DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:

POLYLOGUE

Polylogue, poly logika  atau logika majemuk: kemajemukan nalaritas sebagai jawaban 
dari krisis nalarritas Barat adalah perumusan yang dikemukakan oleh Julia Kristeva , 
psikhoanalis Perancis asal Bulgaria yang sejak kecil belajar bahasa dan  budaya 
Perancis di negeri kelahirannya: Bulgaria. Polylogue adalah judul dari sebuah karya 
Julia Kristeva yang diterbitkan oleh  Editions Le Seuil Paris pada tahun 1977 [437 
hlm] di mana ia membicarakan  soal "politik sastra", "bagaimana membicarakan sastra", 
"subyek dalam proses", "pengalaman dan praktek", "ayah, cinta dan eksil", "polyloque", 
"subyek dalam linguistik", "etik dan linguistik", "batasan ritmik dan bahasa puitik", 
"materi, makna dan dialektika","obyek dan pelengkap", dan soal-soal sastra serta 
psikhoanalis lainnya.....  Poly logika atau polylogue secara prinsip, berintikan 
penolakan terhadap la pens�e unique [pikiran tunggal].

Di sini saya tidak berniat membicarakan karya Julia tetapi terangsang oleh 
permasalahan yang ia ajukan yaitu masalah polyloque dalam konteks Indonesia yang 
terdiri dari ratusan etnik dengan ratusan pola logika dan budaya. Masalah ini menarik 
perhatian saya dalam konteks hasrat membangun keindonesiaan secara logis tanpa 
pemaksaan tapi secara wajar. Barangkali masalah polylogue ini menjadi berguna 
diperhatikan terutama bagi pengambil keputusan politik dan para pemuka masyarakat d 
negeri kita yang majemuk. Perhatian ini muncul ketika saya mengamati bahwa paling 
tidak pada suatu ketika misalnya di Kalimantan Tengah  sampai pada 1991 saya masih 
melihat adanya gejala diskriminasi sistematik terhadap komunitas Dayak. Sampai pada 
tahun 1991 , ketika Warsito masih menjadi Gubernur     Kalimantan Tengah , agama dan 
suku besar -- termasuk lobbi ICMI --- dijadikan patokan dalam menetapkan apa-siapa 
yang bisa menduduki pos-pos kunci di berbagai jabatan pemerintahan. Ketika Gubernur 
Kalteng dipegang kembali oleh putera daerah, ternyata masalah polyloque inipun masih 
kurang menjadi perhatian dan pertimbangan. Masalah agama besar masih mau dijadikan 
patokan dalam menetapkan apa-siapa yang akan memegang pos-pos kunci serta diberlakukan 
sebagai alat permainan politik dan ekonomi.. Demi kepentingan politik yang bermuara 
para kepentingan ekonomi, soal agama tidak segan-segan dijadikan kuda tunggangan 
kepentingan di mana nyawa manusia dan kepentingan masyarakat tidak lagi jadi  
perhitungan utama. Makin kita menjelajahi daerah demi daerah, pulau demi pulau 
tanahair, makin kita dapatkan betapa masalah polylogue ini hampir tidak diperhatikan 
sehingga membuat hati para pencinta bangsa dan tanahair ini menjadi terluka. 
Pengabaian terhadap polylogue inipun saya kira diperlihatkan oleh keinginan 
mengislamkan negeri dan bangsa seakan-akan Islam merupakan logika tunggal yang benar 
padahal jauh sebelum Islam datang, logika lain sudah ada dan berlangsung serta mampu 
mengatur kehidupan bermasyarakat berbagai etnik. Sama halnya jauh sebelum Kristen 
datang, suku-suku berbagai pulau mampu menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat tanpa 
kerusuhan.Kenyataan sejarah ini membuktikan bahwa polylogue adalah kenyataan di 
Republik ini dan bantahan terhadap sentralisme ketat dan la pens�e unique [pikiran 
tunggal] dan ketidaktoleransi serta kepongahan agama dan ideologi dalam bentuk dan 
selubung apapun. Indonesia adalah suatu keragaman dan keindonesiaan adalah suatu 
proses tanpa paksaan. Jika setuju dengan polyilogue ini maka patut dicarikan sistem 
bernegara dan berbangsa yang sesuai dengan logika ini yang sebenarnya telah dibuka 
oleh para pendiri Republik. Dalam hal ini saya mengusulkan bentuk kekuasaan paralel 
sebagai transisi yang saya kira mampu mencegah tumbuhnya "raja-perang" di daerah 
melalui pseudo-otonomi daerah sekarang ini. Melalui kekuasaan paralel, paralelisme 
antara kekuasaan mayarakat adat dan republik, kita bisa mewujudkan partisipasi, 
demokrasi dan kontrol sosial yang nyata. Politik uang pun dengan ini bisa 
dikendalikan. Polyloque barangkali sekaligus berarti kita menghargai adanya sistem 
masyarakat adat yang ada dan berfungsi dan bisa direvitalisasi tapi  yang oleh Orde 
Baru secara sistematik dicoba dihancurkan atas nama Indonesia yang anti Indonesia. 
Dalam kehidupan sastra-seni polyloque diejawantahkan melalui sastra-seni kepulauan 
yang dicoba dengan keras diujudkannyatakan oleh budayawan seperti Halim HD dan 
kawan-kawannya. Mewujudkan polylogue sama dengan melaksanakan semboyan "biar bunga 
mekar bersama, seribu aliran bersaing suara" alias "bhinneka tunggal ika". Polylogue 
tidak lain dari pengakuan keragaman dan kesatuan dalam kemanusiaan. "Kebudayaan adalah 
beragam tapi kemanusiaan itu tunggal", ujar filosof Perancis Paul Ricoeur. Dalam 
pengertian inilah maka perbatasan etnik dan bangsa menjadi relatif.Polyloque 
barangkali adalah hakekat kehidupan dan jika mengingkarinya berarti kita mengingkari 
kehidupan itu sendiri dan menghancurkan diri sendiri. Seperti dikatakan oleh penyair 
Perancis Louis Aragon " hidup lebih sulit daripada mati". Polylogue adalah jalan 
kehidupan, jalan berbangsa, bernegeri dan bernegara. Mengingkarinya sama dengan 
menentang kehidupan dan bunuhdiri secara bertahap. Inilah yang kutangkap dari ide 
Julia Kristeva melalui karyanya Polyloque***

Paris, Juni 2004.
----------------
JJ.Kusni  



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke