http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/21/opi01.html
Kata-kata Politis Sulit Jadi Kebenaran Oleh Benny Susetyo Pr Setiap pasangan calon presiden dan wakil presiden menjanjikan adanya sebuah perubahan dalam kehidupan berbangsa dan ber-negara. Pertanyaannya, perubahan seperti apakah yang hendak disampaikan? Agaknya mereka tidak menyadari akan mudah terjebak dengan menggunakan kata-kata perubahan. Kata perubahan bisa jadi sekedar iklan yang penuh dengan pesan sponsor, dan hanya untuk menarik simpati publik. Ini adalah sebuah realitas di mana sosok calon presiden dan wakil presiden mencoba meyakinkan dengan politik bujuk-rayu yang dikemas dalam tampilan visual yang elok dan memikat publik agar memilih mereka. Realitasnya dari dua episode zaman, Orba dan refomasi, sebenarnya tidak banyak perubahan. Kata Milovan Jilas, amat banyak kata-kata bagus yang tidak memiliki makna. Tidak ada perubahan yang mendasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak karena kuasa kata tidak pernah bermakna. Kata-kata hanya menjadi simbol ketidakberdayaan sang pemimpin karena dalam realitasnya sang pemimpin tidak mampu mengubah kata-kata menjadi sebuah tindakan yang mempunyai kuasa. Kata-kata hanya sekedar dimaknai sebagai mekanisme pembelaan diri sang pemimpin. Cerminan ini menggambarkan bahwa semua calon hanya memainkan jurus kata-kata dengan membangun imajinasi dan menyihir penonton Indonesia. Imajinasi itu tercermin dalam mantra yang menyihir kesadaran publik untuk melupakan kebenaran sejarah. Misalnya dengan mengatakan bahwa permasalahan bangsa adalah sekedar bagian dari masa lalu. Ungkapan ini seolah-olah mencerminkan sikap bijaksana sang pemimpin, namun di balik kata-kata itu ada sebuah kelicikan untuk menutupi sebuah kebenaran sejarah. Hal ini mengungkapkan ketakutan bahwa masa lalu bisa mengancam posisinya. Cerminan ini menunjukkan bahwa di balik kata-kata penuh dengan siasat yang bersifat politis. Kata-kata yang politis akan sulit untuk dijadikan sebuah kebenaran. Kuasa kata kehilangan pemaknaannya karena begitu banyak cara untuk menafsirkannya. Realitas itulah yang sedang dipertontonkan para calon pemimpin kita. Kata-kata mereka tidak memiliki kuasa yang bisa dijadikan pegangan bagi kita. Kata-kata mereka bersifat ambigu dan penuh penafsiran yang berbeda-beda. Hal ini membuat publik sulit percaya bahwa mereka mampu membawa perubahan yang sejati. Ketimpangan Komunikasi Dalam pemikiran Hannah Arendt, perubahan sejati itu terjadi bila ada tradisi civic republicanism. Adalah sebuah tradisi yang didasarkan pada gagasan masyarakat yang aktif (active citizenship). Ini mengandaikan keterlibatan warga negara dalam memberikan penilaian kolektif terhadap berbagai persoalan yang mempengaruhi komunitas politik dan kepentingan hidup banyak orang. Masyarakat yang diinginkan adalah masyarakat yang mampu berkomunikasi dengan pemimpinnya. Menjadi persoalan ketika terjadi ketimpangan dalam komunikasi karena kata-kata sang pemimpin penuh interpretasi. Pemimpin yang tidak memiliki visi dan orientasi, dan hanya mengandalkan kata-kata saja tanpa makna, akan sulit menjalankan roda pemerintahan. Ia cenderung menjadi pemimpin yang reaksioner dan tidak memiliki visi ke depan. Kecenderungannya mereka akan menjadi pemimpin yang otoriter dan sulit menerima kritik dan cenderung merasa paling benar. Pola berpikir menang dan kalah ini melahirkan inkonsistensi dalam bersikap dan berkata. Kesadaran masyarakat akan kuasa kata para pemimpin menjadi penting saat ini. Kita diajak untuk mengkritisi setiap ungkapan para calon pemimpin. Agar kita semua tidak terperosok ke dalam kata-kata yang manis penuh racun. Bangsa kita memang membutuhkan figur pemimpin nasional yang kuat, tegar, demokratis, dan yang pasti tidak suka mengeluh dalam upaya mengeluarkan rakyatnya dari krisis berkepanjangan. Juga pemimpin yang tidak hanya bisa bermain kata-kata tanpa ke-nyataan. Kondisi sosial budaya bangsa kita harus diakui masih berada dalam wilayah patron-client. Kekuatan dan kemampuan pemimpin masih dijadikan sebagai patokan apakah kita mampu keluar dari krisis atau tidak. Seluruh pengalaman kehidupan berbangsa kita menunjukkan bahwa selama ini kita masih tergantung pada siapa pemimpinnya. Dan seluruh pengalaman itu menunjukkan bahwa warna kebangsaan kita amat ditentukan oleh corak kepemimpinan tersebut. Masyarakat belum bisa mandiri dengan dirinya sendiri untuk memperbaiki kehidupannya, karena urusan sistem yang diwarnai oleh corak kepemimpinan tersebut. Itulah mengapa jika kita dipimpin oleh orang yang hanya pintar bermain kata-kata, bangsa ini tidak akan bisa keluar dari krisis, bahkan akan lebih terperosok ke dalam jurang krisis berkepanjangan. Dengan kata lain, kita dipimpin oleh orang yang "banyak omong" tapi sedikit bekerja, banyak membual tapi sedikit konsep. Kondisi patron-client yang menjadi ciri masyarakat kita hanya dimanfaatkan oleh para politisi untuk mengambil keuntungan dirinya sendiri melalui kata-kata manis penuh racun. Justru bukan untuk menguraikan benang kusut patron-client tersebut dengan menyuguhkan konsep perubahan yang rasional dan lebih nyata. Penulis adalah Budayawan ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

