Dari Notes Belajar Seorang Awam:

"KUHARAP KAMU TIDAK  TERSINGGUNG"

Kalimat di atas adalah baris terakhir dari sanjak Adrian Faletehan yang berjudul 
"Untuk tuhan" disiarkan oleh milis [EMAIL PROTECTED] [27 Mei 2004]. Dibandingkan 
dengan sanjak-sanjak Adrian sebelumnya, sanjak "Untuk tuhan" ini lebih menggelitik 
diriku. Tentu saja, sanjak "Untuk tuhan" tetap mengandung ciri-ciri Adrian yang 
sederhana dan langsung mengucapkan hasil renungannya. Karena nampak Adrian adalah 
seorang anakmuda yang suka mengamat lingkungan dan kehidupan serta merenungi apa yang 
ia amati dan menyentuh jiwanya.  Adrian memang seorang yang peka rasa tapi juga peka 
pikiran. Karya-karyanya seperti juga dengan sanjak-sanjak Mega Evrestianiwati, 
merupakan paduan dari keduanya. Ia tidak hanyut dalam ombang-ambing rasa, tetapi 
selalu mencoba menangkap sesuatu yang lebih dalam dari gejala . Dalam usaha ini, ia 
tidak selalu berhasil dan sering   terasa tergesa-gesa sehingga dalam pengungkapannya 
sering terburu-buru atau barangkali disengaja untuk bercanda. Hanya terus-terang, 
bermain-main dengan berpuisi adalah suatu sikap yang kurang kuminati karena terasa 
seperti ejekan terhadap sastra, khususnya puisi. Karena aku memandang sastra, termasuk 
  puisi sebagai sesuatu yang serius. Ya, tentu saja hak seseorang untuk sinis, untuk 
memaki, bermain-main, serius dan bercanda, tapi sebaiknya tidak usah sampai melampaui 
batas apalagi memasuki pekarang pribadi seseorang yang tidak ada sangkutpautnya dengan 
puisi sesuai dengan pengertian kemerdekaan dan kebebasan. Memasuki pekarangan pribadi 
tanpa sudah masuk kategori kekalapan tidak beradat jika menurut istilah orang Dayak.  
Ini hendaknya dibaca sebagai pernyataan umum dan bukan ditujukan kepada alamat 
tertentu -- sesuatu yang sering juga sulit dibaca oleh yang merasa diri bisa membaca. 
Berbeda dengan Mega, Adrian tidak pernah merevisi puisi yang pernah ia siarkan. 
Keberanian dan kebiasaan merevisi sanjak yang dilakukan oleh Mega, kuanggap sebagai 
sesuatu yang positif, ujud dari pencarian tak kenal henti, usaha mencapai 
ketinggian-ketinggian yang tak pernah masuk hitungan dugaan.. 

Kesungguhan dan kesadaran berpuisi Adrian pun nampak selain dari isi sanjaknya, juga 
diperlihatkan oleh kesadarannya memilih kata dan cara menulis sesuatu. Misalnya dalam 
sanjak "Untuk tuhan", ia sadar benar tidak mau menulis kata "tuhan" dengan huruf 
besar:  

".............................................
....maka kuputuskan 
menulis namamu tanpa huruf besar

kuharap kamu tidak tersinggung"


Kesadaran berpuisi ini juga ia perlihatkan melalui komentar pendek atas terjamahan 
sanjak-sanjak Federico Garcia Lorca dalam antologi puisi "Romancero Gitano"  yang oleh 
sementara kritikus sastra Eropa Barat dipandang sebagai karya utama [master-piece] 
puisi Lorca, dan yang sekarang kucoba selesaikan. Dalam komentar pendeknya atas usaha 
ini, Adrian mengatakan bahwa untuk bisa mengalihbahasakan sebuah karya sastra, 
termasuk puisi, kita perlu memahami latarbelakang sosial dan sejarah di mana karya itu 
dilahirkan. Komentar singkat ini telah melukiskan secara padat hubungan antara 
sastra-seni dengan masyarakat  menurut pandangan Adrian. Bukti lain bisa kita dapatkan 
dari pandangan-pandangan kemasyarakatan yang pernah diungkapkan melalui milis [EMAIL 
PROTECTED]  ini  juga tentang misalnya apa yang disebut "ingatan kolektif",  apa yang 
disebut "hukum"   dan lebih-lebih lagi dari tuturannya tentang untuk apa ia menulis. 
Data-data ini semua menunjukkan bahwa Adrian adalah seorang penyair yang mempunyai 
komitmen sosial. Ini adalah arena tarung umum yang ia geluti dengan berbagai sarana di 
tangan, antara lain puisi. Adrian ingin menjadi makhluk sosial anak bumi, putra 
kehidupan nyata yang bukan sesudah mati.Ia ingin menjadi manusia yang manusiawi selagi 
ia hidup. Orang lain bisa tidak sepakat dengan komitmen dan pilihan Adrian. Tapi sama 
berhaknya dengan siapapun jika Adrian memilih jalan komitmennya sebagai  hak pribadi  
seseorang untuk mencintai dan tidak mencintai. Dengan kesadaran begini, kiranya tidak 
berkelebihan jika dari anakmuda seserius Adrian kita bisa mengharapkan banyak hal 
positif yang bakal bisa  ia sumbangkan kepada masyarakat dan usaha memanusiawikan 
manusia. Sejauh ini nampak bahwa Adrian bukanlah sejenis manusia "alat jinak" [docile 
tool] siapapun,  menyandarkan otaknya kepada orang lain, dan tidak terperangkap oleh 
hal tetek-bengek, bukan pula jenis yang suka menggagahi orang lain. Ia hadir sebagai 
dirinya sendiri tanpa kompleks dengan  keberanian dan ketegasan mengetengahkan buah 
renungannya. Dalam hal ini aku melihat kesejajaran jalan yang ditempuh Adrian dengan 
Aguk Irawan dan teman-temannya di Kairo. Sejajar dengan  jalan pencarian dan usaha 
menemukan serta usaha menjawab pertanyaan. Angkatan begini, aku lihat sebagai matahari 
"jam delapan sembilan pagi" yang mungkin memberikan kehangatan dan cahaya bagi bangsa, 
tanahair dan kemanusiaan. Hadirnya angkatan begini sekalipun masih belum besar dan 
belum merupakan barisan panjang perkasa, meyakinkan diriku bahwa matahari tidak pernah 
berhenti bersinar. Sekalipun merupakan titik-titik cahaya kecil, di mana-mana 
kusaksikan dan kudapatkan kehadiran manusia tipe ini, termasuk di tengah hiruk-pikuk 
Jakarta, Manik Purba dengan Majalah Budaya Aksara-nya, Jaringan Kerja Budaya dengan 
Media Kerja Budaya-nya, tidak lain daripada titik-titik cahaya itu. Keadaan ini 
mengingatkan aku pada pesan seorang penyair-pemikir besar Asia yang mengatakan bahwa 
dalam keadaan sepekat apapun, akan selalu ada secercah cahaya. Tataplah cahaya itu. 
Melangkahlah ke arahnya!  Angkatan Adrian, angkatan Manik Purba, angkatan Aguk Irawan 
dkk, angkatan Ronny Teguh di Kalteng, dan lain-lain yang sebaya, kulihat sebagai 
angkatan penanggungjawab timbul-tenggelamnya negeri dan bangsa ini. Angkatan harapan 
yang patut didukung oleh semua pencinta kemanusiaan dan haridepan yang manusiawi. 
Dalam proses angkatan matahari "jam delapan sembilan pagi" ini pasti akan makin tajam 
sorot pandang mereka, terutama ketika melihat tamasya politik. Hal ini mungkin mereka 
lakukan jika kenal lapangan seperti mereka mengenal garis-garis telapak tangan mereka. 
Mereka dipaksa mengenalnya jika tidak ingin terjebak dan tersesat sebagai warga 
republik berdaulat sastra-seni. Sikap ilmuwan dan kepribadian sastrawan akan mengantar 
mereka ke kehidupan nyata meninggalkan kenyamanan menara gading. Keinginan untuk setia 
pada peranan sebagai warga republik berdaulat sastra-seni ini diperlihatkan oleh 
Adrian melalui sanjaknya yang kuanggap padu dan paling berhasil dibandingkan dengan 
sanjak-sanjak sebelumnya. Hasil ini membuktikan kembali kemampuan hukum kuantitas  
melahirkan kualitas, praktek merupakan guru sejati untuk bertahan dan diuji. Sanjak 
Adrian yang kumaksudkan lengkapnya sebagai berikut:


Untuk tuhan

kita telah berkawan dekat
sejak ayah membisikkan namamu di telingaku
untuk meredakan tangis pertamaku

tapi
kau tak pernah menoleh, apalagi menyahut
setiap kali aku memanggilmu, maka kuputuskan 
menulis namamu tanpa huruf besar

kuharap kamu tidak tersinggung

yogyakarta, 27 mei 2004

[Dari: [EMAIL PROTECTED] 
Thursday, May 27, 2004 4:34 AM]


Dengan kata-kata sederhana, Adrian menyimpulkan pengalaman dan menetapkan bagaimana 
menghadapi kehidupan yang garang dengan bersandar pada dua kaki dan tangannya. 
Kesederhanaan sering menyatu dengan kedalaman yang sekaligus mencakup ruang lingkup 
permasalahan hakiki yang saling bertarung di alam pikiran banyak orang dewasa 
ini.Sering artinya tidak selalu. Tapi kesederhanaan ini yang telah dilakukan oleh 
Adrian melalui sanjak di atas. Kesederhanaan orang yang berpikir.  Apa yang 
diungkapkan oleh Adrian melalui sanjak ini, mengingatkan aku pada yang sering 
diuraikan oleh Moh.Arkoun, islamolog Perancis asal Aljazair tentang masalah kebenaran 
dan sumber kebenaran pada abad ke-13, titik awal yang menjadi kunci mengapa Barat 
"berkembang" dan Timur "terbelakang". Dengan sanjak ini agaknya Adrian menempuh jalan 
Averro�s [Ibn Rushd].Masalah besar hakiki universal telah diangkat oleh Adrian dengan 
kesederhanaan puitik melalui sanjak di atas. Dan tanpa keraguan dan kemunafikan, 
Adrian sekaligus telah menetapkan tempatnya berdiri, pilihan yang menunjukkan kadar 
dirinya sebagai warga republik berdaulat sastra-seni. Dilihat secara lebih sempit, 
melalui sanjak di atas, Adrian tidak menyerahkan hidup pribadinya, tidak menumpukan 
nasib tanahair dan bangsanya pada kekuatan gaib yang "tak pernah menoleh apalagi 
menyahut setiap kali aku memanggilmu". Kenyataan demikian membuat Adrian bersikap 
"maka kuputuskan, menulis namamu tanpa huruf besar". "Kuharap kamu tidak tersinggung", 
Adrian mengunci sanjaknya. 

Di atas segalanya, tersinggung atau tidak, kita harus hidup dan menghidupi waktu-waktu 
kita! Mencoba menggantikan airmata dengan candaria tanpa menunggunya setelah ajal dan 
kedatangan malam kehidupan. Duka dan derita sudah terlalu menyinggung anak manusia dan 
memerosotkan martabat anak manusia. Kasus Nirmala Bonat adalah salah satu kemerosotan 
martabat manusia!Siapakah yang menoleh? "Kuharap kamu tidak tersinggung" dengan 
pertanyaan ini. 

Paris, Mei 2004.
--------------
JJ.Kusni  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke