Antara "Guru" Hindu dan Kiyai
Oleh: Zamhasari Jamil
Beberapa hari yang lalu, rekan-rekan mahasiswa di PPI India mendapat tawaran dari
Bapak Suhadi M Salam yang memang sudah di rekomendasikan oleh Bapak Duta Besar RI di
India untuk mengikuti Konferensi yang bertajuk "Interaksi dan Pemberkahan Bersama Sri
Jayendra Saraswati Swamiji" yang diadakan pada petang tadi (2/5) di India
International Centre, New Delhi. Bersama sdr. Rizqan Khamami dan sdr. Muchlis Zamzami,
sayapun turut menyertai menghadiri konferensi yang dihadiri oleh seluruh Duta Besar
setiap negara terutama negara-negara Muslim serta beberapa orang bekas menteri India
dan sebagian peserta konferensi lainnya adalah para professor dan guru besar dari
universitas-universitas terkemuka di India.
Saya tak hendak menceritakan isi dari konferensi itu, tapi saya hanya ingin berkisah
tentang "gaya" yang diperlihatkan oleh Sri Jayendra Saraswati Swamiji itu sendiri.
Sebagai seorang Muslim tentu saja saya siap "membaca" Sri Jayendra Saraswati Swamiji
dengan "cara" saya, dan bila mana sekiranya saya berada pada posisi sebagai seorang
penganut Hindu, saya tak akan berani berkisah sedikitpun ttg Sri Jayendra Saraswati
Swamiji ini, sebab beliau ini adalah seorang "dewa" yang selalu dielu-elukan dan
keberkahan darinya adalah merupakan sesuatu yang sangat dinantikan oleh semua umat
Hindu ini.
Pertama, Sri Jayendra Saraswati Swamiji menempati posisi duduk diatas meja dimana para
Duta Besar, bekas menteri, guru besar dan professor lainnya dan kita-kita yang turut
hadir disitu duduk diatas kursi seperti layaknya. Dan di sini jelas bahwa dari posisi
tempat duduk saja kita yang hadir memang sudah "digiring" untuk tetap berada pada
posisi "dibawah" Sri Jayendra Saraswati Swamiji tersebut. Bapak Suhadi M Salam yang
sudah sempat lima kali (termasuk yang tadi) bertemu dengan Sri Jayendra Saraswati
Swamiji tadi sempat mengatakan bahwa Sri Jayendra Saraswati Swamiji ini bukan hanya
sebagai "guru" di India, tapi juga sebagai seorang "guru" di Indonesia, sebab walau
bagaimanapun bahwa keberadaan Hindu di Bali memiliki kaitan yang sangat erat sekali dg
Hindu di India, dan boleh dikatakan bahwa Hindu yang "sebenarnya" adalah Hindu Bali.
Dari sekian banyak peserta yang hadir, saya hanya melihat Duta Besar Afghanistan yang
berani "lancang" melemparkan pertanyaan yang saya kira cukup "menohok" Sri Jayendra
Saraswati Swamiji tersebut. Pertanyaannya yang pertama adalah: How did you become a
spritual guru? Menghadapi pertanyaan ini Sri Jayendra Saraswati Swamiji dengan santai
tapi pasti mengatakan bahwa setiap manusia itu memiliki "bawaan" spiritual yang bisa
dibentuk melalui bimbingan guru dan adakalanya juga langsung dibimbing oleh "Tuhan",
dan ini yang lebih mantap. Dan Sri Jayendra Saraswati Swamiji ini adalah seorang guru
spiritual yang "dibentuk" melalui bimbingan guru-gurunya terdahulu, makanya beliau
tidak "sesakti" guru-guru sebelumnya.
Kedua, tidak semua orang bisa menyalaminya kecuali orang-orang yang memang sudah
pantas di "hadapan"nya lah yang bisa dapat menyalaminya dan menikmati usapan kepala
oleh tangan berkahnya tersebut. Ketiga, Sri Jayendra Saraswati Swamiji ini selalu
mengedepankan yang namanya perdamaian, makanya tidak heran bahwa jarak antara Temple
atau Candi tempatnya melakukan pemujaan-pemujaan dengan Mesjid di Chennai itu hanya
lima meter saja. Aman dan tidak ada keributan sama sekali.
Apa yang saya lihat tersebut ingin saya komparasikan dengan "gaya" yang diperlihatkan
oleh para kiyai kita di Indonesia. Dalam pandangan saya, bahwa dari segi tempat duduk
saja, Sri Jayendra Saraswati Swamiji telah "memaksa" orang lain untuk menempatkan diri
pada posisi "dibawah"nya. Dan inilah kebiasaan "buruk" yang diperlihatkan oleh para
kiyai-kiyai di Indonesia yang seolah-olah "memaksa" orang lain secara tidak langsung
untuk mencium tangannya bila menyalaminya. Dan secara bersamaan dengan itu, isu-isu
kualat adalah "senjata" yang paling ampuh bagi seorang kiyai untuk "menundukkan" para
jamaahnya.
Mari kita saksikan praktek seorang Gusdur, kiyai yang berhasil menggiring banyak umat
manusia untuk bertindak sesuai dengan kehendaknya. Makanya tidak heran, bila "A" kata
Gusdur, maka "A" lah kata pengikut setianya, terutama warga NU yang tahunya hanya
manut-manut saja. Dan yang sangat menyedihkan adalah bila warga NU mengikuti semua apa
yang dikatakan Gusdur walaupun itu hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi Gusdur
saja. Hal yang semacam ini bisa terjadi dikarenakan di lingkungan NU tersebut telah
berkembang istilah "kualat" bila tak mengikuti kata kiyai. Apalagi bila yang berkata
atau yang memerintahan itu adalah kiyai khos. Entah apanya yang khos, wallahua'lam.
Selanjutnya, yang membedakan antara guru Sri Jayendra Saraswati Swamiji ini dengan
kiyai-kiyai di Indonesia adalah bahwa guru Sri Jayendra Saraswati Swamiji ini memiliki
tingkat solidaritas sosial yang cukup tinggi. Meskipun di India, umat Hindu telah
"digiring" untuk "menyembahnya", dan kelihatannya Sri Jayendra Saraswati Swamiji ini
juga menikmati perlakuan yang ditunjukkan oleh umat Hindu tersebut, akan tetapi
semuanya itu tidaklah menyebabkan ia larut dan lupa diri serta terbuai dengan
sanjungan-sanjungan umat Hindu itu. Hal ini dapat ia buktikan dengan banyaknya
lembaga-lembaga sosial yang dibangunnya, seperti rumah sakit yang bebas biaya, sarana
pendidikan mulai dari tingkat elementary hingga perguruan tinggi. Dan setahu saya,
hal-hal yangsemacam ini masih langka dikerjakan oleh para kiyai kita di Indonesia.
Bahkan yang terjadi adalah banyaknya para kiyai yang kadangkala menggunakan
kekiyaiannya tersebut untuk mengunpulkan keuntungan buat dirinya pribadi.
Fenomena yang sudah merata dan sering kita lihat di lingkungan masyarakat kita adalah
banyaknya para kiyai atau para habib yang mendatangi rumah-rumah masyarakat untuk
memungut zakat yang kabarnya hanya diperuntukkan buat dirinya semata. Dan pemandangan
yang semacam ini akan sering terlihat di daerah Jawa sana. Makanya tidak heran bila
ada yang menyebut kelompok kiyai-kiyai atau habib-habib yang semacam ini sebagai
"pengemis sarungan yang berdasi".
Suasana kebersamaan yang diperlihatkan dalam konferensi tadi, menurut Bapak Suhadi M
Salam telah membuktikan bahwa benarlah Allah SWT itu maha mulia dan maha besar.
Bagaimana tidak, Allah juga telah memperlihatkan sifat Ar-Rahiem-Nya dengan menjadikan
seorang Sri Jayendra Saraswati Swamiji yang beragama Hindu memiliki kharismatik yang
cukup tinggi di hadapan umat Hindu sedunia. Dengan demikian, benarlah bahwa Allah SWT
tersebut Robbul 'Alamin (Tuhan seluruh alam) dan bukan hanya sekedar Robbul Muslimin
(Tuhan kaum Muslimin semata). Salah seorang diplomat Cambodia menyebutkan bahwa
negaranya yang sekuler itu meskipun sebagaian besar penduduknya beragama Budha, tapi
dalam praktek pemujaan terhadap para dewa, umat Budha Cambodia telah mengadopsi
praktek pemujaan seperti agama Hindu India. Sehingga wajar saja bila Sri Jayendra
Saraswati Swamiji ini juga menjadi begitu terpandang di mata diplomat Cambodia ini.
Seperti yang biasa terjadi dilingkungan para kiyai di Indonesia, meskipun ia sendiri
tak memperlihatkan "kemewahan"nya, tapi orang-orang disekitarnya: isterinya dan
anak-anaknya senantiasa selalu tampil kren dan tetap mengedepankan mode dan style.
Begitu pulalah yang saya tangkap dari gaya yang diperlihatkan oleh Sri Jayendra
Saraswati Swamiji ini. Walaupun ia sendiri berpenampilan sederhana, tapi orang-orang
yang disekitarnya itu cukup kren dan modern. Namun pemandangan yang semacam ini
menurut saya masih wajar dan itu sudah merupakan ciri khas yang namanya manusia untuk
selalu tampil kren dan gaya.
Sungguh pun demikian, saya tetap menghormati Sri Jayendra Saraswati Swamiji sebagai
seorang manusia biasa, bukan dewa apalagi tuhan. Penghormatan saya kepadanya tak lebih
karena jasa-jasa sosial yang telah ia bangun untuk mensejahterakan bangsanya dengan
memanfaatkan "kekiyaian"nya tersebut. Dan Insya Allah besok hari (3/6) beliau akan
hadir di Kedutaan Besar RI di New Delhi untuk beramah tamah dengan masyarakat
Indonesia di India.
*) Pensyarah adalah pelajar yang imut-imut dan shalih sekaligus merupakan dambaan dan
idaman bagi setiap cewek-cewek yang melihatnya; bermastautin di India.
Zamhasari Jamil
Pelajar Islamic Studies
Jamia Millia Islamia, New Delhi, India
Website: http://jmi.nic.in
Website KBRI: http://www.kbri-newdelhi.org
Yahoo! India Matrimony: Find your partner online.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/