Reformasi yang Manusiawi 
- Memetik Pelajaran dari Pengalaman India

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/14/opini/1081134.htm

Oleh HS Dillon

PERNYATAAN politik pertama Perdana Menteri India yang baru, Manmohan 
Singh, tatkala mulai menjabat adalah bahwa dia akan menjalankan 
reformasi yang manusiawi. Dia memang tokoh yang seharusnya paling 
tahu karena dia jugalah yang dahulu menyusun strategi dan 
melaksanakan reformasi kebijakan ekonomi dan pembangunan India.

Menurut Prof Widjojo Nitisastro, arsitek ekonomi kita, Dr Manmohan 
Singh telah mengunjungi Jakarta berulang kali untuk mempelajari 
keberhasilan "deregulasi" yang kita jalankan.

Memang, dia seharusnya sudah lebih mengerti, bukankah dia terpilih 
sebagai perdana menteri karena, antara lain, penolakan pemilih 
terhadap Partai Bharatiya Janata (BJP) yang mengaku memperjuangkan 
rakyat? Ternyata shining India (India yang gemerlapan) yang dijadikan 
slogan kampanye BJP masih meninggalkan ratusan juta jiwa tetap 
mendekam dalam kegelapan. Kini, mereka menggapai cahaya yang membawa 
asa, dengan mendayagunakan lembaga utama demokrasi, pemilihan umum.

Cita-cita ingin mereka wujudkan melalui penjalinan aliansi antara 
semua pencinta anak bangsa. Cara yang ditempuh sungguh elegan, partai-
partai kiri tidak ikut berebut kursi kabinet. Akan tetapi, mereka 
menjanjikan dukungannya selama pemerintah menjalankan amanat 
menggapai orang kecil yang selama ini terpinggirkan oleh kemajuan 
yang dibangga-banggakan ke seantero dunia.

BAGAIMANA perbandingannya dengan keadaan kita? Kita juga pernah 
melaksanakan deregulasi, dengan hasil yang lumayan baik. Akan tetapi, 
deregulasi perbankan yang tidak dibarengi peningkatan kemampuan 
pengawasan oleh bank sentral jelas turut memberikan sumbangan kepada 
krisis yang hingga kini masih terus menghadang perjalanan bangsa.

Reformasi yang kita lakukan pernah dinyatakan "berhasil" berdasarkan 
indikator-indikator makro-ekonomi. Namun, adalah merupakan kenyataan 
bahwa para konglomerat hitam kini malah telah diputihkan BPPN 
sehingga beban utang konglomerat digeser ke atas pundak rakyat untuk 
dipikul generasi mendatang. Sementara anak-anak yang diharapkan dapat 
melunasi utang ini kelak, sebagian besar keluarganya terjerat 
kemiskinan. Generasi yang sakit-sakitan dan kurang terdidik inilah 
yang akan terpaksa menanggung beban konglomerat hitam.

Sementara itu, desentralisasi yang sedang berjalan menghasilkan 
penyebaran korupsi yang lebih meluas. Banyaknya anggota DPRD di 
berbagai daerah yang dituduh-dan di antaranya telah pula dijatuhi 
hukuman-menunjukkan kecenderungan para pejabat mendahulukan 
kepentingan mereka sendiri. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang 
seakan terkoordinasi semasa Soeharto merebak ke seluruh Tanah Air, 
dengan pelaku yang sudah melupakan hari kiamat. Mereka mengibarkan 
bendera kedaerahan sembari memerkosa hak rakyatnya sendiri.

Lakon para penegak keadilan sungguh memalukan, seakan mereka 
merupakan penjajah yang mengisap rakyat. Keputusan dalam kasus 
pelanggaran HAM, mengenai perusakan lingkungan, dan manipulasi BLBI 
yang dilaksanakan para konglomerat hitam, menafikan rasa keadilan 
rakyat. Hukum dijadikan dalih untuk melanggengkan penjarahan harta 
bangsa. Akibat impunity mulai dari Cendana inilah KKN semakin 
merajalela.


APA pula yang kini sedang digambarkan oleh para calon presiden? 
Banyak janji, tetapi mereka pun ternyata termakan saran-saran para 
pengamat ekonomi. Mereka, katanya, akan membenahi pelaksanaan hukum 
yang dapat ikut membantu merangsang investasi. Mereka akan menyusun 
kebijaksanaan yang "promarket"". Apakah para calon ini mafhum bahwa 
pasar hanya mengakui mereka yang mempunyai sesuatu yang dapat dijual-
belikan? Pasar tidak mengenal kemiskinan! Apakah mereka telah benar- 
benar berusaha menanggulangi kemiskinan, menyejahterakan rakyat?

Dalam platform mereka sulit dicium akan adanya kebijaksanaan konkret 
yang dapat menanggulangi kemiskinan. Malah terkesan bahwa mereka 
tidak mampu menemu-kenali akar masalah kemiskinan karena tidak bisa 
merasakan penderitaan rakyat. Inilah perbedaan utama antara orang 
yang menyatakan dirinya "pemimpin" pada saat sekarang dan para 
pendiri bangsa seperti Soekarno dan Hatta.

Kalau pemimpin sudah tidak mempunyai nurani, apa yang dapat dilakukan 
rakyat guna memperjuangkan haknya? Sekarang rakyat sudah mulai 
menunjuk gigi. Ini pertanda terbitnya zaman baru. Pesan pemilu 
legislatif yang disampaikan pemilih jelas dan gamblang, yang tidak 
membelanya segera ditinggalkan wong cilik. Kejadian ini merupakan 
berkah dari Tuhan, sebuah tamparan keras guna menyadarkan pemimpin 
yang zalim. Semua elite politik yang selama ini menganggap bahwa 
rakyat kecil dapat dibohongi melalui media blitz dan iming-iming 
rupiah kini mengalami shock berat, menghadapi prospek terpaksa 
meninggalkan kursi empuk.

Kita melihat bahwa pemberantasan korupsi menjadi slogan yang digembar-
 gemborkan setiap calon. Namun, apakah mereka memahami kemiskinan 
rakyat melalui perusakan lingkungan, mulai dari pengaplingan hutan 
sampai ke penggalian pasir melenyapkan pulau? Mengapa mereka semua 
diam tatkala penanggulangan kemiskinan dikerdilkan menjadi masalah 
karitas semata? Padahal, akar masalahnya adalah masalah ekonomi-
politik, siapa mendapat apa. Cui bono?

Sebenarnya Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (BKPK) pernah 
mulai menangani semakin merajalelanya kelembagaan ekstraktif dalam 
seluruh bidang produksi dan konsumsi. Konsepsi merakit tangga keluar 
dari kemiskinan melalui diskursus-setara dengan warga miskin itu 
sendiri sudah mulai dikembangkan oleh pakar-pakar bernurani di BKPK. 
Bersama beberapa aktivis tulen, mereka sudah mulai meyakinkan para 
penguasa bahwa kita dapat memutus pewarisan kemiskinan dari generasi 
ke generasi. Namun, badan ini dihilangkan, mungkin karena dinilai 
terlalu maju oleh kelompok pro-status quo.


REKAM jejak>small 0< sementara calon pemimpin yang kurang berpihak 
hanya dapat dikompensasi dengan kontrak politik untuk menindak 
koruptor dan mengutamakan peningkatan kesejahteraan rakyat kecil. 
Dengan perkataan lain, pemilih harus menuntut agar para calon 
presiden bersumpah akan mengubah paradigma pembangunan pro-modal 
menjadi yang lebih ditentukan oleh kemampuan dan kebutuhan rakyat.

Agar rakyat mendapat haknya, selama tiga minggu mendatang, kita-para 
warga yang lebih beruntung, yang telah meraih pendidikan dan 
menikmati kesejahteraan yang lebih besar-harus membawa pesan ini 
kepada rakyat. Jangan asal percaya janji-janji para calon presiden 
dan calon wakil presiden, lihatlah dahulu apa saja yang telah mereka 
lakukan selama ini!

Akan tetapi, reformasi yang manusiawi tidak akan terwujud selama text-
book para pakar yang dijadikan pedoman. Diperlukan pemikiran 
menerobos yang mengakar pada realita bangsa. Kalau demikian, 
bagaimana sebenarnya wujud reformasi yang manusiawi? Keadilan, 
keseimbangan, dan kewajaran merupakan tiga kata kunci. Pemerintah 
memberikan keleluasaan kepada masyarakat, sementara menjamin tidak 
terjadinya penindasan oleh sesama. Privatisasi tidak diharamkan, 
tetapi dilaksanakan secara selektif. Kepentingan jangka panjang 
bangsa diutamakan daripada keuntungan sesaat pemerintah yang sedang 
berkuasa. Bukan liberalisasi yang meminggirkan petani kecil yang 
dipaksakan, tetapi kebijakan untuk menciptakan lapangan permainan 
yang adil yang diketengahkan.

Agar reformasi yang manusiawi itu meningkatkan daya saing bangsa, 
kita harus mampu merakit pelana guna menjinakkan gelombang 
globalisasi sehingga turut membawa manfaat bagi rakyat. Teknologi 
informasi dan komunikasi semestinya diarahkan kepada penanggulangan 
kemiskinan, dan bukan untuk memperkokoh cengkeraman modal. Pasar 
tidak dibiarkan menindas keluarga miskin, tetapi diarahkan untuk 
meningkatkan produktivitas sehingga rakyat menjadi landasan kokoh 
bagi terbangunnya bangsa yang mempunyai harkat dan martabat.

Berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan 
berkepribadian dalam bidang kebudayaan, itulah pedoman bagi bangsa 
yang telah diamanatkan Proklamator. Itulah sebenarnya yang akan 
diwujudkan melalui reformasi yang manusiawi.

HS Dillon Pecinta Bangsa; Kini Menjabat sebagai Executive Director 
Partnership for Governance Reform




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke