Dari Notes Belajar Seorang Awam:

BELAJAR DARI DUA ORANG PENULIS SINGAPURA

"Emotional Language" [193 halaman] adalah sebuah buku bersifat psikhologis bahkan 
mendekati filosofis dalam bentuk hard cover yang baru-baru ini terbit di Singapura, 
buah pena bersama Myint OO [50 tahun] dan Mimi Teo. Myint yang sekarang menjadi 
warganegara Singapura adalah seorang yang lahir di Birma [Myanmar] sedangkan Mimi Teo 
kelahiran Indonesia dan masih merasa sangat terikat dengan Indonesia bahkan bisa 
dikatakan sangat Indonesia sekalipun secara kertas adalah seorang warganegara 
Singapura. Myint OO adalah seorang pengusaha yang berhasil besar dan dewasa dalam 
lingkungan Budhisme. Sedang Mimi Teo lahir di lingkungan etnik Tionghoa Indonesia yang 
sangat nasionalis dan terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan nasional . 
Setelah Republik Indonesia berdiri,  keluarga Mimi bergerak dalam bidang kebudayaan 
dari mana kemudian Mimi Teo mulai berminat terhadap sastra-seni. Mimi termasuk salah 
seorang  pengagum Pramoedya A. Toer, Chairil Anwar dan ia sendiri telah menulis 
beberapa novel, cerpen dan puisi dalam bahasa Indonesia sekalipun masih belum 
diterbitkan. Novel dan cerpen Mimi umumnya bertutur tentang Indonesia dan sejarah 
perkembangan Singapura serta manusia Singapura.

Berbeda dengan Myint OO, Mimi adalah seseorang yang berpikiran bebas dan sangat 
percaya kepada nalarnya sehingga sering terasa pendapat-pendapatnya sangat tajam 
seperti bahwa "pada haekatnya di zaman ini kita semua pelacur" [pelacur dalam arti 
manusia yang bisa dibeli dan dibayar!].Kita tidak bisa menghadapi Mimi jika kita tidak 
jujur pada diri sendiri karena ia pun sangat jujur pada dirinya.  Mimi terus-terang 
mengatakan dirinya sebagai seseorang yang "kosong" dalam pengertian ia merasa  tidak 
mempunyai akar budaya. Tidak Tionghoa, tidak Indonesia dan juga tidak Singapura. "Kau 
bahkan lebih Tionghoa daripada saya", katanya padaku."Ayah angkatmu adalah Tionghoa, 
kau pernah hidup lama di Tiongkok dan mengenal budaya Tiongkok bahkan sejak di 
Indonesia kau hidup di lingkungan budaya Tionghoa", tambahnya.   "Sedangkan saya 
adalah diri saya" , "saya adalah seorang pencari tanpa ujung", ujarnya. 

Barangkali dalam pencarian inilah kedua penulis bertemu katrena Myint OO sekalipun 
diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan Budhisme tapi ia pun tidak berhenti bertanya 
dan mampu keluar dari lingkungan Budhisme yang membesarkannya. Dalam usaha sama-sama 
mencari ini, Myint dan Mimi bertemu dan bersama-sama menulis buku "Bahasa �Perasaan" 
[Emotional Language] dalam bahasa Inggris. 

Kenyataan begini seakan menunjukkan bahwa pencarian membuat diri kita seperti pintu 
terbuka terhadap berbagai masukan karena masukan demi masukan membantu kita menjawab 
pertanyaan demi pertanyaan serta membantu kita kita menemukan sesuatu kendatipun 
penemuan itu bukanlah titik akhir pencarian tak kenal ujung.  Bagi Myint, Budhisme 
merupakan awal dari pertanyaan sedangkan bagi Mimi "kekosongan"nya merupakan ruang 
besar yang menagih isi. Myint berdialog dengan yang lain dengan bermula dari akar 
budayanya: Budhisme, sedangkan Mimi berdialog bertangkat dari "kebebasan berpikir" dan 
"kekosongan"nya. 

Proses bertemunya Mimi dan Myint OO bagi saya merupakan hal yang menarik karena nampak 
kedua-duanya adalah tokoh-tokoh yang terbuka dan menolak kemandegan terutama yang 
bersifat fanatisme yang senantiasa merabunkan pandang. Kedua-duanya adalah tokoh yang 
berjati diri entah ia bernama "kekosongan" dan "kebebasan berpikir" entah ia seorang 
Budhis. Jati diri tidak identik dengan ketertutupan tapi awal kokoh untuk berdialog 
mencari hakekat. Jati diri bukanlah angka mati dan bukan palang pintu. Pertemuan kedua 
penulis ini yang kemudian terujud dalam sebuah karya bersama  seperti mau mengatakan 
bahwa keragaman adalah keindahan dan azas tunggal mengandung bencana. Terbaca juga 
pada saya bahwa pencarian pada galibnya tidak lain dari kejujuran pada diri sendiri 
untuk sanggup menerima dan memberi ruang bagi kebenaran pihak lain. Pencarian tanpa 
kejujuran tidak memungkinkan pertemuan dan dialog. Tanpa kejujuran pada diri sendiri 
barangkali dialog itu bisa dikatakan tidak ada. Kejujuran adalah suatu ruang terbuka 
untuk diisi bersama-sama dengan penemuan bersama yang disebut kebenaran betapapun 
relatifnya.  Dengan sikap begini kedua penulis agaknya mau mengatakan melalui tindakan 
bahwa mereka melihat sumber kebenaran itu tidak tunggal. Bukan hanya divine truth tapi 
juga bisa bersumber dari jawaban pertanyaan alias pencarian manusia. Diktatur, 
paternalisme, otoriatarianisme, militerisme, feodalisme lama dan baru serta dogma bagi 
kedua penulis merupakan kutub lain di hadapan kutub sikap dan pandangan mereka. 
Melihat kedua sikap kedua penulis "Bahasa Perasaan" ini, saya pertanyakan apakah 
penulis-penulis Indonesia memilikinya? Pertanyaan ini saya anggap kunci dalam mencari 
solusi masalah. Karena itu, buku "Bahasa Perasaan" ini saya nilai sekalipun oleh Mimi 
disebutnya sebagai lebih bersiat psikhologis, sebenarnya lebih dekat pada pendekatan 
filosofis. Pendekatan filosofis biasanya lebih mendasar dalam membaca gejala. 
Pendekatan filosofis memungkinkan kita mampu membaca kehidupan dan hakekat. Dan inilah 
yang saya maksudkan tidak sedikit orang yang tidak buta aksara tapi tidak tidak bisa 
membaca. Bagi  penulis dan orang yang ingin menjadi penulis, entah novelis atau 
penyair, bahkan wartawan [kalau ingin jadi wartawan yang serius] dan sebagainya, 
kuranglebih bisa dikatakan bahwa kemampuan membaca ini sangat diperlukan. Tanpa 
kemampuan membaca, sang penulis [apapun namanya] akan terhenti di permukaan baik ia 
bernama perasaan ataupun gejala. 

Masalah perasaan di Perancis termasuk salah satu tema yang banyak dibahas oleh para 
psikhoanalis dan para filosof. Dan justru soal perasaan inilah yang dibahas oleh Myint 
dan Mimi dalam karya bersama "Bahasa  Perasaan". Kedua penulis mengangkat tema ini 
berangkat dari pengalam pribadi masing-masing. Pengalaman yang menggalaukan mereka 
sehingga mereka mempertanyakan apakah gerangan perasaan dan depresi itu? Myint sendiri 
misalnya, menurut tuturannya menderita depresi berat sejak masa kecil sampai dewasa 
bahkan hingga sekarang.  Melalui berbagai upayanya sendiri,  ia dapat banyak kebaikan 
dari meditasi. Dan dari  situ, banyak sekali  ia menemukan pencerahan [enlightment] 
yang  menurutnya sangat berguna dalam menangani  depresi, yang mengakibatkannya  
pernah mau bunuh  diri beberapa kali, ketika depresinya datang  mengamuk. Sedangkan 
Mimi sebagai seorang pencari yang berpikiran bebas yang ingin memaksimalkan hidup, 
sekalipun tidak berada dalam keadaan depresi tapi ia seorang yang selalu gelisah 
digelisahi oleh pertanyaan-pertanyaan. Karya bersama "Bahasa Perasaan" ini  merupakan 
buah renungan kedua penulis tentang depresi dan perasaan, saduran dari pengalaman, 
renungan dan bacaan mereka. Mereka menulis karya ini dengan aksud pihak-pihak lain 
yang mengalami atau sedang dilanda siksaan depresi sebagai ujud solidaritas 
kemansiaan. Banyak memang buku-buku sudah ditulis tentang masalah depresi ini, 
terutama yang ditulis oleh orang-orang Barat tapi yang ditulis oleh orang-orang Asia 
sendiri berdasarkan psikhologi dan budaya Asia masih sedikit.  Menurut Myint OO 
"banyak membaca buku buku yang  berkenaan dengan masalah depresi" , tapi Myint, 
demikian juga Mimi Teo "merasa buku buku  itu tidak semuanya membantu". Barangkali di 
sinilah letak sumbangan karya Myint dan Mimi Teo bagi ilmu pengetahuan, terutama dunia 
psikhologi dan filsafat : melihat masalah berdasarkan keadaan lokal lalu menggapai 
nilai universal. Paling tidak dalam menterapkan menampilkan kasus guna mencapi nilai 
unverisal tersebut. Myint OO  bahkan menilai bahwa karya-karya para penulis Barat dan 
Budhisme dalam masalah ini banyak mentautkan masalah depresi dengan "Budhisme dan 
Tuahn". Sekalipun Myint OO dibesarkan dalam lingkungan Budhisme tapi melalui renungan 
dan pengalamannya, Myint berakhir dengan penolakan pada pendekatan begini. Di sinilah 
nampak kebesaran Myint sebagai warga Republik Merdeka Sastra-seni yang bebas berpikir 
dan bertindak. Di titik ini pulalah Myint dan Mimi Teo berjumpa. Melalui renungan dan 
pengalamannya, Myint berkesimpulan bahwa masalah depresi dan perasaan "sama sekali" 
tidak ada taut-menautnya dengan Tuhan. Dengan kesimpulan ini Myint dan Mimi Teo 
mengembalikan bumi dan kehidupan ke tangan manusia. Dengan cara ini pulalah maka Myint 
menangani depresinya dan Mimi menjawab keresahan pencariannya sebagai seorang yang 
berpikiran bebas. "Science" dan "nalar" adalah jalan kehidupan demikian agaknya 
kesimpulan kedua penulis yang berlatarbelakang berbeda ini. Seperti dikatakan oleh 
Mimi Teo sebagai patner Myint menulis karya "Bahasa Perasaan", sikap dan pandangan 
Myint ini "sangat luar biasa apalagi jika dilihat dari latarbelakang budaya Myanmar 
dan keluarganya yang Budhis". Terbitnya karya berharga ini tidak lepas dari jasa 
Charles, bisnismen dan Patrick yang pengacara, jaringan yang menunjukkan kepastian 
hukum serta peranan uang dalam membangunkembangkan budaya. 

"Aku ingin merdeka" ujar Mimi Teo ."Dengan menulis aku menemukan kemerdekaanku" 
tambahnya. Dan hasrat serta semangat merdeka inilah yang utama kupelajari dari kedua 
penulis Singapura ini.  Kemerdekaan dan mencari jawab. Sedangkan hasil pencarian tetap 
ruang luas dengan pintu terbuka yang merupakan ciri kehiduipan ini sendiri. 
Barangkali. Yang pasti kehidupan sebagai ruang luas nyang  patut diisi dan menangih 
isi menunggu karya-karya kedua penulis ini selanjutnya. ***   

Paris, Juni 2004.
----------------
JJ.KUSNI





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke