Singapura Memang Negeri Singa Oleh : Eki Syachrudin
Dalam sebuah seminar bertema ASEAN's Dispute Settlement di Kedutaan Besar Republika Indonesia (KBRI) Ottawa, Kanada, Jumat, 28 Mei, Dirjen Kerja Sama Internasional Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Dr Pos Hutabarat menyebutkan bahwa Singapura adalah sebuah negri 'super' dibanding tetangga-tetangganya di ASEAN. Betapa tidak, volume perdagangannya (ekspor-impor) bernilai 270 miliar dolar AS, sementara Indonesia baru mencapai 70 juta dolar AS, padahal jumlah penduduk Singapura hanyalah 4 juta orang, sedangkan Indonesia berpenduduk hampir 50 kali lipat Singapura, yaitu 214 juta jiwa. Adapun luas wilayah Singapura hanyalah 639 km persegi atau satu per 3.300 kali Indonesia (luas Indonesia 1,9 juta km persegi). Dilihat dari ukuran GDP per kapita, Indonesia 720 dolar AS, sementara Singapura sudah mencapai 23 ribu dolar AS (atau 32 kali Indonesia). Orang-orang KBRI Ottawa menyebut Singapurta itu memang betul-betul sebuah negeri yang hebat, 'Negeri Singa'. Mendapat penilaian tersebut Dr Pos Hutabarat agak kurang menyetujui, sebab keperkasaan negeri sekecil Singapura itu mendapat bantuan penuh dari Amerika, sementara Indonesia belum. Begitu juga negeri-negeri serumpun di 10 anggota ASEAN, belum satu pun yang mendapat perlakuan istimewa seperti Singapura. Bayangkan, katanya, seluruh jenis komiditi ekspor Singapura yang bernomenklatur sejumlah 7.000 mata dagangan itu, tak satu pun yang kena beban pajak impor, artinya bebas masuk. Ini karena kedua negara tersebut sudah menandatangani FTA (Free Trade Area). Sementara Indonesia bila mengekpor barang-barang ke Amerika, dikenakan bea masuk yang berkisar antara 5 sampai dengan 30 persen. Barang-barang elektronika Indonesia, kata Dr Pos Hutabarat, harus membayar pajak masuk sampai dengan sebesar 30 persen, sementara Singapura 0 persen. Ketika ditanya mengapa Singapura bisa mengekspor jenis-jenis komoditi yang demikian banyak, Pos Hutabarat menjelaskan bahwa untuk satu jenis komoditi elektronika saja, bisa terdiri dari puluhan bahkan ratusan nomenklatur, seperti TV katanya, bisa terdiri dari pelbagai ukuran, tipe, warna. Begitu juga komputer, radio, telepon, lampu, dan sebagainya. Semua jenis dan sub-jenis elektronika itu bisa mencapai 400-an [nomenklatur]. Agar jelas, kata Pos Hutabarat, satu jenis mata dagangan seperti beras bisa terdiri dari banyak jenis, seperti beras ketan, ketan putih, ketan hitam, kemudian yang non-ketan, ada beras cianjur, rajalele dan sebagainya. Apalagi jika dilihat dari sisi ukuran broken (taraf kepatahan ujung beras) dan warnanya. Maka, dari satu komoditi beras bisa terdiri dari 20-an nomenklatur. Menurut catatan Atase Perdagangan di KBRI Ottawa, Dharma Budhi SE MBA, Indonesia sampai saat ini telah mengekspor bermacam-macam komoditi, seperti pakaian jadi, aneka jenis tekstil, karet alam, barang-barang dari karet, elektreonika, furniture, udang, aneka ikan, bahan-bahan makanan seperti mi instan yang secara keseluruhan mencapai 1.570 nomenklatur dengan nilai (ekspor-impor) sebanyak 1,2 miliar dolar AS per tahun. Sedangkan ekspor Indonesia ke Amerika, kata Pos Hutabarat, berkisar 8 miliar dolar AS. Ketika menyinggung soal potensi konflik dagang antara Indonesia dan Amerika, seperti soal paha ayam, Pos Hutabarat menyebutkan, Indonesia telah meminta fasilitas yang sama seperti Singapura bagi P Batam, yaitu soal bebas bea masuk, sebagai imbalan paha ayam yang diributkan tempo hari. Amerika menyetujui, katanya, dengan syarat perusahaan yang beroperasi di P Batam itu harus dimiliki oleh Singapura. Bila perusahan itu dimilki oleh Indonesia, maka barang-barang yang diolah dari P Batam itu harus membayar bea masuk ke Amerika dengan tarif sebesar 5-30 persen, tergantung jenis barang yang diekspor. Kerena Amerika menolak usulan Indonesia tentang fasilitas yang kita minta untuk P Batam agar disamakan dengan Singapura, maka konflik Indonesia-Amerika belum terselesaikan. Adapun mengenai konflik perdagangan di antara sesama negeri ASEAN, diharapkan pada tahun 2020 diselesaikan melalui penerapan FTA (Free Trade Area) di kawasan mereka. Dengan demikian perdagangan sesama ASEAN tak akan dikenakan bea masuk lagi atau nol persen. Negara-negara ASEAN sering menghadapi dispute (pertengkaran) terutama untuk jenis-jenis barang yang menjadi andalan mereka masing-masing. Seperti Thailand ingin melindungi petani kopi mereka dari kopi Indonesia dan Vietnam dengan cara menetapkan tarif masuk kopi ke Thailand yg besar, sehinghga Indonesia dan Vietnam kesulitan memasarkan kopi ke negeri gajah tersebut. Alasan mereka, kata Pos Hutabarat, kalau petani kopi Thailand bangkrut mereka terpaksa akan memanam ganja. Padahal jenis tanaman ini sangat membahayakan generasi muda bangsa-bangsa ASEAN. Mendengar alasan tersebut terpaksalah negeri ASEAN yang lain mengikutinya, demikian penjelasan Pos Hutabarat. Sebaliknya Indonesia harus melindungi petani tebunya, karena itu tarif gula ke Indonesia terpaksa harus ditingkatkan. Malaysia harus melindungi industri otomotifnya, Indonessia harus melindungi petani padi, Filipina melindungi industri elektronika. Dalam hal minyak kebanyakan negeri ASEAN selain Indonesia, Brunei dan Malaysia, sangat memerlukan. Dan mekanisme penyelarasan pebedaan kepentingan tersebut terpaksa ditempuh melalui instrumen ''penyelundupan'', begitu kesimpulan seminar. Dalam keadaan yang masih penuh aneka perbedaan kepentingan itu, Singaputa keluar sebagai yang paling unggul, mungkin kata Pos Hutabarat, kerena mekanisme penyelundupan itu. Hal ini terbukti banyak sekali data-data perdagangan Indonesia-Singapura sampai hari ini masih banyak yang unrecorded. Selain itu, kata Pos Hutabarat, juga atau terutama karena dibantu oleh Superpower Amerika. Jadi kesimpulannya, Singapura itu belum tentu hebat betul, bila kedua kondisi tersebut tak dipenuhi. Mengenai keperkasaan Singapura, Atase Perhubungan Udara RI di ICAO (International Civil Aviation Organization) yang bermarkas di Montreal, Kanada, Yusuf Syiun menyebutkan bahwa negeri yang berluas hanya 600-an km persegi tersebut, ternyata diserahi wewenang untuk mengawasi wilayah udara Nusantara, padahal pesawat-pesawat mereka, begitu take-off ia sudah memasuki wilayah Indonesia, kata pejabat yang berasal dari P Sabu di dekat P Sumbawa itu. Saya pernah mendengar kedahsyatan negeri singa itu dari Atase Pertahanan Udara Indonesia di Washington yang mengatakan, ketika ia masih menjadi komandan skuadron udara di pangkalan Madiun, suatu ketika mendapat printah dari Komando Pertahanan Udara Nasional untuk segera melesat ke udara, sebab pada radar di Markas Besar TNI, terlihat bahwa di atas P Bangka dan Belitung terlihat bercak-bercak tanda pesawat tempur asing (mungkin Australia). Begitu sang kapten kapal tersebut memasuki wilayah udara Palembang, tiba-tiba ada perintah dari Singapura untuk lapor tentang keberdaan pesawat pancar-gas TNI AU tersebut ketika mereka berada di atas wilayah udaranya sendiri. ''Opo ora heibat, Mas,'' katanya berseloroh kepada saya. Memang Singapura adalah negeri singa. Kita negeri apa? Dubes RI di Ottawa, Kanada (Republika, 4 Mei 2004) http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=162694&kat_id=16 __________________________________ Do you Yahoo!? Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger. http://messenger.yahoo.com/ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

