Dari Notes Belajar Seorang Awam: "DAUN YANG MENGERTI" ITU, KANG ASEP!
Sanjak "Daun Yang Mengerti" ini, Kang Asep membawa kenanganku kepada almarhum sahabatku Arifin C. Noer yang ketika terakhir kali berjumpa di Paris masih mengulang kata-kata yang sering dia ucapkan tentang diriku sebagai "penyair daun", "hutan dan sungai". Aku sendiri tidak sadar bahwa dalam tulisan-tulisan sederhanaku, aku begitu sering bicara tentang "daun", "hutan", "sungai" dan "danau" yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut "tasik". Melihatku termenung mendengar kata-katanya, Arifin dengan gaya teatral seorang aktor seperti yang dulu sering kusaksikan di Jogjakarta, dan yang paling teringat ketika ia turut main dalam cerita "Paraguay Tercinta" bersama Rendra, menegurku: "Kenapa Kus?" Aku menatap wajahnya sambil tersenyum. "Aku tidak menyadari hal tersebut, Fin". "Aku tidak sadar bahwa daun, hutan, sungai dan danau begitu menandai tulisan-tulisanku". "Wajar saja, karena semuanya adalah bagian langsung dari hidupmu, yang menyertaimu sejak kecil. Masa kanakmu ada bersama mereka. Kau adalah anak alam". Arifin menyadarkan aku bahwa aku sebenarnya anak alam. Setelah hutan, sungai dan danau pedalaman kutinggalkan, aku dekat dengan laut yang juga adalah alam. Laut akhirnya meninggalkan tanda pada diriku, menimbulkan suatu hasrat tersendiri seperti seekor camar yang terbang dan diasuh ombak dan angin yang kadang menjadi badai. Kemudian akhirnya jatuh, mati, tenggelam di antara buih tanpa menentu larut dan hanyut di mana, tanpa tanda apapun. Tapi ia, camar itu, sudah terbang di atas ombak di antara hempasan badai. Kehidupan camar laut itu turut membentuk terujudnya sebuah citra kehidupan bagi diriku sendiri: bagaimana hidup dan mati. Enggang rimba dan camar, sampai sekarang, suara mereka masih kudengar menggema dalam lubuk jiwaku yang kulihat seperti laut juga.Laut yang tak pernah tenang dari riak. Hidup nampak seperti sebuah tragedi obyektif. Sanjak "Daun Yang Mengerti" yang Kang Asep siarkan mengingatkan aku kembali kepada Arifin, mengingatkan aku pada alam kampung kelahiran dan laut yang pernah mengasuhku dan memberiku elan dalam menghidupi tragedi seperti Sisipus yang kalah tapi tidak menyerah. Melalui sanjak "Daun Yang Mengerti" aku merasakan di sela-selanya bersiuran anak damak sumpitan menancap di dada. Kenyerian ini makin menyata semenjak aku kembali ke kampung, ke hutan, ke sungai dan tasik di mana aku diasuh dan melalukan masa kanakku. Hutan Hampalit, yang terletak tidak jauh dari Kasongan, ibukota kabupaten Katingan, antara Sampit dan Palangka Raya, tadinya merupakan hutan tak tertembus matahari. Ketika kemudian aku datang kembali, hutan Hampalit berobah menjadi padang pasir putih sejauh mata memandang. Putih pasir Kalteng mencapai kaki-kaki cakrawala. Ia dirusaki oleh penambangan emas terbuka dan seperti biasa pengusahaannya dikontrol oleh keluarga Cendana. Kayu-kayu hutannya dibabat sampai kepada semak-semak dengan kayu sebesar lengan. Ini adalah hasil "pembangunan" yang ditinggalkan kepada penduduk Katingan oleh Orde Baru. Tanah ribuan bahkan jutaan hektar ini tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk bercocoktanam. Kepada Pemerintah Daerah pernah kuusulkan agar sebagian dari tanah padang pasir ini dipelihara sebagai bagian dari "museum Orba" agar generasi berikutnya bisa melihat secara nyata "hasil pembangunan" terhadap alam dan masyarakat lokal. Dan betapa banyak Hampalit di Kalteng, jika mengambil Kalteng sebagai kasus. Banyak dan banyak sekali. Bukit Raya pun tidak luput dari nasib Hampalit. Di Hampalit aku kehilangan daun, Kang Acep. Aku pun kehilangan suara enggang di samping tentu saja pepohonan obat-obatan tradisional Dayak. Memandang Katingan, sungai pengasuh. Hasrat untuk menerjuni kembali diri ke airnya serta-merta muncul tak terkendali seperti dahulu pada saat kanak-kanak di mana kami simbur-simburan, saling kejar-mengejar, berayun di gelombangnya, dan melomba ikan. Sejenak aku tertegun memandang sungai pengasuhku. Airnya sudah keruh dan tidak lagi hitam bening. Dengan membawa kenangan masa kanak, sungai itu tetap saja kuterjuni dan mencoba merenanginya. Malang tak bisa aku bertahan lama, karena tiba-tiba kulitku merasa kena gigit dan gatal-gatal. Air sungai yang digunakan oleh penduduk Katingan sebagai airminum dan keperluan hidup sehari-hari sudah lama dipenuhi oleh airraksa yang digunakan oleh para penambang emas. Air sungai berairraksa inilah yang dikonsumsikan oleh penduduk. Ketika pertama kali datang ke kampung soal ini segera kuangkat ke permukaan melalui media massa cetak lokal dan aku dipelototin oleh para penguasa. Aku mulai mengundang ketidaksenangan. Dengan air raksa di atas ambang batas mengisi sungai ini , tidak heran jika sering kita saksikan ikan-ikan kehilangan sisik dan berbintik merah. Korengan. Emas, hutan, sungai, danau dan tanah sekarang bukan menjadi sumber kehidupan bagi penduduk tapi menjelma sebagai sumber petaka dan pertikaian. Sumber adudomba dengan selubung agama dan perbedaan etnik. Padahal sejak lama di Katingan, berbagai agama dan etnik hidup berdampingan secara rukun tanpa pernah terjadi pertikaian besar.Bahkan yang beragama Kristen, Islam dan Kaharingan, mempunyai satu makam bersama. Soal-soal diselesaikan secara hukum adat. Tapi justru Masyarakat Adat inilah yang dihancurkan secara sistematik oleh Orba, lebih dari yang dilakukan oleh kolonialis Belanda dengan politik budaya "ragi usang" dan teori "pengosongan gelas", serta hinaan terhadap manusia Dayak. Agresi budaya tidak pernah reda dilancarkan terhadap masyarakat lokal sebagai bagian dari pertarungan politik. Pertarungan politik menetapkan pilihan politiknya dan dari sini merambat ke berbagai sektor kehidupan termasuk tata konsumasi, pemilikan dan nilai. Ketika merenangi sungai pengasuhku: Katingan, akupun tahu, Kang Acep, bahwa aku pun telah kehilangan sungaiku. Daun, hutan, sungai dan danau telah dirampas dan dihancurkan oleh Indonesia atas nama Republik yang merajakan uang. Budaya Dayak pun dicoba dibinasakan oleh Indonesia atas nama republik kesatuan. Penghancuran budaya lokal berdampak lanjut pada perusakan pola pikir dan mentalitas manusianya sehingga Dayak sekarang bukanlah Dayak yang "anak enggang, putera-puteri naga" [rengan tingang nyanak jata].Tidak sedikit dari manusia Dayak yang hanya tinggal darah Dayak yang mengalir di urat-urat mereka,tapi apa hakekat Dayak itu sendiri mereka sudah tidak kenal bahkan dihina. Apa yang disebut Indonesia pun mereka tidak jelas dan amorp. Bencana ini sampai sekarang masih nyata dan kian nyata. Aku kehilangan orang sekampung dan manusia Dayak, Kang Acep. Makin kita menyusup ke pedalaman pulau, makin kita merasa ditusuk oleh anak-anak damak kerusakan silang-siur.Makin kita mengalami kehilangan demi kehilangan.Kehilanganku menjadi makin total sehingga pertarungan pemanusiawian pun menjadi total pula dan tidak bisa secara parsial. Kehilangan inilah yang kudapatkan pengungkap puitiknya pada sanjak : "Daun Yang Mengerti" yang Kang Asep siar ulangkan [lihat: Milis [EMAIL PROTECTED] , 09 Juni 2004]. Lengkapnya seperti di bawah ini: DAUN YANG MENGERTI Oleh: Yum Az daun itu, mengerti di mana ia harus tumbuh --di batang, di cabang atau di ranting- daun itu, mengerti apakah ia harus menumbuhkan -- batang, cabang atau ranting- daun itu, mengerti benar di mana titah menyaru bakti di sepanjang usianya daun itu, mengerti ketika kepekatan chlorofil berganti --menjadi kuning kecoklatan-- daun itu, mengerti ketika tanah menyaru untuk kembali --bersatu dengannya-- di sini pun daun masih mengerti untuk menyuburkan tanah di lahan perjuangannya (Sumber: Citra Lingkungan Hidup dan Kehati Dalam puisi-puisi Indonesia Modern; Indra Jaya Nauman 2002). Membaca "Daun Yang Mengerti", aku seperti melihat sungai, hutan, gunung, tasik, engang, camar dan laut serta daun-daun menuding globalisasi kapitalis dan merosotnya nilai-nilai republiken dan manusiawi. Sanjak ini juga menunjukkan bahwa di tengah kerusakan alam, kehidupan, bangsa dan negeri, kita diingatkan bahwa di sini masih ada penyair dan manusia. Sanjak sebagai bagian dari karya sastra-seni pun mengambil tempatnya yang mesti dalam kehidupan sebagai sanjak. Paris, Juni 2004. ---------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

