Sebagian Ikan asin diberi formalin supaya lebih tahan
lama, Ayam potong kadang-kadang disuntik formalin
kalau sampai siang hari belum juga terjual,
Terasi diberi rhodamin B (pewarna tekstil).
Bagaimana di Indonesia tidak banyak lahir bayi dengan
kelainan (tanpa batok kepala, jantung diluar
tubuh,dll) jika ibu-ibu mereka makan-makanan yang
beracun ?
Siapapun tahu kalau formalin dan pewarna tekstil
(sangat) bisa menyebabkan kanker jika dikonsumsi
manusia.
--- bapakjewel <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [EMAIL PROTECTED], Sandy Dwiyono
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 10.06.2004
> >
> > Melacak asal bahan makanan
> >
> >
>
> Salam kenal (kembali) dulu. Di Indonesia, ada bahan
> makanan/minuman
> yang amat berbahaya. Yaitu bahan pewarna tekstil
> untuk mewarnai
> minuman murahan dan pudding yang dikonsumsi
> anak-anak. Dulu tahun
> 1970an dan awal 1980an Lambaga Konsumen Indonesia
> pernah mengangkat
> soal itu sebentar. Tapi lantas diam saja, karena
> (katanya) akan
> memukul pedagang kecil. Bahan non-food colouring
> ini jelas-jelas
> merusak organ tubuh (ginjal dan liver), jelas-jelas
> membahayakan
> kesehatan masyarakat (utamanya anak-anak).
>
> Ada baiknya, mahasiswa S-1, S-2 dan S-3 studi
> terkait (kimia,
> kedokteran dan kesehatan masyarakat) untuk meneliti
> soal ini.
> Dokter-dokter Indonesia di WHO Regional Office di
> New Delhi bisa
> sharing?
>
> Salam,
> RM
>
>
> > Setelah merebaknya wabah penyakit sapi gila BSE,
> penyakit kuku dan
> mulut, sampar babi serta flu unggas, pertanyaan
> mengenai asal bahan
> makanan, semakin menjadi perhatian di negara maju.
> >
> >
> > Terutama di Eropa, dimana rantai distribusi bahan
> makanan relatif
> pendek, tapi mencakup banyak negara, tema asal dan
> keaslian bahan
> makanan menjadi amat penting. Sebab, selain
> menyangkut keamanan
> konsumen, deklarasi bahan makanan berpengaruh besar
> pada bidang
> ekonomi. Apakah betul minuman anggur mahal yang kita
> beli berasal
> dari Perancis? Atau keju yang dijual di supermarket
> berasal dari
> Belanda? Daging asap dari Italia? Atau kaviar
> benar-benar berasal
> dari Rusia?
> >
> > Bagi orang awam, sulit membedakan asal dan
> keaslian bahan pangan.
> Karenanya pemalsuan merk, kini semakin merajalela.
> Minuman anggur
> murah dari Afrika Selatan, bisa saja dibubuhi aroma
> tertentu dan
> ditempeli merk seolah-olah berasal dari Perancis.
> Dengan begitu
> harganya akan naik secara drastis. Atau kaviar alias
> telur ikan yang
> harganya amat mahal, dideklarasikan berasal dari
> Rusia. Padahal
> asalnya dari peternakan ikan di Asia. Rasa makanan
> kini dapat
> direkayasa dengan mudah, untuk meniru rasa aslinya.
> >
> > Pemalsuan semacam itu, untuk meraup keuntungan
> ekonomi dengan
> mudah, merugikan konsumen di banyak negara. Yang
> paling
> membahayakan, jika di satu negara sedang berkecamuk
> wabah penyakit
> ternak yang mematikan, ternak dari negara
> bersangkutan
> dideklarasikan sebagai berasal dari negara lain yang
> aman. Misalnya
> saja, ketika di Inggris merebak wabah sapi gila-BSE,
> banyak pedagang
> yang curang, mengakali seolah-olah daging sapi yang
> dijualnya tidak
> berasal dari Inggris. Dengan cara itu, pedagang
> dapat membeli daging
> dari Inggris dengan harga murah, dan menjual lagi
> dengan harga
> tinggi.
> >
> > Perlindungan konsumen dan produsen
> >
> > Akan tetapi, dengan praktek semacam itu, keamanan
> konsumen
> diabaikan. Melalui cara curang semacam itu, siapa
> yang dapat
> mengira, bahwa mereka mengkonsumsi daging sapi
> tercemar BSE,
> bukannya daging sapi yang aman. Padahal diduga,
> penyakit sapi gila
> dapat menular kepada manusia. Atau juga para
> produsen bahan makanan
> yang jujur, jelas sangat dirugikan. Misalnya, para
> petani anggur di
> Perancis, terancam bangkrut karena wine produksinya
> dipalsukan. Atau
> peternak di Italia yang bingung, karena produk
> daging asapnya yang
> terkenal bermutu, menjadi tidak laku. Pasalnya di
> pasaran beredar
> daging asap yang rasanya mirip, dengan harga lebih
> murah.
> >
> > Kini pertanyaannya, apakah lembaga pelindung
> konsumen diam saja,
> menyaksikan kecurangan semacam itu? Adakah metode
> yang betul-betul
> dapat dipercaya, untuk membongkar penipuan yang amat
> merugikan ini?
> Jawabannya, tentu saja jika ada rekayasa untuk
> meniru rasa makanan,
> pasti ada metode untuk melacaknya. Salah satunya
> dikembangkan di
> Jerman, dengan metode pelacakan isotop stabil dari
> bahan makanan.
> Dengan meneliti komposisi isotop elemen dasar,
> seperti karbon,
> hidrogen, belerang, nitrogen dan oksigen, biasanya
> wilayah asal
> bahan makanan dapat diketahui.
> >
> > Prof. Dr. Peter Schreier, gurubesar di jurusan
> kimia bahan makanan
> di Universitas W�rzburg menjelaskan, setiap wilayah
> memiliki
> komposisi elemen dasar yang khas. Misalnya anggur
> dari kawasan
> Bordeaux di Perancis, memiliki komposisi elemen
> dasar yang khas,
> yang amat berbeda dengan anggur dari kawasan lain.
> Rasa yang khas
> dari anggur Bordeaux misalnya, ditentukan oleh
> faktor komposisi
> tanah, udara dan kelembaban. Komposisi elemen dasar
> yang unik
> itulah, yang menimbulkan rasa khas pula pada anggur
> Bordeaux, yang
> menyebabkan harganya amat mahal.
> >
> > Dengan bantuan metode pengukuran isotop stabil,
> kini dibentuk apa
> yang disebut bank data aroma yang khas dari berbagai
> bahan makanan.
> Dengan begitu dapat diperiksa, apakah benar bahan
> makanan yang
> dideklarasikan, berasal dari daerah yang sebenarnya.
> Dengan metode
> itu, dapat dilakukan pemeriksaan, apakah
> deklarasinya tidak menipu
> atau melanggar hukum. Sebab, dengan majunya ilmu
> kimia, dewasa ini
> rasa bahan makanan tertentu dapat ditiru dan
> direkayasa, baik
> menggunakan ekstrak unsur alami, ataupun yang dibuat
> secara
> sintetis. Prof.Schreier mengatakan, hal ini bukan
> hanya menyangkut
> perlindungan konsumen, akan tetapi juga sekaligus
> perlindungan
> produsen bahan makanan.
> >
> > Rekayasa aroma
> >
> > Dewasa ini, semakin banyak bahan makanan yang
> diperiksa keaslian
> serta keamanannya, menggunakan metode penelitian
> isotop. Misalnya
> saja produk makanan dan minuman dari buah-buahan,
> wine, minuman
> beralkohol, produk daging olahan atau juga produk
> olahan dari susu.
> Prof. Schreier mengatakan, yang paling menarik
> adalah penelitian
> unsur aroma. Dewasa ini, banyak sekali ekstraksi
> unsur alami, atau
> juga aroma yang direkayasa secara bio-teknologi,
> digunakan
> menggantikan unsur aslinya. Sebagai contoh, sejenis
> tanaman merambat
> yang di Brazil disebut Guarana, jika diekstraksi
> dapat menghasilkan
> coffein, yang harganya jauh lebih murah dari coffein
> dari kopi asli.
> >
> > Industri pembuatan minuman suplemen energi
> misalnya, dapat
>
=== message truncated ===
__________________________________
Do you Yahoo!?
Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/