http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=161376&kat_id=16
Rabu, 19 Mei 2004
Bin Ladin, Israel, dan Terorisme
Oleh : A Fatih Syuhud
Seandainya sebuah survei interim dilakukan tentang
kondisi dunia, akankah ia menunjukkan bahwa dunia
menjadi lebih aman setelah tragedi 11/9? Jawabannya
mungkin dapat ditemukan dalam beberapa baris kata dari
Thomas Hardy ini: "Beberapa aspek berada dalam diri
kita, dan siapa yang tampak seperti raja dialah Sang
Raja".
Jawabannya juga akan tergantung pada siapa yang
menjadi pemburu dan siapa yang jadi buruan. Perang
melawan teror sudah menang, begitu kita diberitahu.
Pada waktu yang sama jangkauan Alqaidah semakin jauh
dan Eropa merasa terancam. Para menteri luar negeri
NATO pun sepakat untuk mengambil langkah tegas guna
memperkuat pertempurannya melawan terorisme. Dalam
sebuah statemen yang dimaksudkan untuk mengungkapkan
kesatuan dan membulatkan tekad dalam mengambil
langkah-langkah penting guna "memberikan dimensi
transatlantik esensial sebagai respons pada
terorisme," yang dalam menghadapinya tampak dibayangi
ketakutan dan horor.
Sebuah komisi sudah dibentuk di Amerika Serikat (AS)
yang sedang menyelidiki serangan 11/9 dan apakah
berbagai langkah dapat diambil untuk menghalangi
tragedi itu terjadi. Tahun ini merupakan tahun pemilu
di AS dan kesaksian berbagai pejabat terkait telah
menjadi permainan yang saling memojokkan antara mereka
yang berkuasa pada masa Clinton dan mereka yang sedang
berkuasa saat ini.
Pertama, yang paling menggemparkan adalah tuduhan
Richard Clarke yang menjadi pejabat ahli
anti-terorisme Gedung Putih dan menulis buku berjudul
Against All Enemies. Buku ini secara luas
berseberangan dengan segala statemen yang pernah
diucapkan pemerintahan Bush, sebuah tuduhan paling
serius yang dilakukan orang dalam sendiri bahwa
strategi kontraterorisme telah dipetieskan oleh
pemerintahan Bush agar supaya dapat menginvasi Irak.
Secara gamblang dia menyatakan bahwa perang Irak telah
lama direncanakan.
Semua tuduhan itu tampak kurang relevan. Penyelidikan
pasca-kejadian mungkin berguna bagi ilmu medis tetapi
tak akan banyak gunanya bagi korp. Tidak ada seorang
pun yang merasa heran lagi apa yang terjadi dengan WMD
(Weapons of Mass Destruction senjata pemusnah massal).
WMD tidak pernah ditemukan. Para antropolog yang
mengadakan penggalian di Irak mungkin akan
menemukannya seratus tahun lagi tetapi mereka akan
memberikan semacam "rasa puas" yang dibutuhkan oleh
kalangan yang haus perang.
Pada saat peristiwa Pearl Harbour, Franklin Delano
Roosevelt berpidato di depan rakyat AS menyatakan
bahwa "tidak ada yang kita takutkan kecuali rasa takut
itu sendiri." Sekarang rasa takut itu digunakan untuk
menggiring rakyat dan para pejabat AS yang haus perang
dapat mengatakan bahwa mereka tidak hanya memiliki
keperkasaan militer tetapi juga ketakutan dalam waktu
yang sama.
Richard Clarke memberikan pengakuan dengan nada
permintaan maaf, yang lebih mirip dengan doa
pertobatan: "Pemerintah telah mengecewakan kalian.
Mereka yang dipercaya untuk melindungi kalian telah
mengecewakan kalian. Dan saya sendiri telah
mengecewakan kalian," ujarnya. Tidak ada pengakuan
semacam itu keluar dari Bush dan Blair, apalagi rasa
bersalah yang mendalam. Mereka terus bergerak maju
dari senjata pemusnah massal ke perubahan rezim ke
demokrasi.
Irak telah ditentramkan dan dimerdekakan. Beberapa
waktu lalu terjadi pembunuhan mengerikan atas empat
pengawal pribadi kontraktor AS oleh massa yang marah
di Fallujah. Rekaman video pembunuhan dan penyiksaan
atas tubuh-tubuh mereka itu dianggap terlalu
mengerikan untuk dipertontonkan di televisi. Ini
bukanlah kemarahan biasa, ini murni timbul dari rasa
benci yang berasal dari dalam rasa putus-asa, dan
kekecewaan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Seorang juru bicara militer AS hanya bisa mengatakan
bahwa segalanya akan tampak buruk sebelum menjadi
lebih baik. Terdengar sebuah gaung dari Vietnam. Di
sana juga dulu dikatakan bahwa semuanya akan berjalan
dengan baik. Kita diberitahu bahwa membandingkan Irak
dengan Vietnam adalah analogi palsu dan tidak pas.
Pernahkan ada perang yang berakhir dengan happy
ending? Perang Dunia I menciptakan Hitler, Perang
Dunia II memproduksi Perang Dingin dan runtuhnya Uni
Soviet dengan bantuan Usamah bin Ladin dan kalangan
Mujahidinnya menciptakan Alqaidah.
George Crile dalam bukunya My Enemy's Enemy menuturkan
kisah operasi rahasia terbesar sepanjang sejarah. CIA
mempersenjatai kelompok Mujahidin. Dan tak lama
kemudian keanehan pun terjadi: Mujahidin yang sama
berubah menjadi militan dan diburu di seluruh dunia
sebagai kelompok teroris. Mengapa komisi 11/9 tidak
menginvestigasi bagaimana dan mengapa semua itu bisa
terjadi? Siapa yang mengubah Usamah bin Ladin dari
seorang kawan menjadi lawan abadi?
Hal yang sebaliknya terjadi dalam kasus Kolonel
Khaddafi. Ronald Reagan menjulukinya sebagai seekor
"anjing gila." Pesawat pengebom AS tinggal landas dari
pangkalan yang diberikan oleh Margaret Thatcher
Inggris dan mengebom rumah Khaddafi untuk membunuhnya.
Dia selamat akan tetapi tidak demikian dengan
putrinya.
Khaddafi bagaikan seorang pendosa yang telah melihat
cahaya dan dia telah menyerahkan proyek WMD-nya, saat
ini tidak ada lagi bekas-bekas WMD yang ditemukan, dan
dia pun mendapat anugerah kunjungan resmi dari Tony
Blair sendiri. Khaddafi telah mengecam terorisme dan
saat ini mendapat rapor baik dari coalition of the
willing serta menjadi anggota terhormat dalam perang
melawan terorisme. Mengapa tekanan dan diplomasi yang
sama tidak digunakan pada Saddam Hussein?
Langkah mundur kontraterorisme
Perang melawan teror telah mengalami kemunduran sangat
besar yang disebabkan oleh veto AS atas resolusi DK
PBB yang mengecam pembunuhan terencana atas Syekh
Ahmed Yassin, pendiri Hamas. Ariel Sharon yang merasa
mendapat dukungan saat ini telah melirik Yasser Arafat
sebagai target besar berikutnya. Adakah perang melawan
teror hanyalah alasan belaka untuk memuluskan ambisi
Israel?
Ariel Sharon menjadi kendala utama perdamaian di Timur
Tengah dan apabila dia terus dimanja AS, maka prospek
perdamaian di kawasan ini hanyalah ilusi belaka. Hanya
AS yang dapat membuat Israel untuk berpikir waras.
Kalangan kawan dekat Amerika, termasuk Tony Blair,
hendaknya dapat meyakinkan AS bahwa perlindungannya
yang membuta atas Israel merupakan ancaman yang sama
berbahayanya dengan Alqaidah.
Teroris tidak akan musnah. Lawan akan semakin kuat dan
dunia tidak akan bertambah aman. Setiap kali tank-tank
Israel bergerak, teroris-teroris baru akan lahir. Kita
tidak perlu menjadi ahli strategi untuk mengetahui hal
semacam ini. Masalahnya kapan AS akan berhenti
bersikap berpura-pura tidak tahu?
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University,
India
__________________________________
Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! - Internet access at a great low price.
http://promo.yahoo.com/sbc/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/