Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ketika 25 orang kiyai NU seperti yang diberitakan oleh Riau Pos (4/6) dimana para kiyai tersebut telah bersepakat untuk menolak kepemimpinan wanita, maka pikiran saya pun langsung beterbangan kemana-mana. Sebagian pikiran saya langsung "menjumpai" Solahuddin Wahid untuk memberikan "ucapan selamat", karena fatwa kiyai-kiyai NU (bukan ulama) tersebut telah membuka chance yang besar untuk meraih suara PKB yang NU. Pada kesempatan yang sama, pikiran saya juga langsung "menemui" Hasyim Muzadi, tujuannya sama: memberikan "ucapan selamat", dimana fatwa dari 25 orang kiyai tersebut juga akan menggiring pecahan-pecahan suara NU yang bukan PKB. Ketika para kiyai telah bergelut dan bergelimang dengan arus perpolitikan baik secara langsung ataupun tidak langsung, maka di saat yang sama, umat akan bingung dibuatnya. Sejak kran demokrasi yang tersumbat di masa Suharto tersebut dibuka dan setiap manusia Indonesia memiliki hak untuk bersuara, maka di saat yang sama umat pun semakin bingung untuk membedakan mana "kiyai yang ulama" dan mana "ulama yang kiyai". Salam Rindu, TZR, M.A. Philosophy and Religion Madurai Kamaraj University, Palkalai Nagar Madurai - India 625021 Website: http://www.mkuniversity.org [EMAIL PROTECTED] wrote: Perjuangan perempuan Indonesia bagi pergerakan bangsanya telah terpinggirkan ke sudut paling gelap. Para perempuan Indonesia, Megawati Soekarnoputri, Rugayah Wiranto, Koes Amien Rais hingga Kristiani Yudhoyono seolah dinafikan dari panggung utama, bahkan dipersilakan terpuruk menjauh ke sudut terdalam lemari pakaiannya untuk mencari selendang. Sebuah fakta sejarah, bahwa Indonesia hari ini memang berada dalam kegelapan. Dari Redaksi WM dot com: Refleksi keterpurukan peran perempuan pada pemilihan presiden Indonesia 2004 Sehelai Kerudung dalam Pemilihan Presiden Indonesia Tujuhpuluhenam tahun sudah berlalu dari Kongres Perempoean Indonesia yang kelak dikenal sebagai Hari Ibu. Lalu, apakah yang sudah diraih perempuan Indonesia kini? Apa yang akan kita sampaikan pada para ibunda kita yang pada 28 Desember 1928 telah mencanangan pergerakan perempuan Indonesia pada masalah publik, utamanya politik berbangsa dan bernegara, dan dicatat sebagai bukti dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari pergerakan pemerdekaan negeri ini? Sia-siakah tinta emas sejarah yang dengan jernih mencatat kongres tersebut sebagai formalisasi dan tindak lanjut dari perjuangan para wanita perkasa pendahulu seperti Tjoet Nja' Dien, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, hingga Nyi Ageng Serang,-- namanya memang berasal dari kata kerja "serang", segarang kegigihan perlawanan Nyi Ageng pada penjajahnya-itu ?. Indonesia 2004 nampaknya sudah berhasil menangguk buah sejarah tersebut dengan terpilihnya seorang perempuan yang menjadi presiden di republik ini. Sayang sekali, keberhasilan tersebut hanyalah sebuah pencapaian yang semu dan cenderung menipu. Megawati Soekarnoputri, walau memenangkan pemilu 1999 dipresidenkan dengan setengah hati oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang kala itu memilih calon Asal Bukan Mega yakni KH Abdurrahman Wahid. Ketika MPR kemudian diberitakan kecewa pada sikap one man show Gus Dur, terpaksalah mereka mengangkat sang wakil presiden, Megawati yang seorang perempuan, untuk menjadi presiden. Lantas, ketua umum Partai Persatuan Pembangunan--sebuah partai politik yang pada kampanye pemilu 1999 sangat getol mengusung fatwa mazhab Syafii yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin-ternyata sama sekali tidak menyampaikan keberatannya untuk diangkat menjadi wakil presiden dari seorang perempuan presiden. Bagaimana pun, sejarah telanjur mencatat bahwa para wakil rakyat lebih memilih menyerang seorang kandidat dari jenis kelaminnya ketimbang parameter ideologis (partai santri vs partai abangan) atau profesionalitasnya (partai orang kampus vs partai wong cilik). Sungguh menyedihkan bahwa praktek politik yang memalukan ini masih terjadi pada Pemilu 2004. Meski pun beberapa fakta di lapangan dapat menjadi acuan jelas bagaimana pentingnya kecakapan dan profesionalitas dalam diri seorang pemimpin, namun para lawan politik Megawati lagi-lagi memilih pendekatan misogini untuk menyerangnya. Kubu Golkar dan PKB (melalui Kyai Abdullah Faqih) memilih menjatuhkan bom fatwa haram untuk memilih perempuan menjadi presiden. Setali tiga uang, PPP (melalui KH Alawy Muhamad di kediaman wapres Hamzah Haz) pun mengacungkan tuduhan "Tidak islami" ini. Permainan politik yang meminggirkan kaum perempuan ternyata terus terjadi, dan nyaris menyerang semua kandidat presiden. Sebuah berita yang dilansir Detikcom pada 1 Juni 2004 mengabarkan bahwa Partai Keadilan Sejahtera memperdebatkan kesalehan para calon presiden melalui para wanita pendamping hidupnya. Lebih dahsyat pula, yang dipersoalkan adalah busana sang pendamping itu. "Istri Wiranto jilbabnya lebih rapat dibanding Ibu Amien. Itu sudah jelas," tulis Detikcom mengutip seorang pejabat partai itu. Agenda politik yang menjadikan kaum perempuan sebagai dekorasi semata ketimbang individu pemeran girah politik negeri ini juga terjadi pada parseteruan partai Demokrat vs Golkar Baru. Laporan majalah Tempo pada awal April menyebutkan terjadinya perdebatan yang mengunggulkan kubu Wiranto sebagai calon presiden yang dianggap lebih baik karena beristrikan seorang putri pemilik pesantren, mengalahkan kubu Susilo Bambang Yudhoyono yang beristrikan anak jenderal Sarwo Edi Wibowo bernama! Ny Kristiani. Dalam diskusi pada berbagai mailing list belakangan ini bahkan mengemuka tuduhan bahwa alasan kepergian Susilo Bambang Yudhoyono menunaikan umroh beberapa waktu lalu adalah karena seorang perempuan, yakni istrinya yang kebetulan bernama Kristiani itu. Dipercaya bahwa Yudhoyono sekeluarga melakukan umroh untuk menggarisbawahi keislaman istrinya. Semua ilustrasi tadi adalah fakta sejarah, yang kali ini tidak lagi ditulis dengan tinta emas; betapa perjuangan perempuan Indonesia bagi pergerakan bangsanya telah terpinggirkan ke sudut paling gelap. Para perempuan Indonesia kini; Megawati Soekarnoputri,Rugayah Wiranto, Koes Amien Rais hingga Kristiani Yudhoyono seolah dinafikan dari panggung utama, bahkan dipersilakan terpuruk menjauh ke sudut terdalam lemari pakaiannya untuk mencari selendang. Sebuah fakta sejarah, bahwa Indonesia hari ini memang berada dalam kegelapan. (rita) Jakarta 4 Juni 2004 http://www.wanita-muslimah.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=162&mode=thread&order=0&thold=0Indiatimes Email now powered by APIC Advantage. Help! HelpClick on the image to chat with me [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

