DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:

MEMBACA SANJAK JEANNY SURYADI [2 -- SELESAI]


Merenung mencari hakekat dari suatu gejala termasuk hakekat perasaan peka adalah suatu 
pencarian dan pencarian adalah suatu kegelisahan yang menolak menambatkan diri pada 
satu titik henti. Kegelisahan jiwa pencari ini juga menampakkan diri pada pergelutan 
guna menemukan cara pengungkapan diri yang memang dirinya dalam puisi dan karya-karya 
sastra lainnya. Dalam hal ini Jeanni menolak mengikatkan diri pada bentuk-bentuk 
klasik dan kemapanan yang umum, tapi selalu mengikuti suara hatinya serta mencoba 
mengungkapkan suara hati dan pikirannya secara langsung serta sejujur mungkin. 
Pengungkapan langsung yang keluar dari lubuk hatinya merupakan jalan utama yang 
ditempuh oleh Jeanni untuk menemukan pengungkapan diri sendiri. Ia tidak terlalu 
gubris pada patokan-patokan umum dan klasik, termasuk dalam takaran nilai. Dalam 
takaran nilai ini misalnya , Jeanni tanpa keengganan berucap terus-terang, karena ia 
ingin jujur pada dirinya dan pada orang lain. Dengan sikap dan pandangan begini, 
penyair tidak segan mengkritik dan mendamprat keras:

"jangan kangen saya karena puting susu saya".

Semangat pemberontakan dan kebebasan tanpa hipokrisi ini lebih nampak pada sanjak 
Jeanni di bawah ini: 



"kita sering berkhayal berbaring dipadang rumput yang luas,
disirami bidang-bidang cahaya mentari yang berlabuh dibalik punggungmu..punggungku.

kau dengan pakaian rajamu , dan aku dengan pakaian malaikatku.

aku tertawa lepas di atas tubuhmu yang berbaring kokoh
sedang angin menyibakkan rambutku 
dan matahari menerangi wajah-wajah kita 
wajah penghuni surga

sampai adzan memanggil kita

bahkan karena kita begitu tenggelam dalam kerinduan kita
kita tidak tahu ada langgar di dekat padang rumput itu.

ya Tuhan.
dalam dunia khayalpun kau tembus kalbuku
sungguhkah kau restui kami?
Mei 2004 

Dari segi pengungkapan, Jeanni memang nampak konsisten dengan kebebasannya yang tak 
begitu hirau dengan dengan norma-norma klasik puisi seakan-akan baginya yang 
terpenting adalah jujur dan sesuai suara hati, sikap berpuisi yang mengingatkan saya 
pada sikap penyair Chili  Nicanor Parra dengan "antipuisi"nya mengikuti pendapat 
Angelus Silesius bahwa "mawar berbunga berbunga karena ia harus berbunga" 
[lihat:L'Esprit,Paris, Juli 1986, hlm. 35].

Ketidakperdulian Jeanni pada kaidah-kaidah normatif juga kelihatan pada caranya 
menulis kata Tuhan yang kadang-kadang dengan huruf kecil dan kadang-kadang dengan 
huruf kecil. Ketidakpedulian ini seperti mau mengatakan bahwa yang terpenting adalah 
makna. Hakekat. Barangkali Jeanni dengan cara penulisan yang tak terlalu perduli ini 
ingin mengatakan apa beda hakiki makna sebuah kosakata yang ditulis dengan huruf besar 
dan kecil? Tidakkah dengan pembedaan cara penulisan satu hakekat sesungguhnya 
menyelipkan hipokrisi?! Jeanni pada dasarnya menolak hipokrisi  karena itu ia dengan 
berani menantang:

BERANIKAH   KAU?

Beranikah kau?Kuajak kau bercinta malam ini, hanya dibawah bulan

Diantara harum rerumputan dan gelapnya malam?

Hanya kau dan aku dibawah jatuhnya cahaya bulan?

Beranikah kau ?Kuajak kau bercinta malam ini 

Diantara taburan bintang dan sesekali terdengar gonggongan anjing dari arah utara?

Hanya kau dan aku ditemani cekikik jangkrik dan canda usil nyamuk yang menggigit 
tubuhmu?"

Di samping menolak hipokrisi, melalui baris-baris berikut Jeanni menyindir kehidupan 
di kalangan muda-mudi dewasa ini yang berlagak alim tapi senyatanya tidak demikian: 

"dua batang rokok, untukmu dan untukku,

tunggu jangan kau isap sendiri,

kita akan mengisapnya nanti malam berdua, di kamarku seperti biasanya,saat ibu asrama 
sudah lelap dalam khayalnya!"

Baris-baris Jeanni ini mengingatkan pembaca pada kehidupan para penghuni asrama 
mahasiswa/i di Yogyakarta seperti yang diberitakan oleh koran-koran dan pernah 
menggemparkan dan disanggah. Banyak sekali yang diutarakan oleh Jeanni melalui lari 
ini.

Memperhatikan tema-tema yang diangkat oleh Jeanni dalam karya-karyanya nampak bahwa 
penyair selalu memperhatikan lingkungan, masalah jender  dan semua keadaan yang 
berlangsung di sekitarnya. Sekalipun ia berbicara dengan gaya aku tapi dengan gaya aku 
itu ia menyampakan tanggapan-tanggapannya terhadap segala peristiwa dari yang kecil 
sampai yang besar. Dari perjalanan naik kendaraan umum sampai kepada masalah sosial 
dan lingkungan. Misalnya:

"Kita berdua tertidur disebuah kendaraan besar berwarna merah, GIRI INDAH'

 Jean bangunin aku kalau dah sampai yah,' bisikmu mengantuk dan,kepalamu terkulai 
dipundakku,

setumpuk tugas jatuh dari tanganku,'aku juga mengantuk'

'priok - bogor! priok -bogor' jerit sang kenek...

perjalanan kita masih panjang teman lebih baik kita berdua tidur sejenak, biar nanti 
bintang yang membangunkan kita".

Melalui cara pengungkapan diri yang "antipuisi" atau "jalan mawar berbunga" begini, 
Jeanni menampilkan diri dengan ciri lain lagi yaitu menghadirkan adegan-adegan seperti 
yang ada dalam teater. Barangkali dengan cara ini, Jeanni ingin mengisyaratkatkan 
dekatnya kehidupan dengan panggung teater dan ia sendiri merupakan salah seorang 
aktornya. Sebagai aktor kehidupan yang menolak hipokrisi dan ingin jujur pada diri 
sendiri, seberapa jauh capaian penyair? Apakah dengan anti hipokrisi dan berusaha 
jujur, sang aktor sudah lepas dari keraguan untuk tidak menyebutnya masih terikat pada 
hipokrisi , paling tidak keraguan? Ketika beraksi, sang aktor nampak memang luput dari 
jeratan keraguan dan kemunafikan. Hanya begitu ia usai berlakon dan berada dalam 
keheningan renungan, di sini penyair mulai menampakkan asli diri yang pecah dan belum 
selesai secara tuntas. Apalagi pada saat ia berhadapan dengan soal agama sebagai dogma 
dan sebagai ilmu tentang tuhan dan kepercayaan. Pada saat ini nampak Jeanni ragu, dan 
seperti orang yang berdiri di dua perahu dengan jiwa yang masih pecah. Tapi jiwa pecah 
ini   pun masih ia ucapkan dengan langsung dan jujur. Barangkali ini memang tanda 
kegelisahan seorang pencari yang seperti pinisi tidak pernah melempar sauh lama-lama 
di sebuah dermaga untuk kembali melaut. Laut pencarian memang adalah tempat 
sesungguhnya, tanda kehidupan dan kreativitas  seorang penyair.Ketidak selesaian diri 
pada Jeanni misalnya nampak dari baris-baris ini:

"Bukankah wanita lebih identik dengan lilin, terus bersinar meski terus meleleh 
tubuhnya? Ya terima saja kodrat itu!" 

Padahal sebelumnya Jeanni pernah berkata lantang:

"jangan pernah menjadi perempuan cengeng".

Tapi ketidakselesaian diri  begini bisa menghinggapi siapa pun juga dan ia merupakan 
bagian dari jenjang perjalanan menuju ke ketinggian. Mendaki ketinggian memang bukan 
jalan lurus bertabur bunga dan  Jeanni pun sadar sekali akan hal ini: 

"terlalu banyak jalan berliku untuk meraihmu". 

Untuk mengenal pikiran, perasaan  dan cara pengungkapan diri penyair muda usia ini, 
berikut saya sertakan beberapa karya puisinya.



ISTRIKU
Istriku mengeluh lagi malam ini,

Punggungnya nyeri sekali disusul betisnya seperti ditarik - tarik karena pegal..

Aku sendiri tetap berceloteh tentang urusan kantorku tanpa perduli urusan tubuhnya,

Tapi dia tidak marah,

Dia terus menanggapi ceritaku ,

Mengernyitkan dahinya saat aku menceritakan perihal kantor yang tidak selesai -selesai,

Antusias dia mendengar, meski sesekali dia meringis sakit ,lalu mengeluh punggungnya 
sakit,

Kuraih tubuhhnya, lalu kupijat sebentar.lalu kembali aku bercerita urusan kantorku,

Kali ini aku mengangguk mencoba memahami masalah yang bersarang di kepalanya,

Melihat reaksinya, aku semakin bawel bercerita terus terus dan terus,

Sampai aku lupa kalau istrikupun punya cerita tentang kegiatannya hari ini.

Dan selalu begitu setiap malam,
Semarang, 2004

[Dari: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: mardi 27 avril 2004 14:17]


PENAT YANG KUKIRIM UNTUKMU
Kukirim penat padamu,

Sengaja kubungkus rapat - rapat dan berlapis - lapis,

Sebab aku wanita,

Penuh perasaan dan enggan meyakitimu,

Maka penat itu kukirim lewat pos,

Biar lambat dia sampainya, 

Sehingga lama juga kau baru bisa membukanya.

Kukirim penat padamu,

Sengaja penat itu sudah kusimpan hampir setahun,

Sebab memang sebaiknya kusimpan saja penat itu, daripada menambah kepenatan di 
kepalamu,

Bukankah wanita lebih identik dengan lilin, terus bersinar meski terus meleleh 
tubuhnya? Ya terima saja kodrat itu!

...maka mungkin didalam bungkusan itu penuh debu , meski tidak bau karena dipendam 
hampir setahun,

kau tahu kenapa? Sebab aku pandai menyimpan penat..biasanya kutaruh disudut hati 
paling kiri, agar mudah aku mengabaikannya, 

memang sebaiknya begitu?

Tapi sekarang penat itu hampir memenuhi ruang diseluruh hatiku, bahkan aku tidak sadar 
kalau sampai dia luber menutupi kelenjar empeduku.

Entah harus kusimpan dimana lagi, yang jelas tak mungkin di lambung apalagi di jantung!

Jadi sebaiknya ku pos kan saja penat ini ke alamatmu, tanpa niat apapun, apalagi niat 
merepotkanmu,

Tidak mungkin kukirim penat ini pada ibuku atau bapak dikampung, kurasa mereka sudah 
terlalu tua untuk mendapatkan oleh -oleh baru yang penuh dengan rangkaian kata,

Toh mereka tidak akan ikut ujian diusianya yang sudah demikian tua?,

Aku juga tidak berharap kau membuka bungkusan penat,

Cukup kau baca judulnya,

Lalu kau lempar ke tempat sampah,

Untuk apa membaca cerita atau kisah yang isinya PENAT? Itu hanya akan memperburuk 
suasana yang sudah buruk. Jadi? Ya aku sarankan seperti tadi saja, judul kau baca, 
alamat si pengirim kau lihat, lalu jangan kau buka, cukup kau lempar dengan hormat ke 
tempat sampah.

Aku tidak mau membuatmu tambah penat, dengan kepenatan yang ada diantara kita. Nah 
tuh, aku sebut lagi penatnya itu seputar kita.

Kalau saja bisa kita menangis sekeras - kerasnya, aku ingin menangis keras didepanmu.

Masih bukan dengan niat membuatmu penat,

Tapi aku tidak bisa menangis didepanmu, sebab aku terlalu sayang padamu.

Kalau saja bisa, aku ingin memukul keras - keras bidang dadamu, 

Tetap bukan dengan niat untuk membuatmu sakit,

Tapi aku tidak bisa, sebab bumi sudah terlalu keras memukulmu,

Jadi biar kuhantam bintang dan dan kutelanjangi bulan dengan kekesalanku.

Sebab tak mungkin aku marah padamu.

[Dari:  <[EMAIL PROTECTED]>
Date: mardi 27 avril 2004 14:09]


UNTUK MARIA 

Tiba - tiba kita berjumpa di atas rel kereta api,kau terkejut memandangiku , lalu 
senyummu lepas diantara tawamu,

Jeanni! jeritmu 

aku tersenyum dan menghambur untuk memelukmu, sedang kereta mulai melaju dan berkata,

' aku akan memisahkan kalian sekali lagi, '

satu setengah jam Bogor - Jakarta, tidak akan kulepas tanganmu,

2004 



TANPA JUDUL

Kita seperti bermain didalam arena hanggar

aku tidak pernah melihat wajahmu, bahkan kau tidak pernah tahu aku menangis dibalik 
topengku....

Mei 2004,

BUAT CALON PENYAIR

kopiku selalu menjadi dingin

saat aku terlalu lama melamun,

kemana kubawa perahu sedang ajal entah kapan akan menjemput,

bisakah aku berlari lebih cepat, 

sedang selalu saja tubuhku terhempas terlalu dalam bersama tanah - tanah dibumi

menulis?

aku berdebat dengan pikiranku sendiri, saat aku coba bercinta dalam goresan pena,

cintaku terdampar dipinggir jalan, sedang aku bergumul dihamparan asmara diatas 
penaku...

kopiku selalu dingin...saat kutulis bait bait puisi untukmu

[Dari: "[EMAIL PROTECTED]>,buat calon penyair
Date: mercredi 2 juin 2004 04:39].



Paris, Juni 2004.

JJ.KUSNI










[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke