Jawa Pos
Kamis, 20 Mei 2004,

Kaum Muda dan Globalisasi Itu
Oleh M. Idris Azmi *

Arus globalisasi yang makin deras tak pelak juga ikut berpengaruh terhadap
segala sektor kehidupan. Di Indonesia, seperti juga di negara yang lain, ada
yang berefek positif dan negatif.

Hal-hal yang positif, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek), seperti masuknya berbagai teknologi (handphone, komputer, dll)
teranyar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat memungkinkan bangsa ini
berpacu dengan negara yang lain, meski baru sebatas dalam penggunaannnya.
Setidaknya, masyarakat tidak disebut galtek (ketinggalan teknologi).

Contoh lain yang sangat membanggakan adalah yang ditorehkan putra-putri
terbaik Indonesia di berbagai kejuaraan fisika internasional. Hal itu tentu
mustahil jika para fisikawan cilik itu dapat mengenal rumus-rumus bikinan
Schwinger, Hooft, atau Gell-Man tanpa adanya akses informasi yang memadai.
Ya, terbukanya akses informasi merupakan salah satu dampak positif dari
globalisasi.

Di sisi lain, tidak sedikit pemuda yang terjebak di kawasan hitam, mereka
menjadi junkies, pengedar narkoba, bahkan ayam kampus. Mereka sebenarnya
hanya menjadi korban dari globalisasi yang selalu menuntut kepraktisan
(pragmatisme), kesenangan belaka (hedonisme), dan budaya instan.

Salah satu survei terbaru yang dilakukan sebuah lembaga di Jogjakarta
menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sekitar 10 persen siswa tingkat SLTP
di kota itu pernah berhubungan badan. Hal tersebut merupakan buah yang lain
dari globalisasi.

Betapa kemudian globalisasi ibarat sebuah pisau bermata ganda. Dia mendorong
manusia untuk terus berkembang, namun juga "mengubur" dalam-dalam manusia
yang terperosok ke kawasan hitam. Melihat contoh yang paling akhir, tentu
kaum muda harus berbenah diri. Tapi, bagaimana caranya?

Menurut penulis, ada sejumlah hal yang perlu dipikirkan kembali, tidak saja
oleh pemuda tapi seluruh stake holder bangsa ini.

Pertama, perlu rasanya untuk meredefinisi makna kemodernan. Makna
"kemodernan" yang saat ini banyak dipahami kaum muda hanya berkisar di
masalah merek handphone, dugem, kulit yang putih mulus, atau bahkan merek CD
(celana dalam). Artinya, mereka cenderung berkutat di wilayah eksternal,
wilayah yang tampak dari luar. Wilayah itu lebih sering disebabkan faktor
gengsi individu atau masalah pencitraan (image) yang diciptakan pihak
marketing. Misalnya mengenai kulit yang putih mulus. Wanita Indonesia
cenderung berkeinginan untuk memiliki kulit putih mulus karena strategi
pemasaran mencitrakan bahwa kulit yang bagus adalah putih mulus.

Untuk menyukseskan pencitraannnya, pihak marketing menggunakan para bintang
iklan yang berkulit mulus, tidak berpanu atau koreng. Hal tersebut juga
merupakan salah satu dampak dari globalisasi.

Seharusnya, kaum muda sadar bahwa makna "kemodernan" tidak seperti itu.
Kemodernan juga meliputi pola pikir dan perilaku manusia. Yaitu, pola pikir
yang mengedepankan rasionalitas dengan tetap terikat dengan budaya-budaya
adiluhung bangsa.

Di antaranya adalah budaya kekeluargaan, tolong-menolong, saling
menghormati, dll. Kemungkinan budaya-budaya tersebut sudah dianggap usang
karena tidak cocok di zaman globalisasi. Namun, sebenarnya itu adalah budaya
asli kita, yang telah diwariskan mbah-mbah kita. Budaya-budaya tersebut
berakar dari nilai-nilai adiluhung bangsa.

Salah satu caranya adalah menggali dari manapun -entah dari planet (baca:
bangsa) sendiri atau planet lain- ilmu pengetahuan dan budaya yang cocok
dengan sifat manusia Indonesia.

Sumber-sumber informasi (internet, televisi, radio, surat kabar), yang
merupakan dampak sekunder dari globalisai, dapat dimanfaatkan sebagai
mediumnya.

Kedua, perlu diberantas ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat yang
mendorong lahirnya individualitas. Ungkapan-ungkapan seperti emangnya gue
pikirin atau lu ya lu, gue ya gue perlu dimusnahkan.

Sebab, secara tidak langsung, ungkapan-ungkapan tersebut telah meracuni kaum
muda untuk bersikap individualistis.

Sebagai gantinya, perlu digalakkan munculnya ungkapan-ungkapan yang dapat
menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa persatuan. Misalnya, ungkapan semua
itu mungkin kalau tidak dikerjain sendiri.

Ketiga, perlu ditumbuhkan rasa benci terhadap kekerasan. Sebab, hingga
kiamat kurang satu hari pun, kekerasan tidak akan pernah dapat menyelesaikan
masalah.

Rasanya, kita perlu berkaca terhadap pertikaian Palestina-Israel yang tidak
kunjung selesai, atau contoh paling gres kasus Ambon beberapa hari lalu. Ibu
pertiwi sudah banyak berair mata darah. Tidak bisakah kita sesekali
membuatnya tersenyum?

Keempat, perlu dikembangkan pola pikir jauh ke depan (beyond tomorrow).
Sebab, bangsa ini tidak hanya akan hidup hingga esok pagi, tapi berjuta-juta
tahun mendatang. Kayu yang kita tebang sekarang juga dibutuhkan cucu-cicit
kita. Artinya, kita juga harus memikirkan akibat negatif yang mungkin
dialami generasi penerus kita.

Salah satu caranya adalah meningkatkan kepekaan kita terhadap orang
lain.Ungkapan Siamo Tutti Fratelli (kita semua bersaudara) perlu direnungkan
dan dilaksanakan kembali. Apa yang orang lain rasakan, kita juga ikut
merasakannya.

Kelima, pemberantasan budaya mi instan (baca: pragmatisme). Kaum muda saat
ini cenderung bersikap pragmatis. Mereka selalu menuntut segala sesuatu yang
berlangsung dengan praktis, cepat.

Padahal, segala yang terlahir di dunia membutuhkan proses. Tidak mungkin
tiba-tiba seekor kecebong menjadi kodok tanpa melewati proses-proses
sebelumnya. Sama halnya seperti padi yang masih hijau, tiba-tiba berubah
nasi siap santap di meja makan. Perlu proses untuk menjadi atau melakukan
apapun.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional kali ini sangat tepat untuk melakukan itu
semua. Harapannya, akan lahir manusia Indonesia masa depan, yaitu manusia
yang berpikiran progresif, berwawasan luas, berpikir logis, berkepribadian
adiluhung, antikekerasan, dan beradab. Semoga...!
* M. Idris Azmi, mahasiswa Sastra Perancis Universitas Negeri Semarang



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke