Pelajaran bahasa tidak terlalu menarik bagi saya sewaktu masih di sekolah. Sesudah 
dewasa, baru sadar bahwa bahasa itu sangat penting.



Karena itu saya kagum terhadap orang yang pandai merangkai kata2 yang menghasilkan 
kalimat yang bukan saja menarik, tetapi jelas maksudnya.



Menarik sekali apa yang dikatakan penulis sbb.:  



" Kata-kata yang terkumpul secara ramai-ramai dibuat puisi."  



Saya teringat pada waktu anak2 saya masih kecil,dari tk  s/d. SR, eh salah, maksud 
saya .... SD.  Jika kami bepergian,  kami mempunyai suatu 'permainan' supaya anak2 
tidak bosan.  Satu orang memulai dengan satu kalimat.  Yang kemudian di sambung oleh 
orang berikut dengan satu kalimat juga.  Arah dari pada kalimat tsb. terserah kepada 
yang membuat kalimat tsb., asal 'nyambung' dengan kalimat sebelumnya.  Makin banyak 
pengikutnya, makin 'seru'.



Anak2 sendiri yang menjadi wasit, yaitu yang menentukan apakah kalimat tsb. memenuhi 
persyaratan atau tidak.  Menarik sekali diskusi/debat  mereka dalam menentukan apakah 
suatu kalimat memenuhi persyaratan atau tidak.



Hasilnya adalah suatu 'cerita'.   Pada waktu cerita tsb. dimulai, akhir dari pada 
cerita tsb. tidak terbayang. Tetapi karena anak2 biasanya penuh imaginasi, jalan 
cerita yang kadang2 ber-belok2, mempunyai 'ending' yang sangat menarik.





 --- On Sat 05/22, ibnuaviciena < [EMAIL PROTECTED] > wrote:

From: ibnuaviciena [mailto: [EMAIL PROTECTED]

To: [EMAIL PROTECTED]

Date: Sat, 22 May 2004 06:47:31 -0000

Subject: [ppiindia] andai saya guru bahasa dan sastra indonesia



ANDAI SAYA GURU BAHA

SA <br>DAN SASTRA INDONESIA<br>Esai: Ibnu Adam Aviciena<br><br>Seandinya saya guru 
bahasa dan sastra Indonesia, saya akan menunjukan <br>siswa bagaimana menulis puisi, 
cerpen atau novel. Sehingga, ketika <br>mereka lulus Aliyah (SMA) mereka sudah 
menghasilkan puisi-puisi, <br>cerpen-cerpen, atau novel-novel. Hanya sayang, karena 
kebanyakan (?) <br>guru bahasa dan sastra kita tidak bisa menulis, siswapun 
ikut-ikutan <br>tidak bisa menulis. Sebagaimana gurunya: hanya bisa membuat daftar 
<br>novel klasik yang mereka sendiri belum tentu pernah membacanya.<br>Seandainya saya 
guru bahasa dan sastra Indonesia; apa yang akan saya <br>lakukan?<br><br>Prolog <br>Di 
rumah saya banyak buku-buku anak-anak yang saya dapatkan dari SD.  <br>Kebanyakan 
buku-buku itu adalah buku-buku cerita yang saya curi <br>ketika saya masih SD. 
Sekarang saya kuliah semester 6. Jadi buku itu <br>sudah ada sejak 9-10 tahun lalu. 
Beberapa memang sudah hancur, tapi <br>kebanyakan masih bisa dibaca. Masih menyisakan 
kenangan bagaimana <br>saya mendapatkannya ketika pulang sekolah.<br>Hampir setiap 
hari saya dengan teman-teman SD membaca buku di <br>perpustakaan sekolah yang satu 
ruangan dengan ruang kepala sekolah. <br>Waktu membaca hanya ketika istirahat. Bagi 
saya, saat itu, Dunia itu <br>luar biasa. Karena dunia dilihat lewat buku, maka 
aktivitas membaca <br>menjadi sanngat luar biasa. Saya banyak tahu sesuatu yang jauh, 
<br>sesuatu yang tidak mungkin terjangkau, bisa saya ketahui hanya dengan <br>membaca. 
Terusterang, saya sangat senang ketika bisa mengeja dan <br>menuliskan sesuatu. Guru 
SD kami menyuruh, setiap kali menemukan <br>kertas apa saja, koran misalkan, harus 
dibaca. Dan memang, bisa <br>membaca itu hebat!<br>Tapi masalahnya rumah kami di 
kampung. Bapak ibu kami petani dan <br>pedagang kecil. Tidak mampu membeli buku. 
Kalupun ada uang, ke mana <br>kami harus membeli buku. Di kampung saya tidak ada toko 
buku bacaan. <br>Paling saya hanya bisa meminta ibu membelikan saya TTS  dan komik 
<br>Tatang S jika sedang pergi ke pasar. Hal itu saja yang bisa <br>dilakukan. 
Sementara setiap hari kebutuhan membaca terus melonjak, <br>buku-buku tidak punya, 
jalan keluarnya meminjam buku ke perpustakaan <br>SD itu. Sehari dua hari, terasa 
kalau mempunyai buku bacaan itu <br>asyik. Kemudian terpikir, kalau tidak dikembalikan 
apakah pihak <br>sekolah pada tahu? Maka dicobalah buku-buku yang dipinjam tidak 
<br>dikembalikan. Terbukti, tidak ada yang menghukum karena tidak ada <br>yang tahu. 
Saya, mungkin teman saya juga, hingga kini tidak pernah <br>punya perasaan 
bersalah.<br>Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat teman-teman membawa buku 
<br>dengan tidak lapor dulu kepada penjaga perpustakaan. Saya bertanya <br>kepada 
kakak yang dua tahun lebih tua, dua kelas lebih tinggi. Kata <br>kakak saya, kalau 
ingin buku, ketika istirahat, masuk saja ke <br>perpustakaan; pilih buku yang kamu 
suka. Nanti masukan ke celana, <br>bajunya keluarkan. Seperti itu kakak saya memberi 
trik bagaimana <br>mencuri buku. Alhamdulillah,  beberapa kali mencuri buku saya 
selamat.<br>Lulus SD saya melanjutkan ke Tsanawiyah. Meski buku di perpustakaan 
<br>tidak banyak, tapi di perpustakaan itu saya sempat membaca Salah <br>Asuhan, Deru 
Debu dan lain-lain. Lama-kelamaan terbangun kesadaran, <br>bahwa penulis itu hebat. 
Luar biasa. Saya masih ingat bagaimana <br>herannya ketika SD, saya sering menemukan 
koran yang dijadikan <br>bungkus sayuran, jika ibu berbelanja. Saya tahu, koran itu 
terbitnya <br>setiap hari. Tapi masalahnya, bagaimana koran sebanyak itu ditulis 
<br>bisa selesai dalam sehari. Saya tidak sempat berpikir, kalau penulis <br>koran 
yang sekarang saya tahu mereka wartawan menulisnya tidak <br>sendirian.<br>Deru Debu 
dan beberapa antologi puisi itulah yang menyebabkan saya <br>meminta ibu membelikan 
saya buku tulis yang bagus. Di buku itu, saya <br>menulis puisi. Puisi-puisi itu 
awalnya saya tulis di mana saja. <br>Setelah dianggap bagus, baru dipindahkan ke buku 
itu. Dan, <br>sebagaimana juga buku-buku puisi saat ini, saat itu saya hanya 
<br>membolehkan satu halaman untuk sa
 tu puisi. Sampai halaman-halaman <br>buku tulis yang saya katakan tadi habis. 
Kumpulan puisi itu saya beri <br>nama dengan sebuah judul puisi. Namanya: Duri Durian. 
<br>Tahun 1997 saya sekolah Aliyah di Menes Pandeglang, buku Duri Durian <br>itu tidak 
dibawa dan ketika dicari sudah tidak ada. Seandainya saja <br>sekarang masih ada, 
bagimana perkembangan saya menulis puisi bisa <br>diketahui. Kesadaraan baru muncul: 
dokumentasi itu sangat penting!<br>Di Aliyah semuanya berubah. Kebiasaan menulis 
cerpen dan puisi tidak <br>pernah dilakukan, sirna. Semua waktu dihabiskan untuk 
membaca buku-<br>buku pelajaran. Tidak begitu, saya bisa tidak mendapatkan rangking. 
<br>Pola pikir kami dibentuk untuk bersaing. Siswa yang mendapatkan nilai <br>bagus 
adalah siswa hebat;  siswa yang mendapatkan rangking adalah <br>siswa yang cerdas. 
Kehebatan dan kecerdasan semuanya diukur dengan <br>angka. Dan sekolah menjadi lembaga 
penuh persaingan, bukan kerjasama. <br>Sekarang hasilnya mana? Angka-angka itu 
ternyata tidak bisa menolong <br>saya! Hingga akhirnya saya menemukan kesadaraan baru 
tentang belajar <br>setelah membaca The Accelerated Learninng Handbook, meski secara 
<br>praktis sudah sangat lama. Bahwa: belajar bukanlah mengumpulkan <br>informasi 
secara pasif, melainkan mengumpulkan pengetahun secara <br>aktif; bahwa kerja sama di 
antara pembelajar sangat membantu <br>meningkatkan hasil belajar.<br> <br>S3 dan Rumah 
Dunia<br>Tahun 2000 saya lulus Aliyah. Merasa tidak punya uang, saya <br>memutuskan 
untuk tidak kuliah. Saya hanya akan meneruskan mesantran <br>saja. Belum saya katakan, 
jarak kampung saya dengan Menes tempat saya <br>sekolah bisa ditempuh dalam waktu 3-5 
jam perjalanan mobil yang <br>mengebut. Karena itu, di Menes saya mesantran. Jadi, 
saya akan <br>mesantran saja. Hingga saya menemukan brosur pendidikan komputer D1 
<br>dengan bonus 6 bahasa Asing. Saya bilang ke orangtua, saya ingin <br>kuliah meski 
hanya satu tahun. Saya ingin orangtua mau membiayai <br>saya. Orangtua setuju walau 
agak keberatan dengan alasan� tidak punya <br>uang. <br>Saya kuliah satu tahun di 
Tangerang. Dan ternyata, lembaga pendidikan <br>itu bullshit. Janji doang. Enam bahasa 
yang dijanjikan tidak pernah <br>ada. Bahasa Jepang yang diberikan beberapa 
pertemuanpun setelah saya <br>ojok-ojok, setelah beberapa kali saya diintrogasi dan 
diancam akan <br>dikeluarkan karena banyak ngomong.<br>Di Tengerang saya mesantran 
juga, seperti ketika sekolah Aliyah di <br>Menes.<br>Tidak sampai lulus, saya pergi ke 
Serang. Tidak bilang kepada siapa-<br>siapa kalau saya mau kuliah S1 di Serang. Tahun 
pertama kuliah saya <br>masuk Lembaga Pers Mahasisa. Tahun kedua saya jadi Sekretaris 
<br>Umumnya. Mulailah kemampuan menullis dilatih dengan harus terus <br>menulis 
buletin mingguan dan berita mingguan. Tahun ketiga, saya <br>bergabung dengan Sanggar 
Sastra Serang (S3) yang diasuh oleh penyair <br>Toto ST Radik. Di sana saya kembali 
belajar menulis puisi dan cerpen. <br>Tidak lama saya mendapatkan informasi baru, 
selain S3 ada juga <br>Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang mengajarkan bagaimana 
menulis. <br>Sekarang PRD berubah nama menjadi Rumah Dunia (RD). Dan kini, Rumah 
<br>Dunia mempunyai Sekretaris benama: Ibnu Adam Aviciena�yaitu saya. Di <br>sana saya 
belajar menulis jurnalistik, fiksi dan skenario TV.<br>Seandainya saya guru bahasa dan 
sastra Indonesia, akan saya tunjukan <br>bagaimana menulis puisi dan cerpen (novel). 
Bagaimana saya <br>menunjukannya? Seperti Toto ST Radik di S3 dan Gola Gong di Rumah 
<br>Dunia menunjukan saya bagaimana menulis puisi, cerpen (novel) dan <br>skenario TV. 
Sebuah metode balajar yang sederhana, gampang dan tidak <br>melayang-layang di 
angkasa. Melainkan menapak di bumi! Bisa <br>dipraktekan dan bisa dibuktikan. Tidak 
seperti ketika saya Aliyah <br>belajar bahasa dan sastra Indonesia, yang dipelajari 
tidak beranjak <br>dari fungsi imbuhan, majas, dan menghapal daftar novel klasik 
beserta <br>ceritanya! Hingga saya keluar Aliyah, hingga terasa tidak menemukan 
<br>mana hasilnya mempelajari itu selama tiga tahun!<br>Rasanya, kalau bela
 jar bisa lebih cepat dengan hasil lebih <br>berkualitas dan ada buktinya, kenapa 
mesti memilih belajar yang hanya <br>mampu memberi angka-angka?<br><br>Teori yang 
Menapak Bumi<br>Belajar teori pada prinsipnya untuk mengetahui yang ideal, yang 
<br>seharusnya. Bisa dikatakan, teori sebagai gambaran abstrak dari yang <br>praktis. 
Jadi, dengan teori diharapkan praktek terus menuju kepada <br>yang ideal lewat 
gambaran abstrak itu. Ketika teori tidak pernah bisa <br>disentuh oleh hal-hal yang 
praktis, proses belajar bisa dianggap <br>gagal. Contoh sederhana, kakak saya bilang 
waktu mengajari saya naik <br>sepeda. "Naik sepeda itu pinggang harus stabil dan 
imbang�." <br>Sekalipun kalimat ini terus dijejalkan ke dalam otak saya dan begitu 
<br>paham maksud kakak saya lewat pernyataan itu, proses belajar akan <br>tetap 
dianggap gagal ketika saya tidak bisa menaiki sepeda. Begitu <br>maksud saya dengan 
paparan teori dan praktek. Singkatnya, teori tidak <br>melayang-layang tak terjangkau. 
Teori harus bisa menapak dibumi, bisa <br>dirasakan.<br>Kenyataan ini disadari betul 
oleh pengelola S3 dan Rumah Dunia. <br>Sehingga dalam proses belajar menulis puisi, 
cerpen (novel) dan <br>skenario TV di kedua sanggar itu, prinsip `teori yang menapak 
ke <br>bumi' begitu diperhatikan. Teman-teman yang belajar minggu pagi di <br>S3, 
setiap pertemuan harus mengumpulan puisi atau cerpen. Puisi atau <br>cerpen itu 
dibahas setelah mempalajari teori: apakah puisi, bagaimana <br>menulis puisi dan lain 
sebagainya. Teori-teori yang dipalajari itu, <br>pada saat pembahasaan dijadikan 
kacamata untuk menilai puisi-puisi <br>itu. Karena dari awal, teori dipahami sebagai 
`alat' dan tujuan <br>ideal, bahwa menurut teori anu, pusi itu harus begini dan harus 
<br>begitu.<br>Tidak hanya sampai di situ, puisi-puisi (di S3, fokus belajar pada 
<br>puisi) yang sudah dihabas, jika menurut `kacamata' kurang bagus, <br>harus 
diperbaiki dan minggu depan harus dikumpulkan dengan puisi <br>baru. Baru setelah 
dipandang ok, disarankan untuk dikirim ke koran <br>lokal, jika ke koran nasional 
belum berani, belum pede. Puisi dimuat, <br>penulisnya harus membacakan, misalkan 
selain biasanya menjelaskan <br>bagaimana puisi itu bisa lahir. Orang bilang proses 
kreatifnya.<br>Banyak metode belajar yang digunakan Toto ST Radik untuk menunjukan 
<br>jalan menulis puisi. Dikatakan menunjukan jalan, karena menurut <br>presiden S3 
ini, menulis tidak bisa diajarkan. Salah satu metode yang <br>yang dipakai yaitu 
dengan meminta setiap anak sanggar menyumbangkan <br>satu kata�apa saja. Kata-kata 
yang terkumpul secara ramai-ramai <br>dibuat puisi. Kata dasar yang disumbangkan boleh 
ditransformasi ke <br>bentuk lain dengan menambah imbuhan. Hasilnya, sebuah puisi yang 
<br>indah. Meski ini tentu tidak lahir dari sebuah ide yang menggatalakan <br>kulit 
otak. Puisi lahir dari kontruksi kata-kata. Metode belajar <br>seperti ini pernah juga 
disampaikan Jamal D. Rahaman dari Majalah <br>Sastra Horison.<br>Berharap puisi dimuat 
tiap minggu di koran lokal tidak mungkin, <br>mengirimkan ke media nasional belum 
berani, solusinya, S3 memilih <br>membuat media sendiri. Yang dilakukan pada masa-masa 
awal yaitu saat <br>kerjasama dengan Horison bernama Sanggar Sastra Siswa Indonesia 
<br>(SSSI) menerbitkan jurnal Ketika; pada program Sanggar Sastra Remaja <br>Indonesia 
(SSRI), jurnal lain juga akan dibikin. Nama yang sedang <br>dirancang adalah Koran 
Sastra.<br>Menurut Totot ST. Radik, penyair memang gila. Orang lain cari untung, 
<br>ini mencari rugi. Menerbitkan jurnal itu butuh tulisan, tulisan <br>dibuat 
sendiri. Jurnal didesain sendiri, dicetak dengan uang sendiri, <br>dijual dengan 
tenaga sendiri, tidak laku dibagigagikan sendiri. <br>Kemudian kami menerbitkan lagi 
dengan segala-galanya sendiri. Lalu, <br>di sanggar kami menertawakan diri kami. Kami 
bilang, "Di sini kami <br>ada dan berbahagia."<br>Menjelang Dzuhur, kami pergi ke 
Rumah Dunia untuk mengikuti pelajaran <br>berikutnya, tentang jurnalistik, fiksi dan 
skenario TV. Apa yang <br>dikerjakan di S3 juga harus dikerjakan di Rumah Dunia. Tiap 
peserta
  <br>setiap pertemuan harus menyerahkan tulisan. Di sini lebih fokus ke <br>cerpen. 
Cerpen-cerpen itu dibaca dan dikritik oleh instruktur, <br>terutama Gola Gong. 
Cerpen-cerpen yang dianggap memenuhi standar <br>dikumpulkan untuk dijadikan antologi. 
Angkatan pertama sudah <br>membuahkan hasil: antologi cerpen Kacamata Sidik, yang 
diterbitkan <br>Senayan Abadipublishing. Buku kedua sedang menunggu keputusan 
<br>penerbit. <br>Lebih jauh ke depan, Rumah Dunia juga sedang mempersiapkan media 
<br>sendiri. Kalau S3 berupa jurnal, Rumah Dunia entah apa. Pengelolanya <br>sedang 
mempersiapkan uang untuk membeli komputer desain grafis. <br>Harapan yang berkali-kali 
dilontarkan, Rumah Dunia ingin membangun <br>paper community. Memang saat ini juga 
sudah ada media berupa buletin. <br>Tapi itu hanya berfungsi untuk menampung informasi 
yang tidak <br>tersebarkan lewat jurnal mingguan. Buletin ini terbit sebulan sekali. 
<br>Di S3 dan Rumah Dunia, kami menyadari teori belajar itu harus dari <br>pengalaman. 
Kami mengatakan telah belajar menulis skenario kalau kami <br>pernah menulisnya. Kami 
belum mengatakan sudah belajar jika hanya <br>baru bermain-main pada wilayah teori. 
Dan teori tidak boleh terbang. <br>Teori harus menapak di bumi bersama 
praktek.<br><br>Inilah!<br>Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan 
<br>menunjukan siswa bagaimana menulis puisi, cerpen atau novel. <br>Sehingga, ketika 
mereka lulus Aliyah (SMA) mereka sudah menghasilkan <br>puisi-puisi, cerpen-cerpen, 
atau novel-novel. Bukan menunjukan judul-<br>judul novel yang pernah ditulis oleh 
novelis masa lalu. Saya akan <br>meminta kelas membentuk kelompok. Masing-masing 
kelompok lima atau <br>sepuluh orang, misalkan, memerankan sebuah komunitas yang 
terdiri <br>dari penerbit koran/buku, editor, penulis, pembaca, pembicara dalam 
<br>diskusi bedah buku dan lain sebagainya. Tiap-tiap mereka bergiliran <br>memerankan 
peran-peran itu. Dan masing-masing mereka harus <br>bertanggungjawab terhadap 
kesuksesan teman-temannya. Kalau perlu, <br>siswa diwajibkan membawa mesin tik ke 
sekolah. Kelas menjadi ruang <br>redaksi, ruang penerbitan! Bukan tempat siswa 
mendengarkan guru <br>ceramah tentang fungsi imbuhan me-, di-, dan teman-temanya, yang 
<br>kemudian siswa diminta memberikan contoh.<br>Saya andai seorang guru bahasa dan 
sastra Indonesia, tidak akan <br>mengulangi "kesalah" yang sudah terjadi pada 
pembelajaran yang <br>diberikan guru bahasa dan sastra Indonesia saya ketika Aliyah. 
Saya <br>bersama teman-teman lain, dan mungkin sedang berlangsung pada siswa-<br>siswa 
yang sekarang masih Aliyah (SMA), telah belajar bahasa dan <br>sastra Indonesia selama 
enam tahun, hasilnya nihil. Kalaupun ada satu <br>dua anak Aliyah (SMA) yang mampu 
menulis novel, secara nasional <br>sistem pendidikan tetap dianggap gagal. Bandingkan 
angka yang mampu <br>menulis dengan seluruh siswa Aliyah (SMA). Perbandingan yang 
terlalu <br>jauh. Dan pembelajaran masih dianggap gagal meski perbandingan  yang 
<br>mampu dan tidak mampu 1:1. Maka, bagi saya untuk menjadi pengarang <br>tidak mesti 
kuliah di fakultas sastra, atau memang tidak mesti kuliah <br>di manapun. Gola Gong 
bilang, dia berhenti kuliah karena perguruan <br>tinggi tidak menjamin dirinya untuk 
menjadi pengarang!<br>Jika saya seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, akan saya 
katakan <br>kepada siswa saya, bahwa penulis itu hebat. Sebagaimana anehnya saya 
<br>ketika masih SD membaca koran. Bagaimana teks koran yang begitu <br>banyak  bisa 
diterbitkan setiap hari. Seperti juga kekaguman saya <br>kepada yang bisa menulis 
buku. Betapa hebatnya meraka mampu <br>memberikan pencerahan; mampu menggerakan saya 
untuk tetap sekolah <br>walau orang tua hanya petani kecil. Pikiran saya bilang, tuh 
tokoh <br>anu dalam buku anu juga menjadi orang sukses. Padahal dia orang 
<br>melarat!<br>Hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang guru bahasa dan sastra 
<br>Indonesia adalah dengan menjadikan menulis antologi puisi/cerpen <br>sebagai 
syarat bisa mengikuti ujian atau kelulusan, umpamanya. Guru <br>bisa membagi kelas 
dalam kelompok-kelompok.






 --- On Sat 05/22, ibnuaviciena < [EMAIL PROTECTED] > wrote:

From: ibnuaviciena [mailto: [EMAIL PROTECTED]

To: [EMAIL PROTECTED]

Date: Sat, 22 May 2004 06:47:31 -0000

Subject: [ppiindia] andai saya guru bahasa dan sastra indonesia



ANDAI SAYA GURU BAHASA <br>DAN SASTRA INDONESIA<br>Esai: Ibnu Adam 
Aviciena<br><br>Seandinya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan menunjukan 
<br>siswa bagaimana menulis puisi, cerpen atau novel. Sehingga, ketika <br>mereka 
lulus Aliyah (SMA) mereka sudah menghasilkan puisi-puisi, <br>cerpen-cerpen, atau 
novel-novel. Hanya sayang, karena kebanyakan (?) <br>guru bahasa dan sastra kita tidak 
bisa menulis, siswapun ikut-ikutan <br>tidak bisa menulis. Sebagaimana gurunya: hanya 
bisa membuat daftar <br>novel klasik yang mereka sendiri belum tentu pernah 
membacanya.<br>Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia; apa yang akan saya 
<br>lakukan?<br><br>Prolog <br>Di rumah saya banyak buku-buku anak-anak yang saya 
dapatkan dari SD.  <br>Kebanyakan buku-buku itu adalah buku-buku cerita yang saya curi 
<br>ketika saya masih SD. Sekarang saya kuliah semester 6. Jadi buku itu <br>sudah ada 
sejak 9-10 tahun lalu. Beberapa memang sudah hancur, tapi <br>kebanyakan masih bisa 
dibaca. Masih menyisakan kenangan bagaimana <br>saya mendapatkannya ketika pulang 
sekolah.<br>Hampir setiap hari saya dengan teman-teman SD membaca buku di 
<br>perpustakaan sekolah yang satu ruangan dengan ruang kepala sekolah. <br>Waktu 
membaca hanya ketika istirahat. Bagi saya, saat itu, Dunia itu <br>luar biasa. Karena 
dunia dilihat lewat buku, maka aktivitas membaca <br>menjadi sanngat luar biasa. Saya 
banyak tahu sesuatu yang jauh, <br>sesuatu yang tidak mungkin terjangkau, bisa saya 
ketahui hanya dengan <br>membaca. Terusterang, saya sangat senang ketika bisa mengeja 
dan <br>menuliskan sesuatu. Guru SD kami menyuruh, setiap kali menemukan <br>kertas 
apa saja, koran misalkan, harus dibaca. Dan memang, bisa <br>membaca itu 
hebat!<br>Tapi masalahnya rumah kami di kampung. Bapak ibu kami petani dan 
<br>pedagang kecil. Tidak mampu membeli buku. Kalupun ada uang, ke mana <br>kami harus 
membeli buku. Di kampung saya tidak ada toko buku bacaan. <br>Paling saya hanya bisa 
meminta ibu membelikan saya TTS  dan komik <br>Tatang S jika sedang pergi ke pasar. 
Hal itu saja yang bisa <br>dilakukan. Sementara setiap hari kebutuhan membaca terus 
melonjak, <br>buku-buku tidak punya, jalan keluarnya meminjam buku ke perpustakaan 
<br>SD itu. Sehari dua hari, terasa kalau mempunyai buku bacaan itu <br>asyik. 
Kemudian terpikir, kalau tidak dikembalikan apakah pihak <br>sekolah pada tahu? Maka 
dicobalah buku-buku yang dipinjam tidak <br>dikembalikan. Terbukti, tidak ada yang 
menghukum karena tidak ada <br>yang tahu. Saya, mungkin teman saya juga, hingga kini 
tidak pernah <br>punya perasaan bersalah.<br>Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat 
teman-teman membawa buku <br>dengan tidak lapor dulu kepada penjaga perpustakaan. Saya 
bertanya <br>kepada kakak yang dua tahun lebih tua, dua kelas lebih tinggi. Kata 
<br>kakak saya, kalau ingin buku, ketika istirahat, masuk saja ke <br>perpustakaan; 
pilih buku yang kamu suka. Nanti masukan ke celana, <br>bajunya keluarkan. Seperti itu 
kakak saya memberi trik bagaimana <br>mencuri buku. Alhamdulillah,  beberapa kali 
mencuri buku saya selamat.<br>Lulus SD saya melanjutkan ke Tsanawiyah. Meski buku di 
perpustakaan <br>tidak banyak, tapi di perpustakaan itu saya sempat membaca Salah 
<br>Asuhan, Deru Debu dan lain-lain. Lama-kelamaan terbangun kesadaran, <br>bahwa 
penulis itu hebat. Luar biasa. Saya masih ingat bagaimana <br>herannya ketika SD, saya 
sering menemukan koran yang dijadikan <br>bungkus sayuran, jika ibu berbelanja. Saya 
tahu, koran itu terbitnya <br>setiap hari. Tapi masalahnya, bagaimana koran sebanyak 
itu ditulis <br>bisa selesai dalam sehari. Saya tidak sempat berpikir, kalau penulis 
<br>koran yang sekarang saya tahu mereka wartawan menulisnya tidak 
<br>sendirian.<br>Deru Debu dan beberapa antologi puisi itulah yang menyebabkan saya 
<br>meminta ibu membelikan saya buku tulis yang bagus. Di buku itu, saya <br>menulis 
puisi. Puisi-puisi itu awalnya saya tulis di mana saja. <br>Setelah dianggap bagus, 
baru dipindahkan ke buku itu. Dan, <br>sebagaimana juga buku-buku puisi saat ini, saat 
itu saya hanya <br>membolehkan s
 atu halaman untuk satu puisi. Sampai halaman-halaman <br>buku tulis yang saya katakan 
tadi habis. Kumpulan puisi itu saya beri <br>nama dengan sebuah judul puisi. Namanya: 
Duri Durian. <br>Tahun 1997 saya sekolah Aliyah di Menes Pandeglang, buku Duri Durian 
<br>itu tidak dibawa dan ketika dicari sudah tidak ada. Seandainya saja <br>sekarang 
masih ada, bagimana perkembangan saya menulis puisi bisa <br>diketahui. Kesadaraan 
baru muncul: dokumentasi itu sangat penting!<br>Di Aliyah semuanya berubah. Kebiasaan 
menulis cerpen dan puisi tidak <br>pernah dilakukan, sirna. Semua waktu dihabiskan 
untuk membaca buku-<br>buku pelajaran. Tidak begitu, saya bisa tidak mendapatkan 
rangking. <br>Pola pikir kami dibentuk untuk bersaing. Siswa yang mendapatkan nilai 
<br>bagus adalah siswa hebat;  siswa yang mendapatkan rangking adalah <br>siswa yang 
cerdas. Kehebatan dan kecerdasan semuanya diukur dengan <br>angka. Dan sekolah menjadi 
lembaga penuh persaingan, bukan kerjasama. <br>Sekarang hasilnya mana? Angka-angka itu 
ternyata tidak bisa menolong <br>saya! Hingga akhirnya saya menemukan kesadaraan baru 
tentang belajar <br>setelah membaca The Accelerated Learninng Handbook, meski secara 
<br>praktis sudah sangat lama. Bahwa: belajar bukanlah mengumpulkan <br>informasi 
secara pasif, melainkan mengumpulkan pengetahun secara <br>aktif; bahwa kerja sama di 
antara pembelajar sangat membantu <br>meningkatkan hasil belajar.<br> <br>S3 dan Rumah 
Dunia<br>Tahun 2000 saya lulus Aliyah. Merasa tidak punya uang, saya <br>memutuskan 
untuk tidak kuliah. Saya hanya akan meneruskan mesantran <br>saja. Belum saya katakan, 
jarak kampung saya dengan Menes tempat saya <br>sekolah bisa ditempuh dalam waktu 3-5 
jam perjalanan mobil yang <br>mengebut. Karena itu, di Menes saya mesantran. Jadi, 
saya akan <br>mesantran saja. Hingga saya menemukan brosur pendidikan komputer D1 
<br>dengan bonus 6 bahasa Asing. Saya bilang ke orangtua, saya ingin <br>kuliah meski 
hanya satu tahun. Saya ingin orangtua mau membiayai <br>saya. Orangtua setuju walau 
agak keberatan dengan alasan� tidak punya <br>uang. <br>Saya kuliah satu tahun di 
Tangerang. Dan ternyata, lembaga pendidikan <br>itu bullshit. Janji doang. Enam bahasa 
yang dijanjikan tidak pernah <br>ada. Bahasa Jepang yang diberikan beberapa 
pertemuanpun setelah saya <br>ojok-ojok, setelah beberapa kali saya diintrogasi dan 
diancam akan <br>dikeluarkan karena banyak ngomong.<br>Di Tengerang saya mesantran 
juga, seperti ketika sekolah Aliyah di <br>Menes.<br>Tidak sampai lulus, saya pergi ke 
Serang. Tidak bilang kepada siapa-<br>siapa kalau saya mau kuliah S1 di Serang. Tahun 
pertama kuliah saya <br>masuk Lembaga Pers Mahasisa. Tahun kedua saya jadi Sekretaris 
<br>Umumnya. Mulailah kemampuan menullis dilatih dengan harus terus <br>menulis 
buletin mingguan dan berita mingguan. Tahun ketiga, saya <br>bergabung dengan Sanggar 
Sastra Serang (S3) yang diasuh oleh penyair <br>Toto ST Radik. Di sana saya kembali 
belajar menulis puisi dan cerpen. <br>Tidak lama saya mendapatkan informasi baru, 
selain S3 ada juga <br>Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang mengajarkan bagaimana 
menulis. <br>Sekarang PRD berubah nama menjadi Rumah Dunia (RD). Dan kini, Rumah 
<br>Dunia mempunyai Sekretaris benama: Ibnu Adam Aviciena�yaitu saya. Di <br>sana saya 
belajar menulis jurnalistik, fiksi dan skenario TV.<br>Seandainya saya guru bahasa dan 
sastra Indonesia, akan saya tunjukan <br>bagaimana menulis puisi dan cerpen (novel). 
Bagaimana saya <br>menunjukannya? Seperti Toto ST Radik di S3 dan Gola Gong di Rumah 
<br>Dunia menunjukan saya bagaimana menulis puisi, cerpen (novel) dan <br>skenario TV. 
Sebuah metode balajar yang sederhana, gampang dan tidak <br>melayang-layang di 
angkasa. Melainkan menapak di bumi! Bisa <br>dipraktekan dan bisa dibuktikan. Tidak 
seperti ketika saya Aliyah <br>belajar bahasa dan sastra Indonesia, yang dipelajari 
tidak beranjak <br>dari fungsi imbuhan, majas, dan menghapal daftar novel klasik 
beserta <br>ceritanya! Hingga saya keluar Aliyah, hingga terasa tidak menemukan 
<br>mana hasilnya mempelajari itu selama tiga tahun!<br
 >Rasanya, kalau belajar bisa lebih cepat dengan hasil lebih <br>berkualitas dan ada 
 >buktinya, kenapa mesti memilih belajar yang hanya <br>mampu memberi 
 >angka-angka?<br><br>Teori yang Menapak Bumi<br>Belajar teori pada prinsipnya untuk 
 >mengetahui yang ideal, yang <br>seharusnya. Bisa dikatakan, teori sebagai gambaran 
 >abstrak dari yang <br>praktis. Jadi, dengan teori diharapkan praktek terus menuju 
 >kepada <br>yang ideal lewat gambaran abstrak itu. Ketika teori tidak pernah bisa 
 ><br>disentuh oleh hal-hal yang praktis, proses belajar bisa dianggap <br>gagal. 
 >Contoh sederhana, kakak saya bilang waktu mengajari saya naik <br>sepeda. "Naik 
 >sepeda itu pinggang harus stabil dan imbang�." <br>Sekalipun kalimat ini terus 
 >dijejalkan ke dalam otak saya dan begitu <br>paham maksud kakak saya lewat 
 >pernyataan itu, proses belajar akan <br>tetap dianggap gagal ketika saya tidak bisa 
 >menaiki sepeda. Begitu <br>maksud saya dengan paparan teori dan praktek. Singkatnya, 
 >teori tidak <br>melayang-layang tak terjangkau. Teori harus bisa menapak dibumi, 
 >bisa <br>dirasakan.<br>Kenyataan ini disadari betul oleh pengelola S3 dan Rumah 
 >Dunia. <br>Sehingga dalam proses belajar menulis puisi, cerpen (novel) dan 
 ><br>skenario TV di kedua sanggar itu, prinsip `teori yang menapak ke <br>bumi' 
 >begitu diperhatikan. Teman-teman yang belajar minggu pagi di <br>S3, setiap 
 >pertemuan harus mengumpulan puisi atau cerpen. Puisi atau <br>cerpen itu dibahas 
 >setelah mempalajari teori: apakah puisi, bagaimana <br>menulis puisi dan lain 
 >sebagainya. Teori-teori yang dipalajari itu, <br>pada saat pembahasaan dijadikan 
 >kacamata untuk menilai puisi-puisi <br>itu. Karena dari awal, teori dipahami sebagai 
 >`alat' dan tujuan <br>ideal, bahwa menurut teori anu, pusi itu harus begini dan 
 >harus <br>begitu.<br>Tidak hanya sampai di situ, puisi-puisi (di S3, fokus belajar 
 >pada <br>puisi) yang sudah dihabas, jika menurut `kacamata' kurang bagus, <br>harus 
 >diperbaiki dan minggu depan harus dikumpulkan dengan puisi <br>baru. Baru setelah 
 >dipandang ok, disarankan untuk dikirim ke koran <br>lokal, jika ke koran nasional 
 >belum berani, belum pede. Puisi dimuat, <br>penulisnya harus membacakan, misalkan 
 >selain biasanya menjelaskan <br>bagaimana puisi itu bisa lahir. Orang bilang proses 
 >kreatifnya.<br>Banyak metode belajar yang digunakan Toto ST Radik untuk menunjukan 
 ><br>jalan menulis puisi. Dikatakan menunjukan jalan, karena menurut <br>presiden S3 
 >ini, menulis tidak bisa diajarkan. Salah satu metode yang <br>yang dipakai yaitu 
 >dengan meminta setiap anak sanggar menyumbangkan <br>satu kata�apa saja. Kata-kata 
 >yang terkumpul secara ramai-ramai <br>dibuat puisi. Kata dasar yang disumbangkan 
 >boleh ditransformasi ke <br>bentuk lain dengan menambah imbuhan. Hasilnya, sebuah 
 >puisi yang <br>indah. Meski ini tentu tidak lahir dari sebuah ide yang menggatalakan 
 ><br>kulit otak. Puisi lahir dari kontruksi kata-kata. Metode belajar <br>seperti ini 
 >pernah juga disampaikan Jamal D. Rahaman dari Majalah <br>Sastra 
 >Horison.<br>Berharap puisi dimuat tiap minggu di koran lokal tidak mungkin, 
 ><br>mengirimkan ke media nasional belum berani, solusinya, S3 memilih <br>membuat 
 >media sendiri. Yang dilakukan pada masa-masa awal yaitu saat <br>kerjasama dengan 
 >Horison bernama Sanggar Sastra Siswa Indonesia <br>(SSSI) menerbitkan jurnal Ketika; 
 >pada program Sanggar Sastra Remaja <br>Indonesia (SSRI), jurnal lain juga akan 
 >dibikin. Nama yang sedang <br>dirancang adalah Koran Sastra.<br>Menurut Totot ST. 
 >Radik, penyair memang gila. Orang lain cari untung, <br>ini mencari rugi. 
 >Menerbitkan jurnal itu butuh tulisan, tulisan <br>dibuat sendiri. Jurnal didesain 
 >sendiri, dicetak dengan uang sendiri, <br>dijual dengan tenaga sendiri, tidak laku 
 >dibagigagikan sendiri. <br>Kemudian kami menerbitkan lagi dengan segala-galanya 
 >sendiri. Lalu, <br>di sanggar kami menertawakan diri kami. Kami bilang, "Di sini 
 >kami <br>ada dan berbahagia."<br>Menjelang Dzuhur, kami pergi ke Rumah Dunia untuk 
 >mengikuti pelajaran <br>berikutnya, tentang jurnalistik, fiksi dan skenario TV. Apa 
 >yang <br>dikerjakan di S3 juga harus dikerjakan di Rumah
  Dunia. Tiap peserta <br>setiap pertemuan harus menyerahkan tulisan. Di sini lebih 
fokus ke <br>cerpen. Cerpen-cerpen itu dibaca dan dikritik oleh instruktur, 
<br>terutama Gola Gong. Cerpen-cerpen yang dianggap memenuhi standar <br>dikumpulkan 
untuk dijadikan antologi. Angkatan pertama sudah <br>membuahkan hasil: antologi cerpen 
Kacamata Sidik, yang diterbitkan <br>Senayan Abadipublishing. Buku kedua sedang 
menunggu keputusan <br>penerbit. <br>Lebih jauh ke depan, Rumah Dunia juga sedang 
mempersiapkan media <br>sendiri. Kalau S3 berupa jurnal, Rumah Dunia entah apa. 
Pengelolanya <br>sedang mempersiapkan uang untuk membeli komputer desain grafis. 
<br>Harapan yang berkali-kali dilontarkan, Rumah Dunia ingin membangun <br>paper 
community. Memang saat ini juga sudah ada media berupa buletin. <br>Tapi itu hanya 
berfungsi untuk menampung informasi yang tidak <br>tersebarkan lewat jurnal mingguan. 
Buletin ini terbit sebulan sekali. <br>Di S3 dan Rumah Dunia, kami menyadari teori 
belajar itu harus dari <br>pengalaman. Kami mengatakan telah belajar menulis skenario 
kalau kami <br>pernah menulisnya. Kami belum mengatakan sudah belajar jika hanya 
<br>baru bermain-main pada wilayah teori. Dan teori tidak boleh terbang. <br>Teori 
harus menapak di bumi bersama praktek.<br><br>Inilah!<br>Seandainya saya guru bahasa 
dan sastra Indonesia, saya akan <br>menunjukan siswa bagaimana menulis puisi, cerpen 
atau novel. <br>Sehingga, ketika mereka lulus Aliyah (SMA) mereka sudah menghasilkan 
<br>puisi-puisi, cerpen-cerpen, atau novel-novel. Bukan menunjukan judul-<br>judul 
novel yang pernah ditulis oleh novelis masa lalu. Saya akan <br>meminta kelas 
membentuk kelompok. Masing-masing kelompok lima atau <br>sepuluh orang, misalkan, 
memerankan sebuah komunitas yang terdiri <br>dari penerbit koran/buku, editor, 
penulis, pembaca, pembicara dalam <br>diskusi bedah buku dan lain sebagainya. 
Tiap-tiap mereka bergiliran <br>memerankan peran-peran itu. Dan masing-masing mereka 
harus <br>bertanggungjawab terhadap kesuksesan teman-temannya. Kalau perlu, <br>siswa 
diwajibkan membawa mesin tik ke sekolah. Kelas menjadi ruang <br>redaksi, ruang 
penerbitan! Bukan tempat siswa mendengarkan guru <br>ceramah tentang fungsi imbuhan 
me-, di-, dan teman-temanya, yang <br>kemudian siswa diminta memberikan 
contoh.<br>Saya andai seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, tidak akan 
<br>mengulangi "kesalah" yang sudah terjadi pada pembelajaran yang <br>diberikan guru 
bahasa dan sastra Indonesia saya ketika Aliyah. Saya <br>bersama teman-teman lain, dan 
mungkin sedang berlangsung pada siswa-<br>siswa yang sekarang masih Aliyah (SMA), 
telah belajar bahasa dan <br>sastra Indonesia selama enam tahun, hasilnya nihil. 
Kalaupun ada satu <br>dua anak Aliyah (SMA) yang mampu menulis novel, secara nasional 
<br>sistem pendidikan tetap dianggap gagal. Bandingkan angka yang mampu <br>menulis 
dengan seluruh siswa Aliyah (SMA). Perbandingan yang terlalu <br>jauh. Dan 
pembelajaran masih dianggap gagal meski perbandingan  yang <br>mampu dan tidak mampu 
1:1. Maka, bagi saya untuk menjadi pengarang <br>tidak mesti kuliah di fakultas 
sastra, atau memang tidak mesti kuliah <br>di manapun. Gola Gong bilang, dia berhenti 
kuliah karena perguruan <br>tinggi tidak menjamin dirinya untuk menjadi 
pengarang!<br>Jika saya seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, akan saya katakan 
<br>kepada siswa saya, bahwa penulis itu hebat. Sebagaimana anehnya saya <br>ketika 
masih SD membaca koran. Bagaimana teks koran yang begitu <br>banyak  bisa diterbitkan 
setiap hari. Seperti juga kekaguman saya <br>kepada yang bisa menulis buku. Betapa 
hebatnya meraka mampu <br>memberikan pencerahan; mampu menggerakan saya untuk tetap 
sekolah <br>walau orang tua hanya petani kecil. Pikiran saya bilang, tuh tokoh <br>anu 
dalam buku anu juga menjadi orang sukses. Padahal dia orang <br>melarat!<br>Hal lain 
yang bisa dilakukan oleh seorang guru bahasa dan sastra <br>Indonesia adalah dengan 
menjadikan menulis antologi puisi/cerpen <br>sebagai syarat bisa mengikuti ujian atau 
kelulusan, umpamanya. Guru <br>bisa membagi kelas dala
_______________________________________________
No banners. No pop-ups. No kidding.
Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke