CATATAN HARIAN SEORANG KLAYABAN:

INDONESIA DI ATAS SEINE


Dari segi berita, barangkali "Koperasi Restoran Indonesia" yang sudah berusia hampir 
seperempat abad, terletak di 12 , Rue Vaugirard 75006 Paris, restoran Indonesia tertua 
di ibukota Perancis ini, sudah bukan tergolong berita hangat lagi. Ia sudah sering 
ditulis dan dibicarakan oleh banyak orang, apalagi sekarang oleh pihak KBRI Paris, 
iapun  sudah dimasukan ke dalam website sebagai data Indonesia di Paris. Dari masuknya 
"Koperasi Restoran Indonesia"  ke dalam website KBRI, orang yang cermat akan bisa 
melihat perkembangan politik Indonesia dari waktu ke waktu karena seperti dikatakan 
oleh Goenawan Mohamad dalam buku tamu "Koperasi Restoran Indonesia" : "Di restoran ini 
tercatat juga sejarah Indonesia". 


Kalau "Koperasi Restoran Indonesia" yang merupakan "point de rendezvous indon�sien � 
Paris" [titik bertemu tentang Indonesia di Paris] menumbuhkembangkan  prakarsa, 
berhenti pada rutinisme tentu ia tidak lagi memberikan apa pun yang baru yang bisa 
dikategorikan berita dan membuat berita. Berita, dalam hal ini mengandung pengertian:  
ada tidaknya dinamika, dan terjerat tidaknya kita oleh rutinisme yang selalu 
membosankan dan mengakibatkan frustrasi, sehingga rutinisme tak obah tangan terulur 
membawa ke kematian sekalipun kita masih bernafas. Tim penanggungjawab koperasi yang 
terdiri dari tiga orang yaitu Stephan Soejoso, Bernard Santoso dan Ny. Budhisatwati 
JK, menolak jeratan rutinisme yang anti kehidupan dan perkembangan. 

Bertolak dari ide awal pembangunan koperasi yang membawa nama Indonesia dengan segala 
makna yang dikandungnya, yang oleh mantan Atase Pers KBRI Paris, Yuli Mumpuni, 
dirumuskan sebagai "duta bangsa" dalam arti luas, tim penanggungjawab koperasi selama 
bertahun-tahun mengembangkan berbagai macam prakarsa untuk mengangkat nama Indonesia 
di Perancis. Koperasi restoran ini lahir karena prakarsa dan kerjasama serta wawasan 
tertentu -- hal yang membedakannya dari ratusan ribu restoran lain yang ada di Paris.  
Tradisi ini oleh tim penanggungjawab sebagai generasi penerus angkatan pendirinya 
dilanjutkembangkan sehingga praktis setelah berjalan hampir seperempat abad, ketika 
menyebut "Koperasi Restoran Indonesia Paris" , para langganan akan mentautkannya 
dengan konsep umum dan kekhususan: pandangan hidup tertentu dan kekhususan itu  
bernama Indonesia. Indonesia yang lain dari otoriatianisme dan militerisme.  Koperasi 
Restoran Indonesia, selama seperempat abad kehidupannya di Paris sudah membentuk satu 
citra dan ide tersendiri. Trade mark yang unik dan tak mungkin disaingi oleh siapapun. 
Ia dilahirkan paksakan oleh sejarah Indonesia dan membentuk keindonesiaannya sesuai 
dengan syarat paksaan sejarah itu. Epistimologi ilmu pengetahuan pun diperlihatkan 
oleh pengalaman dalam  mendirikan dan mengembangkan koperasi ini. Selain itu 
pengalaman berkoperasi juga mengajarkan bagaimana mengalahkan paternalisme dan 
individualisme serta  bagaimana belajar berdemokrasi serta berkoperasi 
[bersolidaritas]. Barangkali  bagaimana bersolidaritas ini merupakan hasil yang tidak 
bisa dipandang dengan sebelah mata yang diwariskan dari angkatan ke angkatan di 
koperasi Restoran Indonesia ini yang setindak demi setindak meresapi jiwa para anak 
muda yang bekerja di koperasi. Melalui Restoran ini secara tidak langsung, melalui 
proses kerja diajarkan apa arti saling percaya, apa arti kerja, apa arti uang, saling 
hormat, harga diri bangsa dan pribadi, apa arti menjadi Indonesia dan warganegara, dan 
lain-lain...  Ali Sugiharjanto almarhum, mantan direktur Penerbit Sinar Harapan yang 
pernah bekerja sebagai pencuci piring di sini mengatakan:"Tidak pernah saya dapatkan 
di dapur restoran orang membicarakan puisi, kebudayaan, politik, sejarah dan nasib 
negeri".Karena itu saya tidak ragu mengatakan bahwa "Koperasi Restoran Indonesia" 
susungguhnya adalah sebuah sekolah bagi para anggota koperasi. Seribu restoran 
Indonesia boleh didirikan di Paris, tapi trade mark koperasi ini tidak mungkin lagi 
tersaingi. Bangsa dan Republik Indonesia selayaknya bangga kalau kita masih bisa 
menghargai diri sendiri sebagai bangsa dan negara dan Yuli Mumpuni, mantan Atase Pers 
KBRI Paris, merumuskan kebanggaan, penghargaan  serta dan terimakasihnya dalam 
kata-kata "duta bangsa sesungguhnya".

Yang sering menertawakan adalah sikap orang Indonesia dari Indonesia terhadap pekerja 
koperasi.  Mereka salah duga dalam  memandang para pekerja restoran koperasi. Bahwa 
benar "langganan adalah raja" dari segi komersial, tapi dalam memandang sesama manusia 
, pelanggan dari Indonesia mengira kemanusiaan bisa ditakar dengan uang di kocek 
mereka. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya ketika berhadapan dengan pekerja restoran 
: kami dan mereka saling menertawakan. Kami merasa sedih melihat kadar kemanusiaan 
orang Indonesia sudah begitu rendah, sementara mereka  , para pelanggan memandang kami 
sebagai pekerja restoran begitu rendah. Mereka tidak mengerti bahwa dari segi tingkat 
pendidikan, umumnya pekerja koperasi Restoran ini tidak kurang dari mereka. Pernahkah 
terbayang pada orang-orang Indonesia yang datang sebagai tamu bahwa yang melayani 
mereka adalah seorang  yang bergelar Doktor , S1 dan S2? Tapi orang Indonesia sekarang 
saya kira lebih banyak sebagai manusia tidak punya  harga diri. Harga dirinya sebatas 
dollar belaka. 

Pernah terjadi pelanggan dari Arab Saudi yang menaksir dan mengajak tidur seorang 
pekerja perempuan kami . Pelanggan ini langsung kami tegur dan kami suruh keluar 
karena kami anggap menghina. "Restoran ini bukan rumah pelacuran dan pekerja kami 
bukan pelacur" , penanggungjawab kami mengatakan kepada pelanggan dari Arab  Saudi 
itu."Anda boleh tidak membayar apa yang Anda telah makan , tapi jangan hina kami!". 
Saya sendiri pernah menghadapi seorang Spanyol -- mungkin sedang mabuk!? -- yang 
setelah menyantap habis seluruh makanan mengatakan bahwa makanan yang dimakannya 
seperti makanan anjing. Langsung saya jawab: "Dengan berkata begitu sebenarnya Anda 
mengatakan diri Anda tidak lain dari anjing. Keluar sekarang. Anjing tidak punya uang 
bukan dan anjing tidak kenal budaya manusia. Kalau Anda meneruskan kata-kata Anda yang 
menghina saya akan panggil polisi ?" . 

Berdasarkan pengalaman-pengalaman ini maka di dalam buku tamu, kami cantumkan 
ketentuan-ketentuan tatakrama bagi  para tamu yang kami terima. Dalam tatakrama itu, 
kami terakan, agar yang menyimpang dari tatakrama itu dipersilahkan keluar dan tidak 
usah datang. 

Kali lain ada dua orang polisi berpakaian sipil makan dan mengatakan bahwa koperasi 
melanggar hukum karena tidak membuat ruang merokok dan tidak merokok. Lagi-lagi 
kebetulan waktu itu saya sedang melakukan service. Saya merasa tersinggung oleh 
kesewenang-wenangan ini demikian juga para langganan lain. Para langganan saya minta 
menandatangani pernyataan yang mengatakan bahwa mereka sanggup menjadi saksi dengan 
mencantumkan alamat dan nomor telepon mereka, terhadap gugatan dua lelaki yang mengaku 
polisi itu tapi tidak mau memberikan kartunya ketika saya minta dan saya tantang untuk 
mengajukan masalahnya ke pengadilan karena ia menggunakan istilah "pelanggaran hukum". 
Kepada dua lelaki itu, saya katakan: "Saya tunggu gugatan Anda kalau Anda memang 
menghargai kata-kata Anda karena sementara ini saya tidak merasa perlu menggugat Anda 
atas hinaan yang Anda lakukan".  Gugatan tidak kunjung datang, yang datang polisi 
datang minta tolong menterjemahkan beberapa dokumen dari bahasa Indonesia ke Perancis. 

Bandit-bandit kwartir pun pernah menekan kami. Dan kami tantang untuk hadap-hadapan. 
Akhirnya mereka takut sendiri. Dari sini saya melihat bahwa betapa perlunya memberikan 
daya paksa pada katakata. Daya paksa yang tentu saja berbeda dengan daya paksa bandit 
yang berpedoman pada banditisme. Karena gonggong anjing bukanlah kebudayaan, anjing 
berada di alam hewan. Tapi kehidupan memang sering digonggong oleh anjing-anjing 
berbagai wajah. Koperasi Restoran Indonesia Paris sangat sering digonggong termasuk 
oleh pemerintah Republik Indonesia dan KBRI. Dubes A.Silalahi dengan stafnya telah 
mengkoreksi hal ini. Tanahair,bangsa dan negara memerlukan diplomat tipe A.Silalahi, 
Yuli Mumpuni, Andreas Sitepu. Hampir seperempat abad usia Koperasi Restoran Indonesia 
adalah proses hampir seperempat abad belajar hidup dan untuk menjadi manusia di rantau 
orang sambil mencoba menjadi Indonesia serta menjunjung makna Indonesia. Apakah 
tanggungjawab keindonesiaan ini dilakukan oleh semua diplomat Indonesia dan yang 
mengaku Indonesia? Saya melihat banyak orang yang menyebut diri Indonesia  tapi pada 
kenyataannya tidak acuh pada Indonesia bahkan tidak paham tentang apa itu Indonesia, 
termasuk yang menyebut diri sastrawan dan budayawan. Yang mereka hitung adalah diri 
sendiri dan predikat. Yang terdapat lebih banyak ocehan tanpa tanggungjawab, predikat 
tanpa paham makna sebutan dan menentukan taraf subyek. Manusia beginilah sesungguhnya 
yang dengan tidak segan-segan  menteror dan merusak serta memerosotkan Indonesia. 

Setelah hampir seperempat abad berada di daratan lembah sungai Seine yang membelah 
Paris, seperempat abad    dikucilkan, diancam dan ditekan oleh pemerintah dan negara 
yang tanpa malu-malu masih menyebut diri sebagai Republik dan Indonesia, ditambah 
dengan tekanan para bandit Paris, Koperasi Restoran Indonesia  mulai 18 Juni 2004 akan 
mengibarkan nama Indonesia di kapal sungai Seine di bawah cahaya matahari musim panas. 
Pernahkah panji Indonesia sebelumnya dikibarkan di sungai ini? Siapakah sebelumnya 
yang mengibarkan nama Indonesia di atas kapal-kapal sungai Seine? Selama ini 
keindonesiaan dan kadar kemanusiaan di Indonesia seakan diukur dengan uang dan 
penyelewengan, ditakar dengan kadar kesanggupan membudak kepada pemegang kekuasaan 
politik tanpa acuh benar tidaknya pilihan politik pemegang kekuasaan.Dalam hal ini 
saya bisa bertemu dengan penyair Taufiq Ismail, bahwa sering saya merasa "malu menjadi 
Indonesia". Tapi kalau mengingat bahwa manusia-manusia demikian sesungguhnya secara 
intrinsik konsepsional bukanlah Indonesia, dalam keadaan Indonesia dijatuhkan saya 
merasa ditantang untuk bangga menjadi Indonesia dan membela Indonesia. Bahwa Indonesia 
yang sesungguhnya bukanlah kebrengsekan tapi suatu ungkapan dari kebesaran dan 
kemuliaan ide dan jiwa yang sedang mencari jalan pengejawantahan diri di tengah-tengah 
bangsa manusia.

Melalui lumpia, nasigoreng,  bakmie, krupuk, kueh dadar, pisangoreng serta minuman 
Indonesia seperti teh es dan es kelapa, mulai tanggal 18 Juni 2004, tim pengelola 
Koperasi Restoran Indonesia bekerja sama dengan LSM Perancis, P�niche Alternat,  akan 
membawa Indonesia ke atas kapal di tengah-tengah  sungai Seine yang membelah Paris. 
Program ini bukanlah kegiatan satu dua hari dan insidentil tapi hanya dibatasi oleh 
kemampaun dan kesanggupan fisik. Salahkah menyebut kegiatan membawa   dan mengapungkan 
nama Indonesia ke atas sungai Seine ini sebagai ujud dari cinta negeri dan tanahair 
yang bernama Indonesia secara berprakarsa dan prakarsa yang datang dari bawah bahkan 
dari orang-orang yang disingkirkan? Bagi Koperasi Restoran Indonesia prakarsa demi 
prakarsa yang mereka lakukan di bidang kebudayaan dan ekonomi tidak lain dari 
menterjemahkan Indonesia dan keindonesiaan ke dalam kenyataan. Mengapungkan Indonesia 
di atas sungai Seine, apakah bisa melambangkan bahwa Indonesia tidak akan tenggelam? 
Saya hanya bertanya dengan lambang sambil membayangkan bangsa dan tanahair.

Paris, Juni 2004.
----------------
JJ.KUSNI

Catatan:
Foto terlampir diambil oleh Jelitheng, mengambarkan suasana Sungai Seine dengan 
kapal-kapalnya dilihat dari Jembatan Aleksander III -- jembatan hadiah Tsar  Russia 
kepada Perancis. Karena itu dinamakan Jembatan Aleksander III.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke