Surat Kembang Kemuning:

"UKURAN SAYA" DAN KRITIK SASTRA

[Dengan Terimakasih Kepada Cypseline Alias Hendri] 


Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Saudara Cypseline alias Hendri yang 
sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya dan sekaligus memberikan tanggapan yang 
membantu saya dalam melakukan koreksi serta melihat diri serta pendapat-pendapat saya 
karena tentu saja saya tidak pernah menganggap diri selalu benar.  Tanggapan Hendri 
[yang mungkin berada di Bandung, tapi hal ini tidak penting! -- saya anggap sehat 
karena disertai dengan argumen yang membantu saya untuk merenung dan bukan sebuah 
tanggapan atau pendapat yang sekedar ucap tanpa penjelasan apapun.  Saya kira tulisan 
begini berguna dalam usaha sama-sama mencari [Lengkapnya tanggapan Bung Hendri 
tersebut saya lampirsertakan].

Dari tulisan Bung Hendri ini saya mengangkat soal-soal berikut: [1]. patokan "menurut 
saya", "standar saya"  sebagai bagian dari  keragaman; [2]. toleransi terhadap 
"orang-orang yang tidak toleran"; [3]. keragaman sebagai sarana saling memahami; [4]. 
relativitas atau kenisbian. [5]. nilai baik- buruk sebagai pilihan. Dan barangkali 
lima titik inilah yang menjadi isi komentar Hendri.

[1].  "STANDAR SAYA" SEBAGAI  BAGIAN DARI KERAGAMAN.

Tentang hal ini saya tidak ada keberatan. Secara afirmatif atau secara lain  bisa saya 
katakan bahwa saya setuju. Dan sesungguhnya saya tidak mempersoalkan masalah perbedaan 
dalam standar atau ukuran serta nilai yang digunakan. Apalagi saya sadar benar bahwa 
suatu obyek terdiri dari berbagai segi dan bisa dilihat dari berbagai segi atau 
pendekatan.  Yang menjadi soal bagi saya dalam "standar saya" adalah keinginan melihat 
diterakannya pendekatan apa yang digunakan untuk melihat sesuatu di dalam segala 
relativitasnya sehingga bisa dipahami dasar-dasar pertimbangan serta alasan yang 
digunakan. Karena sekalipun saya dalam mendengar, membaca dan mencermati sesuatu  
masih berpegang pada patokan "yang bicara tidak berdosa yang mendengar patut waspada" 
tapi ketika mengetengahkan pendapat saya berharap akan adanya tanggungjawab dalam 
bentuk penguasaan atau pengenalan masalah tentang obyek yang dituturkan.  Bagi saya 
berbicara asal berbicara tanpa mengetahui apa yang dibicarakan gampang membuat kita 
terpelanting ke jurang kekeliruan dan makin jauh dari pemahaman relatif dekat terhadap 
obyek yang dibicarakan .   "Standar saya" selayaknya disertai dengan dasar pengetahuan 
dan pengenalan.  Ambil contoh, jika petani bicara tentang bagaimana menanam dan 
memelihara mentimun,  atas dasar pengalaman, mereka mengenal masalah penanaman 
mentimun itu secara relatif baik.  Ketika mereka berbicara tentang penanaman mentimun 
mereka tahu apa yang mereka bicarakan atas dasar kondisi tanah, iklim, syarat-syarat 
lingkungan di mana mereka bercocoktanam  yang mungkin berbeda dari kondisi di tempat 
lain. Digabungkannya pendapat seorang petani mentimun di Jawa dan Kalimantan misalnya 
akan menambah pengetahuan kita tentang bagaimana menanam mentimun itu. Pengalaman 
petani di Jawa Tengah atau Kalimantan dalam hal ini adalah pengalaman yang dituturkan 
atas dasar "standar saya". Tapi "standar saya" bukanlah standar tanpa dasar.  Dasar 
standar inilah yang saya inginkan selalu ada agar tidak asal omong dan mendekati 
caci-maki. Karena pernilaian umumnya menggunakan kata sifat.  Kata sifat  perlu 
dijelaskan. Penjelasan kata sifat ini saya kira adalah keinginan minimal ditagih dari 
pengucapnya sebagai ujud dari tanggungjawab dan saling hormat serta kesetiaan pada 
[katakanlah] obyektivitas.  Dari segi ini maka pendapat petani mentimun Jawa Tengah 
dan Kalimantan menjadi satu kekayaan dan indahnya keragaman. 

Tapi benar juga, bahwa pendapat yang tidak berdasar pun, kritik dan penilaian yang 
asal ucap,    merupakan bagian dari isi kehidupan dan memang ada serta sering kita 
hadapi dalam kehidupan sehari-hari.  Barangkali di sinilah lalu "standar  saya" 
menetapkan nilainya sendiri. "Standar saya" yang tanpa tanggungjawab  membatasi 
dirinya sendiri.  Bagian dari kenyataan hidup bermasyarakat.  Dalam menghadapinya, 
terdapat macam-macam sikap: membiarkannya seperti angin lalu; menjelaskan di mana 
letak bahayanya pendapat demikian jika dituruti agar kita belajar  bersama-sama 
memanusiawikan diri.  Saya sendiri menafsirkan keragaman itu dalam lingkup 
tanggungjawab memanusiawikan manusia dan tidak termasuk pendapat asal ucap dengan 
dalih "standar saya". Sebab "standar saya" kukira tidak bisa dibebaskan dari 
tanggungjawab berpendapat.  Pendapat-pendapat yang tidak disertai dengan dasar alasan 
saya kira sangat dekat dengan sikap tidak bertanggungjawab yang bisa menimbulkan 
perusakan dan kerusakan bahkan penghancuran.  Apakah ulah begini patut ditoleransi 
atas nama "demi keragaman"? Di sini kita sedang berbicara tentang prinsip dan bukan 
kasus. Di sini kitapun memasuki masalah metode berpikir dan sikap mental.

[2]. TOLERANSI  TERHADAP ORANG-ORANG YANG TIDAK TOLERAN.

Kalau saya tidak salah "orang-orang yang tidak toleran" itu berada jauh dari 
tanggungjawab dan kesadaran hidup bermasyarakat.  "Orang-orang yang tidak toleran" itu 
pada galibnya berangkat dari pandangan ingin menang sendiri dan semaunya "dewek" 
[semaunya sendiri]. Ingin kehendaknya dijadikan norma. Karena tanpa tanggungjawab 
untuk memanusiawikan manusia, maka dari orang-orang begini tidak ada yang bisa 
dipegang karena standarnya sering berobah-obah. Namanya saja "standar saya".  Ketidak 
toleransi ini dalam masyarakat Dayak telah menimbulkan dampak sangat pahit bagi 
masyarakat Dayak, sampai pada Tragedi Sampit pada tahun 2001 yang memakan korban nyawa 
dan harta benda begitu besar melampau yang diberitakan oleh koran-koran dalam negeri 
dan asing. Jika demikian, apakah patut memang terhadap "orang-orang yang tidak 
toleran" ini ditoleransi? Toleransi dalam pengertian saya, berarti mereka dibiarkan 
bertindak dan menabur racun pertikaian dalam kehidupan. Tidak adanya toleransi dan 
menganut pikiran tunggal dalam sejarah negeri ini telah memperlihatkan betapa banyak 
darah dan airmata tercucur, nyawa bergeletakan. Semuanya karena "standar saya" yang 
tanpa tanggungjawab. Pengalaman saya yang terbatas, membuat saya bersikap untuk tidak 
bisa menerima ketidak toleransi. Toleransi terhadap ketidaktoleransi membuka jalan 
lapang bagi kerusakan dan kehancuran hidup bermasyarakat secara manusiawi, membawa 
kita ke tengah-tengah hukum rimba.  "Standar saya" tanpa tanggungjawab menjurus ke 
arah ini. 

[3]. KERAGAMAN SEBAGAI SARANA SALING MEMAHAMI.

Perumusan ini saya kira merupakan perumusan sangat baik.  Tapi dengan syarat bahwa 
"keragaman" bukan mentolerir pikiran-pikiran dan tindakan anti keragaman dengan 
"standar saya" tanpa tanggungjawab yang mutlak-mutlakan dan telah menghasilkan 
kematian jutaan orang. Keragaman timbul dari kondisi sosial, politik, sejarah dan 
geografis tertentu. Kita bisa saling memahami jika kita tidak menggunakan "standar 
saya" yang tidak bertanggungjawab. Ambil contoh: Apakah suatu sikap saling menghargai 
dan memahami jika "kelelawar" diidentikkan dengan manusia Dayak dan disebut sebagai 
"pangeran Dayak"? Patutah ditoleransikah dan saling memahamikah jika menganggap 
manusia Dayak sebagai lambang dari segala kejelekan dan kejahatan? Apakah bisa disebut 
saling memahami dan patut ditoleransi jika untuk menjabat pos-pos kunci pada suatu 
periode di Kalimantan Tengah diberlakukan patokan agama dan suku besar atas nama 
mentoleransi ketidaktoleransi? "Standar saya" bisa dipandang secara individual tapi 
juga  bisa diluaskan sebagai "standar saya" secara kolektif. "Standar saya" tanpa 
tanggungjawab atas dasar data dan pengalaman sejarah, saya nilai sebagai jalan 
kehancuran dan pembunuhan serta anti keragaman.

Agar tidak bosan membacanya, tulisan ini saya buat bersambung.

Saya senang membaca komentar Hendri karena saya dapatkan di dalam komentarnya terdapat 
argumen dan usaha berpikir.  Saya mengharapkan Hendri bisa memberikan tanggapan lanjut 
terhadap pendapat-pendapat saya ini agar saya bisa berkaca dan merenung lebih jauh. 

[Bersambung....]






From: cypseline 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, June 07, 2004 4:04 PM
Subject: [pengarang] Re: SURAT KEMBANG KEMUNING: PUISI KITA MEMANG MEMERLUKAN KRITIK 
[4]


menurut saya (duh! "saya"), subjektifitas atau objektifitas, 'standard saya', 
'standard umum', cuma bagian dari keragaman, kebhinekaan, atau apa pun namanya.

anda menyinggung soal toleransi, namun sepertinya anda kurang toleran terhadap 
'orang-orang yg tidak toleran', yg dalam hal ini adalah Sekh Zibril (whoever s/he is). 
jgn salah sangka, saya sangat menghargai pendapat anda.

saya setuju dgn sebagian besar yg anda tulis di sini (tentang 'totalitas' dan 
sebagainya), namun saya juga percaya bahwa 'seni' (secara umum) juga dapat menjadi 
barang konsumsi, atau diciptakan semata-mata untuk tujuan tertentu (misalnya 
'menggugah', atau yg lainnya). jadi semuanya relatif.

saya sangat percaya pada relatifitas. segala hal dapat dilihat dari dua sisi. 'baik' 
dan 'buruk' hanya pilihan. Sekh Zibril telah menentukan pilihan yang mengoposisi 
pilihan anda, namun bagi saya, itu bukan sesuatu yg buruk--seperti halnya pilihan anda 
(to stay objective) bagi saya.

keragaman mestinya menjadi sarana untuk saling memahami, kan?

cheers,
hendri



--- In [EMAIL PROTECTED], "Budhisatwati KUSNI" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Surat Kembang Kemuning:
> 

> PUISI KITA MEMANG MEMERLUKAN KRITIK [4]
> [Suatu Percobaan Mawas Diri]
> 

> 3. Standar Baik Dan Jelek:
 
> Sekh Zibril alias Akar Rumput dalam komentarnya tentang puisi yang disiarkan oleh 
> milis [EMAIL PROTECTED]  mengatakan bahwa "puisi di milis ini selalu jelek-jelek". 
> Ukuran jelek dan baik, buruk dan indah, yang digunakan oleh Sekh Zibril adalah 
> "ukuran saya", ukuran diri pengkritik atau penilai. Salah satu "ukuran saya" ini 
> adalah apakah sanjak itu "menggugah" atau tidak. Kalau tidak "mengunggah" maka 
> sanjak itu tergolong sanjak-sanjak yang jelek.  Aku kutip kembali selengkapnya apa 
> yang dia tulis  untuk mengingatkan para pembaca: 
> 
> "Maaf ya, jangan tersinggung, kenapa ya puisi di milis ini selalu jelek-jelek 
> menurut ukuran saya, kurang menggugah.
> Salam
> Sekh Zibril"
>  [EMAIL PROTECTED], 28 Mei 2004]
 
> Adakah unsur-unsur lain selain faktor  menggugah dan tidak menggugah dalam "ukuran 
> saya"nya Sekh Zibril alias Akar Rumput, sama sekali tidak ada penjelasan sepatah 
> kata pun sehingga  subyektivisme pengkritik menjadi sangat menonjol. Sedangkan kalau 
> kita memperhatikan masalah "kurang menggugah" maka pada kalimat ini terdapat dua 
> pengertian yaitu: [1]. patokan yang digunakan oleh Sekh Zibril dalam menilai sebuah 
> puisi terutama dari segi kegunaan; [2]. Sekh Zibril alias Akar Rumput menitik 
> beratkan pada isi. Karena berguna tidaknya sebuah puisi, menurut Sekh kita, terletak 
> pada apakah puisi itu bisa "menguggah" atau tidak. Soal "menggugah" tidaknya, tidak 
> lain karena isinya. Sayangnya dan sekali lagi sangat disayangkan bahwa Sekh Zibril 
> alias Akar Rumput, tidak merumuskan apa yang ia maksudkan dengan "menggugah". 
> "Menggugah" ke jurusan mana, untuk apa dan siapa, padahal pendekatan yang ia gunakan 
> dalam menilai sebuah puisi adalah pendekatan kegunaan. Pertanyaan ini aku ajukan 
> karena dari segi kegunaan, bisa saja sebuah puisi itu kegunaannya sangat terbatas, 
> yaitu hanya pada pemenuhan  kepentingan individual penyair, karena perlu 
> mengungkapkan diri guna meletakkan beban perasaan dan pikiran yang ia sedang emban, 
> misalnya kesedihan karena patah hati ketika ditinggalkan kekasih. Dengan menulis 
> sanjak, 
penyair merasa sedikit terbebaskan dari beban duka laranya. Ini pun satu kegunaan dan 
hak seseorang. Seperti yang dikatakan oleh Rendra bahwa siapapun perlu mengungkapkan 
diri. Mengungkapkan diri adalah hak siapapun yang tidak bisa diganggugugat. Karena itu 
pengekangan terhadap hak mengungkapkan pikiran dan perasaan ini adalah pelanggaran 
terhadap hak azasi. Kegunaan lain adalah berupa peningkatan keadaran, gugatan terhadap 
penindasan, dan sebagainya, dan sebagainya. Untuk memaki-maki, menindas, bergunjing 
pun merupakan suatu kegunaan. Karena itu ketika menggunakan pendekatan kegunaan dalam 
menilai sebuah puisi, kiranya perlu diperincikan lebih jauh. Inipun tidak dilakukan 
oleh Sekh Zibril. 
> 
> Pendekatan kegunaan berhubungan erat dengan isi. Hanya saja pendekatan ini kukira 
> mempunyai kelemahan yaitu  melingkari sebuah puisi atau karya sastra sebatas  pada 
> kegunaan dan isinya, padahal kukira sebuah puisi atau karya sastra adalah suatu 
> totalitas. Totalitas artinya di samping faktor isi, karya sastra, termasuk puisi, 
> mengandung unsur-unsur lain berupa tekhnik pengungkapan yang sering disebut sebagai 
> bentuk di mana terdapat unsur irama, persamaan bunyi, perbandingan, pilihan kata, 
> penyusunan baris dan bait, kosakata, dan sebagainya, dan sebagainya... Totalitas 
> adalah segala faktor yang terdapat pada sebuah karya termasuk segala latar sejarah, 
> sosiologis, psikhologis, dan lain-lain .. yang melahirkan karya 
tersebut. Karena itu untuk menilai sebuah puisi, aku cenderung pada pendekatan 
totalitas dan tidak menurunkan taraf sebuah karya pada lingkup sempit seperti yang 
dilakukan oleh pendekatan kegunaan. Dengan pendekatan totalitas ini, kita bisa membaca 
dan menilai sebuah karya secara semestinya dan seutuhnya. Melalui pendekatan totalitas 
ini pula kita akan memilah dan mendapatkan hal-hal yang subyektif di samping hal-hal 
yang bersifat obyektif. Rasanya mustahil jika pada karya sastra sebagai totalitas 
tidak terdapat unsur-unsur patokan obyektif. Sama mustahilnya jika memandang 
karya-karya sastra sangat subyektif. Akan lebih ganjil lagi jika kritik dan penilaian 
menggunakan patokan subyektif seperti yang diterapkan oleh Sekh Zibril alias Akar 
Rumput untuk menetapkan baik buruknya sebuah karya. 
> 
> Jika metode berpikir ini diluaskan maka pola mental penggunanya tidak berbeda dari 
> seorang tiran, dari seorang diktatur bahkan sadar atau tidak ia  mendekati kedudukan 
> Tuhan, mungkin juga setan, yang menjadikan kata-katanya sebagai hukum dan ketetapan. 
> Kukira pola pikir dan mentalitas inilah yang tersirat pada ucapan "menurut ukuran 
> saya".  "Menurut ukuran saya" sama dengan menutup dialog. Kalau dialog sudah ditutup 
> di manakah letak toleransi, bagaimana mungkin kebhinekaan memperoleh ruang hidup? 
> Jika kebhinnekaan dibunuh maka berkembang suburlah pola pikiran tunggal, azas 
> tunggal "ukuran saya" . Menggunakan "ukuran saya", jadinya sama dengan melakukan 
> penindasan, sedangkan sisi lainnya mendorong perbudakan dan watak menjilat. 
> Lengkapnya perangai ini adalah "menekan ke bawah menjilat ke atas",  wajah mental 
> dan pola pikir masyarakat yang dikuasai oleh sistem paternalistik dan militeristik 
> yang berkembang subur pada masa Orde Baru [Orba] Soeharto. 
> 
> Membebaskan diri dari pola pikir dan mentalitas Orba dengan pikiran dan azas 
> tunggalnya, terutama bagi yang lahir dan besar mendewasa pada masa Orba, tentu 
> bukanlah hal yang sederhana. Bisa saja kita mengatakan diri anti Orba, tapi secara 
> tidak sadar, jauh di dasar jiwa kita, karat pola pikir dan mentalitas itu masih 
> tersisa dan menampakkan diri ke permukaan secara tidak sadar antara lain melalui 
> celetukan-celetukan tanpa penjelasan dan menganggap celetukan demikian sebagai 
> kritik dan penilaian cekak-aos bermutu. Dari hal-hal begini, aku lagi-lagi melihat 
> betapa bangsa dan negeri ini memang sakit dan dengan sakit yang tidak kepalang pula. 
> Untuk mengkoreksi kemungkinan tafsiranku keliru maka akan sangat baik jika Sekh 
> Zibril alias Akar Rumput menjelas rincikan pandangan-pandangannya. Akupun ingin 
> memeriksa diri. 
> 
> [Bersambung.....]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke