Surat Kembang Kemuning:
PUISI KITA MEMANG MEMERLUKAN KRITIK [Suatu Percobaan Mawas Diri] Tanggal 28 Mei 2004 yang lalu, milis [EMAIL PROTECTED] telah menyiarkan sebuah komentar singkat hanya sebaris dari seseorang yang menyebut diri "akar-rumput bangsa" dan kemudian menandatangani komentar sebaris itu dengan nama "Sekh Zibril" [selanjutnya saya sebut dengan Sekh Zibril. Komentar sebaris yang disampaikan dengan sopan dan nampak berhati-hati itu diperlihatkan oleh empat patah kata pendahuluan: "Maaf ya, jangan tersinggung", menilai "sanjak" ku termasuk sebagai sanjak "jelek" dan "kurang menggugah" .Lengkapnya komentar sebaris , tepatnya tiga baris termasuk tandatangan, Sekh Zibril tersebut adalah sebagai berikut: "Maaf ya, jangan tersinggung, kenapa ya puisi di milis ini selalu jelek-jelek menurut ukuran saya, kurang menggugah. Salam Sekh Zibril" Sebagai salah satu contoh dari puisi "jelek-jelek" dan "kurang menggugah" yang disiarkan oleh [EMAIL PROTECTED] , Sekh Zibril melampirkan sanjakku di bawah ini: MAKA KUCATAT KUNYANYIKAN NAMAMU saban kutelusuri tebing-tebing sungai pada gelombang siang dan malam pada riaknya masih jelas kubaca pada angin katedral turun membelai kata hatimu dalam huruf-huruf besar tertera jelas terukir di tembok-tembok kota dan terdengar padanya pun namamu pun jelas kubaca bisa kueja aksara demi aksara*] tanyakan seine tanyakan montmartre jembatan sembilan tanyakan semuanya yang di paris pahit-getir tak pernah mengobah bahwa dirimu tetap dirimu tak pernah teriming-iming tak pernah tergertak ditakut-takuti oleh security act atau pendekatan keamanan orba cintapun tetap utuh tak terkutik tak tak tergelitik seinci jua tak terbeli benarkah perempuan lebih sanggup jadi manusia? lelaki sering lebih konyol dari perempuan karena itu jangan pernah katakan perempuan itu pengecut lelaki sering lebih pengecut dan munafik terlalu egosentrik kerna ketegangan penis satu dua detik jadi mabuk dan segalanya terlempar suka sekali mengoceh apalagi jika mereka jendral dan presiden pelacur! apakah maknanya? lelaki lebih pelacur dari semua pelacur jenis yang paling pura-pura tak berkebudayaan pastur, pendeta, haji sama saja tak lebih mulia bukan jaminan kemuliaan mereka tak lebih mulia dari perempuan yang dijadikan obyek birahi atas nama kesuciaan selayaknya perempuan setia cinta itu nabi dan malaikat kekasihku abadi yang bertutur terus-terang mencatatnya di tembok-tembok kota di daun-daun menulisnya di awan di permukaan sungai dan di mana saja ia menasehatiku untuk berani tidak munafik untuk berani jadi putera bumi hari ini perempuan dan lelaki cinta dan berahi ditakar dari pada diri bukan pada sebutan atau predikat resmi yang sering hanyalah gantang hampa sarana kejahatan hukum agama tuhan dan dewa malaikat apalagi tentara sering lebih dari pelacur dari pelacur kekuasan sering memerosotkan mari katakan dengan jujur ujar kekasihku dengan siapa aku menyatu menjadi kekasih itu tak gampang menjadi lelaki menjadi perempuan menjadi manusiawi kemuliaan paling mulia sungguh tak sederhana maka ia kubanggakan lebih tak sederhana lebih dari segala lebih dari sebutan lebih dari gelar akademi kekasih abadi dan cinta sejati lebih utama dan langka maka sayang kunyanyikan kucatat namamu kekasih abadi kekasih dan abadi Paris, Mei 2004. --------------------- JJ.Kusni Catatan: *]. Kalimat ini tadinya berbunyi "huruf per huruf". Di sini kukutip lengkap komentar empat kalimat [termasuk tanda tangan] itu dan "sanjak"ku , dengan maksud memudahkan pembicaraan serta berharap bisa membantu pembaca untuk mengikuti pembicaraan. Setelah merenungi isi komentar sebaris di atas maka yang tertangkap padaku yaitu adanya antara lain soal-soal berikut: [1]. tentang masalah kritik dan karya sastra, termasuk puisi; [2]. metode penyimpulan; [3]. standar baik dan jelek; [4]. bersastra untuk apa. [1] .Kritik dan Karya Sastra: Pada titik ini terdapat beberapa anak masalah: [A] fungsi kritik; [B]. bagaimana mengkritik; [C]. menyikapi kritik. 1.A. Fungsi Kritik. Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia [terbitan Departemen Pendidik Dan Kebudayaan & Balai Pustaka, Jakarta, 1988], maka kritik diartikan sebagai "kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dsb". Selanjutnya "Kamus Besar" merumuskan "kritikus" : "orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan [pembahasan] tentang baik buruknya sesuatu" [hlm.466]. Ketika berbicara soal "baik buruk" artinya kita sampai pada soal masalah kriteria: "ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu" [hlm. 466]. Dengan kriterium inilah barangkali kritik bertujuan menempatkan sesuatu yang dikritik pada alur semestinya sesuai kriterium. Atas dasar kriterium ini pula maka apresiasi dilakukan dan dikembangkan ke jurusan sesuai kriterium. Kriterium juga digunakan untuk memberikan penilaian baik atau buruk. Dengan demikian, sesungguhnya baik, buruk atau jelek dan kata sifat lainnya, tidak berbeda dari kritik. Karena itu kritikus atau penilai yang serius, selayaknya memberikan penjelasan dasar-dasar kriterium yang dia gunakan. Kriterium yang juga berlaku terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan pandangan ini maka ketika seorang seorang kritikus atau penilai mengetengahkan kritiknya, ia sekaligus mengemukakan patokan-patokan untuk menilai dirinya sendiri. Pada saat pengkritik [kritikus] atau penilai, melangkah lebih lanjut dan lebih jauh dari keumuman maka dengan langkah ini kritikus mencoba menawarkan ide-ide terobosan. Bisa terjadi antara kritikus dan yang dikritik terdapat kesejajaran alur kriterium, dan dalam hal ini kritik berfungsi lebih memberikan penjelasan tukikan lengkap dengan latar sejarah pikiran dan orang yang dikritik untuk lebih memperjelaskan masalah. Karena alur pikiran tertentu biasanya tidak mengawang tapi terletak pada latar sejarah sosial dan kejadian tertentu. Kriterium dan kriterium itu sendiri tidak bebas dari perdebatan dan terbuka bagi perdebatan. Sehingga dengan ini kritik pun berada dijalur yang tak bebas dari subyektivisme. Kriterium adalah nilai tertentu yang dianut oleh seseorang. Nilai adalah majemuk dan umumnya bertautan dengan keadaan sosial tertentu di mana kritikus itu berada. Kritikus dan yang dikritik , katakanlah penulis, yang jujur, sesungguhnya sama-sama mencoba menggali dan mengangkat hakekat dan yang benar. Membedakannya dengan yang salah.Bisa terjadi yang tidak dilihat oleh yang seorang, akan dilihat oleh yang lain. Sehingga kedua-duanya saling melengkapi dalam usaha memperoleh keutuhan hakekat. Yang seorang melihat dari barat, sedangkan yang lain melihatnya dari timur. Yang seorang melihatnya dari kanan sedang yang lain melihat dari kiri. Dan seterusnya. Sehingga dengan demikian suatu obyek yang sama dilihat dari berbagai segi dan memungkinkan kita memperoleh gambaran relatif utuh tentang obyek tersebut. Dari segi ini maka kritik atau penilaian berfungsi sangat positif bahkan sangat bermanfaat dalam usaha memperoleh gambaran utuh tentang suatu obyek dan bisa dipandang sebagai bagian dari epistemologi pengetahuan dan tidak ada alasan apapun bagi yang dikritik atau dinilai untuk merasa tersinggung. Jika tersinggung karena kritik, atau khawatir menyinggung orang lain ketika menyampaikan kritik, agaknya kekhawatiran dan sikap ini mencerminkan keraguan tentang arti dan fungsi kritik. Sudut pandang dalam melihat sebuah obyek membuat kriterium yang digunakan pun berbeda. "Mengggugah" atau "tidak menggugah" " ...poem that moves you." Puisi yang membakar! Puisi yang menyalakan semangat! Puisi yang membangkitkan amarah!" "....poem that touches you in the heart." Puisi yang menyentuh hati. Puisi yang melembutkan perasaan. Puisi yang membuat orang menitikkan air mata", "......poem that widens your horizon." Puisi yang membuka cakrawala. Puisi yang mencerdaskan. Puisi yang membawa pencerahan", ""...poem that takes you into it." "Puisi yang membuat pembacanya merasa menjadi bagian dari puisi itu. Puisi yang secara pas --meskipun mungkin hanya kebetulan belaka-- merefleksikan perasaan dan pikiran pembacanya" termasuk beberapa kriteria yang bersifat "kegunaan". Tapi kegunaan hanyalah salah satu sisi saja dari puisi, terutama fungsi puisi bukan puisi itu secara keseluruhan. Secara keseluruhan, puisi mengandung unsur-unsur lain di samping faktor kegunaan. Melihat puisi hanya dari kegunaan barangkali menempatkan puisi pada ruang yang sangat minim. Kritik atau penilaian yang serius selayaknya memperhitungkan unsur-unsur puisi secara utuh sebagai puisi. Tapi betapapun minimnya suatu kritik atau penilaian, layak selalu diperhatikan sebagai alat memeriksa diri, dan dengan sikap inilah aku menyambut kritik atau penilaian Sekh Zibril. Aku mencoba sebisa mungkin untuk menangkap inti pendapatnya dengan berpatokan pada sikap bahwa "yang berkata tidak berdosa, yang mendengar patut waspada". [Bersambung.....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

