Cerpen:
DARI PANTAI SUNDAK

Oleh Tangkisan Letug


Angin dingin menembus pori-poriku. Pantai Sundak di
pagi yang masih berembun ini, tak lebih daripada
pantai mati. Satu dua nelayan saja kutemui. Aku masih
malas beranjak dari tikar tergelar di antara tanaman
pandan. 

Semalaman aku telah mencoba berjaga. Semalaman aku
telah mencoba meraba, dan mencari, kemanakah arah
angin sedang ditiupkan dari pantai Sundak. 

Sekali-kali hanya kudengar teriak burung gagak di
kejauhan sana. Entah bangkai apa yang sedang ditemukan
sebagai santapannya. Suara jengkerik yang ramai masih
kudengar di telinga. Sementara matahari masih enggan
melongokkan muka.

Tertidurkah aku semalam? Terlelapkah aku di bentangan
alam sepi kelam? 

Seraya menggerakkan mata, kucoba ingat segala apa yang
terjadi semalam.

Sudah tiga hari ini aku melaksanakan laku, yang
mungkin sudah tidak laku di antara orang Jawa. Tiga
hari tiga malam aku hanya ditemani satu dirigen air
dan satu kotak biscuit. Cukup itu untuk mengganjal
perut ini. 

Kawan-kawanku sering mengatakan, "Gila kamu, Tug! Di
jaman modern seperti ini kok masih mau-maunya
melakukan laku kayak gitu. Mendingan kita gunakan
waktu untuk membaca dan menulis tentang berbagai ilmu.
Itu akan lebih berguna."

Aku hanya tersenyum menanggapi bermacam-macam kata
dari kawan-kawanku. Dan nyatanya, tiga hari ini aku
telah melewati suatu pengalaman itu. Suatu pengalaman
yang tak mungkin lagi memuaskan orang bila dimuat
dalam rentetan kata. 

Tidak ada kata yang cukup untuk mengungkapkan kesatuan
antara manusia dengan alam, antara jiwa dengan
kesemestaan. Inikah yang disebutkan sebagai "nikmat"
kehidupan?

Kucoba ingat apa yang baru saja terjadi semalaman. Aku
antara sadar dan tidak sadar, antara mimpi dan
kenyataan, antara tidur dan terjaga. Memang gila
katanya, di luar jangkauan akal sehat manusia. 

Tapi satu yang takkan pernah hilang dari perasaan:
keinginan tetap menyatu di dalamnya. Di sana, ada
pengalaman kekecilan jiwa di tengah keagungan semesta.
Di sana ada pengalaman, keberartian manusia yang kecil
di tengah dunia. Bagai kerikil-kerikil yang
membentangkan pantai Sundak, begitulah keberartian
keterciptaan seorang manusia. Ia hanya mungkin berarti
dalam kebersamaan dengan yang lain. Dalam kesendirian,
ia hanya menjadi sandungan bagi yang lain. Lalu,
pantaslah anging dan ombak membuangnya dan hilang.

Dari pantai Sundak, aku temukan suara keabadian. Dari
pantai Sundak, kutemukan keabadian. Dari pantai
Sundak, aku ditemukan.

Juni 2004



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Friends.  Fun.  Try the all-new Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com/ 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke