SURAT DARI DURANTIN:
MONTMARTRE Montmartre terletak di bagian utara kota metropolitan Paris. Sesuai dengan namanya yang berarti bukit, Montmartre merupakan daerah tertinggi di Paris. Di Montmartre inilah bangunan tinggi berwarna putih yang adalah sebuah gereja katolik bernama Sacr�e Coeur (hati suci) berada, berdiri memandang seluruh lembah sungai Seine yang membelah kota. Gereja yang sangat terkenal tidak saja sebagai tempat ibadah umat katolik tetapi juga punya nilai sejarah bagi rakyat Prancis, khususnya penduduk Paris. Montmartre menjadi salah satu tujuan penting bagi para wisatawan, baik orang asing maupun orang Prancis dari luar Paris. Seperti pada awal musim semi sekarang ini, tiap hari kusaksikan bondongan wisatawan berkunjung sejak pagi hingga malam hari. Stasiun Metro yang dekat dengan Montmartre tak pernah sepi dari lalu lalangnya manusia terlebih pada hari libur. Selain karena keberadaan gereja tua Sacr� Coeur, daerah Montmartre memang dikenal oleh orang Prancis sebagai 'kampung' dalam pengertian suasana atau keadaan penduduknya yang kebanyakan berusia lanjut dan memang asli dari daerah ini. Bangunan tua berumur ratusan tahun dengan keadaan sudah banyak yang tampak lusuh dan tidak sedikit bentuk pintu maupun jendela yang miring. Di Montmartre ini juga kita masih bisa merasakan dan melihat kehangatan dan keramahan orang Prancis, saling bertegur sapa ketika bersilang jalan berbeda dengan kebanyakan orang Prancis yang tinggal didaerah atau kartier lain yang sudah lebih modern. Di sini, di Montmartre adalah sangat biasa, orang-orang saling berkunjung atau janjian ketemu di caf� ujung jalan untuk sama sama minum kopi pada pagi hari, adalah pemandangan biasa. Semaraknya Montmartre semakin hidup dengan banyaknya kedai-kedai kopi, toko roti tradisional, toko anggur, berbagai restoran dengan masakan macam-macam negri, pasar tradisional Prancis, berbagai toko buku yang masing masing punya spesialisasi, toko toko alat musik, toko-toko baju, toko perhiasan, toko kerajinan tangan, galeri lukisan, bioskop unik, teater dan tidak sedikit kabaret kecil dan ada satu yang besar dan terkenal seperti Moulin Rouge. Dan satu lagi peninggalan lama adalah sepetak kebun anggur yang berada di belakang gereja Sacr�e coeur. Orang yang pernah singgah di Montmartre selalu mengatakan daerah ini tak pernah mati atau sepi, dia hidup sepanjang hari. Memang demikanlah kenyataannya. Kehidupan pagi dimulai dari toko roti dan disusul kemudian kedai kopi bersama -sama kedai koran. Ketiga kedai tersebut sudah mulai menerima pelanggan sejak pukul enam pagi. Orang Prancis punya kebiasaan sarapan di kedai sambil membaca koran sebelum berangkat kerja. Pasar mulai membuka pintu pukul sembilan pagi dan biasanya mereka akan istirahat pada tengah hari untuk istirahat dan makan siang kemudian sekitar pukul empat sore buka kembali sampai pukul delapan malam. Pasar ini dikenal dengan sebutan pasar Lepic karena bertempat di jalan Lepic. Di pasar ini kita bisa dengan mudah menemukan bumbu atau masakan tradisional Prancis. Keju ataupun anggur dengan kualitas baik bisa didapat disini. Dulu kita juga bisa temukan toko spesial daging kuda, tetapi tahun lalu toko ini sudah berganti wajah sebagai toko handphone! Nampaknya sesuai dengan perubahan jaman, daging kuda sudah banyak ditinggalkan peminat dan diganti dengan kebutuhan lain sesuai dengan tuntutan jamannya. Galeri lukisan pada umumnya dikelola secara pribadi demikian juga bioskop unik. Disebut bioskop unik, karena sebagai usaha pribadi yang dimotivasi hobby, film yang diputar dan dijual hanya film yang dipilih dan diminati secara pribadi oleh pemiliknya. Oleh karena itu bioskop ini tidak buka setiap hari dan gedungnyapun kecil yang sekaligus tempat tinggal sipemilik. Bentuk toko-toko semuanya masih dalam format lama. Sesuai dengan gedung yang tua dan ukuran yang sudah diatur sama sejak gedung berdiri, ukuran toko tidak ada yang besar dengan model modern seperti kebanyakan kita temui di kota kota besar di Indonesia. Bentuk toko seperti ini mengingatkan penulis akan toko-toko di Jogya sekitar tahun limapuluhan hingga tahun enampuluhan. Tujuan utama turis jika ke kartier ini, tentu saja adalah gereja Sacr�e Coeur yang berada di puncak bukit Monmartre. Untuk menuju puncak ada beberapa cara. Yang paling ringan kalau kita menggunakan jasa funiculaire, sejenis kereta mini yang digerakkan listrik dengan membayar seharga tiket metro. Sedang jalan lain kita bisa jalan kaki mendaki tangga terjal puluhan meter atau jalan kaki memutar melalui beberapa jalan yang mendaki. Di sekitar gereja kita akan menemukan banyak restoran, kedai kopi, toko-toko suvenir juga sekelompok pelukis yang kebanyakan dari mereka menjajakan jasa untuk melukis wajah atau potret diri. Sebagian lain pelukis, menjajakan lukisannya yang bertemakan gedung-gedung tua tipik Montmartre dalam berbagai ukuran. Lukisan-lukisan ini tampak menarik dengan warna sesuai aslinya, kesan klasik karena menampilkan wajah tua. Pada musim turis seperti musim semi sekarang, banyak pertunjukkan seni pantomim, akordeon, piano atau alat musik lain dan di teras gereja berupa tangga yang cukup terjal digelar pertunjukkan teater mini yang dilakukan seorang diri oleh aktor yang sekaligus menangani segala persiapan panggung dan musik. Dari teras gereja di ketinggian bukit ini pula kita bisa menyaksikan kota Paris terhampar di lembah Seine. Kita bisa melihat semuanya termasuk menara tour Eiffel dari sini. Terlebih pada malam hari pemandangan tersebut akan lebih menarik. Kota yang terhampar di bawah pandangan mata kita seakan ingin bertutur dan bertutur tentang sejarah dirinya yang kaya raya dan tak pernah henti bergolak. Untuk mengitari daerah Montmartre lebih jauh dan lebih detil secara nyaman disediakan jasa kereta mini berbentuk kereta api. Dengan membayar 5,- euros kita dibawa keliling sekitar Montmartre hingga ke Place de Pigalle. Bagi mereka yang kurang kuat jalan kaki, kereta mini inilah yang paling tepat dipilih sebagai cara menikmati keindahan daerah atau kartier Montmartre. Kehidupan daerah Montmartre semakin menggeliat pada malam hari. Saat begini yang mengambil peran adalah teater dan kabaret juga klab-klab malam. Siapa yang tidak mengenal Michou ataupun Moulin Rouge!? Dua kabaret berbeda dalam ukuran dan sejarahnya tapi sama-sama terkenal dan dikenal. Sama-sama jadi khazanah budaya yang dilindungi pemerintah. Di jalur jalan yang sama, tidak jauh dari Moulin Rouge juga bisa didapatkan deretan shops-sex, gedung-gedung untuk "life show" dan Museum Sex. Tadinya Pigalle -- nama seorang pelukis-- merupakan pusat lampu merah Paris. Tempat ini sekarang sudah dipindahkan ke Rue Saint Denis di kartier lain. Dalam sejarah, ketika Paris dikepung agresor asing, berbarengan dengan kebangkitan seluruh penduduk Paris membela kota dan diri, para pelacur Pigalle pun tidak berpangkutangan, demikian juga pada zaman pendudukan fasis Jerman. Sebenarnya lebih dari dua kabaret yang ada di Montmartre tetapi kedua kabaret inilah yang lebih dikenal orang. Kabaret Michou secara fisik jauh lebih kecil daripada kabaret Moulin Rouge. Nama Michou dikenal sebagai penyanyi dan penari sebelum dia bersama teman-teman sesama artis kabaret mendirikan kabaret sendiri sedangkan Moulin Rouge adalah kabaret tua yang sudah menjadi legenda yang mentradisi bagi Prancis. Pada musim liburan atau turis seperti sekarang ini, bus-bus yang mengangkut turis dari seluruh daratan eropa berdatangan dan memadati tepi jalan di sekitar kabaret-kabaret berada. Pada malam akhir pekan, kemeriahan bertambah dengan penampilan berbagai grup musik di kedai-kedai kopi. Meja kursi sudah meluap dipasang di sebagian trotoir, membuat ruang semakin sempit bagi pejalan kaki. Pemandangan begini nampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis. Suasana riuh-rendah dengan lalu-lalang orang, seperti membuat kehidupan tak pernah berhenti dan selalu gairah. Hiruk pikuk begini nampak mereda sekitar pukul dua pagi. Agaknya orang mulai lelah dan para pedagangpun sudah harus bersiap untuk keesokan hari. Montmartre disebut oleh sementara penulis Perancis sebagai "kampung puitis" di mana "kesenangan dan kemaksiatan bertemu", "kekinian dan tradisionalitas" berdampingan. Oleh kedudukan geografisnya yang terletak di ketinggian bukit, Montmartre seakan hadir sebagai pengawal Paris -- kota magis pembangkit khayalan dan perkiraan. Montmartre, Mei 2004. ----------------------- Jelitheng Catatan: Photo terlampir diambil oleh Jelitheng. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

