Harian Komentar 24/05/2004 Militer: Antara Benci dan Rindu Oleh: Stevanus Ngenget SS
Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berbagai kejadian yang terjadi seputar pemilu yang berlangsung pada tanggal 5 April 2004. Tidak perlu jauh-jauh melihat ke daerah lain, di Sulawesi Utara saja masyarakat dihebohkan dengan berbagai kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dalam pemilu tersebut. Mark-up perolehan suara adalah kecurangan yang paling santer dibicara-kan oleh masyarakat. Maka, tidak mengherankan kalau di beberapa daerah di Sulawesi Utara pemungutan suara tersebut harus diulang. Hal lain yang ramai dibicarakan orang juga adalah keber-hasilan Partai Golkar menga-lahkan PDIP dalam pemilu kali ini. Terlepas dari sorotan mas-yarakat mengenai kecurangan yang dilakukan oleh partai yang pernah dijatuhkan oleh rakyat ini, yang jelas kita harus mengakui bahwa pada pemilu kali ini Partai Golkar adalah piawai. Fenoma paling menarik yang terjadi pada pemilu kali ini adalah muncul-nya partai baru yang mampu ber-saing sehingga dapat duduk dalam posisi lima besar partai pemenang pemilu. Partai baru tersebut adalah Partai Demokrat. Keberhasilan Partai De-mokrat duduk dalam posisi lima besar sangatlah di luar dugaan karena partai ini mampu menggeser posisi partai-partai lain yang bisa dikatakan sudah cukup mapan. Selain mempunyai pemimpin yang cukup dikenal oleh masyarakat Partai Amanat Nasional contohnya dengan Ketua Umumnya, Amien Rais adalah salah satu partai yang posisinya digeser oleh Partai Demokrat. Dengan keberhasilan Partai De-mokrat duduk dalam posisi lima besar partai pemenang pemilu, orang mulai bertanya-tanya apa dan bagaimanakah Partai Demokrat itu? Sehingga mampu bersaing dengan partai-partai besar lainnya. Kalau dibandingkan dengan Golkar dan PDIP bisa dikatakan bahwa Partai Demokrat merupakan pendatang baru sehingga orang belum mengenal banyak mengenai partai ini. Tapi apa yang diketahui oleh masyarakat mengenai partai ini adalah bahwa partai ini dipimpin oleh seorang Pur-nawirawan ABRI yaitu Susilo Bam-bang Yudhoyono. Lantas, siapakah Susilo Bambang Yudhoyono ini sehingga mampu mendongkrak per-olehan suara partai yang dipim-pinnya? Susilo Bambang Yudhoyono tidak lain adalah seorang Jenderal Purnawirawan yang kemudian duduk dalam Kabinet Gotong-Royong sebagai Menkopolkam tapi akhirnya mengundurkan diri karena mulai berseberangan dengan Presiden Megawati menjelang pemilu. Orang-orang kemudian mulai mengatakan bahwa keberhasilan figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilu kali ini karena Susilo Bambang Yudhoyono diperlakukan tidak adil oleh Presiden Megawati. Mungkin orang membandingkan kejadian hampir sama yang terjadi pada Megawati pada pemilu sebelumnya. Tapi apakah keberhasilan Susilo Bambang Yudhoyono hanya disebab-kan oleh faktor pengunduran dirinya dari kabinet Gotong-Royong atau karena orang memang mulai menyu-kai figur militer untuk menjadi pe-mimpinnya? Kehadiran figur militer dalam kancah perpolitikan Indonesia menarik untuk dikaji karena ada indikasi bahwa figur militer mulai mendapat tempat di hati rakyat, tapi di lain pihak juga figur militer mulai dipermasalahkan orang. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa figur militer mulai mendapat tempat lagi di hati rakyat karena berdasarkan hasil survei yang dila-kukan oleh Center for the Studi of Development and Democracy (Cesda), dan Lembaga Penelitian, Pendi-dikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini ternyata, Yudho-yono mendapat 13 persen suara responden, disusul Megawati pada urutan kedua (tujuh persen), selan-jutnya Amien Rais dan Akbar Tan-djung (enam persen), Hamzah Haz (lima persen), Yusril Ihza Mahendra (tiga persen) dan Nurcholis Madjid (dua persen). Keberhasilan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi calon presiden paling favorit mendorong partai lain untuk menampilkan figur militer juga sebagai calon presiden. Adalah Partai Golkar yang berdasar-kan hasil konvensi menetapkan Wiranto sebagai calon presiden. Hal ini menarik untuk dicermati karena Wiranto berhasil mengalahkan saingan-saingannya antara lain Akbar Tandjung yang notabene adalah seorang politikus ulung sekaligus juga Ketua Umum Partai Gokar. Tampilnya Wiranto sebagai calon presiden Partai Golkar hasil konvensi memang cukup mengejut-kan, kendati sudah bisa dipre-diksikan sebelumnya. Partai Golkar tentu saja melihat bahwa figur militer yang ditawarkan Partai Demokrat bisa menarik simpati rakyat jadi tidak ada salahnya jika mereka juga mengambil figur militer sebagai calon presiden. Di samping itu, kalau dilihat dari segi senioritas, Wiranto masih lebih senior dari pada Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan demikian Partai Golkar mengha-rapkan agar suara dari kalangan militer bisa lari kepada Wiranto karena dia lebih senior dari pada Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi kalau ditanya lagi apakah bangsa Indonesia sungguh-sungguh membutuhkan figur militer sebagai pemimpinnya, maka jawabannya masih bisa diragukan. Kita harus membuka mata dengan kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Di Makassar terjadi aksi-aksi protes menentang militer yang dipicu oleh penganiayaan yang dilakukan oknum militer terhadap mahasiswa UMI Makassar. Akibat kejadian ini, aksi protes terhadap militer mulai me-luas ke daerah-daerah lain misalnya di Jawa, Sumatera dan Ambon. Ora-ng-orang pun kemudian mulai meng-ungkit dosa-dosa yang dilakukan oleh militer di masa lalu misalnya kasus 27 Juli, Kasus Trisakti, Kasus Tan-jung Priok, dll. Kendati aksi protes terhadap militer mulai merebah luas, nam-paknya orang-orang dari kalangan militer sendiri tetap tenang-tenang saja. Ada beberapa kemungkinan mengapa mereka tidak cukup terpengaruh den-gan aksi protes yang terjadi akhir-ak-hir ini. Pertama, ada kemungkinan aparat militer tidak akan melakukan tindakan represif jika tindakan preventif masih bisa digunakan. Maka, kejadian yang terjadi di Kampus UMI Makassar belum tentu 100 persen kesalahan dari pihak militer. Kedua, jangka waktu sebelum pemilihan presiden merupakan masa yang sangat rawan akan adanya permainan politik dari para saingan-saingannya. Jadi bisa curigai bahwa kejadian yang terjadi di UMI Makassar tersebut me-mang disengaja atau akibat provokasi pihak-pihak tertentu yang mau menja-tuhkan citra militer yang pada pemi-lihan calon legislatif cukup mendapat simpati rakyat. Mungkin ada benarnya pepatah yang mengatakan bahwa jika pohon semakin tinggi maka anginnya pun semakin kencang. Akhirnya, kita harus menyadari bahwa Bangsa Indonesia ini dibentuk dan terdiri dari dua unsur, yaitu Sipil dan Militer. Sipil tidak bisa berdiri sendiri tanpa militer dan juga sebaliknya. Ketika militer melakukan tindakan semena-mena kepada masyarakat maka kita sebagai masyarakat sipil perlu menyerukan protes. Tapi jika kita melihat bahwa keadaan bangsa membutuhkan kehadiran seorang militer sebagai pemimpin, maka kita pun harus mendukungnya, karena kalau kita selalu menyudutkan militer maka itu berarti kita menyudutkan pula bangsa kita sendiri, karena mereka adalah bagian dari bangsa kita yang tercinta ini. Penulis Adalah, Anggota Pusat Studi Pacific Universitas De La Salle, Manado. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

