Habibie Siap Diperiksa, Akbar Diminta Mundur 
* Wiranto: Rp 10 Miliar untuk Pamswakarsa 

Jakarta, Bernas 

"Nyanyian" mantan Kabulog Rahardi Ramlan, tampaknya
bikin repot banyak pihak, termasuk mantan Presiden
Habibie. Bekas anak emas Soeharto ini, menyatakan
kesediaannya untuk diperiksa Kejaksaan Agung
(Kejakgung), sebagai saksi menyangkut dugaan
keterlibatannya dalam pencairan dana dana non-budgeter
Bulog dengan tersangka mantan Menperindag/Kabulog
Rahardi Ramelan. Tapi, secara tegas pihaknya sepakat
Ketua DPR/Ketua DPP Partai Golkar Akbar Tandjung
segera diperiksa.

Kesediaan mantan Presiden Habibie disampaikan orang
dekatnya, mantan Menkeh dan HAM Muladi. "Jika Pak
Habibie dipanggil oleh Kejaksaan Agung, Insya Allah
beliau siap datang, baik untuk memberikan keterangan
secara tertulis maupun lisan," ujar Prof Dr Muladi
kepada wartawan, seusai seminar 'Antipornografi' di
Habibie Centre, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (18/10)
siang.

Menurut Muladi, semasa Presiden Habibie menjabat tahun
1999 terjadi krisis multidimensional -- inflasi
melambung tinggi, rupiah terpuruk. "Pendeknya
indikator-indikator ekonomi sangat buruk," ujarnya.

Untuk itu, pemerintah di bawah pimpinan BJ Habibie
menggelar Raker antarmenteri-menteri, untuk mencari
solusi yang mampu mengatasi krisis ekonomi. Saat itu,
disepakati, satu-satunya jalan adalah meminjam dana
non-budgeter Bulog sebesar Rp 44 miliar untuk proyek
semacam Jaring Pengaman Sosial (JPS).

Selanjutnya, ia mengungkapkan, meski Habibie
menyetujui penggunaan dana non-budgeter Bulog, namun
Presiden tidak tahu menahu tentang pelaksanaan proyek
JPS di lapangan.

Karenanya, ia sepakat Kejaksaan Agung segera memanggil
Akbar Tandjung untuk diperiksa. "Jadi, serahkan saja
kepada Kejaksaan Agung. Biar masyarakat yang
menilainya," ujarnya.

Akbar diminta mundur 

Terpisah, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW)
Teten Masduki, serta Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum
dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PHBI) Hendardi,
mendesak Akbar Tandjung segera mengundurkan diri dari
jabatannya selaku ketua DPR. Pengunduran diri ini
perlu dilakukan, guna memperlancar proses hukum maupun
politik terhadap dugaan penyimpangan dana non-budgeter
Bulog sebesar Rp 40 miliar.

"Akbar Tanjung harus mundur dari jabatannya, karena
seorang ketua DPR tidak boleh cacat hukum. Dan, DPR
segera membentuk Pansus Buloggate II, guna menyelidiki
penyelewengan dana non-budgeter Bulog," tandas Teten
kepada pers di Jakarta, Kamis (18/10).

Pengakuan mantan Memperindag Rahardi Ramelan di depan
tim penyidik Kejakgung, dinilai Teten, merupakan
pengakuan di depan hukum. "Sehingga, tidak perlu
dibantah lagi kebenaran keterangan itu. Karena ada
konsekuensi hukumnya, jika dia berbohong. Walaupun
Akbar Tandjung membantah dan telah lupa apakah dana
itu diberikan pada yayasan atau yang lainnya, itu
sangat tidak argumentatif. Karena itu, Akbar tidak
punya alasan lagi," ujar Teten.

Desakan serupa dilontarkan Hendardi. Hanya saja dia
melalui rilis yang diterima Bernas di Jakarta,
menyarankan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu
mengundurkan diri untuk sementara. "Langkah
mengundurkan diri sementara ini penting, guna
menunjukkan tanggung jawab moralnya, dalam
memperlancar proses hukum dan politik yang akan
dilakukan terhadapnya," tegas Hendardi.

Menurut Hendardi, mundur sementara bukannya tidak
mungkin, karena dulu Jakgung M Andi Ghalib pernah
mundur ketika dirinya dibelit kasus. "Bila Akbar
Tandjung masih tetap menjalankan posisinya sebagai
Ketua DPR, sudah dapat dibayangkan akan banyak konflik
kepentingan yang akan mewarnai proses hukum dan
politik terhadap dirinya," tutur Hendardi.

Lebih lanjut, Hendardi juga mengatakan tak sepatutnya
Akbar berusaha menutupi kasus dana non-budgeter,
dengan menggelar aksi tutup mulut. "Dana non-budgeter
Bulog pada hakikatnya adalah milik rakyat, yang
penggunaannya harus transparan sebagai cermin adanya
akuntabilitas publik," tukasnya.

Diskriminatif 

Ditambahkan Teten, jika DPR menolak pembentukan Pansus
Buloggate II, berarti lembaga wakil rakyat itu telah
bersikap diskriminatif. Sebab, dulu saat Gus Dur
diduga terlibat kasus Buloggate I, mayoritas anggota
DPR beramai- ramai menuntut segera dibentuk Pansus.
Saat itu pun, kasus juga sudah ditangani pihak
kepolisian, bahkan akhirnya Kejakgung juga memutuskan
Gus Dur tidak terlibat.

"Jika Akbar Tandjung tidak diperlakukan sama dengan
Gus Dur, maka akan mengurangi kepercayaan rakyat
kepada DPR dan pemerintah. Bahkan, kalau perlu DPR
harus melakukan Sidang Istimewa untuk meminta
pertanggungjawaban pada Akbar Tandjung," tuturnya.

Namun, dalam kesempatan ini, Teten mengakui dirinya
agak pesimis kasus ini akan tertuntaskan secara hukum.
Teten agak ragu, pemerintahan Megawati akan berani
menuntaskan masalah ini karena adanya pertimbangan
politik. "Kalau itu sampai terjadi, tentu sangat tidak
fair. Reformasi hukum hanya semakin jauh dari impian
saja," tukasnya. 

Siap diperiksa 

Terpisah, mantan Menhankam/Pangab Jenderal (Purn)
Wiranto, mengaku siap untuk mengklarifikasi kasus dana
non-budgeter Bulog. Menurut Wiranto, dana itu antara
lain digunakan untuk pembentukan dan pembinaan
pamswakarsa.

"Tunggu saja tanggal mainnya," kata Wiranto saat
ditanya wartawan, kapan dirinya akan mengklarifikasi
pernyataan Rahardi tersebut, usai menemui Ketua MPR
Amien Rais di Lantai V Nusantara III Gedung DPR/MPR
Jakarta, Kamis (18/10).

"Dalam penggunaan dana itu, tidak secara langsung oleh
pimpinan. Menhankam/Pangab tidak menyalurkan. Ada
suatu mekanisme administrasi, dan itu dapat
dipertanggungjawabkan," jelasnya. (bon/dtc/dws) 

http://www.indomedia.com/bernas/102001/19/UTAMA/19uta4.htm



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke