SURAT KEMBANG KEMUNING:

CZESLAW MILOSZ  DAN INDONESIA [1].


Tahun ini Czeslaw Milosz, penyair mendunia, kelahiran Lithuania, mencapai usia 93 
tahun. Ia dilahirkan di  Wilno pada tahun 1911 di bawah  nama Romain Gary pada saat 
negerinya masih merupakan bagian dari imperium Russia.  Tomas Venclova, penyair 
Lithuania terkemuka lainnya melihat kehidupan Ceslaw Milosz,  "sebagai riwayat paling 
istimewa dari seorang pengarang abad ke-XX ". Pada tahun 1937 , Milosz meninggalkan 
negerinya menuju Warsawa. Dalam tahun 1940 ia bergabung dengan gerakan perlawanan 
bawah tanah anti fasis yang menduduki Polandia negeri barunya. Setelah perang selesai 
dari tahun 1945  sampai tahun 1949  ia sempat menjadi diplomat Republik "rakyat"   
Polandia, kemudian mengungsi ke Perancis lalu ke Amerika Serikat di mana sejak 1960 ia 
mengajar di Universitas Berkeley.  Sejak akhir 1990an ia kembali ke Polandia dan hidup 
di Cracovie.

Dalam rangka merayakan ulangtahun Milosz yang ke-93 sekaligus untuk menghormati 
penyair yang pernah melalukan masa hidupnya di Perancis, penerbit-peperbit Paris telah 
menerbitkan karya-karya Milosz terbaru yang diterjemahkan dari bahasa Polandia. 
Penerbit  Fayard misalnya telah meluncurkan karya Milosz berjudul Ab�c�daire 
[Abecadlo]*, 414 hlm; sedangkan penerbit Mille et Une Nuits [Seribu Satu Malam], 
menerbitkan "Le Chien Mandarin" [Piesek Przydrozny]**, 214 hlm. 

Penerbitan kedua karya Milosz ini juga berhubungan  dengan usaha Komunitas Eropa, di 
mana Polandia telah menjadi salah satu anggota baru, melalui perluasan keanggotaan 
baru-baru ini, untuk mengokohkan eksistensi diri dengan pengesahan Konstitusi 
Komunitas yang oleh Amerika Serikat dihalang-halangi [Lihat: Jacques Julliard, 
"Ruputre dans la Civilisation", Editions Gallimard, Paris, 2003, 75 hlm]. Melalui dua 
karya ini, pengarang "La Pens�e  Captive" [Pikiran Yang Terkurung], mencoba 
menyimpulkan pengalamannya selama ini sebagai seorang kelahiran Eropa dan telah 
melintasi lika-liku sejarah yang yang pahit berdarah. Di dalam karya-karya di atas, 
Milosz mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan: "Bagaimana kita bisa menjadi seorang 
Eropa dengan berangkat dari pengamalaman bukan Eropa" dan "Darimana misteri kejahatan 
yang mengotori sejarah umat manusia berasal"?. Setelah membaca karya-karya Milosz dan 
ide-ide mutkahirnya yang antara lain terungkap melalui kedua karya di atas maka 
Alexandra Laignel-Lavastine, tenaga ahli di bidang sastra-seni Harian Le Monde, Paris, 
menyebut Milosz sebagai "salah seorang penyair utama abad ke-XX" [Lihat: Le Monde, 
Paris, 11 Juni 2004]. Alexandra juga melihat karya Milosz "La Pens�e Captive" sebagai 
"karya pembidas tentang "pengkhianatan" [atau pemberontakan" para cendekiawan --JJK] , 
terhadap Stalinisme, dan merupakan salah-satu ujud dari pernyataan agung kesadaran 
moral zaman kita". 

Dalam konteks ini, saya mempertanyakan: Sampai sekarang seberapa jauh dan seberapa 
besar kesadaran moral begini dimiliki oleh para cendekiawan Indonesia? Seberapa besar  
dan seberapa jauh kadar keberanian serta kesanggupan para cendekiawan serta sastrawan 
kita melakukan "pengkhianatan intelektualitas" [istilah Julian Benda] dalam 
mengembangkan tanggungjawab intelektualitas mereka terhadap kemanusiaan, tanahair dan 
bangsa sebagai bagian dari kemanusiaan? Milosz dalam hal ini bisa dikatakan telah 
memberikan teladan sehingga  ia terpaksa meninggalkan Polandia dan menjadi eksil [yang 
bukan hanya pindah dari Wilno ke Warsawa atau seperti pindah dari Palangka Raya ke 
Jogya]. Berapa banyak para cendekiawan dan sastrawan yang sanggup menanggung segala 
risiko di hadapan ancaman  dan tekanan "pendekatan keamanan dan stabilitas Orba dulu. 
[Pertanyaan terakhir ini tentu  bisa dibuktikan melalui data-data dan bukan melalui 
pernyataan subyektif setelah "Presiden" Soeharto dipaksa turun dari panggung  
kekuasaan. Pengakuan jenis ini sekarang berhamburan dengan gampang dari banyak mulut , 
sementara pada suatu ketika mereka bungkam dan bahkan bersama kekuasaan turut menindas 
!]. Dari segi inilah maka saya melihat bahwa sikap Milosz sebagai sastrawan dan 
intelektual mempunyai relevansi bagi kehidupan intelektual Indonesia, bisa dijadikan 
bandingan dalam melihat diri masing-masing, bukan dari segi sikap "mengaku-ngaku" 
tanpa dasar, tapi dari segi bagaimana membela prinsip kemanusiaan, kebenaran dan 
keadilan. Mengaku-ngaku adalah kekerdilan jiwa.

Pertanyaan-pertanyaan di atas, tidak diketengahkan sebagai gugatan apalagi cercaan, 
tapi lebih merupakan ajakan untuk setia pada misi dan posisi sebagai intelektual dan 
sastrawan --warga dari Republik Berdaulat di luar Republik politik resmi -- 
lebih-lebih kepada mereka yang mengaku diri sebagai sastrawan dari segala cabang 
sastra karena sastrawan itu disertai oleh satu tanggungjawab dan hakekat. Pertanyaan 
inipun saya ajukan bertolak dari pemahaman bahwa sastrawan-seniman dan para 
cendekiawan sebagai pencari tak kenal takut dan tak kenal lelah pada galibnya tidak 
kenal takut dan tidak hipokrit, seperti yang dikatakan oleh almarhum guru dan sahabat 
saya Prof. Denys Lombard ketika mengkritik otosensor sementara para kandidat doktor 
asal Indonesia yang pernah belajar di l'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales 
[l'EHESS] , Paris, pada zaman Orde Baru, ketika menulis tesis: "Saya akan membelamu 
sampai mati dan dengan segala risiko di bidang ilmu". Lombard sangat marah oleh sikap 
otosensor sementara para kandidat doktor asal Indonesia ini, sikap yang disebutnya 
sebagai "anti ilmu" dan pengkhianatan terhadap ilmu. Menjawab kemarahan Lombard, saya 
katakan: "Boleh tidak orang takut, boleh tidak orang keder pada ajal dan lapar serta 
dikucilkan?".  Sikap otosensor begini lagi-lagi mengingatkan saya akan kata-kata Louis 
Aragon, penyair Perancis, bahwa: "Mati lebih gampang daripada hidup" dan barangkali 
hidup sebagai anak manusia pun lebih sulit lagi dari pada hidup asal hidup. Hidup yang 
tidak manusiawi dan sikap yang mengkhianati kemanusiaan kukira tidak lain dari yang 
disebut oleh Milosz sebagai kehidupan seekor" anjing" dan "anjing elite" jika mereka 
kebetulan berada di lapisan elite. Gombrowics, sejalan dengan  dengan sikap dan 
pandangan  Milosz tentang peran cendekiawan serta sastrawan inpun sanggup melawan 
tekanan gereja dan kekuasaan politik. Dengan kesetiaannya pada status sebagai warga 
"republik berdaulat sastra-seni", Gombrowics telah menjadi kebudayaan sebagai 
"kebudayaan perlawanan", "melawan melalui kebudayaan". Milosz dan Gombrowics melalukan 
perlawanan melalui kebudayaan berangkat dari tanggungjawab sebagai warga "republik 
berdaulat sastra-seni " dan kecintaan pada hidup dan kemanusiaan. Mereka tidak 
bertolak dari titik pandang mendapatkan "pahala" yang egoistik yang tak ada 
sangkut-pautnya dengan sikap intelektualitas dan kesenimanan. Tanggungjawab inipun 
bermula dari pandangan bahwa hidup manusiawi lebih penting dari kehidupan setelah mati 
yang tak mereka pikirkan ketika kerumitan hidup dan dunia sudah cukup menyibukkan 
sastrawan. Dante bicara tentang neraka kiranya juga tidak lepas dari kepentingan 
memanusiawikan manusia dan kehidupan. Egoisme "anjing elite" justru membuat kehidupan 
dan dunia menjadi neraka berdarah dan membakar jutaan-jutaan nyawa. "Anjing Elit" 
Milosz  yang pememenang Nobel Sastra 1980 ini berdasarkan renungannya terhadap sejarah 
Eropa abad ke-XX yang dilihatnya sebagai suatu "Tragedi". Tragedi zaman ini melalui 
berbagai bentuk dan suara dirasakan oleh Milosz sebagai tekanan terhadap dirinya 
sebagai sastrawan dan anak manusia. Soal inilah yang ditulis oleh Milosz dalam 
Abecadlo. Secara tidak langsung, melalui karya Abecadlo,Milosz  mengatakan bahwa kita 
perlu belajar membaca, belajar kembali aksara abc kehidupan jika ingin menjadi manusia 
yang manusiawi, jika ingin menjadikan bumi sebagai tempat kehidupan manusiawi anak 
manusia.  Dari pengalaman dan renungannya yang dituangkan ke dalam dua karya di atas, 
Milosz sastrawan pemberontak yang sanggup menanggung risiko pemberontakannya, melihat 
betapa masyarakat manusia dirusaki oleh kawanan "anjing elite" yang egois dalam rupa 
wajah dan suara serta oleh karenanya betapa kita perlu belajar kembali membaca abc 
kehidupan dan bermasyarakat. Milosz telah membayar mahal sikap dan pandangannya ini. 
Kita boleh jadi tidak buta aksara tapi apakah kita bisa membaca kehidupan manusia, 
adalah tanda tanya besar. Besar sekali! Orang yang tidak bisa membaca biasanya tidak 
bisa menggunakan nalar tapi lebih banyak menggunakan otot atau okol alias kekerasan, 
baik verbal ataupun phisik. Gampang dibeli dan jadi orang bayaran. Kebenaran tidak 
penting bagi mereka. Orang-orang buta aksara kehidupan dan pikiran ini tidak bisa 
membaca makna sama sekali . Membuta, membudak, fanatisme,tidak bisa bertanya, iseng, 
malas, lebih suka jadi alat jinak, bergunjing, maki-maki,   jalan pintas, dan 
lain-lain "wajah serta suara", barangkali merupakan ujud dari ketidakmampuan membaca 
aksara kehidupan itu yang membuat "anjing elite" bersimaharajalela. Tidakkah ini 
ungkapan dari tertindasnya manusia , belum manusiawinya manusia, dan betapa 
sesungguhnya bumi dan tanah air kita merupakan neraka nyata. Sorga adalah lambang dari 
harapan akan kehidupan lain yang indah, ungkapan dari pemberontakan terhadap 
ketidakadilan di bumi. Kematian tidak menjanjikan apa-apa tentang sorga, kurang lebih 
demikian penyair Louis Aragon dan juga Milosz tentang mati lebih gampang daripada 
hidup dan manusia yang utuh.  Kalau Descartes mengatakan "cogito ergo sum", lalu 
apakah orang yang tidak bisa membaca hakekat ini bisa disebut "ada"? Bisakah disebut 
"hidup" dan "manusia utuh"? Pertanyaan Milosz dalam kedua karyanya yang diterbitkan 
oleh Fayard dan "Mille et Une Nuits" ini, saya kira tidak jauh dari permasalahan dan 
sistem Descartes itu. Indonesia bisakah dijamin eksistensi dan kelanjutan 
eksistensinya jika dikuasai oleh "anjing elite" yang tidak bisa dan tidak mau belajar 
membaca? "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari", ujar tetua kita secara 
dialektis historis menyimpulkan pengalaman mereka.*** 


Paris, Juni 2004.
----------------
JJ.KUSNI

[Bersambung...]



Catatan:

* Ab�c�daire: Belajar ABC.
** Le Chien Mandarin: Anjing Mandarin, Anjing Elite. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke