Surat Kembang Kemuning:

TENTANG ANTI PUISI NICANOR PARRA


"Tak terbantahkan bahwa Nicanor Parra yang penyair dan ahli matematika itu merupakan 
salah seorang jago lirisme Chili", demikian penilaian Jean-Claude Masson dari majalah 
budaya Perancis, L'Esprit, Paris [Juli 1986]. Sekalipun demikian, penyair yang lahir 
di Chilan pada tahun 1914 ini , di  Perancis sendiri kurang begitu dikenal, berbeda 
dengan kedudukannya di negeri-negeri Anglo-Saxon. Jean-Claude Masson yang 
memperkenalkan Parra di Perancis, hanya mempunyai  sebuah kumpulan puisinya edisi 
Inggris berjudul "Poems and Antipoems" [New York, NDB, 1965] yang diterjemahkan oleh 
Allen Ginsberg, Lawrence Ferlinghetti, Denise Levertov, James Laughin, Thomas Merton, 
William Carlos Williams...  

Aku sendiri tidak tahu, apakah jago lirik ini dikenal juga di Indonesia. Sepanjang 
bolak-balik Indonesia dan masuk-keluar perpustakaan serta tokobuku-tokobuku berbagai 
kota, tak pernah sekalipun kutemukan karya Parra di rak-rak baik dalam edisi asing 
ataupun edisi terjemahan. Tapi tidak atau  belum kutemukan, tidak memastikan bahwa 
karya Parra tidak ada dan tidak dikenal di Indonesia. 

Lepas dari setuju atau tidak setuju, bagiku Parra merupakan tokoh penyair dunia yang 
menarik karena perumusannya tentang seni puisinya. Pandangannya tentang seni puisinya, 
kupandang sebagai geliat tak kenal henti dari pencarian penyair dalam berkarya. Geliat 
yang memperlihatkan dinamika serta kegelisahan seniman yang memberikannya tanda 
kehidupan sebagai penyair.  Geliat pencarian tak kenal henti ini pulalah yang 
memungkinkan penyair bergerak tanpa rambu mencari jawab, memungkinkannya mengisi 
ruang-ruang kosong, menambah khazanah isi gudang budaya anak manusia. 

Apa yang dimaksudkan oleh Nicanor Parra dengan "anti puisi"? Hal ini ia jelaskan dalam 
bentuk sebuah Manifesto berbentuk puisi yang intinya bahwa "Anutan kita lain dari yang 
lain/bahasa semua sehari-hari/kita tak lagi mempercayai tanda-tanda kegaiban". Di 
bagian lain dari Manifesto itu, Parra mengatakan bahwa ia : "Melawan puisi 
sadar/Menentang puisi tanggapan/Menolak puisi proletar".   Dengan pandangan ini Parra 
menggantungkan diri pada lirisme tulen, menempatkan puisi indah dan revolusi pada 
kedudukan yang bertolak-belakang. Kecuali itu, Nicanor Parra juga tidak mengenal yang 
disebut menara gading, benteng ideologi, kebencian atau pun misi suci  massa. Demikian 
pun baginya, Odi profanum vulgus sama asingnya dengan sastra berpihak, karena bagi 
Nicanor Parra, ia tidak menyatakan pemihakan kepada apa dan siapapun. Apa yang 
dilakukannya adalah penyataan dirinya sendiri sebagai reaksi penyelamatan [r�action  
salutaire] karena menurut Parra, "puisi mempunyai tempatnya sendiri." 

Apakah dengan demikian Parra adalah seorang pembelot sosial  yang berlindung pada 
kesenian, seseorang yang menari di ujung kehancuran dengan keseniannya yang 
memusingkan? Aku kira juga tidak. Parra bukanlah pembelot sosial. Sikap berkeseniannya 
barangkali bisa dijelaskan dengan kata-kata Angelus Silesius bahwa "mawar adalah 
sesuatu yang tanpa mengapa"; "ia berbunga karena harus berbunga". Paralel dengan 
pandangan Angelus Silesius ini adalah ucapan penyair kekinian Perancis, Ren� Char: 
"Tak seekor burung pun yang suka bersenandung di semak-belukar hingar tanya".

Barangkali Angelus Silesius dan Ren� Char di atas sekalipun hidup pada zaman dan benua 
berbeda bisa menjelaskan sikap "antipuisi" Nicanor Parra yang sekaligus menunjukkan 
bahwa puisi adalah bahasa tembus zaman dan perbatasan.   Barangkali! Guna memahami 
"antipuisi" Nicanor Parra, aku sertakan di sini beberapa puisinya yang dia katakan 
sebagai "antipuisi". Sedangkan "Surat Kembang Kemuning" ini tidak lebih dari sejumlah 
baris-baris  pembuka guna menggelitik dan menggeliatkan rasa ingin tahu para pencari 
dan penanya. 

Paris, Juni 2004.
---------------
JJ.KUSNI



SANJAK-SANJAK NICANOR PARRA:



NASIB

Nasib tidak tersenyum pada yang mencarinya:
Lembar mungil daun laurus ini
Telah tiba bersama tahun-tahun yang kasep.
Pada saat aku mengincar mencoba
Untuk dicintai 
Oleh seorang perempuan berbibir ungu
Yang saban itu saban pula ia menolakku
Dan sekarang ia diberikan kepadaku ketika aku  sudah jompo.
Sekarang  ia tak punya lagi arti kepadaku.

Sekarang ia tak punya lagi arti kepadaku
Kehadapanku ia tiba
Sedikit 
serupa 
   satu sekop
          pasir 
            bagi bumi... 



PENGEMIS

Kita tidak bisa hidup di kota
Tanpa suatu kerja yang dipandang:
Polisi menjaga undang-undang.

  Sementara ada yang menjadi tentara
Mereka mengucurkan darah untuk bumipersada
[Semua ini terletak di antara tanda kutip belaka]
Sedangkan yang lain menjadi pedagang, penuh tipu
Yang menambahkan satu 
dua atau tiga gram pada saban kilo prun jualannya.

   Dan yang lain yang di sana adalah para pastur
Yang ke mana-mana berjalan dengan buku di tangan.

  Masing-masing tahu pekerjaannya.
Menurut kau apa gerangan profesiku?

Menyanyi
  sambil memandang jendela terkunci.



BENCAK-BENCAK DI  ATAS TEMBOK


Sebelum Malam Raya runtuh
Kita menghitung bencak-bencak di atas tembok:
Ada yang mengumpulkan tanaman
Yang lain mengamat hewan-hewan kuna.

Kuda,
   naga, 
     kadal-kadal.
Tapi yang paling ajaib dari segala
Adalah mereka yang mengumpulkan pecahan ledakan atom.

  Di layar besar tembok 
Jiwa menangkap yang terlihat mata:
Para lelaki berjongkok
Para ibu menggendong anak-anaknya
Monumen-monumen para penunggang kuda
Para pendeta mengangkat hosti:

   Seks-seks yang bersatu
   Tapi yang paling istimewa  dari segala
Tidak lain 
   adalah
Mereka  yang mengumpulkan pecahan ledakan atom.



[Dari: Antologi "Antipoemas Antologia [1944-1969]", Barcelona, Seix Barral, 1972].
Alihbahasa: JJ. Kusni     






        di 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke