-----Original Message-----
From: Sri Dewi Maryati [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 17 Mei 2004 18:55
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: RE: [ppiindia] FW: HATI-HATI DI LIFT PULANG MALAM, TERUTAMA
BAGI YANG SUKA LEMBUR


pliis dehh...
ini juga kan cerita lama


-----Original Message-----
From: Listy [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 18 Mei 2004
To: [ppiindia] (E-mail)
Subject: [ppiindia] FW: HATI-HATI DI LIFT PULANG MALAM, TERUTAMA BAGI
YANG SUKA LEMBUR


yup!.. yang ini juga cerita lama..
semoga ada pengajaran yang bisa diambil..
di luar sana kehidupan sangat beraneka ragam..
contoh di bawah ini adalah salah satunya..
jagalah keluarga kita.. dari marabahaya..

silahkan delete jika pernah membacanya.. :)

cheers..


----- Original Message ----- 

Berkubur di pasir

Oleh: Leila Ch. Budiman                               

AKHIR-AKHIR ini banyak berita tentang kejahatan seksual pada anak-anak. Namun akibat 
psikologisnya kurang disoroti. Kalaupun jiwanya selamat, kerusakan yang diakibatkan 
pada jiwa si anak jauh lebih besar dari luka paksaan itu sendiri. 
 
Berkubur di pasir - Pria "Trauma" di Bandung 
 
"... Saya sedih sekali membaca berita di koran. Ada anak laki-laki dibunuh setelah 
disodomi. Kejam sekali orang itu. Terbayang kembali  musibah yang pernah saya alami 
sendiri, ketika disodomi 29 tahun yang lalu... Saya masih berumur 13 tahun, kelas 1 
SMP. Ketika sekolah kami piknik ke Pangandaran, ada dua kakak kelas mengajak saya 
jalan-jalan menyusuri pantai. Ketika itu sekitar pukul 16.00. Kami bertiga berjalan 
semakin jauh dan jauh dari rombongan. Di tepi pantai yang agak tersembunyi, mereka 
minta saya buka pakaian. Mereka juga menanggalkan pakaiannya. Saya pikir akan berenang 
bersama, layaknya bocah-bocah lelaki di desa. Ternyata saya diraba-raba dan disuruh 
buka mulut untuk "alatnya". Saya tutup mulut saya rapat-rapat dan melawan. Akhirnya 
kami berkelahi. Ketika tangan saya dipelintir, saya menangis kesakitan sampai akhirnya 
terpaksa buka mulut dan muntah-muntah karena jijik. 

Satu orang menelungkupkan saya dan menyodomi. Saya menangis dan menjerit karena sakit 
sekali. Usai melakukan itu, perut saya ditempeli pisau. Betul-betul pisau Bu. Dia 
bilang, "Berani bicara sama siapa saja, kamu mati".  Ini menghentikan tangis saya, 
sebab takut sekali. Lalu, saya ditinggal sendiri, dan kembali saya menangis.Saya 
merasa begitu kotor dan putus asa. Sambil menangis saya gali pasir sedalam tubuh saya, 
lalu merebahkan badan saya sambil berharap akan mati tersapu ombak. Sekarang pun saat 
menulis surat ini saya menangis. Saya ingat jelas peristiwa itu. Setelah lama gelap, 
pada pukul 21.00 saya ditemukan guru-guru dan kawan-kawan. Mereka bertanya, saya tetap 
bungkam. Mereka menyimpulkan saya diganggu setan. 

*** 

SEJAK saat itu saya merasa diri kotor. Saya jijik, dan ini mengakibatkan 
bertahun-tahun saya biasa membasuh dubur belasan kali dalam sehari. Barulah beberapa 
tahun belakangan ini saya bisa menghilangkan kebiasaan itu. Namun sampai detik ini, 
setiap menjelang mandi saya mendahulukan membasuh dubur. Setelah itu baru hati saya 
terasa lega. 

Saya tak dapat bicara pada siapa pun dan merasa tertekan. Perlu diketahui, ayah saya 
sudah meninggal ketika saya masih kelas satu sekolah dasar. Ibu saya harus bekerja 
keras membiayai tujuh anak. Kami hidup prihatin. Saya harus jalan kaki pergi dan 
pulang seolah beberapa kilometer. Pernah, berbulan-bulan PLN mencabut listrik di rumah 
kami, sebab ibu tak dapat membayarnya. Itulah yang membuat saya memilih diam, takut 
ibu saya berduka jika saya ceritakan. 

Kejadian lain yang membekas sampai sekarang pada diri saya, juga terjadi ketika saya 
masih pelajar. Sepulang sekolah, karena kelelahan berjalan saya beristirahat di bawah 
pohon dan tertidur. Saya terbangun karena disentuh seorang mahasiswa. Saya ditanya 
mengapa tidur di situ. Akhirnya kami ngobrol di tempat tukang bakso. Dia menasihati 
bagaimana agar cita-cita saya tercapai, dan mengajak saya ke tempat kosnya dengan 
janji diberi busur derajat yang memang saya perlukan. 

Di kamarnya saya diberinya gambar-gambar porno. Saya belum pernah melihatnya, hingga 
saya terkesiap dan gemetar. Maaf , lalu dia merangsang saya sampai maksimal. Ini 
pengalaman pertama saya, dan saya selalu teringat ekspresi wajahnya, dan selalu ada 
keinginan mengulanginya. Saya mulai resah jika dekat laki-laki lain. Namun, hati kecil 
saya tak mengizinkan. Ini mengakibatkan perang batin yang sangat menyiksa. Meski 
begitu, saya bisa sekolah terus dan berhasil menyelesaikan kuliah.

*** 

UNTUK melawan rasa tertarik saya pada lelaki, saya cepat-cepat menikah. Ternyata 
ingatan itu tak bisa hilang juga. Berbagai upaya saya lakukan, saya bekerja keras 
sampai dicap workaholic oleh keluarga dan teman. Ini juga jadi masalah, sebab istri 
merasa diabaikan. 

Mendekatkan diri pada Tuhan, saya merasa tak pantas melangkah ke tempat ibadah. Saya 
merasa kotor.

Saya merasa jadi punya kepribadian ganda. Jika sedang mengendarai mobil sendiri, 
tiba-tiba teringat kejadian di pantai, saya memaki-maki, mengumpat dengan kata-kata 
kotor, meski akhirnya ingat kembali dan beristigfar. Berkali-kali saya mengatakan pada 
diri sendiri: lupakan, lupakan... tapi tak bisa. Pengalaman ini begitu lekat, meski 
sudah puluhan tahun berlalu. 

Di sisi lain, saya adalah figur ayah yang baik, sangat memperhatikan anak dan istri. 
Saya tak pernah memarahi anak, tapi mereka segan pada saya.

Keadaan tertekan ini terus mengganggu, hingga tahun lalu saya konsultasi dengan dua 
psikiater, tanpa setahu istri saya. Di hadapan mereka saya bisa menangis, terasa beban 
agak hilang. Saya menyesal pernah tergelincir dengan mahasiswa itu, sampai tertarik 
pada homoseksual. Dua bulan lalu istri saya menemukan secarik kertas dengan tulisan 
saya yang mengatakan menyesal pernah "tergelincir". Dia salah tafsir, disangka saya 
menyeleweng. Ia marah sampai mengusir saya, dan dengan pertolongan psikiater akhirnya 
istri dapat menerima keadaan 
saya. 

Saya mengungkapkan apa adanya. Saya bersyukur tak punya keinginan membalas dendam dan 
melakukan hal yang sama. Saya justru merasa sedih melihat anak-anak yang jadi korban. 
Rasanya, saya ingin melindungi mereka dari keganasan orang yang lebih besar. Adakah 
lembaga yang menolong anak-anak ini? Kalau bisa lembaga nonprofit dan profesional.  
Kalau tak ada, mengapa tak didirikan...?"

Jawab:

Bapak "Trauma" yang baik, 

Terima kasih atas kesediaan Bapak membagi pengalaman yang begitu pribadi. Pengalaman 
ini berguna untuk menghayati persoalan ini, juga agar orangtua dan anak-anak kita 
lebih hati-hati menjaga dirinya. Sebab, trauma psikologis akibat kejahatan seksual 
dapat merusak pribadi korban. Ini juga merusak konsep seksual di dalam dirinya, sampai 
puluhan tahun kemudian.   

Lebih baik jika si korban dapat segera diobati, dapat "berkatarsis". Ia dapat 
melimpahkan tangisnya pada orang yang mengerti, dan dapat meringankan penderitaannya. 
Hal ini sukar terjadi, karena kejahatan seksual hampir selalu disertai ancaman yang 
menakutkan. Lembaga nonprofit dan profesional yang dapat menolong para korban, sedikit 
sekali. Salah satu yang saya tahu, pada bagian klinis fakultas psikologi. 

Bapak "Trauma" lebih baik berterus terang pada istri. Apalagi setelah istri mendapat 
keterangan dari psikiater tentang persoalan Bapak. Meski sudah tergelincir, tentu saja 
Bapak perlu kembali kepada Tuhan. *







 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke