http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/26/opi02.html

Pertarungan Antara Pendukung Demokrasi
Oleh Coen Husain Pontoh

Akhir-akhir ini, perbincangan mengenai pentingnya pemerintahan yang kuat
terus menghiasi pemberitaan media massa. Ini sebenarnya bukan fenomena baru,
karena menjelang dan pada masa kampanye pemilu legislatif lalu hampir
seluruh partisipan menyuarakan gagasan dan janji-janji ketertiban dan
keamanan. Bahkan, ada juru kampanye yang tak malu-malu menjual mantra rezim
Orba ini sebagai obat mujarab untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis
yang sangat dalam.
Pengalaman selama lima tahun pemerintahan masa transisi, seakan meneguhkan
kebutuhan akan pemerintahan kuat itu. Pertikaian etnis, konflik bermuatan
SARA, kriminalitas yang semakin meningkat, korupsi yang tak tertangani,
adalah bukti kuat lemahnya pemerintahan. Masalahnya, mengapa sederet
kekacauan sosial-politik-keamanan itu dituduhkan pada pemerintahan yang
lemah? Atau, benarkah pemerintahan yang kuat akan menjamin terjadinya tertib
sosial dan politik? Atau, mengapa pemerintahan masa transisi, yang dimulai
dari Habibie, Gus Dur, hingga Megawati menjadi lemah dan tidak efektif?
Saya berpendapat, kehendak untuk memunculkan pemerintahan yang kuat ini
bertolak dari sudut pandang yang sangat teknokratis. Dalam makna ini, memang
tak penting apakah pemerintahan itu dipimpin oleh seorang mantan jenderal
atau seorang sipil. Kata kuncinya, mereka harus mampu mewujudkan keamanan
dan ketertiban.
Di sisi lain, debat soal kebutuhan akan pemerintahan yang kuat ini dipicu
oleh tampilnya dua calon presiden dari pensiunan militer. Celakanya, kedua
calon ini, Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono, disebut-sebut sebagai
kandidat terkuat di samping Megawati. Kemunculan dua calon presiden dari
militer ini, memang terasa menohok ulu hati kaum demokrat. Perjuangan tanpa
henti untuk menegakkan supremasi sipil, kini menghadapi tembok tebal. Tembok
ini pun tidak dibangun di atas tumpukan mayat bergelimpangan tapi, di atas
persetujuan rakyat melalui pemilu demokratis. Inikah akhir dari perjuangan
panjang yang masih menyisakan luka-luka yang dalam itu?

Yang Enggan Ditengok Kaum Prosedural
Di mata pendukung demokrasi liberal, pertanyaan ini terasa aneh di telinga.
Mereka akan balik bertanya, apa yang salah dari kemunculan dua mantan
jenderal (Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai presiden? Toh
keduanya sudah purnawirawan, telah sebagai sipil, dan punya hak yang sama
dengan sipil lainnya. Dan yang terpenting, Wiranto dan SBY menang di atas
landasan yang demokratis, fair, transparan, dan akuntabel. Demokrasi memang
tidak sempurna dan tak mungkin sempurna. Tapi, mengingkari kenyataan bahwa
keduanya menang melalui pemilu yang demokratis berbahaya bagi konsolidasi
demokrasi.
Secara prosedural, tak ada yang keliru dengan argumen ini. Tapi, kalau kita
melongok ke sisi yang lebih substantif, sisi yang enggan ditengok oleh kaum
prosedural, demokrasi liberal memang mengandung sejumlah dilema. Dilema
pertama, demokrasi liberal selalu bergandengan tangan dengan neoliberalisme
ekonomi. Para transitologi percaya bahwa pondasi kediktatoran adalah pada
iklim ekonomi yang distortif (monopoli) dan tertutup (karena intervensi
negara). Karena itu, liberalisme politik hanya mungkin kekal jika pada saat
bersamaan terjadi liberalisme ekonomi.
Good Governance (GG) perlu diimbuhi dengan Good Corporate Governance (GCG).
Hasil dari perkawinan liberalisme politik dan liberalisme ekonomi di satu
sisi mendatangkan kebebasan sipil dan politik tapi, akibat liberalisasi
ekonomi kehidupan mayoritas rakyat miskin kian terpuruk.
Agenda-agenda neoliberal yang dipaksakan oleh lembaga donor memang
mendatangkan efisiensi ekonomi, terutama efisiensi korporat. Namun itu harus
dibayar mahal oleh mayoritas rakyat melalui pencabutan beragam subsidi
kebutuhan pokok. Legitimasi yang diperoleh pemerintahan hasil pemilu pada
akhirnya digunakan untuk menyerang hak-hak hidup rakyat miskin. Inilah akar
soal hilangnya popularitas Megawati Soekarnoputri dalam Pemilu 2004 ini.
Dilema kedua, demokrasi liberal esensinya bertumpu pada massa mengambang.
Dalam konsepsi ini, partisipasi rakyat harus dibatasi secara aktual,
apatisme adalah sesuatu yang dihargai. Diktumnya, semakin rendah tingkat
partisipasi rakyat atau semakin tinggi derajat apatisme, semakin sehatlah
demokrasi. Dari sini, kata-kata "massa" dan atau "rakyat" adalah musuh
demokrasi. Dalam kata-kata Robert A. Dahl yang terkenal dengan teori
Poliarkhy-nya, "jika peningkatan partisipasi politik membawa sektor
masyarakat kelas sosial-ekonomi rendah yang berpikiran otoriter ke tengah
arena politik, maka demokrasi dapat terancam."

Pertarungan Antara Pendukung Demokrasi
Siapa itu, kelas sosial rendah yang berpikiran otoriter? Jawabannya
diberikan oleh Seymour Martin Lipset, yang terkenal dengan teori mengenai
kesejajaran antara kapitalisme dengan demokrasi, "... strata yang lebih
rendah relatif lebih otoriter ketimbang kelas menengah atau kelas atas, dan
bahwa kelas buruh kemudian menjadi ancaman besar bagi kebebasan." (Rita
Abrahamsen, 2004).
Demokrasi liberal pada akhirnya melahirkan sebuah oligarki yang didukung
oleh kekuatan militer. Para pendukungnya percaya bahwa kebebasan sipil dan
politik adalah penting dan karena itu membutuhkan pemerintahan yang lemah,
pemerintahan yang bisa dikontrol oleh masyarakat sipil. Tapi, pemerintahan
yang lemah sulit diandalkan untuk mengawal kebijakan neoliberal sehingga
membuatnya berpaling pada pemerintahan yang kuat dan massa yang apatis.
Para pendukung demokrasi liberal alih-alih berkomitmen pada pemerintahan
demokratis, justru bertekad membangun pemerintahan yang teknokratis (Miguel
�ngel Centeno, "Democracy Within Reason Technocratic Revolution in Mexico,
1997). Inilah dilema ketiga dari demokrasi liberal.
Dari ketiga dilema itu, bisa dilihat bahwa pemerintahan yang lemah memang
merupakan hasil dari struktur ekonomi politik yang paradoksal. Pemerintahan
transisi, secara teoritik dikehendaki untuk lemah mengingat pengalaman
negara kuat dan dominan di masa kediktatoran. Tapi, pada praktiknya,
pemerintahan transisi justru harus dibikin kuat agar bisa mengawal
agenda-agenda ekonomi neoliberal.
Di sinilah letak peran sentral dari aparatus bersenjata (militer dan
polisi), sebagai tulang punggung orde transisi. Itu pula sebabnya, mengapa
para pendukung demokrasi liberal tak mau mengutak-atik keberadaan aparatus
bersenjata ini. Kemunculan dua mantan jenderal sebagai kandidat presiden,
dengan demikian merupakan momentum yang ditunggu kehadirannya.
Dalam situasi ini, perjuangan kaum demokrat memasuki babak baru yang lebih
kompleks. Medan pertarungan bukan lagi antara kaum demokrat melawan
pemerintahan otoriter tapi, antara sesama pendukung demokrasi.
Pemenangnya akan menentukan apakah pemerintahan demokrasi makin
terkonsolidasi dan melayani kepentingan mayoritas. Atau sebaliknya, yang
terjadi adalah konsolidasi pemerintahan teknokratis yang dijalankan dan
dikontrol oleh oligarki.

Penulis adalah, peneliti ICW.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke