Refleksi: Agaknya selama ini pemimpin tidak cerdas dan tidak arif! :-))
-----

http://www.suarapembaruan.com/News/2004/05/22/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Konvensi Kampus Se-Indonesia

Pemimpin Mendatang Harus Miliki Kecerdasan Kearifan
YOGYAKARTA - Kecerdasan kearifan merupakan salah satu kunci yang harus dimiliki 
pemimpin baru Indonesia mendatang. Selama ini konsep pemimpin yang ada hanya arif dan 
cerdas bagi kepentingan kelompok atau kroninya saja. Karena itu pengertian kecerdasan 
kearifan harus dinilai secara cermat oleh masyarakat dan bangsa Indonesia dalam 
pemilihan presiden mendatang. Jangan memilih pemimpin yang tidak memiliki kecerdasan 
kearifan. 

Demikian pokok pikiran yang mengemuka dari sejumlah pakar dan pemimpin perguruan 
tinggi dalam konvensi Kampus untuk Masa Depan Indonesia yang diselenggarakan oleh 
Forum Rektor Indonesia dan Majelis Rektor Indonesia di Kampus Universitas Gadjah Mada 
Yogyakarta, Sabtu (22/5) pagi. 

Menurut Guru Besar Ilmu Pendidikan, Muchtar Buchori, kecerdasan kearifan masih sangat 
langka ditemui dalam sosok manusia pemimpin bagi bangsa Indonesia. Karena itu 
hendaknya para pemimpin lebih banyak melakukan perenungan atau introspeksi untuk 
menggali nilai-nilai kearifan pada dirinya. "Sepanjang pengetahuan saya, pertumbuhan 
kearifan dalam diri seseorang membutuhkan 7 landasan, yaitu pengetahuan yang luas, 
kecerdikan, akal sehat, teliti, sikap hati-hati, kepatuhan terhadap norma-norma 
kebenaran, dan kemampuan mencernakan pengalaman-pengalaman hidupnya," ujar Buchori. 

Dikatakan persoalannya adalah dapatkah pendidikan membuat setiap siswa dan mahasiswa 
sebagai calon-calon pemimpin bangsa mendatang mampu menjadi orang yang memiliki 
kecerdasan kearifan. Kearifan bukanlah suatu hal bersifat all or none thing, suatu 
sifat yang harus dimiliki sepenuhnya atau tidak dimiliki sama sekali. Jadi yang dapat 
dilakukan bagi calon pemimpin mendatang lewat pendidikan adalah menumbuhkan 7 landasan 
kearifan tersebut, sehingga siswa dan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa 
nantinya tidak menjadi pemimpin yang hanya mementingkan kelompok, kroni atau 
golongannya saja. 

Generasi penerus lewat pendidikan harus dibentuk menjadi manusia yang arif secara 
sempurna melalui perbaikan-perbaikan dalam praktik sistem pendidikan yang saat ini 
kurang memberikan ruang dan transformasi pembentukan manusia yang cerdas dan arif. 
Dikatakan, sebagai bangsa Indonesia pernah memiliki generasi-generasi yang arif, 
tetapi pernah pula memiliki generasi yang kurang arif. Jadi persoalannya sekarang 
dapatkah kita melakukan pembentukan manusia yang cerdas dan arif melalui sistem 
pendidikan yang dapat mengembalikan sifat arif dan bijaksana bagi lahirnya pemimpin 
Indonesia masa depan. 

Hal senada juga dikatakan Rektor Trisakti Prof Dr Thoby Mutis yang menyebutkan, 
kecerdasan dan kearifan yang harus dimiliki pemimpin masa depan antara lain perlunya 
seorang pemimpin membuat public policy yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan 
ciri-ciri lokal dan budaya setempat. 

Seorang pemimpin yang cerdas dan arif, tidak hanya dilihat dari satu atau dua sisi 
seperti kecerdasan intelektual dan emosional tetapi juga harus memiliki kecerdasan 
spiritual dan kecerdasan kesadaran untuk lebih banyak peduli bagi masyarakat luas 
bukan untuk kepentingan kelompok atau dirinya saja. 

Sedangkan pakar pendidikan Conny Semiawan menilai, manusia Indonesia pada umumnya 
memiliki budaya etika dan kesadaran terhadap norma-norma cukup peka. Hanya saja 
pengaruh materialisme dan budaya-budaya luar yang kurang terseleksi secara baik mampu 
mengubah pola pikir, pola hidup, dan karakter seseorang, sehingga kecerdasan kearifan 
itu menjadi luntur. 


Ketahanan 

Dalam sesi membahas soal strategi ketahanan bangsa dan peran perguruan tinggi, Dirjen 
Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan, Sudrajat menegaskan, perguruan tinggi 
merupakan garda terdepan dalam memperkokoh tegaknya eksistensi bangsa dan negara di 
tengah hiruk pikuk globalisasi dan demokratisasi. 

Menurut dia, ketahanan bangsa tidaklah dapat dicapai hanya dengan semata-mata 
membangun aspek-aspek yang bersifat fisik, tetapi aspek non fisik melalui pembangunan 
rasa, paham dan semangat memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan sangatlah menentukan. 
Persatuan bangsa tidaklah seharusnya dicerai-beraikan akibat adanya perbedaan pendapat 
dan keberagaman, namun justru kedua hal ini merupakan modal dasar dalam membangun 
karakter bangsa yang lebih dewasa karena didasari oleh nilai-nilai demokratisasi. 

"Menjelang pemilihan umum presiden, sungguh merupakan momentum politik yang sangat 
strategis untuk menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Partisipasi politik 
masyarakat menjadi indikator penting untuk menentukan pilihannya, apakah memilih untuk 
kepentingan bangsa atau untuk kepentingan kelompok tertentu," ujarnya. 

Ditambahkan, memilih adalah hak setiap warga negara, namun kejujuran terhadap diri 
sendiri dalam memberikan suara harus didasari dengan keinginan yang luhur ke arah mana 
bangsa ini dibawa ke depan. Yang terpenting adalah pemilu saat ini harus berjalan 
secara adil, jujur dan transparan sesuai mekanisme demokrasi, sehingga dapat 
melahirkan pemimpin yang kuat dan pemerintahan yang legitimat. 

Menurut Sudrajat, dalam konteks penegakan hukum dan refungsionalisasi TNI/ Polri 
diharapkan menjelang pilpres mampu memberi rasa aman dan membangun kepercayaan 
masyarakat, menegakkan supremasi hukum menjadi sesuatu hal yang mutlak dalam membangun 
sistem hukum nasional, tidak terkecuali pihak TNI maupun Polri yang mempunyai 
keterkaitan dalam mempertahankan negara dari ancaman disintegrasi. 

Diungkapkan, yang perlu menjadi perhatian dalam melindungi dan mengayomi masyarakat, 
Polri mempunyai otoritas dalam mencegah dan menindak pelanggar hukum di tengah 
masyarakat. Rendahnya budaya hukum saat ini menurut dia, sesungguhnya merefleksikan 
lemahnya institusi hukum dan aparat hukum dalam melaksanakan fungsinya. Dalam solusi 
penegakkan hukum, fungsi kontrol terhadap aparatur menjadi penting dan harus 
didahulukan sehingga rasa keadilan dan kepercayaan masyarakat terbangun. (E-5) 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 22/5/04 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke