Suara Karya
28/5/2004

            Menuntut Perhatian Nasib TKI Perempuan
            Oleh Stevanus Subagijo 


            Penanganan reaktif atas nasib perempuan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di 
luar negeri yang menjadi korban kekerasan terulang kembali. Kali ini dipicu oleh 
mencuatnya kasus penganiayaan berat yang dialami TKI asal Kupang (NTT), Nirmala Bonat 
di Malaysia. Di negeri jiran ini juga jauh-jauh me-rantau dari Bantul, TKI perempuan 
Sulastri tewas terjatuh dari Lantai 27, Apartemen Vista Commonwealth tempatnya 
bekerja. 

            Kasus Nirmala dan Sulastri hanyalah deret hitung yang akan terus terjadi 
atas nasib TKI perempuan yang mencapai klimaknya, apakah itu berbentuk kekerasan yang 
mengerikan atau berujung pada kematian. Selama nasib TKI perempuan masih seperti ini, 
selama itu pula peluang aniaya dan "samber nyawa" akan terus mengincar siapa saja. 
Dengan kata lain, kasus Nirmala dan Sulastri hanyalah sedikit kasus yang merefleksikan 
konsekuensi dari pola perhatian atas nasib TKI perempuan kita khususnya, dan perempuan 
Indonesia umumnya. Ada banyak peluang yang potensial menjadi kasus baru, jika nasib 
TKI perempuan kurang diperhatikan. 

            Simalakama Nasib


            Penipuan, penelantaran, pemerkosaan, penganiayaan berat, dan pembunuhan, 
tentu dilandasi dengan kultur penistaan harga diri, diskriminasi jender, sikap 
permisif terhadap perantau perempuan yang mencari nafkah, pemanfaatan kedudukan 
perempuan yang lemah dan seterusnya. Dan, itu sudah terbawa sejak dari TKI perempuan 
berasal. Kultur masyarakat yang mendorong dan meniscayai TKI perempuan bekerja di luar 
negeri -- apa pun alasannya -- jelas kultur yang membuka peluang terhadap kejadian di 
atas. 

            Survei terhadap perempuan di Shanghai melaporkan bahwa 30% perempuan Cina 
di sana melihat suami yang secara ekonomi mampu sebagai "tiket makan" untuk kehidupan 
yang lebih baik. Itu baru soal suami yang kaya raya, bagi negeri dengan 140 juta 
penganggur seperti Indonesia, menjadi TKI tentu mempunyai alasan kuat yang kurang 
lebih sama. Bekerja di negeri jiran yang lebih maju, di majikan yang rata-rata kaya, 
dipercaya sebagai "tiket makan" untuk memperbaiki nasib agar menjadi lebih baik, meski 
bisa saja kasus seperti Nirmala dan Sulastri terulang dan terulang lagi. 

            Begitu TKI perempuan di tangan organisasi pengerah tenaga kerja, ia 
kemudian menjadi "komoditas hidup" sebuah bisnis dan pasar tenaga kerja. Di mana, pada 
titik ekstrem yang satu, TKI perempuan bisa berada dalam perlakuan sebagai barang 
modal yang diperhatikan nasibnya dengan baik oleh organisasi pengirim tenaga kerja. 
Namun pada titik ekstrem yang lain, manakala TKI bernasib "belum kerja" bisa 
disia-siakan, dan begitu "sudah kerja" bukan urusannya lagi. Selanjutnya ketika TKI 
perempuan berada di tangan majikan, layaknya "budak belian", ada yang dibebaskan 
majikannya (menerima hak-haknya dan kasih sayang, yang sering menjadi mimpi TKI 
perempuan generasi berikutnya). Tetapi, ada pula yang bernasib bak mobil di tangan 
pengemudi psikopat. Bekerja 24 jam dengan siksaan dan deraan. Pengemudi yang baik akan 
mengemudikan kendaraannya dengan halus, sebaliknya pengemudi psikopat akan 
mengemudikan kendaraanya dengan kasar. Jika itu terjadi pada mesin kendaraan yang 
adalah benda mati, dalam sebulan saja mesin itu pasti jebol. Persoalannya, TKI 
perempuan bukan mesin, ia adalah manusia bernyawa. Dan, meski terkesan diskriminatif 
jender, untuk konteks ini bisa dikatakan -- apalagi ia seorang perempuan. Tentu tidak 
berarti bahwa kalau korbannya laki-laki, tidak masalah. 

            Kejahatan Domestik


            Peristiwa kekerasan dan pembunuhan terhadap TKI perempuan di luar negeri 
menunjukkan bahwa pola kekerasan domestik dalam makna luas terhadap TKI perempuan, 
seperti menjadi hak majikan pasca membeli jasa tenaganya. Kekerasan domestik yang 
terjadi justru di ruang dalam rumah atau apartemen majikan, mencerminkan betapa 
gawatnya nasib TKI perempuan. 

            Gloria Steinem mengatakan, the most dangerous situation for a woman is not 
an unknown man in the street, or even the enemy in wartime, but a husband or lover 
(baca: majikan) in the isolation of their own home. Bahwa penyaluran TKI perempuan 
menjadi tenaga kerja, salah-salah bisa terperangkap dalam organisasi pengerah tenaga 
kerja dan majikan yang menganggap tidak masalah terhadap kekerasan domestik. Karena, 
tanpa upaya mengubah pola pengelolaan pengiriman TKI perempuan dalam pasar tenaga 
kerja (kekerasan domestik dalam barak penampungan) dan menjadikannya seolah komoditas 
hidup (kekerasan domestik dalam rumah majikan), kekerasan terhadap perempuan yang 
sudah merupakan spiral sepanjang hayat (violence against women: a lifetime spiral) 
makin diperparah. 

            Janin perempuan yang masih dikandung sudah ditolak oleh kultur patriarkal 
yang mengharapkan anak laki-laki, syukur-syukur tidak digugurkan. Begitu menginjak 
anak-anak sangat rentan terhadap prostitusi anak, eksploitasi pekerja di bawah umur, 
kekerasan seksual atau perdagangan anak. Perempuan remaja akan meneruskan habitatnya 
yang buruk selama anak-anak seperti dalam prostitusi, yang lebih baik menjadi buruh di 
pabrik dengan tanpa kemampuan untuk membela hak-haknya. (Mau begitu, tidak mau banyak 
yang antri). 

            Ketika berusia produktif kalau tidak menjadi TKI perempuan, ia masuk dalam 
kehidupan rumah tangga yang mungkin saja nasibnya tidak sebaik mereka yang melajang. 
Kekerasan domestik dari suami sudah menanti. Suami membunuh dan menganiaya isteri 
bukan kasus aneh. Peribahasa diskriminatif dari masyarakat patriarkal Cina Utara 
mengatakan, You can ride the horse you buy, and you can beat the wife your marry. 
Perempuan cukup berarti ketika sudah berusia lanjut, ia menjadi pengasuh cucu. Meski 
dibungkus kebahagiaan dan kerelaan, sebetulnya itu ujung dari penasiban perempuan yang 
timpang. 

            Untuk itulah menyikapi kasus di atas, emosi sesaat sudah terlontarkan 
dengan demo ke Kedubes Malaysia atau ke Menteri Tenaga Kerja. Namun, akar kejadiannya 
bukan di situ. Akarnya justru dalam kultur masyarakat kita yang mempola penasiban TKI 
perempuan. Mengapa TKI perempuan menjadi pasok bagi permintaan tenaga kerja di luar 
negeri? Bagaimana mencegah TKI perempuan agar tidak bekerja di luar negeri, kalau 
lapangan pekerjaan sulit? 

            Pertama, jika kita memang tidak bisa mencegah TKI perempuan sebagai 
industri jasa, minimal pemerintah sudah seharusnya mempunyai sistem monitoring 
terhadap siapa saja Warga Negara Indonesia, khususnya TKI perempuan yang biasanya 
statusnya lemah, untuk bisa dipantau secara berkala. Mereka harus melaporkan 
keberadaannya dan perkembangan pekerjaannya. Secara khusus meminta kepada pemerintah 
asing di mana TKI perempuan bekerja, untuk menciptakan sistem perlindungan bagi TKI 
perempuan dengan melaporkan hak-hak dan kewajibannya kepada pemerintah lokal. 

            Kedua, jika kita masih bisa mencegah agar TKI perempuan tidak berangkat 
merantau dalam kondisi yang belum ada perbaikan, itu lebih baik. Tentu dengan catatan 
bahwa keran usaha di dalam negeri harus dipermudah, sehingga kelebihan TKI tidak 
tersedot keluar, tetapi terserap dalam pasar tenaga kerja dalam negeri. Kekerasan 
terhadap TKI perempuan juga tanggung jawab bidang industri, pertanian, pariwisata, 
perdagangan dan lain-lain untuk menyerap TKI perempuan. 

            Akar Gunung Es


            Dengan demikian diharapkan bahwa kekerasan terhadap TKI perempuan, 
khususnya yang beranjak dari coiled spring of violence mulai dari kultur patriarkal 
masyarakat kita, sampai masuk ke dalam kamp konsentrasi "barak penampungan" yang 
sering tidak manusiawi, pun hingga rumah majikan, bak obat nyamuk bakar, merupakan 
lingkaran sumber kekerasan dari rentang kekerasan yang panjang, kemudian semakin cepat 
dan pendek sehingga proses kekerasan dan kematian pun mudah terjadi. Teori Coiled 
Spring of Violence menunjukkan betapa pertemuan dengan majikan pada kasus TKI 
perempuan di atas adalah awal di mana ketegangan dibangun (tension building) (konflik 
disiplin kerja, beda kultur, salah paham, kesalahan kerja, mental bawaan, standar 
layanan dan seterusnya). 

            Pada titik tertentu terjadilah violent attack, lalu baik TKI perempuan dan 
majikan mencapai periode pemulihan (relief period), karena terdesak akan saling 
membutuhkan satu sama lain. Seperti obat nyamuk bakar, dimulai lagi tension building, 
baik karena masalah yang sama atau masalah baru, terjadilah violent attack, lalu 
relief period lagi. Dan, makin lama, siklus ini makin cepat dan pendek, dimulai lagi 
tension building lalu dibarengi dengan violent attack dan belum sampai pada relief 
period telah terjadi penolakan (subjugation), seperti aniaya berat dan salah-salah 
bisa juga mengalami kematian (death). 

            Menghadapi sisi-sisi gelap dalam diri manusia yang menyiksa TKI perempuan, 
filsuf Rusia, Feodor Dostoevski mengatakan bahwa manusia memang menyimpan 
rahasia-rahasia lain yang ia tidak mampu untuk singkapkan bahkan kepada dirinya 
sendiri. Kekejian bisa terjadi begitu saja! Dan, Paul Tournier dalam bukunya 
Reflections menegaskan bahwa memasuki daerah sisi gelap tersebut manusia tidak dapat 
lagi dibedakan dengan binatang. 

            Jadi, melihat betapa ngerinya jebakan pasar tenaga kerja ke luar negeri 
dalam perangkap kekerasan domestik (bukan hanya di rumah tangga) tetapi juga di barak 
penampungan dan rumah majikan, pola penyaluran TKI perempuan harus dibenahi total. 
Jangan sampai satu pun TKI perempuan tidak terdaftar dalam daftar nama WNI di KBRI 
yang bekerja di luar negeri. Paling tidak, ada sistem pelaporan dan monitoring 
terhadap mereka dan bukan lagi-lagi penanganan reaktif seperti sekarang, ketika korban 
sudah terkapar atau tewas. *** 

            (Penulis adalah peneliti pada Center for National
            Urgency Studies, Jakarta).  
     

--------------------------------------------------------------------
           
     



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke