah Khomeiny kepadanya, menghadapi fatwa itu dengan canda: "Siapakah si pirang dengan dada besar yang tinggal di Tasmania itu? Dia adalah Salman Rushdie". Tapi canda ini tinggal canda karena Rushdie tidak pernah mau lari ke ujung dunua dan menolak mengobah identitasnya demi menyelamatkan nyawanya. Rushdie mendengar fatwa mati dari Ayatollah Khomeiny melalui radio. Fatwa mati kepadanya disiarkan pertama kali pada tanggal 14 Februari 1989 melalui Radio Taheran di mana Ayatollah Khomeiny mengatakan: "Saya menyampaikan kepada rakyat muslim seluruh dunia yang membanggakan bahwa pengarang "Ayat-ayat Setan" yang telah menentang Islam, Nabi dan Qur'an, termasuk semua orang yang terlibat dalam penerbitannya (...) dijatuhkan hukuman mati" [Majalah Le Monde, Paris, 2-3 Mei 2004]. Dikeluarkannya fatwa ini saya lihat sebagai bukti lain dari peranan penting sastra bagi kehidupan, sedangkan sikap Rushdie seperti saya tunjukkan di atas, menunjukkan keteguhannya membela kedudukan sesorang sastrawan sebagai warga Republik Berdaulat sastra seni. Rushdie tidak menghiraukan nyawanya demi nilai manusiawi yang dibelanya. Demi nilai-nilai kesastrawanannya sebagai warga Republik Berdaulat Sastra-seni. Nilai-nilai yang diperjuangkan ole sastra-seni identik dengan memanusiawikan masyarakat, kehidupan dan masyarakat. Bahkan saya sempat bertanya pada diri: Tidakkah pencapaian kesadaran ini merupakan salah salah tanda tercapai tidaknya kesadaran kesastrawanan seorang penulis! Dengan memasuki taraf ini seorang sastrawan tidak lagi berkubang dalam tingkat macam-macam rupa al yang bersifat emosional individual yang kebocah-bocahan, merasa dunia berhenti berputar karena dirinya dan merasa diri sebagai pusat segala. Sampai di tingkat ini seorang sastrawan, memasuki dunia kesastrawanan sesungguhnya dengan cakrawala pandang dan kembara yang luas tanpa batas. Kembali kepada masalah fatwa mati terhadap Rushdie, saya sejenak teringat akan catatan sejarah yang mencatat betapa pemegang kekuasaan politik, agama [yang pada suatu periode satu dengan kekuasaan politik] yang secara sekehendak hati menghukum banyak warga Republik Berdaulat sastra-seni dan para ilmuwan. Kasus Rushdie memperlihatkan bahwa "kedunguan" ini sering berulang karena agaknya "kedunguan" menyertai seperti bayang-bayang gelap keidupan manusia. Hal beginipun juga diperlihatkan oleh sejarah etnik Dayak Indonesia di Kalimantan Tengah. Ketika Rushdie ditanya : "Ketika sekarang Anda merasa bebas, apakah perasaan ini menunjukkan bahwa fatwa mati terhadapnya sudah dicabut? Secara resmi fatwa mati ini belum dicabut. Hanya saja sekarang Rushdie merasa "bebas". "Fatwa mati itu sekarang tidak lagi membebani hidup saya" jawab Rushdie kepada para wartawan yang menanyainya. "Tidak", jawab Rushdie. "Tetapi sekarang fatwa mati itu tidak lagi membebani hidup saya. Pihak kepolisian mengatakan kepada saya bahwa sekarang tidak ada lagi ancaman agresi terhadap diri saya. Karena itu, dalam pengertian saya tertentu merasa aman. Perundingan dengan pemerintah Iran nampaknya telah membuahkan asil tertentu", ujar Rusdhie di depan para wartawan. Dalam konteks Indonesia, kasus Rushdie, saya lihat kesajajarannya dengan pelarangan terhadap karya-karya Pramoedya A.Toer dan karya-karya anggota para anggota Lerka [Lembaga Kebudayaan Rakyat] yang sampai tidak pernah dicabut secara resmi. Menurut editor Perancis untuk karya-karya Rushdie, Ivan Nabokov, yang mengikuti cermat perkembangan masalah Rushdie, "fatwa mati memang tidak dicabut sampai sekarang. Hanya saja penguasa Iran baik yang spritualitas mapun yang sekuler telah memutuskan untuk tidak lagi akan melaksanakan fatwa mati itu". Inilah yang terjadi ketika Mohammad Khatami yang beraliran moderat mengambil tampuk kekuasaan kekuasaan politik di Republik Islam Iran. Apakah ini bentuk dari otokritik dan sekaligus kritik pemerintah Khatami terhadap fatwa Ayatollah Khomeiny? Yang jelas keputusan ini tidak lepas dari perhitungan politik dan ekonomi. Antara pemerinta Khatami dan pemerintah Inggris, terutama, nampaknya terjadi politik "dagang sapi" atau "politik di bawah tangan" mengenai kasus Salman Rushdieh. Pada bulan September 1998, di depan sidang PBB, Menteri Luarnegeri Iran menyatakan bahwa "Pemerintah kami tidak mengandung niat untuk mengancam kehidupan pengarang "Ayat-ayat Setan" (...). Pemerintah kami juga tidak menggalakkan siapapun untuk meraih harga yang pernah ditawarkan dan pemerintah kamipun tidak lagi menyokongnya" [Majalah Le Monde, Paris, 2-3 Mei 2004]. Pernyataan inilah yang kemudian dirasakan dan dinilai oleh Rushdie telah membebaskannya. Sekalipun demikian Rushdie tetap tidak mengendorkan kewaspadaan. Sampai sekarang, ia hanya bisa dihubungi melalui surat dan tidak perna membuka di mana alamat tempat tinggalnya. Khotbah dan ajaran agama serta nyang dipraktekkan adalah dua hal berbeda. Dengan kemenangan kaum konsrvatif dalam pemilu di Iran baru-baru ini, apakah Rushdie merasa kebijakan Khatami dibatalkan dan ia merasa kembali terancam? Demikian para wartawan menanyai Rusdhie. Menjawab para wartawan, Rushdie mengatakan: "Tidak. Saya tidak lagi merasa berada di bawah tekanan.Pemerintah Iran nampaknya sudah berkeputusan untuk melupakan keputusannya mengenai diri saya.Benar setiap tahun pada tanggal 14 Februari beberapa puluh orang masih saja melakukan unjung rasa mengingatkan pemerintah Iran terhadap diri saya. Selama satu dua hari, pers Iran juga ikut ribut-ribut mengapa penulis "Ayat-ayat Setan" masih saja hidup? Tapi begitu unjuk rasa kecil dan satu dua-hari berlalu, suasana jadi tenang kembali" ujar Rushdie sambil tersenyum dan mengerdipkan mata. "Saya yakin bahwa sekarang arus fundamentalis mulai tekecoh. Anda ingat apa yang terjadi sesudah perang? [Maksudnya Perang Dunia II--JJK]. Pada periode itu, di mana-mana di dunia gerakan nasionalis Arab dan India bisa membatasi gerakan fundamentalis. Habib Bourguiba membendungnya di Tunisiai dengan menentang penggunaan jilbab. Sementara itu pada waktu yang sama di Mesir, Gamal Abdel Nasser melarang "Persaudaraan Musliman" [Fr�re Musulman] pada tahun 1950. Langkah-langkah ini dilakukan dengan melibatkan massa luas. Sayang pada saat berikutnya, gerakan-gerakan nasionalis ini menjadi birokrat yang merosot, mengkhianati harapan-harapan yang dilahirkankan oleh gerakan dekolonisasi. Dalam situasi ini maka gerakan fundamentalis menyusun kembali kekuatan mereka tanpa menawarkan sesuatu apapun yang baru sebagai alternatif. Sekarang seluruh dunia tahu benar bahwa fundamentalisme agama hanya membawa kehancuran dan kemerosotan. Mereka tidak menawarkan sesuatu apapun yang bersifat kemajuan sosial, tidak menawarkan apapun tentang bentuk pemerintahan yang adil, kecuali diktatur milisia dan agama serta terorisme. Barangkali gerakan fundamentalis ini masih akan menabur petaka dalam 10 bahkan 20 tahun mendatang. Saya tidak tahu. Tapi dilihat dari segi sejarah apa yang mereka lakukan tidak bermakna apa-apa. Mereka tidak lebih daripada wabah terakhir yang menerpa ladang tanaman raksasa kemanusiaan". Demikian Salman Rushdie yang sekarang hidup di New York bersama istrinya Padma Lakshmi, sebagai warga kota biasa. [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

