DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:

MEMBACA SANJAK JEANNY SURYADI [1]

Penyair muda usia dari Semarang Jawa Tengah ini mempunyai semboyan "aku tak pernah 
redup sama seperti bintang" dalam keadaan apapun. Dari semboyan ini bisa terbaca 
latarbelakang kehidupan berat  yang dihadapi sehari-hari oleh Jeanny Suryadi 
[selanjutnya saya sebut Jeanni]. Semboyan ini pun memperlihatkan bagaimana sikap 
Jeanni dalam menghadapinya.   Penuh elan dan semangat pantang menyerah. Dan memang 
penyair yang dalam usia muda sudah menghidupi diri sendiri di samping mengurus sang 
ibu tercinta, dengan bekerja sebagai pengajar di sebuah universitas sambil melanjutkan 
kuliah. Kecuali itu, Jeanni pun aktif mengurus anak-anak jalanan di mana ia sekaligus 
mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjungnya. Elan, vitalitas, kerjakeras, 
pantang menyerah dan penuh optimisme merupakan ciri diri penyair yang bukan saja 
tercermin melalui semboyan di atas tapi juga selalu mencuat di berbagai tulisannya 
baik berbentuk puisi maupun cerpen, baik yang sudah diterbitkan di berbagai koran 
lokal maupun yang masih tersimpan di laci meja sastrawan muda sangat produktif ini.  
Kepahitan hidup yang ditarungi oleh Jeanni antara lain diungkapkannya melalui 
baris-baris ini: 

"ya tuhan
jeritanku pun bahkan tak bisa membawamu kembali ke sini"

atau:

"sejarahku dibuat di atas butiran pasir yang meninggalkan jejak"

dan juga:

"coba ajari aku
mencari pintu keluar"

serta melalui pertanyaan di bawah:

"mungkinkah saya salah seorang dari orang pinggiran itu?"

Sekalipun demikian penyair selalu "memilih senyum, apapun saya, siapapun saya" karena 
"matahari tidak pernah pilih kasih dalam bersinar/dia menembus semua jendela"; "aku 
tak pernah redup sama seperti bintang", ujar Jeanni. Kepahitan hidup tidak memberi 
peluang pada  Jeanni untuk menjadi seorang anak manja tapi mengambil dengan gagah 
tanggungjawab hidup yang dipilihnya sesuai dengan yang dikatakan oleh penyair Perancis 
Louis Aragon: "mati lebih gampang daripada hidup" dan Jeanni memilih untuk hidup yang 
tidak gampang bahkan sangat garang ini. Tanggungjawab ini dituangkan oleh Jeanni dalam 
kata-kata:

"jalan hidup kita yang tentukan,urusan rasa di hati, kita yang buat,dan urusan senyum 
dibibir, kita juga yang buat
yang jelas, kau lebih cantik bila tersenyum...
apapun yang terjadi, senyumlah, sebab semua akan baik - baik saja"

Dengan sikap dan pilihan ini, saya tidak pernah menemukan sebaris pun kata rengekan 
diucapkan oleh Jeanny dalam keadan cuaca kehidupan apa pun ia berada. Tulisnya gagah:

" jangan pernah menjadi perempuan cengeng"

Bahkan yang saya anggap termasuk luarbiasa dari sikap Jeanni sebagai anak manusia 
berusia muda adalah justru keadaan suram ini telah mendorongnya makin kuat 
bersetiakawan dengan anak-anak jalanan -- lapisan masyarakat tersisih dan terpinggir 
-- yang dia sebut sebagai bagian dari nilai hidup dan junjungannya . Bagian dari 
dirinya. Penderitaannya membuat penyair peka akan keadilan, harga diri, dan 
nilai-nilai manusiawi. Mencoba memahami orang lain. Penderitaan yang dialaminya sejak 
muda seakan-akan menjadi sebuah sekolah besar bermutu yang cepat membuatnya dewasa 
secara sikap dan pemikiran. Alur pikir dan perasaan inilah yang menjelujuri 
karya-karya Jeanni, memberikan kepada karya-karyanya sebuah misi yang jelas "seperti 
bintang" memberi cahaya di jalan kekelaman, tanpa banyak cingcong dengan perdebatan 
teoritis seperti sastra-seni untuk apa dan siapa. Jeanni menaruh, seperti suatu 
otomatisme bahwa sastra-seni baginya merupakan bagian utuh dari kehidupan dan 
nilai-nilainya. Solidaritas pada orang-orang terpinggir ini terbaca dari 
baris-barisnya:

"aku masih ingat waktu kita berpelukan, kuusap wajahmu yang basah airmata
dan sekarang saat aku merindukanmu lalu menangis, tak kurasakan tanganmu mengusap 
wajah ini"

Jika kita menyayangi orang, kita pun akan disayangi. Pesan saling menyayangi sesama 
ini juga menjelujuri karya-karya Jeanni. Kasihsayang terhadap sesama memberikan 
penyair ini suatu kekuatan tersendiri untuk mencintai dan memenangi hidup. Kasihsayang 
sesama ini pun bagi Jeanni merupakan "bintang" yang "tak pernah redup" pula. Tentang 
kasihsayang ini, Jeanni menulis secara lebih spesifik lagi: 

"tidakkah kau tahu aku merindukanmu? bagaimana kabarmu hari ini?
apakah mimpi-mimpimu sudah tercapai?
kutungguku kau dalam alunan musik dilantai 
dan saat cita-cita mu dan cita-citaku sudah ditangan dan dibawa sendiri dengan 
ringan,di pundakmu dipundakku"

Dari baris-baris ini terasa benar bagaimana Jeanni menilai arti solidaritas dan makna 
perkawanan dalam hidup. Dari baris-baris ini nampak kritik Jeanni terhadap egoisme 
masyarakat yang merajakan uang dan konsumerisme yang melingkunginya. Kecuali 
mengkritik masyarakat konsumerisme, Jeanni juga tidak bisa menutup mata terhadap 
kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh "agama" pembangunan Orde Baru dan 
globalisasi kapitalisme. Sebagai perempuan, halus lembut cara Jeanni mengkritik 
kerusakan luar biasa lingkungan ini: 

"kadang tidak berarti saat harus bicara dengan orang-orang yang berdiri disamping 
kita..tapi begitu indahnya saat kita bisa mencurahkan percakapan dengan seekor 
belalang di atas bunga taman"

Sadar akan usia mudanya, sadar akan jauhnya perjalanan dan masih banyaknya temuan 
menunggu di hadapan, dengan vitalitas dan optimisme serupa Jeanni juga terus mencari 
dan mencari, belajar dari para pendahulunya. Ujarnya dari tengah perjalanan yang 
dinilainya sendiri " jalan di depan masih panjang":

"lihat , ada jejakmu juga di sana"

Dengan kerendahan hati yang juga diperolehnya dari sekolah besar bermutu bernama 
kehidupan, ia belajar dari para pendahulunya dalam bidang-bidang yang ia geluti 
termasuk di bidang sastra-seni. Jeanni tidak mengandung pretensi serbatahu tapi justru 
merasa dirinya masih kekurangan dan karena itu ingin belajar serta  mencari untuk bisa 
seperti bintang "tak pernah redup". 

Melalui kadar pribadi dan nilai-nilai pegangan begini, Jeanni seakan berjanji tanpa 
diucapkan bahwa ke hadapan kita akan ia suguhkan di masa-masa mendatang, karya-karya 
yang serius berbobot. Harapan ini kiranya bukan sikap menggantang asap karena penyair 
nampak termasuk salah seorang yang mampu dan suka merenung mencari hakekat dari suatu 
gejala termasuk hakekat perasaannya yang peka. Mengikuti perkembangannya dari tahun ke 
tahun, nampak bahwa Jeanni makin menemukan dirinya baik dalam pemikiran maupun dalam 
cara penuangan yang dirinya sendiri.


Paris, Juni 2004.
---------------
JJ.KUSNI


[Bersambung....]  



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke